HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 18


__ADS_3

Angga sudah terbangun pagi-pagi sekali, ia sudah bersiap-siap untuk menuju bandara.


Dengan dua koper yang sudah siap, yang satu berisi barang-barangnya, dan yang satu berisi oleh-oleh yang ia beli kemarin.


Waktu baru menunjukan jam 6 pagi, pesawat Angga terbang jam 7 pagi, Angga menarik dua koper tersebut keluar dari kamarnya.


Angga mengeluarkan terlebih dahulu kopernya itu keluar dari apartemen. Lalu Angga masuk kembali kedalam apartemennya untuk memastikan kembali tidak ada barang yang tertinggal.


Usai mengecek semuanya, dan Angga rasa barang bawaannya sudah di bawa semua, Angga pun keluar dari apartemen-nya.


"Aku akan merindukanmu rumah keduaku!" Lirih Angga.


Lalu Angga pun meninggalkan apartemen-nya itu, dan tak lupa ia membawa koper-kopernya.


Taksi yang Angga pesan terlihat sudah menunggunya di depan gedung apartemen tersebut, supir taksi membantu Angga memasukan barang bawaannya ke bagasi mobil tersebut. Lalu taksi tersebut pun melaju, menuju bandara.


40 menit kemudian, Angga sampai di bandara.


Supir taksi mengeluarkan koper-koper Angga.


"Terima kasih pak!" ujar Angga, lalu ia memberikan ongkos taksinya, uang yang Angga berikan sengaja Angga lebihi sebagai ucapan terima kasihnya, sudah membantu mengeluarkan koper-koper bawaanya.


"Sama-sama, tapi maaf ini uangnya kelebihan," ucap supir taksi tersebut, usai menghitung uang yang Angga berikan.


"Tidak apa-apa pak, simpan saja."


"Terima kasih banyak"


Angga tersenyum, menganggukan kepalanya.


Supir taksi pun berlalu dari hadapan Angga.


Angga menarik kopernya, menuju ruang tunggu.


Karna pesawat Angga sebentar lagi akan terbang.


Sambil menunggu pesawatnya terbang, Angga memainkan ponselnya.


"Salamat pagi, calon istri."


Angga mengetik kalimat tersebut, lalu mengirimkannya kepada Ica.


Angga terlihat senyum-senyum sendiri, membaca pesan yang baru saja ia kirim kepada Ica.


"Walaikum'salam, pagi kembali kak," balas Ica.


"Oh iya, lupa Asalamualaikum..Hehe"

__ADS_1


"Hihihi, dasar kakak"


"Jaga diri baik-baik ya Ca, tunggu kakak!"


"Pasti kakak"


Wajah Angga terlihat penuh kebahagian, saat saling balas pesan chat whatsapp dengan wanita yang ia cintai itu.


Tak terasa pesawat yang akan Angga tumpangi, akan segera berangkat. Angga pun segara beranjak dari ruang tunggu menuju pesawat yang akan membawanya pulang.


***


Caca Terlihat duduk di bangku taman dekat rumahnya sambil memainkan ponselnya Caca terlihat tersenyum-senyum sendiri.


Caca terlihat senyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponsel yang ada di tangannya.


Anisa yang sedari tadi memperhatikan adiknya itu Anisa terlihat keheranan.


"Ada apa dengan anak itu biasanya dia senyum-senyum seperti itu?" Gunam Anisa.


Lalu Annisa menghampiri adiknya itu, namun sepertinya Caca tak menyadari dengan kedatangan kakaknya itu.


Caca terus saja memandangi layar ponselnya dengan wajah yang merah merona.


"Duuuarr...." Teriak Anisa, mengejutkan adiknya itu.


"Astagfirullah, mbak Nisa mengejutkan saja"


"Hahaha, maaf-maaf dek. Lagian Kenapa kamu senyum-senyum sendiri begitu? "


" Ah mbak Nisa pengen tahu saja! "Pungkas Caca.


"Ya kamu udah mulai rahasia-rahasiaan ya sama mbak Nisa sekarang! Oke-oke kalau begitu kamu sudah tak menganggap mbak lagi sebagai kakak kamu?" Ucap Anisa.


"Ih bukan begitu mbak Nisa , tapi..." Caca menggantungkan ucapannya.


"Tapi apa ayo?" Pungkas Annisa.


"Caca, malu mbak mau ceritanya!" Ujar caca.


"Malu?" Tanya Anisa, menatap adiknya itu dengan penuh tanya. "Kenapa harus malu?" Sambungnya.


"Oke-oke, Caca cerita deh sama mbak Nisa!"


"Nah gitu dong, ayo ceritakan semuanya sama Mbak!" ujar Anisa, dengan penuh antusias dia duduk di samping adiknya itu.


Caca pun mulai menceritakan semua tentang Angga, namun Caca tak memberi tahu nama lelaki yang membuatnya jatuh hati itu. Membuat Anisa semakin penasaran dengan sosok yang di ceritakan adiknya itu.

__ADS_1


"Namanya siapa Ca?" Tanya Anisa. "Kamu ceritain dia tapi sama sekali tak memberi tahu siapa namanya!" lanjutnya.


"Nanti juga mbak Nisa tau, sudah ah aku mau masuk dulu!" Caca beranjak dari bangku tempat ia duduk.


"Eh Caca tunggu!" Anisa menahan Caca, yang hendak pergi tersebut.


"Ada apa mbak?"


"Emm, enggak.."


Caca mengerutkan keningnya. "Ih mbak Nisa aneh deh."


"Udah ah sana kalau mau masuk!" Titah Anisa.


Caca pun beranjak dari hadapan kakaknya, berjalan menuju ke dalam rumah. Anisa terlihat memandangi punggung sang adik yang menjauh dari pandanganya.


"Aku cerita gak ya sama Caca, tentang amanah Abi dan umi?" gunam Anisa, menompang dagu dengan kedua tanganya.


Pandangan Anisa menerawang, lurus kedapan.


"Nisa kamu sedang apa disitu?" Panggil Umi Aminah, bertanya kepada Anisa yang tengah melamun itu.


Umi Aminah menghampiri putri sulungnya itu.


"Eh umi, sejak kapan umi di situ?" Tanya Anisa, tersentak dari lamunannya, dan menyadari jika uminya sudah duduk di sampingnya.


Umi Aminah tersenyum.


"Kamu lagi mikirin apa Nis?"


"Enggak kok umi, Nisa gak lagi mikirin apa-apa!" jawab Nisa, sambari tersenyum menatap kearah uminya.


"Benar?" Tanya umi lagi, menyakinkan Anisa. "Apa kamu sedang memikirkan tentang amanah umi dan Abi?" lanjutnya.


Anisa terdiam.


"Nis umi dan Abi tidak akan memaksa kamu, jika kamu keberatan umi akan membatalkan semuanya!" Tutur umi Aminah.


"Tidak umi Anisa tidak keberatan, insaallah Anisa siap umi." Ujar Anisa penuh keyakinan.


Umi Aminah tersenyum, lalu mengelus bahu Anisa dengan lembut.


"Ya sudah ayo kita masuk," ajak umi Aminah.


Anisa mengangguk, lalu mereka pun masuk ke dalam rumah.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, comen dan Votenya.


Terima kasih.


__ADS_2