
Bunyi alarm membangunku setika dari tidur lelapku, lihat waktu sudah menunjukan jam 7 pagi.
Aku membulatkan mataku, sial aku kesiangan! umpatku, sambil beranjak dari kasur, berjalan tergesa-gesa menuju kamat mandi.
Tak butuh waktu lama, sekitar 10 menit aku sudah menyelsaikan mandiku, dengan cepat aku menganganti pakaianku, dan segera berangkat menuju RS karna hari ini ada jadwal operasi sekitar jam 8 pagi.
Sisa waktu ku hanya tinggal 25 menit, aku masih mengemudikan mobilku, dan sialnya lagi tiba-tiba mobilku mati.
"Ada apa dengan mobilku, kenapa tiba-tiba mati?" tanyaku, kepada diriku sendiri, keheranan sendiri.
"Ya ampun, kenapa aku sampai lupa mengisi bensin mobilku, ah sungguh sial sekali" Aku menggerutu sendiri, sambil beberapa kali memukul-mukul stir mobilku.
Tiba-tiba ponselku berbunyi, segera ku ambil ponselku itu. Pihak RS sudah menghubungiku. Aku bingung!
Lalu aku angkat telpon tersebut.
'Hallo....'
'Maaf sepertinya saya akan terlambat datang, ada sedikit kendala, dengan kendaraan saja" jelas Arka, berbicara di sambungan telpon tersebut.
'Oke baiklah, kalau memang ada dokter pengganti' ucapnya. Lalu sambungan telpon tersebut terputus.
Aku menghelai napas lega! Ternyata sudah ada dokter pengganti. Aku menepi sebentar, kebetulan mobilku berhenti di dekat sebuah taman.
Perutku terasa perih, aku baru ingat aku belum sarapan. Kulihat ada sebuah caffe di sebrang jalan sana. Aku memutuskan untuk sarapan di sana, untuk meminum kopi atau apa sajalah, yang bisa mengganjal perutku.
Lalu aku pesan kopi dan makanan ringan. Sambil menunggu pesanan ku datang, aku memainkan ponselku.
Entah kenapa sedari tadi aku masih berharap dapat balasan dari Ica.
Ku buka IG ku, ku lihat ada pesan masuk dari Ica atau tidak, dan ternyata tidak ada, terbesit rasa kecewa di hatiku.
Tak lama kemudian pesananku datang, aku menikmati sarapan dengan bayang-bayang chat dari Ica, masih berharap Ica akan membalas pesanku.
Pandanganku gak lepas dari layar ponselku, berharap notifikasi muncul dari Ica.
Beberapa detik kemudian, layar ponselku menyala. Dan ada notifikasi pesan masuk, dengan semangat aku mengambil ponsel yang ku letakan di atas meja ku itu, dan memgenceknya. Tapi sayang sekali itu bukan pesan dari Ica.
Tapi dari Mawar.
"Angga tumben kamu tidak sarapan di tempatku?"
Isi pesan dari Mawar.
"Iya, aku kesiangan dan mobilku kehabisan bensin, ini aku lagi sarapan di cafe dekat taman kota''
Balasku.
__ADS_1
Usai aku membalas pesan singkat dari Mawar, aku meletakan kembali ponselku, dan menikmati lagi kopiku.
Namun baru saja beberapa detik aku meletakan ponselku itu, ponselku berbunyi. Ada panggilan masuk dari Mawar.
Aku mengangkat telpon dari Mawar.
"Hallo, iya Mawar ada apa?"
"Kamu masih di sanakan? Aku akan segara kesana! Kamu jangan kemana-mana ya!"
"Tidak usah Mawar!"
"Pokoknya aku akan kesana dan kamu jangan kemana-mana oke, aku akan membawa orang untuk mengurus mobil kamu"
Ucap Mawar di dalam sambungan telpon tersebut, dan ia langsung mematikan sambungan telpon kita secara sepihak.
Aku hanya menggelengkan kepalaku, Mawar memang seperti itu, kalau aku dalam ke susunan dengan sigap iya langsung membantuku, walau pun aku tak memintanya.
"Mawar, Mawar...."
Tak terasa kopiku sudah habis, aku membayar kopi tersebut, lalu meninggalkan cafe.
Dan memutuskan menunggu mawar di taman saja.
Aku duduk di salah satu bangku taman tersebut, menunggu Mawar datang.
Mawar turun dari mobil dan mengahampiriku, dengan senyuman manisnya. Aku menoleh kearahnya sambil tersenyum juga.
"Hey, sorry nungguin lama ya!" Kata Mawar dan dia langsung duduk di sampingku.
"Tidak.."
"Oh iya, mobil kamu nanti aku suruh orang buat isiin bensinnya ya! Kalau kamu mau ke RS, ayo aku antar!" Tawarnya.
Aku berpikir sejenak, sebenarnya aku merasa tidak enak merepotkan dia, tapi jika aku menolak tawarnya, aku yakin dia pasti kecewa, ya walau pun aku tau Mawar itu orangnya sangat pandai menyembunyikan hal itu.
"Hey, kok malah bengong!" Sentak Mawar, seketika membuyarkan lamunanku.
Aku tersenyum tipis, lalu mengangukan kepalaku, meng' iyakan tawarannya.
Ku lihat senyuman penuh kebahagian tersirat dari wajah cantik Mawar. Lalu Mawar menarik tanganku.
"Ayo..'' Ajaknya, sambil beranjak. Dan aku mengikuti langkah Mawar.
"Biar aku saja yang bawa mobilnya" kataku.
"Oke, dokter ganteng!" pujinya, Mawar memberikan kunci mobilnya kepadaku.
__ADS_1
Dan kami pun masuk kedalam mobil, aku langsung melajukan mobil tersebut.
Tak ada percakapan di antara aku dan mawar, aku hanya fokus mengemudikan mobil, sedangkan Mawar, dari tadi aku memperhatikannya dengan sudut bola mataku, dia terus saja memandangiku, sambil terus mengambangkan senyumannya.
Membuat aku sedikit tidak nyaman, dan salah tingkah, dan wajahku mungkin saat ini sudah sedit memerah. Karna Mawar terus saja menatapku.
Aku yakin Mawar, menyadari ke gugupan ku itu, karna ku lihat dia menahan tawanya.
"Sudah puas memandangiku!" ucapku, membuka percakapan, berharap Mawar tak terus memandangiku seperti itu.
"Hahaha" Mawar tertawa. "Jadi diam-diam kamu menyadarinya ya!" ucapnya, penuh kemenangan.
"Jangan memandangiku seperti itu, nanti naksir lagi" Candaku.
"Loh dari dulu aku memang naksir sama kamu, dan aku aku menyukaimu! Bukannya aku pernah bilang soal ini sama kamu!" sahutnya.
Aku hanya tersenyum tipis, menanggapi ucapan Mawar.
"Tapi sepertinya kamu tidak pernah tertarik padaku!" lanjutnya.
Aku menoleh kearah Mawar, kulihat dia memaksakan senyumnya, aku tau Mawar kecewa karena aku tidak membalas perasaanya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dan memang pada kenyataannya aku tidak pernah ada perasaan apa pun padanya, hanya sebatas teman saja. Tidak lebih.
Tiba-tiba aku merasakan, suasana kembali canggung.
Aku hanya terdiam, bingung! Aku harus menjawab apa.
Kami sama-sama diam, larut dalam pemikiran kami masing-masing.
"Entah sampai kapan aku akan terus merasakan cinta bertepuk sebelah tangan ini. Mungkin Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa dapat balasan cinta dari kamu Angga! Apa ini saatnya aku harus melupakan kamu! Tapi apa aku mampuh" Batin Mawar.
Dan akhirnya mereka pun sampai di RS.
"Terima kasih, sudah mengantarku!" ucap Angga, sebelum turun dari mobi tersebut.
Mawar menganggukan kepalanya. "Iya sama-sama"
Angga pun keluar dari mobil tersebut. Angga melambaikan tangannya kearah mobil Mawar yang mulai melaju meninggalkan RS tersebut.
"Hati-hati..." teriak Angga.
Mawar mengangkat ibu jarinya, sebagai jawaban.
"Maafkan aku mawar, entah kenapa sampai detik ini aku belum bisa membalas perasaanmu! Padahal kamu itu baik dan di dalam pandangan setiap laki-laki pasti akan mengakui kalau kamu itu sempurna terlahir sebagai wanita" Batin Angga, sambil menatap nanar kepergian Mawar tersebut.
Bersambung...
Jangan lupa, like, comen dan Votenya.
__ADS_1
Terima kasih.