HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 49


__ADS_3

"Ica...." Teriak seorang laki-laki, terdengar memangil Ica. Sontak Ica dan Angga pun langsung menoleh kearah sumber suara tersebut. Laki-laki itu tersenyum kepada Ica, dan terlihat berjalan mendekat kearahnya.


Ica dan Angga terlihat tak bergeming, mereka memandangi laki-laki itu, yang terus berjalan kearah mereka. Dalam hati Angga bertanya-tanya, siapa laki-laki itu?


Sedangkan Ica, Ica terdiam. Ica juga bertanya-tanya siapa dia? Mengapa mengenalinya. Ica mencoba mengingat-ingat kembali. Dari suaranya sepertinya sangat familiar sekali. Tapi siapa dia?


"Hey Caca, apa kabar? Udah lama ya kita gak ketemu! Aku kangen banget loh sama kamu!" Ungkap laki-laki tersebut, yang kini sudah berdiri di dekat meja Angga dan Ica.


Ica masih tak bergeming pikiranya terus berputar, memikirkan siapa laki-laki ini sebenarnya?


Lalu laki-laki itu terlihat menarik kursi di dekat Angga dan Ica, ia langsung duduk dan bergabung bersama mereka.


Sedangkan Angga, Angga kini melihat kearah Ica, sorotan matanya, seakan bertanya pada wanita itu. Siapa laki-laki ini?


"Caca, ini aku Rendra. Masih inget gak kita dulu satu SMA kan?"


Sedetik kemudian Ica, mengulas senyumannya. Tersenyum kepada laki-laki yang bernama Rendra tersebut. Iya Ica sekarang ingat, Rendra itu teman waktu ia masih sekolah SMA, dan mereka cukup dekat. Bahkan dulu Ica ingat Rendra itu, laki-laki yang pernah membuatnya merasa nyaman, dan bahagia saat mereka bersama. Sama halnya seperti sekarang ia saat bersama Angga-nya. Apa Ica pernah jatuh cinta kepada Rendra? Dan saat itu Ica tidak menyadarinya. Entahlah hanya Ica dan author yang tau.


"Rendra!!" Seru Ica.


Rendra mengaggukan kepalanya, dan melebarkan senyumanya, kepada Ica.


"Iya Ca, gimana kabar kamu?"


"Alhamdulillah baik, kamu?"


"Seperti yang kamu lihat, baik juga."


Angga terlihat menyimak mereka, ada rasa panas yang mulai mendesis di hatinya. Melihat sang kekasih tercinta terlihat begitu akrab dengan teman laki-lakinya.


'Apa-apaan ini, gue jadi di cuekin begini. Hello mereka pikir gue patung apa?!' Gerutu Angga, dalam hatinya.


"Ehemm..." Angga berdehem, membuka suaranya. Ica dan Rendra langsung menoleh kearah Angga.


Kemudian Rendra beralih kembali menatap kearah Ica, tatapan mata Rendra seolah bertanya kepada Ica, siapa laki-laki ini?


"Oh iya Ren, kenalin ini kak Angga!" Ungkap Ica.


Angga tersenyum, lalu mengulurkan tangannya kearah Rendra. Rendra membalas senyuman Angga, lalu ia pun meraih tangan Angga, mereka berjabat tangan.


"Rendra."


"Perkenalkan saya Angga, calon suaminya Caca!" Ucap Angga, dengan penuh penekanan, namun bibirnya melebarkan senyuman. Puas!


Deg...


Seketika senyuman di wajah Rendra sirna, terlihat wajah kekecewaan disana. 'Jadi Ica sudah mempunyai calon suami? Runtuh sudah harapanku.' Gunam Rendra.

__ADS_1


'Malukan elo bocah kecil, mau main-main sama gue. Sorry ya gak level. Gantengan juga gue.' Batin Angga.


"Oh selamat ya untuk kalian."


Ica dan Angga mengagukan kepalanya.


"Kalau gitu aku duluan ya, masih ada urusan." Lanjutnya. Rendra beranjak dari tempat duduknya itu. Dan pergi dari hadapan Ica dan Angga, dengan sejuta kekecewaan yang bersarang di hatinya.


"Siapa itu Ca? Kalian telihat sangat akrab sekali?" Tanya Angga, usai Rendra pergi dari hadapan mereka.


"Temen kak."


"Temen apa temen hmm?"


"Temen kak ih, kenapa kakak cemburu ya?"


"Enggak." Sangkal Angga.


"Yah Caca kira kakak cemburu, padahal Caca tadi udah seneng!" Lirih Ica.


Lalu terlihat pelayan resto mengantarkan pesanan mereka. Melatakan makanan-makanan pesan mereka di atas meja.


"Silahkan kak, selamat menikmati." Ucap pelayan resto itu, usai meletakan semua makanan pesan Angga dan Ica.


"Terima kasih." Ucap Angga dan Ica bersamaan. Lalu pelayan resto pun beranjak kembali melanjutkan perkerjaan-nya.


Angga mulai menyantap makanannya, karna memang ia sudah sangat lapar. Namun baru saja beberapa suap Angga memakan-makanannya itu, Angga menghentikannya. Karna sedari tadi ia melihat Ica yang tengah menekuk wajahnya. Sambil mengaduk ice cream-nya. Angga terkekeh melihat tingkah calon istri polosnya itu, menggemaskan sekali pikir Angga.


Ica tak menjawab, ia masih mengaduk-aduk ice cream tersebut.


"Ca..." Panggil Angga dengan lembut.


"Hmmm.." Sahut Ica, tanpa melihat kearah Angga.


"Lihat kak!" Pinta Angga.


"Enggak."


"Ca lihat kakak, sini." Pinta Angga lagi.


Dan akhirnya Ica pun melihat kearah Angga, dengan wajah yang masih di tekuk dan bibirnya yang mengerut alis manyun. Angga langsung terkekeh, melihat wajah sang calon istrinya itu.


"Kakak kok ketawa sih?" Ketus Ica. "Orang lagi kesel, malah diketawain!" Lanjutnya.


"Iya-iya kak gak ketawa lagi nih."


"Ca dengerin kakak, laki-laki mana yang gak cemburu kalau liat wanitanya akrab dengan laki-laki lain, walau pun laki-laki itu hanya sekadar temannya saja." Lanjut Angga, dengan tatapan melekat menatap wanita itu.

__ADS_1


"Jadi kakak cemburu tadi." Ica terlihat langsung mengambangkan senyuman-nya.


"Iya ca, cemburu banget malah. Apa lagi Kakak liat sepertinya teman kamu itu, menyukai Caca." Ungkap Angga.


"Masa sih kak?"


"Iya."


"Kakak sok tau deh!"


"Kakak gak sok tau Ca, kakak liat dari cara tatapan dia ke Caca itu beda, kaya ada tatapan cinta.'' Jelas Angga.


"Ada love-love-love'nya gitu ya kak!" Ucap Ica, sambil di diiringi tawanya.


"Ica kebanyakan nonton kartun tuh." Ucap Angga, sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. "Sudah cepat makan Ice cream-nya. Kasian tuh memeleh."


"Iya kak." Ica pun mulai memakan Ice cream-nya itu, dan Angga kembali melanjutkan makannya. Mereka terlihat begitu menikmati-nya.


Lalu tak lama kemudian, makanan mereka sudah habis. Angga memanggil pelayan resto itu, untuk meminta Nota pembayaran.


"Totalnya jadi, 250 ribu kak." Ucap pelayan tersebut.


Angga menganggukan kepalanya, lalu ia mengambil dompetnya, dan membayarnya. Usai membayar makanan itu, Angga dan Ica pun berajak dan keluar dari resto tersebut. Berjalan menuju mobil.


"Ca mau langsung pulang?" Tanya Angga, yang sudah mulai melajukan mobilnya, kembali membelah jalan raya.


"Pulang aja deh kak, Caca sedikit lelah." Jawab Ica, dan Angga mengaggukan kepalanya.


"Ca..."


"Iya kak, kenapa?"


"Ica mau mahar apa dari kakak?" Sekilas Angga menoleh kearah Ica.


Ica terdiam sejenak, "MAHAR YANG TAK MEMBERATKAN MU, DAN TIDAK MERENDAHKAN KU." Ucap Ica, lalu tersenyum menoleh kearah Angga yang sedang menyetir mobilnya.


Angga melebarkan senyumannya, sungguh Angga di buat takjub dengan jawaban calon istrinya itu. Angga tak menyangka jika Ica akan menjawab seperti itu. Ucapan Ica sederhana, namun penuh makna, pikir Angga.


"Sebaik-baiknya perempuan ialah yang tidak mempersulit mahar pernikahannya."


***Mahar dalam hukum Islam artinya wajib di berikan kepada istri agar supaya menjadikan istri senang dan Ridha atas pemberian suami terhadap dirinya. Bukan hanya itu, akan tetapi mahar juga di berikan supaya memperkuat hubungan serta menumbuhkan tali kasih sayang dan cinta mencinta. Bukan sebagai pembelian Atau ganti rugi. Dan kemudian apa bila istri telah menerima maharnya dengan tanpa paksaan atau pun tipu muslihat lalu ia memberikan sebagian maharnya kepada suami maka bagi suami tersebut di perbolehkan untuk menerimanya. Namun apa bila sang istri ketika akan memberikan mahar tersebut karna malu atau takut pada suaminya, maka bagi suami tidak halal menerimanya.


Mahar adalah kewajiban yang wajib di serahkan suami kepada istrinya ketika akan akan menikah dan menjadi hak milik istri. Hal ini merupakan perintah Allah SWT dalam Al-Quran surat (An - Nisa ; Ayat 4.)


Yang Artinya: Berikanlah Mahar pada wanita (yang kamu nikahi) Sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap dan lagi baik akibatnya.


(Semakin tinggi ilmu seorang wanita, maka semakin rendah mas kawinnya. Karna yang berilmu akan memudahkan Sunnah)

__ADS_1


Maaf ya jika penyampaian author salah, boleh di perbaiki lagi oleh kalian.


Terima kasih***.


__ADS_2