HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 38


__ADS_3

"Oh iya kita belum kenalan kan?" Ucap Mawar, sembil mengulurkan tangannya kearah Anisa dan Ica, yang duduk di sampingnya. "Gue Mawar!"


Anisa dan Ica bergantian meraih tangan Mawar.


"Anisa."


"Ica, panggil aja Caca."


Mawar menganggukan kepalanya, sambil tersenyum.


"Gue gak mau diajak kenalan nih?" Sahut Evan, menatap kearah tiga wanita tersebut.


"Enggak..." Ucap mereka serentak, sambil tertawa kekeh.


"Tega kalian..." Lirih Evan, memasang wajah sendunya.


"Sabar, orang sabar pasti kesel." ujar Angga, menepuk bahu Evan.


"Udah ah, gue mau cari angin, mau menjelajah rumah mertua elo." Evan berajak dari sofa.


"Tunggu gue ikut..." Teriak Mawar, sambil berajak pula dari sofa tempat ia duduk, "Nisa ikut yuk, dari pada Jadi nyamuk kita di sini." Mawar menarik tangan Anisa, pelan.


"Ayo..."


"Eh-eh, mbak jangan tinggalin aku dong." Rengek Ica.


Namun Anisa menghiraukannya, ia malah melambai-lambaikan tanganya kearah adiknya itu.


Anisa dan Mawar pun mengikuti langkah Evan, yang keluar dari rumah tersebut.


"Van kita mau kemana?" Tanya Mawar.


"Kemana-mana hatiku senang!" Jawab Evan, sesuka hatinya.


"Ck, gue nanya serius ******!"


"Gue juga serius, sepuluh rius malah." Jawab Evan tak mau kalah.


"Mending kita kebelakang rumah, di sana ada gazebo." Sahut Anisa, membuka suaranya.


"Ya udah ayo Nis, kita kesana. Males juga gue ngelayanin ni orang kurang setengah ons!" Mawar menarik tangan Anisa. Dan mereka pun berjalan menuju halaman belakang rumah orang tua Anisa.


"Woy-woy gue ikut," Teriak Evan, sambil melangkah mengikuti dua wanita itu.


********************


Sedangkan diruang tamu, Ica dan Angga masih sama-sama diam, saat Evan, Mawar dan Anisa meninggalkan mereka. Suasana hening, mendominasi ruangan tersebut. Angga dan Ica tidak bersuara mereka larut dengan pikiran dan perasaannya masing-masing, keduanya terlihat gugup serta salah tingkah, terlihat jelas wajah keduanya sama-sama memerah seperti kepiting rebus.


"Ca makasih." Ucap Angga, ia menatap kearah Ica yang masih menundukan kepalanya.


Ica mengangkat kepalanya, menatap kearah Angga, yang tengah tersenyum kearahnya. Ica membalas senyuman Angga, dan menganggukan kepalanya pelan.


"Makasih untuk apa kak?" Tanya Ica, dengan wajah polosnya.


"Terima kasih sudah mau menerima lamaran kakak!" Angga memperlebar senyumannya.


Ica terlihat mengigit bibir bawahnya, detak jantungnya sudah tak beraturan lagi. Ica kembali menundukan kepalanya, Ica tak berani lagi menatap Angga yang masih menatapnya itu.


'Aduuh, kak kenapa kakak tersenyum seperti itu, Caca malu-kan jadinya.' Batin Ica.


"Caca..." Panggil Angga dengan lembut.


"Aku sayang sama Caca."


Ucapan Angga semakin membuat Ica, merasakan jantungnya tak karuan, ah manis sekali ucapan calon suaminya itu.


"Caca juga sayang sama kakak!" Jawab Ica, sambil berajak dari sofa yang ia duduki, Ica berjalan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Caca mau kemana?"


"Caca mau nenangin dulu jantung Caca, Caca malu..." ucap Ica, langsung melesat meninggalkan Angga.


Angga terkekeh pelan, ya ampun segitu polosnya-kah calon istrinya itu? Angga mengeleng-gelengkan kepalanya, menatap punggung Ica yang terus menjauh dari hadapannya.


'Gemesin banget sih kamu Ca, jadi gak sabar kakak buat bawa kamu.' Ucap Angga dalam hatinya.


Caca duduk di sofa ruangan tengah, sambil mengelus-elus dadanya, sumpah demi apa pun jantung Ica melompat-lompat rasanya.


'Ya Allah baru kali ini Caca meresakan seperti ini, bagaimana kalau nanti Caca sudah menikah dengan Kak Angga, jantung Caca bisa-bisa gak normal setiap detik.' Gunam Caca.


Seseorang terlihat menghampiri Ica, dan menepuk bahu Ica pelan.


"Ih kakak, Caca--kan udah bilang jangan temuin Caca dulu, jantung Caca masih dag-dig-dug ini." Ujar Ica, lalu Ica menoleh kearah orang tersebut.


"Eh umi..." Caca terlihat salah tingkah, memberikan cengiran kepada umi--nya.


Umi Aminah terkekeh, ya Allah Ica begitu polosnya.


"Kenapa jantung Caca?" Tanya umi Aminah, sengaja menggoda putrinya itu.

__ADS_1


"Umi, ih jangan bikin Caca malu..." Wajah Caca semakin memerah, Caca menutup kembali wajahnya itu dengan kedua tangannya.


"Cie...cie...," goda umi Aminah lagi.


"Umi Caca malu, umi jangan goda Caca terus." Rengek Caca. Tingkah Ica tersebut semakin membuat umi Aminah terkekeh.


"iya-iya maaf, yang lain mana? Kamu temuin calon mertua kamu sana, katanya mereka mau pamit pulang!''


"Pulang? Kok cepet sekali sih umi." Ica terlihat menekuk wajahnya.


"Udah malam katanya Ca, sudah lebih baik kamu temui mereka sekarang. Kalau kamu masih rindu sama dokter ganteng kamu itu, suruh aja besok datang ke sini lagi."


"Emang boleh umi?" Tanya Caca, begitu polosnya.


Umi Aminah menganggukan kepalanya, "boleh sayang, kalau hanya sekedar bertemu. Tapi ingat batasan kalian belum halal."


"Siap umi," Ica memberi hormat kepada uminya.


Umi Aminah terkekeh sambil menahan tawanya, "ya udah ayo kita kesana." Ica mengangguk, lalu mereka pun berjalan kemeja makan untuk menemui orang tua Angga.


"Yang lain mana Ca?" Tanya Abi Adam, saat melihat Ica dan istrinya menghampiri.


"Kak Evan, Kak Mawar, sama Mbak Nisa tadi keluar Abi, katanya mereka mau cari Angin. Kalau kak Angga ada di ruang tamu." Jelas Ica.


"Cara angin kemana mereka?" Pungkas Dr. Irawan.


"Paling juga mereka ada dihalaman belakang." Jawab Umi Aminah. "Ca kamu samperin mereka gih."


"Baik umi." Ica pun berjalan menuju halaman belakang, dan benar saja mereka ada di sana, dan Angga juga terlihat sudah bergabung bersama mereka. Ica terlihat berjalan menghampiri mereka, Ica berjalan sambil menundukan kepalanya, Ica masih merasa malu dengan Angga.


'Ih kenapa kak Angga, ada disana juga? Ica jadi malu--kan. Tuh--kan jantung Ica kumat lagi.' gunam Ica.


"Ngapain elo Ang kesini?" Tanya Evan kepada Angga, yang ikut bergabung bersamanya.


"Jenuh gue di dalam rumah mulu." Jawab Angga seada--nya Angga berbicara tanpa menoleh kearah Evan, mata Angga mengamati kesekitar halaman tersebut, yang terlihat indah walau pun malam hari.


"Lah Ade Caca kemana?"


Belum Angga menjawab pertanyaan Evan tersebut, terlihat Ica sudah berdiri di didekat mereka.


"Nah baru aja diomongin, tuh Ade Caca datang!" Sambung Evan.


"Kok Caca diomongin kak Evan, emang Caca kenapa?" Tanya Caca, dengan begitu polosnya.


"Enggak, enggak apa-apa Ade Caca, kata kakak Angga yang ganteng ini," Evan menepuk pelan bahu Angga, "Kakak Angga kangen sama adek Caca." Bohong Evan.


"Eh Ca." Panggil Angga, dengan canggung.


'Sialan Evan, awas aja elo nanti gue cubit usus elo, sampai usus buntu.' Kesal Angga dalam hatinya.


"Apa benar kak?"


"Apa?"


"Yang di bilang kak Evan?"


Angga menggaruk tengkuanya yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa? Angga di buat mati kutu.


"Iya beneran adek Caca, tadi kakak Angga bilang sama kita seperti itu. Iya--kan Nis, War..." Sahut Evan, Evan meminta persetujuan kedua wanita itu, untuk meng'iyakan ucapannya.


Anisa dan Mawar hanya terkekeh. "Sudah kalian jangan menggoda adikku terus, kasian ah." Tutur Anisa. "Oh iya Ca, ada apa?" Lanjutnya, Anisa menoleh kearah Ica.


"Katanya papah dokter sama ibu, mau pamit pulang sekarang."


"Pulang?" Jawab Angga, terkejut. "Sekarang?"


Ica menganggukan kepalanya. "Iya kak, dan Caca kesini, di suruh buat ngasih tau kakak-kakak."


"Ya udah, ayo kita pulang." Ucap Mawar, diangguki oleh Evan. Namun Angga, Angga terlihat tak bergeming.


Mawar, Evan, Anisa dan Ica pun beranjak dari gazebo halaman belakang tersebut, untuk masuk kedalam rumah.


'Pulang sekarang? Ah ibu dan papah gak asik! Padahal aku masih ingin di sini.' Gerutu Angga dalam hatinya, lalu Angga mengikuti mereka, masuk kedalam rumah tersebut.


"Mau pulang sekarang Tante?" Tanya Mawar kepada Bu Aisyah.


"Iya, udah malam juga--kan."


Mawar menganggukan kepalanya. Oh iya Afifah dan Arka sudah pulang terlebih dahulu, karna mereka tadi dapat telpon dari mamah Dewi, mamahnya Arka


Kalau ketiga anak mereka tidak mau tidur. Jadi Afifah dan Arka pulang terlebih dahulu, usai makan malam bersama tadi.


"Kalau begitu, kami pamit dulu. Terima kasih atas jamuan--nya. Maaf kami merepotkan." Tutur Bu Aisyah.


"Tidak apa-apa, tidak merepotkan kok. Justru kami senang dengan kedatang kalian semua."


"Kami pamit dulu calon besan."


Bu Aisyah, dr Irawan, Angga serta yang lainnya pun berpamitan, mereka saling bersalaman. Orang tua Ica, Ica dan juga Anisa mereka mengantarkan keluarga Angga menuju depan rumah mereka.

__ADS_1


"Kami pulang dulu ya. Asalamualaikum..." Ucap Semua keluarga Angga.


"Iya hati-hati, walaikum'salam..." Jawab keluar Ica.


Angga serta yang lainnya pun berajak masuk kedalam mobil mereka, kini Angga yang mengemudikan mobilnya. Entah mengapa rasanya Angga sangat berat meninggalkan rumah tersebut, eh tepatnya bukan rumah-nya sih, tapi yang nempatin rumah itu, siapa lagi. Kalau bukan bidadari dengan tingkah polosnya, Ica.


"Ayo cepat jalankan mobilnya Angga!" Titah Papah-nya.


"Iya pah, sabar ke." Angga mulai menjalankan mobilnya, meninggalkan halaman rumah tersebut.


"Besok juga bisa kesini lagi, kalau kamu masih rindu sama calon istri polosmu itu Angga," sambung Bu Aisyah.


Angga menoleh kearah ibunya, yang duduk dikursi belakang bersama papahnya. "Benaran Bu?"


"Iya, tapi ingin batasan ya, bertemu boleh. Tapi jangan macam-macam, ingat kalian belum halal."


"Iya Bu Angga juga ngerti, lagian memangnya Angga mau ngapain Ica."


"Takutnya kamu bungkus dia dan dibawa pulang."


"Bungkus, emangnya nasi Padang."


"Enak tuh kayanya nasi Padang, kita mampir dulu beli nasi Padang yuk..."


Angga dan papahnya terlihat membulatkan matanya, kearah wanita itu. Keduanya langsung mengelengkan kepalanya.


"Gak mau..." Ucap mereka kompak.


"Lagian tadikan udah makan Bu.." Lanjut dr. Irawan suaminya.


"Iya, tapi gak tau kenapa ibu pengen makan nasi Padang, rasanya pengen banget." Ibu Aisyah tersenyum merekah, sambil membayangkan nasi Padang yang ia inginkan itu.


Angga dan papahnya saling melempar pandangan. Ada apa dengan dengan ibu Aisyah? Apa jangan-jangan...


"Bu apa ibu ngidam?"


"Pah jangan becanda deh, masa ia ibu ngidam!" Pungkas Angga.


Bu Asiyah tak bergeming, ia terlihat bingung. Masa iya dirinya ngidam?


"Enggak ah kita langsung pulang aja, gak usah beli nasi Padang, biar ibu gak jadi ngidamnya. Biar embrionya merajuk dan gak jadi membentuk Dede Bayi." Lanjut Angga, sambil menambah kecepatan laju mobilnya, Angga terlihat menggubris-gubriskan bahunya, sumpah Angga tak bisa membayangkan kalau ibunya itu hamil, Angga punya adik lagi.


'Ya Allah jangan buat ibu hamil, harusnya--kan Ica yang hamil. Harusnya aku punya anak, bukan punya adik. Apa kata dunia nanti?' Ucap Angga dalam hatinya.


Bu Aisyah dan dr. Irawan terkekeh mendengar ucapan Angga tersebut, merasa lucu.


"Angga- Angga sampai segitunya kamu ya sama ibu. Memangnya kalau orang mau sesuatu itu harus ngidam? Enggak-kan! Lagian ibu juga mikir Angga, usia ibu itu udah tua. Harusnya ibu itu punya banyak cucu, bukan anak." Tutur Bu Asiyah.


Angga terlihat bernafas lega, Angga tersenyum menoleh kearah ibunya itu.


"Makanya nanti kalau kamu udah Nikah sama Ica, jangan nunda-nunda buat punya anak, iya--kan Pah?" Bu Aisyah menoleh kearah suaminya.


"Iya, benar yang dikatakan ibu kamu."


"Nikahnya aja belum, udah ngomongin anak." Ketus Angga.


"Ya sudah kita percepat saja pernikahan kamu dan Ica."


Angga mengerem mobilnya secara tiba-tiba, terkejut mendengar ucapan papahnya itu. Namun penghentian tiba-tiba itu membuat kedua orang tuanya terkejut pula.


"ANGGA...." Teriak Bu Asiyah dan Dr. Irawan bersamaan.


"Pah beneran pernikahan Angga dan Ica bisa di percepat?" Tanya Angga, dengan mata berbinar menatap kedua orang tuannya itu. Angga tak menghiraukan wajah kekesalan kedua orang tuanya itu.


"Gak bisa..."Jawab kedua orang tua Angga kompak.


"Ck..., tadi bilangnya gitu, sekarang jawabnya gini." Kesal Angga, sambil melajukan kembali mobilnya.


Bu Asiyah dan Dr. Irawan tersenyum puas. Berhasil membuat Angga kesal. Suruh siapa tadi ngerem mendadak. Bikin kaget orang tua, gak baik loh Dokter Angga.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA.


INI HARUSNYA DUA BAB, TAPI AKU GABUNG JADI SATU. TERUS IKUTIN KISAH CINTA DOKTER ANGGA YA. YUK KASIH TERUS DUKUNGAN BUAT AUTHOR, KARNA KALIAN YANG MEMBUAT AKU TETAP BERTAHAN DI SINI. KALAU BOLEH CURHAT AUTHOR LAGI RESAH SAMA SISTEM NT. TAPI YA SUDAHLAH SAKIT DI CERITAIN MAH.


OH IYA GIVE AWAY UDAH DI MULAINYA DARI HARI INI, YUK SEMANGAT....HEHEHE.


OH IYA SATU LAGI SYARAT GIVE AWAY YANG LUPA AUTHOR TULIS. FOLLOW AKUN AUTHOR JUGA YA. KLIK PROFIL AUTHOR DAN IKUTI AUTHOR.


TERIMA KASIH.


BYE-BYE.


HAPPY WEEKEND.


I LOVE YOU.


MUACH....🤭😬🤗

__ADS_1


__ADS_2