
Usai menyelesaikan makan, Angga dan kedua orang tuanya terlihat sudah berkumpul di ruang tengah.
"Terus gimana Bu, Pah?" Tanya Angga, membuka percakapan kepada orang tuanya.
"Bagaimana apanya?" ucap dr. Irawan.
"Ih papah, besokkan kita mau ke rumah calon Angga, masa kita gak ada persiapan sih!" Jelas Angga, terlihat kesal.
"Sudah kamu tidak usah khawatir Angga, kita sudah mempersiapkan semuanya kok!" Sahut Bu Aisyah.
Mata Angga berbinar, "Uh makasih Bu, Pah. Kalian memang the best." Puji Angga.
Bu Aisyah hanya tersenyum mendapati pujian dari putranya itu, sedangkan dr Irawan menatap malas sang putranya itu.
"Giliran butuh bantuan saja, muji-muji kita ya Bu!" Ledek dr. Irawan, sambil melirik kearah Bu aisyah yang duduk di sampingnya.
"Sudah ah sudah, kalian ini kalau dekat saja selalu saja begini." Pungkas Bu Aisyah.
"Papah tu yang duluan Bu," tuduh Angga.
"Idih kok nyalahin papah," sangkal dr. Irawan.
"Sudah-sudah kebiasaan deh kalian." Ucap Bu Aisyah.
"Oh iya apa besok kita ke sana bertiga saja? Apa mau ngajak yang lain?" Sambung Bu Aisyah, bertanya kepada suaminya dan anaknya.
Dr Irawan melihat kearah Angga.
"Menurut Angga sih, kita bertiga saja. Tapi terserah ibu dan papah juga sih," ujar Angga.
"Ya menurut ibu juga gitu sih, tapi terserah papah saja!''
"Ya papah ikut kalian saja!"
"Oke berarti besok kita ke rumah Bu ustadzah bertiga saja ya!" ucap Angga.
Diangguki oleh kedua orang tuanya.
Angga bernapas lega, ia menyandarkan tubuhnya disofa, senyuman terulas dari wajah tampannya.
Angga sudah tak sabar menunggu besok. Hari yang paling ia tunggu-tunggu.
Benak Angga kini di penuhi dengan bayang-bayang Ica, senyuma Ica. Ah rasanya rindu sekali pada wanitanya itu.
"Oh iya apa kamu sudah bilang sama calon kamu Angga? Kalau besok kita kerumahnya!" Tanya Dr. Irawan. Seketika membuyarkan lamunan indah Angga.
"Oh iya, aku hampir saja aku lupa, ya sudah Angga mau kabarin dia dulu," ujar Angga, ia beranjak dari sofa, berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Lah kamu mau kemana Angga?" Teriak Bu Aisyah.
"Mau telpon calon Angga Bu!" Jawab Angga, sambil terus melajukan langkahnya.
"Liat kelakuan anakmu Pah!" Bu terkekeh. Dan suaminya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Angga sudah berada di dalam kamarnya, ia modar mandir mencari ponsel miliknya, Angga lupa dimana terakhir dia menyimpan benda pipih itu.
"Aduh dimana sih?"
Angga mencari di atas nakas, tapi tidak ada. Lalu ia beralih menulusuri setiap jengkal ruangannya, namun nihil benda pipih itu masih belum ia temukan.
"Ya ampun kenapa mendadak aku jadi pelupa begini sih, perasaan tadi aku simpan di atas nakas deh tapi kok gak ada sih, ah membuat kesal saja!" Angga menggerutu sendiri.
Lalu Angga duduk di tepi ranjangnya, saat ia duduk ia merasakan ada yang mengganjal di bagian bokongnya.
"Apaan nih ganjal-ganjal gini?" Angga berdiri, lalu memeriksa apa yang ia duduki.
Angga menarik napas berat, "Ternyata kau disini, kau tau aku sudah mencarimu sampai kelimpungan, kenapa kau sembunyi di sini hah!" Angga memaki-maki ponsel yang ada di tangannya.
Lalu Angga menggaruk kepala yang tidak gatal, menyadari sikap konyol-nya itu.
"Ya ampun ada apa denganku!"
Lalu Angga menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Mulai memainkan benda pipih tersebut, Angga akan menghubungi Ica.
__ADS_1
"Asalamualaikum Ica, selamat sore!"
Pesan Angga yang di kirim lewat WhatsApp kepada wanita pujaannya.
"Walaikum'salam kak, sore kembali."
"Ca apa Caca hari ini sibuk?"
"Sepertinya tidak kak, memangnya ada apa?"
"Emm, apa bisa kita ketemu malam ini?" Dengan ragu, dan gugup Angga mengirim pesan tersebut.
"Ketemu kak?"
"Iya Ca, kakak sudah ada di rumah!" Balas Angga, dengan jantung yang berdetak maraton.
"Maksud kak, kakak di rumah? Kakak sudah pulang ke Indonesia?" Balasan pesan dari Ica.
"Iya Ca. Gimana?"
"Kapan kakak pulang? Kenapa tidak memberi kabar kepada Caca?"
"Tadi siang sayang..."
"Ih kakak.."
"Kenapa hmm? Emang gak boleh panggil sayang sama calon istri?" Angga tersenyum-senyum sendiri, sambil mengirim pesan tersebut, Angga membayangkan pasti wajah Ica disana tengah merah merona tersipu.
"Terserah kakak saja"
"Baiklah, sayangku.. Jadi gimana bisa gak kita ketemu malam ini?" Angga terkekeh sendiri. Mendapati kalimat pesan yang ia kirim kepada wanita itu.
'Aww, aku geli sendiri. Apakah ini yang di sebut bucin?' gunam Angga, dalam hatinya.
"Apa tidak bisa besok saja kak? Ketemunya siang!"
"Kakak maunya sekarang sayang! Ada yang ingin kakak sampaikan sama Ica. Penting!"
"Emm, baiklah kakak. Nanti Ica coba izin dulu sama Abi dan umi."
"Tapi Ica gak janji ya kak, soalnya Ica susah buat keluar malam, Abi dan umi suka melarang Ica"
"Iya Ca kakak paham kok, tapi usahain ya bisa! Hehe"
"insya'allah kak"
"Ya sudah Caca, izin dulu gih sekarang sama Abi dan umi, kalau gak di izininkan masih ada waktu buah rayu-rayu Abi dan umi, hehe"
"Ih dasar kak, ya sudah Ica coba izin dulu sama Abi dan umi ya kakak. Asalamualaikum.."
"Semoga di izinin ya sayang..Hehe. Walaikumsalam"
Percakapan dalam pesan WhatsApp tersebut pun berakhir. Angga menaruh ponselnya diatas nakas.
"Apa ini yang dinamakan bucin, ahhhh indahnya.." Teriak Angga.
***
Usai berchatan dengan Angga, Ica keluar dari kamarnya. Untuk menemui Abi dan uminya, untuk meminta izin.
"Bismilah.." ucap Ica, usai keluar dari kamarnya.
Lalu Ica berjalan menemui Abi dan uminya yang tengah bercengkrama hangat di ruang tengah. Disana juga terlihat ada kakaknya Anisa dan anak-anak.
Ya anak-anak yang berada di rumah tersebut, adalah anak-anak yatim yang di asuh oleh keluarga Ica.
Ada dua anak yatim yang diangkat menjadi anak Abi Adam dan Umi Aminah.
Anak yatim tersebut bernama Arif dan Irma, Meraka baru memasuki sekolah menengah pertama. Keluarga Ica menemukan mereka di jalanan saat usia mereka 7 tahun, keluarga Ica menyekolahkan mereka, serta mengurus mereka dengan penuh kasih sayang.
Tidak pernah membeda-bedakan mereka, begitu juga dengan Ica, ia sudah menganggap mereka seperti adik kandungnya sendiri.
Ica bergabung bersama mereka, duduk di sofa.
__ADS_1
Mereka tersenyum saat melihat Ica yang duduk di dekat mereka.
"Ca.." Sapa umi Aminah.
Ica tersenyum. 'Aduuh gimana ya ngomongnya' batin Ica.
Wajah Ica seketika berubah menjadi gugup, ada rasa takut akan meminta izin kepada kedua orang tuanya itu.
"Hey Caca, kamu kenapa hmm?" Tanya Anisa, yang duduk di samping Caca, Anisa menepuk bahu Caca pelan.
"Hehe, Enggak apa-apa mbak." Jawab Caca, tersenyum kikuk, melihat kearah kakaknya itu.
Lalu Ica beralih melihat kearah Abi dan uminya, yang terlihat sedang menatap Ica keheranan.
"Ada apa Ca?" Tanya Abi dengan lembut, sepertinya Abi Adam sudah tau, jika putrinya itu ada maksud tertentu.
Dengan ragu akhirnya Ica pun mulai membuka suara.
"Abi, umi. Emm Caca boleh minta izin gak?" Ica berbicara dengan menundukan kepalanya, entah kanapa nyalinya tiba-tiba ciut. Dalam benak Ica pasti orang tuanya tidak akan mengizinkannya.
"Izin? Izin apa ca?" Kini umi Aminah yang bertanya.
"Emm, boleh gak kalau nanti malam Caca keluar," ucap Caca dengan badan yang gemetar.
"Mau keluar? Mau apa Ca?" Tanya Abi, Ica yang masih menundukan kepalanya, sekilas Ica melihat kerah abinya dari sudut matanya.
Wajah Abi Adam terlihat tidak bersahabat.
"Ica ada janji dengan seseorang," ujar Ica pelan. "Tapi kalau Abi dan umi tidak memberikan izin, Caca gak akan pergi kok Abi, umi." Sambung Ica, melihat wajah Abi Adam yang tidak bersahabat, membuat Ica pasrah.
"Boleh kok ca, tapi jangan terlalu malam ya!" Jawab Umi dengan lembut.
Abi Adam terkejut, mendengan istrinya yang memberi izin kepada putrinya itu, Abi Adam terlihat tidak setuju. Namun ketika Abi Adam akan protes, umi dengan segara mengisyaratkan Abi untuk diam.
Abi Adam membuah napas panjang.
"Tapi tidak boleh sendirian, kamu pergi di temani mbak mu saja!" Sahut Abi Adam.
Ica terkejut, apa dia tidak salah dengar.
"Benarkah Abi, jadi Abi izinin Ica?" Mata Ica berbinar, menatap Abinya.
"Iya.." Jawab Abi dengan wajah datar.
"Terima kasih Abi, umi.." ujar Ica, Ica terlihat senang.
"Iya-iya, tapi ingat kamu pergi di temani mbakmu ya!" Ucap Abi mengingatkan kembali.
"Siap Abi.." Ica memberi hormat kepada Abi Adam, semua orang terkekeh melihat tingakah Ica tersebut.
"Nis kamu jagain adik kamu ya, kalau ada apa-apa segara kasih tau Abi.." titah Abi kepada putri sulungnya.
"Siap Abi..." Jawab Anisa, Anisa menuruti adiknya memberi hormat kepada Abinya.
Semua orang terkekeh kembali.
"Mbak Nisa sama mbak caca seperti sedang upacara saja ya!" Ujar Arif, dengan tawanya.
"Iya, hormat grak..." pungkas Irma. Sambil memperaktekan hormat.
Semua orang pun tertawa. Kehangatan telihat begitu mencolok di keluarga mereka.
Bersambung...
Maaf baru sempat up, sibuk banget guys. Mohon di maklumi ya..
And jangan lupa like, comen dan Votenya..
Dan terus ikuti kelanjutanya.
Kasih author gif juga boleh..wkwk
Salam cinta buat kalian..
__ADS_1
Sun online.
Terima kasih.