HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 28


__ADS_3

Anisa menutup pintu kamarnya tersebut dengan keras, hatinya sunggu merasa hancur. Sulit sekali rasanya Anisa menerima semua kenyataan. Kenyataan ini sangat terasa pahit dan dirinya merasa sangat terpukul.


Anisa bersandar di pintu kamarnya itu, dadanya sungguh terasa sesak, air mata pun masih mengalir deras dari matanya.


"Ya allah kenapa rasanya semua ini tidak adil untukku, mengapa engkau menggariskan takdir kepadaku sekejam ini?" Lirih Anisa.


"Laki-laki yang kucintai, dia mencintai adikku, dan kini orang tua yang sangat aku sayangi, ternyata mereka bukan orang tua kandungku."


"Jika saja aku bisa memilih aku lebih baik tidak di lahirkan ke dunia ini, jika garis takdirku seperti ini." Lirih Anisa kembali, sambil terisak tangis. Hingga tubuh Anisa yang bersandar di pintu tersebut, ambruk terkurai lemas ke lantai. Sungguh semua ini sangat menyakitkan dirinya.


Tiba Anisa yang terkurailemas tersebut mendengar teriakan dari arah luar, suara teriakan tersebut seperti suara adik-adiknya, yang memanggil uminya, dari suara mereka seperti sedang merasakan kekhawatiran.


"Umi..." Lirih Anisa, terkejut. Anisa segera berdiri dan membuka sedikit pintu kamarnya. Ia sedikit mendongkrak kepalanya melihat ke arah luar, Anisa melihat umi Aminah yang tengah di bopong oleh abi dan Arif menuju kamarnya. Umi Aminah terlihat tak sadarkan diri, Anisa merasa sangat khawatir dengan uminya itu.Ingin rasanya Anisa menghampiri mereka dan melihat kondisi uminya, namun  ego-nya masih sangat tinggi. Anisa malah menutup kembali pintu kamarnya.


Anisa beranjak menuju kasur, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Mungkin ia harus istirahat, tidut mungkin akan sedikit mengobati luka hatinya tersebut. Anisa berharap semoga saja semua ini hanya mimpi, dan besok ia terbangun semuanya akan kembali baik-baik saja.


Anisa mulai memejamkan matanya, namun entah mengapa rasa kantuk sepertinya tidak sama sekali ia rasakan, Anisa membolak-balikan tubuhnya, mencari posisi yang menurutnya nyaman. Agar bisacepat tertidur. Namun sudah hampir 10 menit Anisa berbaring dikasur, tetap saja ia tidak bisa tidur.


Anisa tak bisa membohongi perasaannya, sebenarnya hati kecilnya sangat menghawatirkan uminya, mungkin itu penyebab Anisa tidak bisa tidur, di tambah tadi ia sempat membentak uminya. Anisa merasa sangat bersalah.


Anisa pun beranjak dari kasurnya, Anisa sadar. Ia harus mengalahkan egonya. Walau bagaimana pun umi dan abinya itu adalah orang yang sudah merawatya dari bayi hingga saat ini dewasa.


"Aku harus menemui umi, memastikan kondisi umidan meminta maaf padaumi," ujar Anisa. Penuh keyakinan.


Anisa pun keluar dari kamarnya, berjalan menuju kamar uminya. Saat keluar keadaan ruangan rumah sudah sepi, mungkin orang-orang rumah sudah tidur. Anisa pun melanjutkan langkahnya.Saat ia melewati ruang tengah. Terlihat abi Adam sudah tertidur pulas di atas sofa.


Anisa menghentikan langkahnya sejenak, menatap nanar abinya, laki-laki yang selama ini membesarkannya, menyayangi dengan tulus, walau pun ia bukan ayah kandungnya.Tapi Abi Adam adalah cinta pertama untuk Anisa, Laki-laki yang selalu membingbingnya dalam segala hal apa pun, agar ia tidak salah melangkah.


"Maafkan Nisa Abi, Nisa sangat menyayangi Abi." Ujar Anisa, lalu ia pun melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar umi Aminah.


Abi Adam terlihat mengulas senyumannya saat Anisa mengucapkan perkataannya tadi. Sebenarnya Abi Adam belum tertidur, ia hanya mencoba untuk tidur. Jadi ia masih mendengar ucapan putrinya tersebut.


"Abi tau Nisa, kamu wanita yang baik."Gunam Abi Adam.


Anisa kini sudah berada di depan pintu kamar umi Aminah, Anisa terlihat menarik nafas dalam sebelum ia mengetuk pintu tersebut.


Tok..tok..


Anisa mengetuk pintu kamar uminya. Umi Aminah dan Ica yang


 berada di dalam kamar tersebut, dan mereka belum tertidur. Mereka bertanya-tanya siapa yang mengetuk pintu? Apa Abi Adam?


"Siapa ya mi?" Tanya Ica.


Umi Aminah menggelengkan kepalanya. "Tidak tau coba kamu liat Ca," titah umi, diangguki oleh Anisa.


Anisa pun beranjak dari samping uminya itu, dan berjalan menuju arah pintu. Lalu Ica membukakan pintu tersebut.


"Mbak Nisa.."


Anisa tersenyum, nanum matanya terlihat sembab. "Ca, bagaimana kondisi umi?" Tanya Anisa.


"Sudah membaik mbak, ayo masuk!" Ucap Ica mempersilahkan kakaknyaitu untuk masuk kedalam kamar.


Anisa mengangguk, lalu ia berjalan masuk kedalam kamar tersebut, di ikuti oleh Ica yang berjalan mengikuti kakaknya itu dari belakang.


Umi Aminah terlihat mengulas senyumannya saat melihat Anisa yang memasuki kamar dan berjalan kearahnya.


"Umi...." Ucap Anisa sambil menghambur memeluk umi Aminah yang tengah bersadar di dikasur tersebut. Anisa kembali menumpahkan air matanya. Umi Aminah mengelus-elus lembut bahu Anisa.


"Umi, mbak. Ica pamit keluar dulu ya!" Pamit Ica, sepertinya ia harus memberi waktu untuk kakak dan uminya untuk berbica empat mata.

__ADS_1


"Kamu di sini aja Ca," titah Anisa, sambil melepas pelan pelukanya. Anisa menahan Ica agar tidak mengiggalkan mereka.


Ica melihat ke arah uminya, umi Aminah tersenyum dan menganggukan kepalanya, meng 'iyakan' ucapan Anisa.


Ica mendekat kearah umi dan kakaknya itu.


"Sini..'' Titah umi Aminah kepada kedua putrinya itu. Umi Aminah menggeser posisi tubuhnya ketengah, dan menyuruh Anisa dan Ica untuk duduk di sampingnya, kini Umi Aminah di ampit oleh kedua putrinya itu.


Anisa dan Ica memeluk wanita parubaya tersebut, mereka terlihat mengambangkan senyuman diwajahnya.


"Umi Anisa minta maaf, soal tadi." Ujar Anisa dengan wajah penuh penyesal.


"Tidak apa-apa Nis, umi paham perasaan kamu."


"Terima kasih umi."


Umi Aminah mengangguk, dan tersenyum.


"Umi apa boleh Anisa tau siapa sebenarnya orang tua kandung Anisa?" Ucap Anisa dengan hati-hati, karna ia takut uminya tersinggung, dengan pertanyaannya itu.


"Tentu saja Nis, umi akan ceritakan semuanya. Umi tidak akanmenutupinya lagi." Jawab Umi Aminah, sambil tersenyum mengelus lembut kepala Anisa.


Anisa tersenyum, "terima kasih umi."


"Caca tolong ambilkan kotak yang berwarna putih di dalam lemari umi." Titah umi Aminah, Ica pun mengangguk. Lalu mengambil kontak yang berada di dalam lemari tersebut.


"Ini bukan mi?" Tanya Ica, memperlihatkan kontak yang di pegangnya.


"Iya, bawa kesini."


Ica pun memberikan kotak yang berukuran sedang tersebut, kepada uminya.


"Nis.." Umi Aminah memberikan kontak tersebut kepada Anisa.


"Kamu lihat saja."


Anisa pun membuka kotak tersebut, di dalam kotak tersebut terlihat ada sebuah foto dan kotak perhiasan kecil berwarna merah.


"Itu barang yang ditinggalkan ibu kamu, sebelum ia menghembunskan nafas terakhirnya." Ujar umi Aminah.


Anisa mengambil selembar foto yang ada di kotak tersebut, di foto tersebut terlihat ada seorang laki-laki dan perempuan yang sedang tersenyum bahagia, usai meyelesaikan pernikahan mereka.


 


"Itu foto orang tua kamu." Ucap umi Aminah.


Anisa menatap lekat foto tersebut, sambil mengusap foto itu dengan lembut. Diringi dengan air mata yang metes dari matanya.


"Jadi ini wajah orang tua kandung Nisa umi?"


"Iya sayang."


"Sayang sekali ya umi, Anisa hanya bisa melihatnya di foto saja. Kenapa mereka meninggalkan Nisa begitu cepat."


"Sebenarnya Ayah kamu masih hidup Nis, ibu kamu saja yang sudah tiada. Dulu kami sempat mencari ayah kamu, abi dan umi mencoba mencari informasi tentang ayah kamu. Tapi... "


"Benarkah umi?Lalu dimana dia sekarang." Pungkas Anisa. Memotong perkataan uminya. Wajah Anisa terlihat berbinar, ia berpikir masih ada harapan untuknya bisa bertemu dengan orang tua kandungnya.


"Maaf Nis, umi dan abi tidak berhasil waktu itu menemukan identitas ayah kandung kamu."


Wajah Anisa berubah, terlihat begitu jelas pancaran penuh kekecewaan.

__ADS_1


"Jadi tidak ada harap buat Anisa untuk bertemu mereka umi?"


"Umi tidak tau Nis, tapi jika tuhan sudah berkehendak apa pun bisa terjadi."


Mendengar perkataan uminya itu, seketika Anisa seperti mempunyai dorongan yang kuat dari dirinya. Anisa yakin jika Ayah kandungnya masih hidup, masih ada harapan untuknya bertemu dengan ayahnya itu.


"Umi apa masih ada petunjuk untuk menemukan informasi dari meraka?"


"Kamu lihat di balik foto orang tua kamu, di sana ada nama ibu kamu dan ayah kamu."


Dengan cepat Anisa membalik foto tersebut, dan benar di sana ada sebuah tulisan."


"Dewi dan Brama." Ucap Anisa.


'Jadi nama ibuku Dewi dan ayahku Brama, semoga dengan ini aku bisa menemukan informasi tentangmereka, dan semoga aku bisabertemu dengan Ayah' Batin Anisa.


"Nis, kamu baik-baik sajakan?" Tanya umi Aminah.


Anisa menganggukan kepalanya. "Nisa baik umi, umi apa boleh Nisa mencoba mencari tau tentang ayah kandung Anisa?"


"Tentu saja Nis, umi tidak akan melarang kamu. Karna walau bagaimana pun dia itu ayah kandung kamu. Kamu masih membutuhkan dia, untuk menjadi wali nikahmu kelak. Dan kamu harus berbakti pada ayah kamu!" Tutur umi Aminah.


"Nanti Caca bantu mbak untuk cari informasi tentang keluarga mbak." Timpal Ica.


Anisa mengulas senyumannya kembali, ia sungguh beruntung bisa mempunyai keluarga angkat yang begitu menyayanginya.


"Boleh Caca."


"Dan besok umi dan abi akan mengantarkanmu ke makam ibu kamu Nis."


"Benarkah umi?"


"Iya sayang.."


"Terima kasih banyak umi."


"Umi, mbak Nis, apa Caca boleh ikut?"


"Boleh dong.." Ucap Anisa.


Dan diangguki oleh uminya. Umi Aminah merasa sangat lega, akhirnya rahasia besar yang ia tutup-tutupi selama bertahun-tahun semuanya tersampaikan juga. Umi Aminah sangat berharap setelah Anisa mengetahui semuanya, hungannya dengan Anisa tidak berubah. Alasan selama ini umi Aminah dan abi Adam menutupi kebenaran tersebut ia-lah, mereka takut jika Anisa akan meninggalkan mereka. Karna menurut informasi yang mereka dapat waktu itu ayah anisa masih hidup, namun mereka sulit untuk mengakses ayah Anisa tersebut. Sepertinya Ayah Anisa bukan orang yang sembarangan.


 


Bersambung...


HAY GUYS AKU GAK ADA BOSEN-BOSENYA YA BUAT MENGINGATKAN KALIAN. JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA.


DI SINI AUTHOR GAK AKAN KASIH KOMPLIK YANG BERAT YA, KARAN HIDUP AUTHOR SUDAH BERAT GUYS.


STAY HEALTH GUYS, CORONA MAKIN MERAJA RELA.


USAHA SEMUA DI LOOKDWON, TAPI CICILAN TETAP JALAN. PUSING AKU TUH!! APA HARUS BERALIH PROPESI MENJADI PEMBUAT PETI MATI?  EH...


JADI CURHAT KAN..WKWKW.


JUST KIDING YA...


BYE-BYE.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2