HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
episode 19


__ADS_3

Pesawat yang Angga tumpangi Akhirnya sampai di negara yang amat ia rindukan, Indonesia.


Angga turun dari pesawatnya, dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan Angga berjalan menuju depan bandara cara untuk mencari taksi.


Akhirnya Angga menemukan taksi tersebut, ia masuk kedalam taksi tersebut, sopir taksi memasukkan barang-barang Angga ke bagasi mobilnya.


Usai memasukkan barang-barang Angga, sopir taksi tersebut pun masuk ke dalam taksi.


Lalu Angga memberi tahu tujuannya, dan supir taksi tersebut mulai melajukan mobilnya meninggalkan bandara melajukan mobil tersebut ke alamat yang Angga beritahukan tadi.


Sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya Angga pun sampai di depan rumah kediaman kedua orang tuanya. keadaan rumah terlihat sepi.


Angga keluar dari taksi tersebut, sopir taksi tersebut ikut keluar, membantu Angga mengeluarkan barang bawaannya.


"Terima kasih Pak! "ucap Angga. lalu Angga memberikan ongkos taksi tersebut.


"Sama-sama den, tapi ini uangnya kelebihan," ujar sopir taksi tersebut sambil kembali menghitung uang yang Angga berikan.


"Tidak apa-apa pak ambil saja itu rezeki buat bapak."


"Alhamdulillah, terima kasih banyak den, semoga Allah menggantinya dengan lebih." Ujar pak sopir taksi, terlihat wajah haru terpancar dari sopir taksi tersebut.


Angga tersenyum, "amin...''


Lalu sopir taksi tersebut berlalu dari hadapan Angga, yang masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil tersebut meninggalkan Angga.


Angga menghelai nafas dalam, dengan senyuman yang terulas di wajah tampannya. Angga menarik kopernya berjalan menuju rumah kedua orang tuanya itu.


Ada rasa gugup di hati Angga, namun ada rasa kerinduan yang amat dalam kepada kedua orang tuanya itu. Angga terus berjalan, hingga kini ia sudah berada tepat didepan pintu rumah kediaman orangtuanya itu.


Perlahan dengan gugup Angga mendekatkan tangannya kearah bel yang terletak di samping pintu, lalu Angga menekan tombol bel tersebut.


Ting-tong...


Ting-tong...


Bunyi bel terdengar, namun pintu rumah masih tertutup. Angga kembali menekan bel tersebut.


Ting tong...


Ting tong...


"Me mana Ibu, apa di rumah tidak ada orang?" guna angga.


"Apa aku aku coba tekan lagi belnya," gunam Angga lagi.


***


Bu Aisyah dan Dr. Irawan mereka terlihat sedang bersantai di ruangan tengah sambil menonton televisi.


"Bu apa Angga sudah ibu hubungi?" Tanya dr. Irawan.


"Sudah Pah, tapi tidak ada jawab. Dan ibu juga sudah coba menelponya, tapi nomer Angga tidak aktif!" jawab Bu Aisyah, dengan wajah lesu.


"Kemana ya tuh anak, tidak biasanya!" Wajah Dr. Irawan terlihat cemas.


"Tidak tau Pah, mungkin Angga sibuk." Ujar Bu Asiyah, sambil mengelus bahu suaminya, mencoba menengkan sang suami, yang terlihat cemas.


Tiba-tiba terdengar bel rumah mereka berbunyi.


"Siap ya Bu?" Tanya dr. Irawan.


Bu Aisyah menggelangkan kepalanya. "Tidak tau Pah." Jawabnya.


"Coba ibu liat, siapa yang bertamu siang bolong seperti ini." Titah Dr. Irawan.


"Iya pah.."


Bu Aisyah beranjak dari sofa tempat ia duduk, ia berjalan menuju kedepan, untuk membukakan pintu.


Saat ia tengah berjalan menuju pintu, suara bel kembali berbunyi.


"Ya Allah, siapa sih yang bertamu. Gak sabaran banget!" Gerutu Bu Aisyah.

__ADS_1


Bu Aisyah pun perlahan membuka pintu tersebut, Bu Asiyah tertegun, melihat sosok yang ada di depannya.


Angga yang melihat pintu terbuka, dan melihat ibunya yang berdiri dihadapannya, Angga mengulas senyumanya.


"Asalamualaikum Bu..." ucap Angga, meraih tangan Bu Aisyah dan menyalaminya.


"Walaikum' salam..Angga!" Teriak Bu Aisyah. Bu Aisyah langsung menghambur memeluk putranya itu. Bu Aisyah meneitihkan air matanya, tak kuasa menahan haru bahagia.


Seperti mimpi, tadi baru saja ia dan suaminya membicirakan putranya itu, dan kini putranya sudah ada di depan rumah mereka.


Angga membalas pelukan sang ibu dengan hangat.


"Kamu kok pulang tidak bilang-bilah sih!" Ucap Bu Aisyah terlihat kesal, namun tak mampuh menutupi kebahagianya mendapati Angga yang sudah berada di hadapannya.


Lalu Bu Aisyah melepaskan pelukannya.


"Maaf Bu, Angga--kan mau kasih surprise sama ibu dan papah!" Tutur Angga.


"Ya sudah ayo cepat masuk!" Ajak Bu Aisyah.


Angga menganggukan kepalanya, lalu ia masuk mengikuti langkah sang ibu, tak lupa Angga membawa barang bawaanya.


"Papah, lihat siapa yang datang.." ucap Bu Aisyah, yang berjalan mendekat kearah suaminya yang masih duduk santai di sofa sambil menonton televisi.


"Siapa Bu?" Tanya dr. Irawan.


Bu Asiyah melihat kearah Angga, yang berdiri di belakangnya, Dr Irawan mengikuti arah pandangan Bu Aisyah.


"Angga..." Teriak dr. Irawan terkejut.


Dr. Irawan langsung beranjak dari sofa, Angga menghampiri papahnya, lalu mereka saling berpelukan.


"Papah..." Ucap Angga.


Raut wajah penuh kebahagian terpancar dari mereka.


Angga dan Dr. Irawan melepaskan pelukannya.


"Kenapa kamu pulang tidak bilang-bilang? Pantas saja ibu kamu dari semalam susah menghubungi kamu, ternyata kamu sudah merencanakan semu ini ya!" ujar dr. Irawan.


"Sudah tidak apa-apa!" Kata Bu aisyah. "Sebaiknya kamu istirahat saja dulu sana, ibu mau siapkan makan siang dulu buat kamu! Ibu akan masak spesial buat anak ibu yang paling tampan ini," tutur Bu Aisyah.


"Ibu berlebihan.." Pungkas dr. Irawan suaminya.


"Ibu tidak berlebihan Pah, memang benarkan anak kita ini tampan."


"Iya-iya, persis seperti papah muda bukan." Ucap dr. Irawan dengan penuh percaya diri.


Angga hanya mengeleng-gelengkan kepalanya, sambil terkekeh melihat perdepatan kedua orang tuanya itu.


"Sudah ah, Angga mau ke kamar dulu." Kata Angga. "Oh iya Bu nanti tolong bibi ya, bawain koper Angga!"


Bu Asiyah menganggukan kepalanya. Lalu Angga pun beranjak dari hadapan kedua orang tuanya, berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Ibu juga mau kedapur mau masak dulu!" Ujar Bua Aisyah, berlalu dari hadapan suaminya, menuju dapur.


"Lah terus aku ngapain ya?" Tanya dr. Irawan kepada dirinya sendiri. Dr Irawan terlihat kebingungan.


***


Angga sudah berada di kamarnya, kamar yang sudah beberapa tahun ia tinggalkan, suasana kamar masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah di sana.


Namun kamar tersebut sangat bersih dan masih terawat. Angga mendekat kearah kasurnya. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur tersebut.


Lalu Angga mengambil ponsel dari saku celananya.


"Apa aku kasih tau Ica ya, kalau aku sudah berada di Indonesia," lirih Angga.


Angga terlihat berpikir keras.


"Apa aku langsung ke rumahnya saja ya besok, menemuinya dan itung-itung berkenalan dengan calon mertuaku!" Lirinya lagi, Angga kekeh geli mendengar ucapnya sendiri itu.


"Calon mertua..." Teriak Angga, Angga menguling-gulingkan tubuhnya diatas kasurnya itu.

__ADS_1


"Eh tapi aku kan gak tau rumah Ica dimana?" Angga berpikir sejanak. "Sebaiknya aku tanyakan Ica saja ya. Rumah ia dimana, Iya-iya sebaiknya aku tanyakan saja sama Ica. Tapi aku tidak usah memberitahu kalau aku sudah pulang, biar surprisekan!" ucap Angga, bermonolog dengan dirinya sendiri.


Lalu Angga mengambil ponsel yang ada di saku celananya, untuk pertama kalinya Angga akan menelpon Ica, eh bukan yang pertama kali sih Angga sudah pernah menelpon Ica, namun waktu itu Ica tak mengangkat telponnya.


Dengan perasaan yang sangat gugup, dan jantung yang berdegup kencang, Angga mencari nomer Ica di kontak telponya.


"Bismilah.." Ucap Angga, sebelum ia memulai menelpon wanita pujaannya.


Tak lama sambungan telpon terhubung, namun masih tidak ada jawaban dari Ica, Ica belum mengangakat telpon darinya.


Angga matikan telpon tersebut, lalu mencobanya kembali.


"Hallo Asalamualaikum kak." Terdengar suara dari sebrang sana. Sambungan telpon terhubung dan Ica sudah mengangkat telponnya.


"Hallo, walaikum'salam Ca.."


"Iya kakak, ada apa?"


"Emm tidak apa-apa Ca," Angga terkekeh sendiri. "Ca apa kakak boleh rindu sama Caca!" Lanjut Angga.


Caca terdiam tak menjawab ucapan Angga, dan mungkin di sembrang sana wajah Caca memerah.


"Ca kok diem sih, maaf ya kalau kakak lancang!" Wajah Angga terlihat berubah, bodoh! Gerutunya kenapa Angga malah berbicara seperti itu, maksud Angga menelpon Ica kan, mau menanyakan alamat rumah wanita itu.


"Tidak apa-apa kok!" Ucap Ica. "Ica juga rindu," ucap Ica lagi namun dengan suara pelan.


Angga tersenyum, dengan wajah yang memerah. Bahagia? Tentu saja. Walau pun suara Ica pelan. Angga masih mendengar jelas apa yang Ica barusan, Ica mengucapkan bahwa wanita itu juga rindu padanya.


"Ica barusan ngomong apa? Gak kedengaran suara Ica pelan!" ujar Angga, berbohong menggoda Ica. Jelas-jelas dia sudah mendengar dengan sangat sempurna ucapan wanita itu.


"Emm, ee-enggak kok kak!"Jawab Ica, terbata-bata, mungkin wanita itu sekarang sedang gugup di sebrang sana.


"Yakin gak apa-apa?"


"Maksud kakak?" Ica bertanya balik.


"Sudah lupakan saja. Oh iya Ca. Kakak boleh tau alamat rumah Ica gak?"


"Alamat rumah kak?"


"Iya.."


"Untuk apa?"


"Biar kakak tau lah Ca, nantikan kakak akan datang ke rumah Ica buat temuin orang tua Ica.."Jelas Angga.


"Kakak yakin?"


"Yakinlah Ca, kenapa Ica tanya gitu? Apa Ica kira kakak ini tidak serius dan main-main dengan ucapan kakak?"


"Tidak kak, bukan begitu. Iya nanti Ica kirim lewat chat alamat rumah Ica," ujar Ica.


"Oke terima kasih ca."


"Sama-sama kak, oh iya emang kakak kapan mau ke rumah Ica?" Tanya Ica, nada suaranya terdengar penuh penasaran.


"Nanti kalau kakak pulang ke Indonesia Ca!" Jawab Angga.


"Kapan?"


"Emmm, tidak tau."


"Emm..." Suara Ica terdengar sedikit ada kekecewaan.


"Ya sudah, kakak tutup ya telponnya. Ica baik-baik ya disana. Asalamualaikum!" Pamit Angga.


"Iya kak, walaikum'salam!"


Angga pun mematikan sambungan telpon tersebut.


"Maafin kakak Ca, kakak gak bermaksud buat bohongin kamu, tapi kakak mau bikin surprise buat kamu!" Lirih Angga.


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa like, comen dan Votenya.


Terima kasih.


__ADS_2