HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 40


__ADS_3

Angga menggeliatkan tubuhnya, samar-samar ia mendengar dering ponselnya berbunyi, namun Angga mengabaikannya, karna matanya terasa sangat berat.


Cukup lama ponselnya itu berbunyi, dengan melas, dan mata yang setengah terpejam, Angga pun meraih ponselnya yang berada di samping tempat tidurnya. Namun pada saat Angga sudah meraih ponselnya itu, ponselnya berhenti berdering.


"Siapa sih yang menelpon malam-malam begini?" Lirih Angga, Angga membuka sempurna matanya, dan melihat kearah layar ponsel yang kini sudah berada ditangannya.


"Hah Ica....!!" Angga langsung terbangun, rasa ngantuk ya seketika hilang, Angga mengulas senyumannya saat tau bahwa wanita yang ia cintai-nya itu menelponnya. Angga mengangkat setengah tubuhnya berbaring di kepala ranjang, dan Angga memutuskan untuk menelpon balik wanita itu.


Tak lama kemudian, sambungan telpon terhubung.


Cukup lama Angga berbicara lewat sambungan telpon tersebut dengan Ica, sesekali Angga terlihat terkekeh saat berbicara dengan wanita itu. Hingga panggilan itu pun terputus. Usai sambungan telpon itu terputus Angga terlihat tersenyum-senyum sendiri.


"Ya tuhan Caca, kamu itu menggemaskan sekali, pengen cepat-cepat besok rasanya, ingin cepat bertemu dengan kamu!" Gunam Angga.


Lalu Angga menoleh kearah jam weker yang ada di atas nakas, waktu masih menunjukan jam satu lewat. Angga menguap, Angga membaringkan kembali tubuhnya, dan menyimpan kembali ponselnya di samping tempat tidurnya itu.


"Tidur lagi ah, biar cepet pagi." Ucapnya, lalu Angga pun kembali memejamkan matanya dan tertidur.


..._____________________________________...


Pagi harinya.


Angga sudah terbangun, dan sudah berpakaian rapi, hari ini Angga akan ikut papah-nya kerumah sakit, membantu sang papah bertugas. Sebenarnya Angga malas, dan sempat menolak ajakan papahnya itu. Karna Angga pagi ini sudah berniat akan kerumah wanita kesayangannya Ica.


Namun papahnya, menyarankan agar Angga menemui Ica nanti saja kalau ia sudah pulang dari rumah sakit, pagi-pagi bertamu kerumah orang emangnya tidak malu? Angga pun akhirnya meng'Iya--kan ajakan papahnya itu. Memang benar juga yang dikatakan papahnya.


Angga pun keluar dari kamarnya, menuju meja makan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum ia menuju rumah sakit.


"Pagi, Bu...Pah..." Sapa Angga, kepada Bu Aisyah dan Dr. Irawan yang sudah berada dimeja makan tersebut.


"Pagi..." Jawab mereka bersamaan.


Angga pun menarik kursi meja makan tersebut, dan ikut duduk bergabung bersama kedua orang tuanya itu. Angga mengambil dua potong roti dan mengulas kan selai coklat di atas roti tersebut.


"Kamu jangan malu-maluin ibu sama papah kamu Angga, mau bertamu kerumah orang pagi-pagi gini." Ujar Bu Asiyah.


"Maksud ibu?" Angga berpura-pura tidak tau, padahal Angga tau apa yang dimaksud oleh ibunya itu.


"Kamu, papah bilang tadi kamu menolak saat mau diajak ke rumah sakit, katanya kamu mau kerumah Ica!" Bu Asiyah menatap malas putranya itu. "Malu-maluin aja.." Sambungnya.


"Kan gak jadi Bu..." Sahut Angga, sambil menyuapkan roti kedalam mulutnya.


"Sudah ah, kebiasan deh. Masih pagi ini." Pungkas dr. Irawan. "Cepat habiskan sarapan kamu Angga, kita berangkat sekarang!"


"Iya pah.."


"Bu papah berangkat dulu ya, ibu hati-hati di rumah." Pamit Dr. Irawan. "Kalau ada apa-apa cepat kabarin papah." Lanjutnya.


"Iya pah, papah juga hati-hati ya." Ucap Bu Aisyah, meraih tangan suaminya dan menciumnya.


"Ya sudah papah berangkat ya." Sekilas dr. Irawan mengecup kening istrinya itu.

__ADS_1


"Pah, Bu bisa gak jaga kelakuan kalian, mata Angga yang suci ini menjadi ternodakan, gara-gara kalian bermesraan begitu." Sahut Angga, dengan wajah sendunya.


"Sudah jangan banyak bicara, papah tunggu dimobil." Ucap Dr. Irawan sambil berjalan keluar dari rumah tersebut.


Bu Asiyah terkekeh pelan, melihat ekspresi Angga tersebut. "Sirik aja kamu.." Cetus ibu Aisyah.


"Manusiawi bu, sirik itu..." Jawab Angga. "Ya sudah Angga juga berangkat." Lanjutnya, Angga beranjak dari kursi tempat ia duduk, dan meraih tangan Bu Aisyah menyalaminya.


"Iya kamu juga hati-hati."


Angga pun berjalan menyusul papahnya, yang sudah terlebih dahulu keluar dari rumahnya, Papah Angga terlihat sudah berada di dalam mobil menunggunya.


"Ayo cepat, udah siang ini Angga." Teriak dr. Irawan.


"Iya pah, iya..." Ucap Angga, masuk kedalam mobil tersebut. Mobil tersebut pun mulai melaju meninggalkan rumah tersebut.


Sepanjang perjalan menuju rumah sakit, Angga terlihat menekuk wajahnya, membuat dr. irawan terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menoleh kearah Angga.


"Sudah wajahnya jangan di tekuk begitu, kamu bantu di Rumah sakit setengah hari saja, kalau sudah gak kuat mau ketemu calon istrimu itu." Tutur Dr. Irawan.


Angga tak bergeming, Angga masih merasa kesal dengan papahnya itu, tapi bukan kesal karna di ajak kerumah sakit, tapi kesal saat tadi di rumah kedua orang tuanya bermesraan dihadapannya. Padahal itu bukan kali pertama Angga melihat orang taunya begitu, dan memang kebiasan dr. Irawan kepada istrinya sebelum ia akan berpergian selalu begitu. Tapi entah kenapa kali ini Angga merasa kesal. Eh entah kesal atau iri sih!! Wkwk. Ya ampun Abang Angga kekanak-kanakan benget sih, author jadi gemes pengen bungkus kamu. Eh..


"Pokoknya Angga mau pernikahan Angga sama Ica dipercepat Pah." Tegas Angga, menoleh kearah papahnya, yang tengah mengemudikan mobil.


Dr. Irawan terlihat menyatukan alisnya, menatap heran kepada Angga, yang duduk disampingnya itu.


"Kenapa?" Tanya dr. Irawan, dengan santainya.


"Biar bisa kaya papah dan Ibu.." Pungkas Angga.


Angga langsung menoleh kearah papahnya, dengan raut wajah seakan tak percaya, "serius Pah?"


"Iya..."


"Yeessss, bener ya Pah, awas kalau bohong! Pokoknya Angga mau bulan ini nikah sama Ica. Titik segede kelapa." Tegas Angga, dengan wajah terlihat sangat gembira.


Dr. Irawan menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil tersenyum-senyum, seakan tak percaya dengan ucapan Angga tersebut. Segitu ngebetnya-kah putranya itu ingin menikah?


"Papah kok malas senyum sih?" Protes Angga.


"Terus papah harus gimana?"


Angga menggaruk kepala yang tidak gatal. Iya juga ya terus papahnya harus gimana? Salto sambil nyetir gitu.


"Iya maksud Angga, papah setujukan dengan permintaan Angga tadi?"


"Iya, nanti papah usahakan."


"Harus Pah."


"Iya."

__ADS_1


Tak terasa, mobil mereka pun telah sampai di rumah sakit tersebut. Angga dan papahnya keluar dari mobil, usai mobil itu diparkirkan dengan rapi ditempatnya.


Angga mengulas senyumannya, saat memasuki area rumah sakit tersebut, sudah beberapa tahun ia tak menginjakan rumah sakit milik sang papah tersebut. Rumah sakit tempat dimana ia berkerja dulu sebelum ia memutuskan untuk pergi berkelana sampai ke Singapura. Tak di pungkiri Angga sangat rindu tempat ini. Angga dan Dr. Irawan berjalan beriringan memasuki rumah sakit tersebut. Semua mata terlihat tertuju pada mereka berdua. Bagaimana tidak mereka terlihat sangat tampan. Apalagi dengan Jas putih khusus dokter yang membalut tubuh mereka.


Para pasien dan orang-orang yang berada di rumah sakit tersebut pun memandang takjub, bahkan para suster dan dokter lainnya pun ikut serta riuh melihat kedatangan mereka.


"Itu anaknya dr. Irawan--kan?"


"Gila keren banget!!" Ucap kedua suster perempuan yang melihat kedatangan mereka.


"Kalau dokternya setampan itu, aku rela kalau gak sembuh-sembuh." Ucap salah satu pasien.


Ucapan-ucapan tersebut, terdengar di telinga Angga dan Dr. Irawan, Angga hanya tersenyum sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Pagi dok..."


"Pagi dokter Irawan dan dokter Angga..." Sapa suster-suster yang Angga dan papahnya lewati.


Angga dan Dr. Irawan membalas sapaan mereka dengan senyumannya. Angga dan papahnya terus berjalan menuju ruangan Dr. irawan.


"Kamu yakin mau sama Ica?" Tanya dr. Irawan kepada Angga, yang kin mereka sudah berada didalam rungan dr. Irawan.


"Yakin, kenapa papah tanya begitu?"


"Disini banyak loh, dokter-dokter cantik." Goda dr. Irawan.


"Gak tertarik tuh." Jawab Angga dengan wajah datarnya.


"Yakin?"


"Ya."


Dr. Irawan terkekeh pelan, sepertinya memang Angga sudah 100 persen yakin dengan pilihannya itu. Dokter Irawan hanya menggodanya saja tadi. Syukurlah berarti Angga sudah benar-benar mencintai wanita pilihannya itu. Yang selama ini dokter Irawan takutkan ternyata tidak terjadi. Dokter Irawan takut jika Angga masih tidak bisa melupakan Afifah, adik tirinya. Namun melihat kesungguhan Angga kepada Ica. Dokter irawan merasa lega. Putranya itu benar-benar sudah melupakan Afifah, adik tirinya.


Bersambung...


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN, LIKE, KOMEN DAN VOTENYA.


HARI INI UDAH 2 BAB YA. AKU USAHAIN TIAP HARI BUAT UP 2 BAB. TERUS DUKUNG AUTHOR MAKANYA YA.


HEHE..


KOPI MANA KOPI...EH.


YANG MAU KIRIM AUTHOR KOPI ATAU BUNGA BOLEH BANGET YA, BIAR ROMANTIS GITU, IYA KAN..WKWKWK


SEE U ...


BYE-BYE..


I LOVE U..

__ADS_1


MUACH..


TERIMA KASIH.


__ADS_2