
Hotel Arka Wijaya.
Di sebuah ruangan hotel yang luas, terlihat sudah indah di hiasi dengan bunga-bunga berwarna putih, yang di padukan dengan daun-daun yang hijau dan segar. Di tengah-tengah ruangan tersebut sudah terdapat satu meja yang tertutup kain putih, dengan hiasan pita berbentuk bunga. Meja tersebut akan dijadikan tempat untuk acara ijab kobul Angga.
Dan di depan sana terlihat sebuah pelaminan megah dan mewah, dengan bunga-bunga yang sudah ditata sedemikian rupa. Dipadukan dengan kain-kain yang menjuntai, dengan tema serba putih. Menandakan bahwa sakralnya acara tersebut. Berbagai hidangan makanan pun terlihat sudah tertata rapi di tempatnya, menu hidangan mulai dari masakan Nusantara hingga manca negara terlihat tersedia di sana. Para pramusaji terlihat sudah sigap dengan tugasnya masing-masing.
Sanak saudara dan para kerabat, serta tamu undangan mereka sudah terlihat berdatangan, untuk menyaksikan acara bahagia itu. Mereka duduk di tempat yang sudah di sediakan.
Angga dengan balutan tuxedo berwarna putih terlihat sudah duduk berhadapan dengan penghulu, dan Abi Adam, beserta saksi-saksi yang sudah duduk bergabung di sana. Menandakan bahwa acara akad nikah akan segara dilaksanakan.
Angga yang dibalut tuxedo berwarna putih itu terlihat tampan dan berkarisma, namun itu semua tidak bisa menutupi kegugupannya, wajah Angga terlihat tegang saat pembawa acara/MC, mulai memandu acara akad nikah tersebut.
Sedangkan di kamar hotel, yang sudah dihiasi bunga-bunga, layaknya kamar pengantin pada umumnya. Seorang wanita terlihat duduk di depan meja riasnya. Dengan balutan kebaya modern, dengan hiasan manik-manik mutiara berwarna putih menghiasai kebaya tersebut. Ica terlihat sangat cantik dan anggun, dengan balutan kebaya putih tersebut, di tambah dangan make-up ala pengantin pada umumnya, yang MUA poles kan ke wajahnya, serta hiasan mahkota dan bunga melati segar yang menjuntai di sampingnya, menambah kecantikan wanita itu.
Ica terlihat sangat berbeda kecantikannya bertambah berkali lipat, Ica tersenyum menatap kearah cermin yang ada dihadapannya, Ica seakan takjub dengan dirinya sendiri, Ica hampir saja tidak mengenali wajah sendiri.
"Cantik." Ucap umi Aminah, yang sudah terlihat berdiri dibelakang putrinya itu, menatap Ica dari pantulan cermin. Disana juga terlihat sudah ada ibu Aisyah.
"Terima kasih umi." Ica nampak tersipu malu.
"Ayo kita ketempat acara, akad nikah akan segara dilaksanakan."
Ica mengaggukan kepalanya, lalu ia bangkit dari tempat duduknya itu, Ica berjalan di hampit oleh kedua wanita itu, oleh umi--nya dan calon mertuanya.
Jantung Ica mulai berdetak tak karuan, saat ia mulai melangkahkan kakinya ketempat dimana akad nikahnya itu akan dilaksanakan. Semua orang yang berada disana terlihat takjub saat melihat calon pengantin perempuan itu memasuki tempat acara tersebut. Seketika Ica menjadi pusat perhatian, semua mata memandangnya, memuji kecantikannya. Begitu juga dengan sang mempelai pengantin laki-laki. Mata Angga tak lepas memandangi Ica, yang terus berjalan mendekat kearahnya, hingga terdengar suara seperti sang pemangsa, Abi Adam berdehem, seketika membuat Angga mengalihkan pandangannya. Dan menundukan kepalanya.
Ica terlihat sudah sampai disana, lalu wanita itu duduk di kursi yang sudah di sediakan untuknya, duduk berdampingan dengan Angga. Lalu Bu Aisyah memasangkan kain tile penjang yang sudah dihiasi oleh manik-manik mute, di kepala Angga dan Ica.
"Apa semuanya sudah siap?" Tanya pak penghulu, dan mereka pun menganggukan kepalanya.
Lalu acara akad nikah pun dilakukan.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Ica binti Adam dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Ucap Angga lugas tanpa ada hambatan dan kesalahan. Angga berhasil mengucapkan ijab kobul hanya dengan satu tarikan nafasnya.
"Bagaimana saksi?"
"SAH.."
"SAH."
"Alhamdulillah."
Acara ijab kobul tersebut pun selesai, dan di tutup oleh doa, semua orang terlihat ikut menadahkan kedua tangan mereka, mendoakan kedua pengantin tersebut. Usai berdoa Angga dan Ica menanda tangani surat nikah mereka.
Lalu Ica meraih tangan Angga, mencium tangan laki-laki untuk pertama kalinya, sebagai tanda bakti istri terhadap suaminya. Ica nampak malu-malu hendak mencium tangan Angga. Pasalnya ini pertama kalinya Ica melakukannya, walau pun sekarang Angga sudah resmi menjadi suaminya di mata hukum dan agama, namun tetep saja Ica merasa canggung. Perlahan Ica meraih tangan Angga, lalu ia mencium tangan suaminya itu.
Angga tersenyum bahagia, hari ini benar-benar menjadi hari yang paling bersejarah untuk mereka.
Usai Ica mencium Angga. Kini giliran Angga, Angga mendekatkan wajahnya kepada Ica, menarik pelan dan lembut tengkuak wanita itu, lalu Angga menempelkan bibirnya tepat di kening wanita kini sudah menjadi istri sah-nya. Cukup lama Angga membenamkan bibirnya di kening Ica. Membuktikan bahwa Angga begitu sangat menyayangi wanitanya itu.
Usai itu Angga dan Ica melakukan sungkem kepada orang tua mereka, keharuan semakin kental saat mereka meminta maaf dan restu kepada orang tua mereka, air mata penuh kebahagiaan membasahi wajah mereka, para kerabat dan sahabat serta tamu undangan pun, sampai ada yang ikut terharu menetaskan air mata mereka.
Usai melakukan sungkem, kedua pengantin itu menuju kamar mereka, untuk berganti pakaian. Dan istirahat sejenak, karna masih ada waktu satu jam menuju acara resepsi mereka.
Angga dan Ica pun kini sudah ada di kamar pengantin mereka, keduanya terlihat sama-sama gugup. Mereka sama-sama diam, tidak ada yang membuka suara-nya.
Namun beberapa saat kemudian, Angga mulai membuka suaranya. Angga dan Ica saat ini tengah duduk di tepi ranjang pengantin mereka yang di atasnya sudah di penuhi dengan taburan bunga melati, dengan bentuk love di tengah-tengah kasur tersebut.
"Ca..." Panggil Angga, tangannya perlahan meraih tangan Ica.
Dengan gugup Ica menoleh kearah Angga, hingga tatapan mereka saling bertemu, Angga dan Ica saling menatap satu sama lain, perlahan Angga mendekatkan wajahnya, ke wajah istrinya itu. Ica terlihat memejamkan matanya. Ica merasakan hembusan nafas Angga mengenai kulit wajahnya.
__ADS_1
Dengan jantung yang sudah berdetak tak karuan, Ica sebisa mungkin tenang. Ica pasrah Angga akan melakukan apa pun kepadanya, karna memang sekarang apa yang ada di dirinya sepenuhnya milik Angga.
Deg...Deg..Deg...
"Emang mata Caca gak berat peke bulu mata palsu setebal ini?" Tanya Angga, sambil menatap bulu mata palsu anti badai yang ditempelkan MUA di kelopak matanya.
Sontak Ica pun langsung membuka matanya, terlihat Angga memang sedang memperhatikan bulu mata palsunya itu. Ica terlihat salah tingkah sendiri.
'Ya ampun bisa-bisa-nya Caca jadi mendadak omes begini.' Lirih Ica dalam hatinya.
Omes (Otak mesum) 🤣🤣🤣🤭
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya.
Yuuhhhuuu, ada yang penasaran degan MalPer mereka??
Komen-komen yang penasana.🤭🤭
BTW sambil nungguin Angga up selanjutnya. Mampir ke ceritaku yang lainnya yuk!!
Rekomend banget deh, banyak bawang-nya🤭
Mampir yuk mampir, dan kasih like, komen dan Votenya juga ya. Dan tambahkan di Rak buku Favorit kalian.
Makasih.
see u..
bye-bye
__ADS_1
I love u all