HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 56


__ADS_3

(Pagi harinya)


Sepasang pengantin baru itu terlihat baru saja selesai sarapan. Kini Ica dan Angga nampak sudah terbiasa bersama.


"Sayang yakin mau pulang sekarang?" Tanya Angga, diangguki oleh istrinya itu.


"Baiklah kita berkemas dulu." Ucap Angga pasrah, sebenarnya Angga masih ingin di hotel, menikmati masa-masa suasana pengantin-nya itu. Kalau di rumah, pasti susah. Tapi ya bagaimana lagi Angga tak bisa melarang istrinya. Lagian kasian juga sih kalau mereka di hotel terus, bisa-bisa badan Ica ambruk.


"Caca bantuin ya!"


"Gak usah sayang. Biar aku saja. Bukannya surgaku masih sakit?" Tolak Angga halus.


Ada yang tau apa itu surganya Angga? Itu loh, mahkota Ica, hehe. Ya karna Angga menyerangnya terus-terus semalam, membuat area sensitif-nya Ica itu luka, di tambah karna memang ini yang pertama bagi Ica, jadi begitulah.


Ica hanya mengangguk pelan, rasanya malu Angga menyebut area sensitif-nya itu, ya walau pun dengan sebutan yang indah.


Angga pun mulai mengemasi barang-barang-nya dan juga barang-barang milik istrinya, ke koper mereka masing-masing. Ica hanya jadi mandor saat ini, ia hanya melihat suaminya yang sibuk mengemas pakaiannya itu.


Tak lama kemudian akhirnya semua barang-barang itu selesai Angga kemas.


"Oh iya sayang, kita pulang ke rumah mana? Mau ke rumah ibu atau umi? Atau ke rumah kita?"


"Rumah kita?" Ica mengulang ucapan Angga.


"Iya sayang!"


"Emang ada?"


"Ada dong, aku sudah membeli rumah tak jauh dari rumah umi?" Ujar Angga.


"Memangnya kita mau netap di sini kak?" Tanya Ica, diangguki oleh Angga.


"Terus bagaimana perkerjaan kakak di Singapure, apa kita bakalan LDR?" Wajah Ica berubah lesu, "Caca gak mau jauh-jauh dari kakak!" Lanjutnya.


Angga tersenyum kekeh, lalu ia mendekat kearah istrinya. "Enggak dong sayang. Aku juga gak bisa jauh-jauh dari bidadariku ini." Ujar Angga, sambil mencolek hidung mancung Ica.


"Terus?"


"Kakak udah mutusin buat gak kerja di sana lagi, mungkin kakak akan berkerja di RS papah saja." Jelas Angga, Ica melebarkan senyumannya.


"Serius kak?"


"Iya sayang, tapi mungkin dekat-dekat ini kakak harus pergi ke sana dulu, untuk mengurus semuanya."

__ADS_1


"Lama gak?"


"Enggak tau. Emm apa Caca mau ikut? Sekalian saja kita bulan madu kesana!!"


"Ah mau kak, mau..." Ica terlihat begitu bersemangat.


"Terus sekarang kita pulang kemana?"


"Terserah suamiku saja." Ucap Ica.


"Ya sudah kita pulang ke rumah umi saja ya!" Ica menganggukan kepalanya. "Ya udah ayo kita pulang." Lanjut Angga.


"Ayo kak."


"Caca aku suamimu, bukan kakakmu!" Angga protes karna istrinya itu masih saja memanggilnya dengan sebutan kakak.


"Hehe," Ica memberikan cengiran kepada Angga. "Maaf sayang, Caca kebiasan panggil kakak."


"Pokoknya mulai saat ini Caca harus manggil 'Sayang'."


"Kalau di depan orang juga Caca harus manggil sayang?"


"Iya dong!"


"Tapi kalau di depan umi sama Abi Caca malu kak!"


"Gak ada pilihan yang lain?"


"Emm," Angga terlihat berpikir sejenak. "Gak ada deh kaya-nya."


"Panggil mas aja ya! Gak apa-apakan?"


"Ya udah deh boleh, tapi kalau di depan orang lain aja. Kalau kita lagi berdua Caca harus panggil sayang."


"Oke, mas sayang." Ucap Ica. Lalu mereka terlihat tertawa bersama.


Ica pun berajak dari tepi ranjang tersebut, berdiri. Namun baru saja ia melangkahkan kakinya beberapa langkah, Ica terlihat meringis, merasakan bagian sensitif-nya itu masih terasa perih.


Dengan cepat Angga mengangkat istrinya itu, ala bridal style. Ica terlihat membulatkan matanya.


"Sayang turunin Caca." Rengeknya.


"Diam sayang, nanti jatuh." Ucap Angga, sambil membawa Ica keluar dari kamar hotel tersebut.

__ADS_1


"Sayang turunin ih malu nanti, Caca bisa jalan sendiri kok. Lagian itu koper kita gimana?'' Ica berusaha membujuk suaminya itu agar menurunkan dirinya dari pangkuannya itu.


"Kenapa mesti malu, udah sah ini. Urusan koper gampang nanti aku balik lagi aja buat ambil." Ucap Angga sambil terus berjalan, lalu masuk kedalam lift.


Untunglah dalam lift hanya ada dirinya dan Angga, jadi Ica merasa agak tenang.


Ting...


Lift terbuka, Angga mereka keluar dari lift tersebut, kini mereka sudah sampai di loby hotel itu. Banyak pasang mata yang melihat kearah mereka. Angga terlihat acuh tak memperdulikannya, sedangkan Ica ia membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya itu. Rasanya Ica malu, ia memilih bersembunyi di dada bidang Angga.


"Ya ampun sosweet banget sumpah."


"Lakinya juga ganteng banget."


"Eh itukan bukannya pengantin baru ya. Kemarinkan pernikahan mereka di tayangkan Live di stasiun TV."


"Dia itu kakak iparnya yang punya hotel inikan?"


"Gila sih itu pasangan serasi banget."


Terdengar ucapan beberapa orang yang memuji mereka, saat mereka melewati orang-orang tersebut. Angga hanya tersenyum tipis menanggapi mereka.


Sedangkan Ica, Ica merasa malu dan kesal kepada suaminya itu. Apa lagi Ica tadi dengar ada yang bilang suaminya itu ganteng. Ica yakin pasti suaminya itu tebar pesona.


'Awas aja kamu mas.' Ucap Ica dalam hatinya.


Angga pun sudah keluar dari hotel tersebut, berjalan menuju mobil, yang sebelumnya sudah di siapkan, Angga membuka pintu mobilnya itu, perlahan ia menurunkan istrinya itu, duduk di kursi mobil.


"Aku ambil koper dulu ya sayang." Ucap Angga. Ica hanya menganggukan kepalanya, wajahnya terlihat di tekuk.


"Jangan lama-lama." Ketus Ica. Angga mengangguk lalu ia berjalan masuk kembali kedalam hotel tersebut.


Sejenak Angga berpikir kenapa istrinya itu menekuk wajahnya tadi, apa dia marah karna Angga menggendongnya tadi. Sudahlah nanti Angga pikirkan lagi.


"Awas aja kalau tebar pesona lagi kamu mas." Gerutu Ica.


Bersambung...


Cie Caca cemburu bete!!! Eh


Lanjut up lagi gak nih?


Like, komen dan vote dulu yuk..

__ADS_1


See u..


love u all..


__ADS_2