
Ica menganggukan kepalanya, Angga memapah Ica, merangkul bahunya, membantu Ica untuk berjalan. Karna Ica terlihat sangat lemas. Mereka pun keluar dari ruangan tersebut dan tiba-tiba...
Bray.....
Lampu rumah tersebut menyala, membuat Ica dan Angga terkejut.
"HAPPY BIRTHDAY TO YOU...."
"HAPPY BIRTHDAY TO YOU....'
"HAPPY BIRTHDAY... HAPPY BIRTHDAY ....HAPPY BIRTHDAY TO YOU..."
Semua keluarga Angga, dan keluarga Ica, Evan dan Mawar juga terlihat ada di sana. Mereka semua bernyanyi selamat ulang tahun, untuk Angga dan Ica.
Karna mereka hari ini ulang tahun, dan kebetulan tangal lahir Angga dan Ica sama.
Mereka semua berjalan menghampiri Angga dan Ica, yang masih mematung. Menatap tak percaya.
"Selamat ulang tahun Angga, Ica..." Ucap Umi Aminah dan Bu Aisyah mereka, masing-masing membawa kue yang sudah dihiasi, dan bertuliskan nama Angga dan Ica.
"Sekarang ayo tiup lilinnya." Seru Evan. Kedua wanita parubaya itu, mendekatkan kuenya kearah Angga dan Ica. Angga dan Ica pun meniup lilin tersebut. Semua orang bertepuk tangan usai melihat Angga dan Ica meniup lilin tersebut.
Ya ini semua memang rencana mereka, mereka sengaja menjebak Angga dan Ica. Ide tersebut adalah ide dari sahabatnya Angga, siapa lagi kalau bukan Evan. Mereka sudah mengcolling keluarga Angga dan Ica mengajak mereka bekerja sama. Alias kong-kalikong. Rumah tua itu memang rumah lama milik orang tua Mawar, tapi rumah itu sebenernya masih terawat, bahkan sebenarnya ada orang di yang menempati rumah tersebut, sepasang suami istri, yang tak lain pekerja yang ditugaskan untuk menjaga rumah tersebut oleh keluarga Mawar.
"Jadi ini semua rencana elo?" Tanya Angga, kini mereka tengah berkumpul di ruangan tengah rumah itu, tentu saja kini keadaanya sudah ramai dan hangat. Jauh berbeda dengan Angga dan Ica tadi disana.
"Iya, hebatkan gue." Sombong Evan, memuji dirinya sendiri, dan tertawa tanpa dosa.
"Bisa-bisanya kalian, ikut ide gila dia ini." Pekik Angga.
"Angga kamu ini, jaga bicaramu." Timpal Bu Aisyah. Dan Angga langsung tak bergeming. Angga tak habis pikir bisa-bisanya mereka mengerjai-nya dan Ica.
Apa lagi tadi Angga melihat Ica yang sangat begitu ketakutan. Sumpah demi apa pun, kalau tidak ada keluarga Ica di sini, Angga sudah mengajar Evan. Saat Angga tadi mendengarkan penjelasan mereka semua.
Aku tak habis pikir, ia mereka akan memberikan kejutan ulang tahun seperti ini. Bahkan Angga sendiri pun tidak ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Begitu pun dengan Ica, ia merasakan halnya dengan Angga.
"Caca, maafin gue ya. Tadi gue sempet narik-narik elo, dan kasar sama elo, sumpah gue gak bermaksud kaya gitu, gue juga terpaksa." Ucap Mawar, kepada Ica. Mawar terlihat begitu merasa bersalah dan menyesalinya. "Karna ngikut ide gila orang ini nih!" Lanjutnya sambil menoleh sekilas kearah Evan, yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Iya gak apa-apa kok kak. Ica ngerti." Jawab Ica.
"Maafin gue ya Ca, sumpah gue ngerasa gak enak banget sama kalian." Lirih Mawar.
"Ica udah maafin kakak kok, lagian Caca juga berterima kasih kalian sudah memberikan surprise ke Caca kaya gini."
Semua orang terlihat tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Maaf elo impas Mawar, tadi gue udah rusak pintu rumah elo tuh." Angga melihat kearah pintu yang rusak, yang tadi ia dobrak. "Jadi gue gak usah minta maafkan." Lanjutnya.
"Iya-iya."
"Jangan di maafin War, inikan rumah kesayangan bokap elo." Sahut Evan, mengompori Mawar. " Ayo loh Ang, nanti om Brama datangin elo, marah sama elo." Lanjut Evan.
"Evan..." Teriak Mawar, sambil menatap tajam Evan. Membuat Evan langsung menciut.
"Hehe, bencanda gue." Evan memberikan cengiran kepada Mawar.
"Maaf tadi saya dengar nak Evan mengucap nama Brama? Siapa Brama?" Tanya Abi Adam.
Evan dan Mawar menganggukan kepala mereka, melihat kearah Abi Adam. "Brama itu nama papah saya om." Ucap Mawar.
Semua orang terlihat menatap kearah Abi Adam, yang tengah terdiam itu. Sedangkan Umi Aminah, Anisa dan Caca. Sepertinya mereka tau apa yang dipikirkan Abi Adam tersebut.
"Apa saya bisa bertemu dengan papah kamu?" Ucap Abi Adam, kembali membuka suaranya.
"Papah sudah tidak ada om, papah sudah meninggal 1 bulan yang lalu." Jawab Mawar, dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca. Namun sebisa mungkin wanita itu masih mengulas senyuman di wajahnya.
Abi Adam dan Umi Aminah terlihat terkejut, " turut berduka cita ya nak Mawar. Maaf kami tidak bermaksud..."
"Tidak apa-apa Tante. Terima kasih." Pungkas Mawar. Melebarkan senyumannya. Karna ia tidak ingin terlihat sedih apa lagi menangis, Mawar sudah berjanji kepada sang papah kalau ia tidak akan mengisi kepergian papahnya lagi.
Seketika suasana menjadi hening. Mereka terlarut dalam pemikirannya masing-masing.
'Kenapa Abi bertanya seperti itu, apa Brama papahnya Mawar itu, sama dengan Brama ayahku?' Batin Anisa.
'Kenapa aku semakin penasaran dengan anak ini, kenapa hatiku yakin kalau Brama papahnya adalah Brama ayah kandungnya anisa.' Batin Abi Adam. 'Nanti aku akan coba tanyakan lagi. Sekarang bukan waktu yang tepat' Ucap Abi Adam kembali, di dalam hatinya.
__ADS_1
'Apa Abi memikirkan hal sama dengan umi!' Batin umi Aminah.
'Kalau papahnya Kak Mawar Brama yang sama dengan Brama Ayahnya Mbak Anisa, berarti mereka itu, adik kakak, tapi beda ibu, dan satu ayah.' Batin Ica.
'Kenapa orang tuanya Ica bertanya seperti itu, kenapa mereka terlihat terkejut saat mendengar nama papah. Dan sepertinya om Adam begitu penasaran dengan sosok Papah. Aku akan bertanya padanya nanti, apa yang sebenarnya terjadi.' Gunam Mawar dalam hatinya.
"Ini kok jadi pada diam sih..." Ucap Bu Aisyah. Memecah keheningan tersebut. Dan membuat mereka yang sedang larut dalam batin-nya itu pun tersentak.
"Eh iya-iya, kok jadi pada diam begini." Sahut Abi Adam. Semua orang langsung terkekeh.
"Oh iya calon besan, kapan pernikahan Angga dan Ica akan dilakukan?" Tanya dr. Irawan, mencoba mencari topik pembicaraan.
"Secepatnya." Jawab Abi Adam dengan santai sambil menyeruput teh miliknya.
Kita buktikan guys, apa benar Iklan yang di Tv itu, kalau ngobrol sambil ngeteh, bikin rileks...Eh
Angga dan Ica terlihat malu-malu kucing, saat mendengar obrolan orang tua mereka itu. Sedangkan yang lainnya ikut menyimak.
"Kalau kami dari pihak laki-laki kapan saja, insya'allah sudah siap." Ujar Dr. Irawan.
"Ya sudah kalau begitu, satu Minggu lagi kita langsung nikahkan mereka." Ucap Abi Adam.
Semua orang terlihat membulatkan matanya, tak percaya. Sedangkan Angga, ia berdiri sambil mengacungkan lengannya yang mengepal, lalu menariknya kebawah.
"Yesssss....." Teriaknya. Membuat semua orang tertawa.
"Iya saya sengaja mempercepat pernikahannya, karna saya takut terjadi hal yang buruk kepada putri saya. Dari pada mereka membuat dosa seperti tadi bersentuhan masih belum muhrim, apa lagi meluknya lama sambil mengusap-usap putri saya pula." Tutur Abi Adam, sambil memancingkan matanya kepada Angga.
Semua orang terlihat menahan tawa mereka, sedangkan Angga, yang tadinya bersemangat, seketika ia merasa ciut.
'Aku kira mereka tidak melihat aku yang sedang berpelukan dengan Ica. Calon mertua pake di bahas lagi.' Gunam Angga dalam hatinya.
Bersambung...
Dah, sampai ketemu besok guys.
Like, komen dan Votenya jangan lupa.
__ADS_1
Bye-bye.
Maaciiiwww...