HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 36


__ADS_3

Ica tengah berada di dalam kamarnya, sedari tadi dia mondar-mandir tidak jelas. Hati Ica begitu gelisah, bercampur bahagia, membuat jantungnya berpacu dengan kencang.


Anisa yang sedari tadi duduk di tepi ranjang adiknya itu, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik tersebut.


"Ca sudah duduk sini," Anisa menepuk ranjang menyuruh adiknya itu untuk duduk di sampingnya. "Apa kamu tidak capek? Dari tadi berdiri dan mondar-mandir gitu?"


"Caca gugup mbak!" Jawab Ica.


"Sudah sini duduk dulu.''


Ica pun akhirnya menurut, ia duduk di tepi ranjang di samping kakaknya itu.


"Tenangkan diri kamu, ini itu acara lamaran kamu Ca," Anisa mengelus bahu sang adik dengan lembut. "Kamu harus bahagia, bukan gusar seperti ini."


"Iya Mbak, Ica bahagia. Cuman Ica gugup nanti gimana ngomongnya?" Tanya Ica dengan begitu polosnya.


"Astagfirullah Caca, kamu ini. Tinggal bilang 'Iya' gitu aja kok." Ujar Anisa sambil terkekeh.


"Oh gitu ya mbak, jadi nanti Ica tinggal bilang 'Iya' gitu aja?"


Anisa menganggukan kepalanya. "Sudah kamu harus rileks aja."


"Caca, sepertinya keluarga nak Angga sudah datang. Ayo cepat kamu keluar!" Ujar Umi,masuk kedalam kamar tersebut.


"I--ya umi, sebentar!"


"Cepat ya, umi tunggu."


"Iya umi."


Umi Aminah pun keluar dari kamar tersebut.


"Mbak..."


"Sudah, ayo temui mereka. Jangan gugup cuman acara lamaran aja Ca, kamu gak akan di apa-apain kok!"


Ica membuang menarik nafas dalam, sebelum ia berajak.


"Ayo ca!" Anisa menarik tangan adiknya itu, menuntunnya untuk keluar.


"Iya mbak, ayo..."


Mereka pun keluar dari kamar, berjalan menuju ruang tamu.


"Mana mereka umi?" Tanya Ica.

__ADS_1


"Tuh masih diluar, ayo kita sambut mereka!" Ajak Umi.


Umi, Abi, Ica dan Anisa pun menyambut kedatangan Angga berserta keluar-nya itu. Mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam rumah.


"Assalamu'alaikum..." Ucap semua keluarga Angga, hendak memasuki rumah tersebut.


"Walaikum'salam"


"Silahkan masuk..." Titah Umi Aminah dan Abi Adam.


Angga berserta keluarganya masuk kedalam rumah tersebut, tak lupa mereka saling berjabat tangan terlebih dahulu.


"Silahkan-silahkan duduk..." Ucap Abi Adam.


Mereka semua pun duduk di sofa ruang tamu tersebut.


"Bagaimana kabarnya pak?" Tanya dr. Irawan kepada Abi Adam.


"Alhamdulillah dok, sangat baik..." Jawabnya.


"Jangan panggil dok pak, panggil Irawan saja. Jadi tidak enak saya." Ucap Dr. Irawan.


Semua orang terlihat terkekeh.


"Boleh-boleh.."


"Oh iya, silahkan di minum. Mohon maaf ya alakadarnya, kami tidak sempat mempersiapkan semuanya, mendadak sakali ini..." ujar Umi Aminah.


"Tidak apa-apa Bu ustdazah. Ini juga sudah lebih dari cukup."


Mereka pun meminum, minuman yang sudah di sediakan di atas meja tersebut.


Sedangkan Angga, sedari tadi tatapannya tak lepas menatap Ica yang duduk berhadapan dengannya, ah rasanya Angga gemas sekali melihat wanita yang di cintainya itu, ingin rasanya Angga segara membungkus Ica dan membawanya pulang bersamanya.


Astagfirullah, Angga. Kamu kira Ica gorengan di bungkus. Btw gorengan sama kopi enak kali ya buat bergadang. Cus gift Author kopi..🤭🤭


Oke lanjut...


Sedangkan Ica, Ica hanya menundukan kepalanya ia sama sekali tidak berani untuk mengangkat kepalanya, Ica merasakan ke gugup yang sangat dalam. Apa lagi kini laki-laki yang di hadapannya terus saja memandanginya.


Orang tua Ica, dan orang tua Angga, serta yang lainnya yang sedari tadi memperhatikan dua sejoli itu, mereka terkekeh.


"Sudah jangan di liatin terus." Bisik Bu Aisyah, kepada Angga yang duduk di sampingnya.


Angga tersentak, mendengar bisikan ibunya itu, segara Angga mengalihkan pandangannya dari Ica, Angga terlihat salah tingkah.

__ADS_1


"Sudah-sudah, sebaiknya kita mulai saja pembicaraan kita." Ucap Dr. Irawan, mencoba memecahkan ke gugupan.


Semua orang terlihat menganggukan kepalanya, dan Angga semakin dibuat gugup.


"Jadi begini, kedatangan kami kesini untuk meminang Ica putri kalian, untuk putra kami Angga." Tutur Dr. Irawan. To the poin.


Abi Adam tersenyum, sembari mengangguk-anggukan kepalanya. "Iya, di sini kami akan akan serahkan semuanya kepada yang bersangkutan." Ucap Abi Adam, lalu Abi Adam menoleh kearah Ica.


"Caca, bagaimana? Apa kamu menerima pinangan nak Angga?" Tanya Abi Adam.


Ica mengangkat kepalanya. Menatap kearah Abi-nya, lalu berganti menatap kearah Angga, dengan perasaan yang masih sangat gugup.


Begitu pun dengan Angga, Angga begitu merasakan kegugupan dan ke was-wasan tingkat dewa. Takut jika lamarannya tidak di terima, walau pun Angga merasa 100 persen pasti di terima.


Mana ada sih yang mau menolak sejuta pesona dr. Angga...eaaa...


Ica manarik nafas dalam, mencoba menetralkan terlebih dahulu kegugupannya.


'*R*ileks, iya aku harus rileks. Tinggal bilang 'Iya'. Ayo Caca kamu pasti bisa.' Batin Ica.


"IYA..." Ucap Ica dengan lantangnya.


Membuat semua orang terkejut, dan terkekeh. Bagaimana bisa seorang Ica seperti itu?


"Alhamdulillah.." Teriak Angga, Angga merentangkan tangganya sambil berdiri, Angga terlihat akan menghibur memeluk wanita-nya itu.


"ANGGA..." Teriak semua orang yang berada disana, mereka terlihat menatap tajam kearah-nya.


Angga terkejut, dengan segera Angga duduk kembali.


Bisa-bisanya Angga akan melakukan hal tersebut, memeluk Ica, yang jelas-jelas masih haram untuknya.


Angga menggaruk kepala yang tidak gatal. Menggerutui tingkah memalukannya itu.


"Ingat kalian belum muhrim..." Pesan Abi, menatap tajam Angga dan Ica secara bergantian.


"Maaf, lupa..." Ucap Angga, sambil menggaruk tengkuknya.


'Ah Angga, bodoh sekali kamu. Tahan Angga nanti juga bisa peluk sepuasnya kalau Ica sudah halal untuk mu, nasib-nasib punya calon istri anak ustad, harus jaga jarak.' Gunam Angga, dalam hatinya.


Bersambung....


Jangan lupa like, comen dan Votenya permisah.


Love-love cuap-cuap🤭🤭🤗

__ADS_1


__ADS_2