HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 62


__ADS_3

Mawar kini sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, begitu juga dengan Anisa, usai menerima donor darah dari Maria, kondisi Anisa sudah mulai stabil.


Mereka di rawat bersebelahan, di ruangan yang sama.


Itu semua atas keinginan Maria. Semua orang terlihat ada di ruangan tersebut. Abi Adam pun terlihat ada di sana. Beliau sudah di beri tau oleh sang istri. Karna merasa tidak tenang. Apa lagi tadi kondisi Anisa kritis.


Dan untungnya, tidak terjadi apa-apa dengan kondisi Abi Adam yang sedang masa pemulihan tersebut.


"Mawar, bangun sayang." Ucap Maria, sambil mengusap lembut kepala Mawar. Yang masih terbalut oleh perban. Wanita itu masih menangis sendu.


Jari jari Mawar terlihat bergerak, perlahan wanita itu membuka mata.


"Mamah.." Panggil Mawar, dengan suara yang masih terdengar lemas.


"Sayang, Syukurlah kamu sudah sadar nak!" Maria terlihat mengulas senyumannya.


"Mah, aku dimana?" Mata Mawar terlihat menyapu semua sudut ruangan tersebut.


"Kamu di rumah sakit sayang!"


"Rumah sakit?" Mawar mengulang perkataan Mamahnya. Lalu Mawar mencoba lagi mengingat, apa yang sudah terjadi. Mawar ingat sebelum ia mengalami kecelakaan, ia tengah menemui orang tua Anisa. Air mata Mawar terlihat lolos dari sudut matanya.


"Mah, apa benar?" Tanya Mawar. Maria menganggukan kepalanya, cairan bening kembali membasahi wajah wanita parubaya itu.


"Kenapa mamah menyembunyikan semuanya dari aku mah? Kenapa?" Maria langsung memeluk Mawar.


"Maafkan mamah sayang."


Semua orang yang berada di ruangan tersebut, hanya terdiam.


"Anisa memang kakak kamu sayang, dia putri papah dari wanita lain." Sambung Maria.


"Umi, Abi ...." Suara lirih terdengar memanggil umi Aminah dan Abi Adam, mereka semua langsung menoleh kearah sumber suara tersebut.


"Alhamdulillah Nis, kamu sudah sadar." Ucap Umi Aminah. Anisa mengulas senyuman tipisnya. Kepalanya masih terasa sakit.

__ADS_1


"Kakak...." Panggil Mawar, kepada Anisa. Anisa mengalihkan pandangannya menoleh kearah samping, dimana di sana terlihat Mawar yang terbaring di atas brankar sama seperti dirinya. Lalu Anisa kembali menoleh kearah Umi Aminah, umi Aminah langsung mengaggukan kepalanya.


"Itu Mamah dan adik kamu Nis." Tutur umi Aminah.


"Mamah." Panggil Anisa, Maria langsung menghampiri Anisa dan memeluknya.


"Maafkan mamah Nisa, maaf..." Lirih Maria. Anisa terlihat menitihkan air matanya, ada rasa tak percaya, serta haru bahagia. Maria ternyata bisa menerima kehadirannya. Lalu Anisa membalas pelukan Maria.


Semua orang yang berada diruangan itu pun, ikut merasa bahagia.


"Apa Nisa boleh panggil Mamah?" Tanya Anisa, usai Maria melepaskan pelukannya.


"Tentu saja sayang. Kamu anak mamah, kamu dan Mawar anak mamah." Jawab Maria, kembali memeluk Anisa.


"Terima kasih ya Allah, engkau sudah membuat anak-anakku bahagia, Ica sudah bertemu dengan laki-laki yang sangat mencintai dan menyayangi-nya. Anisa sudah bertemu dengan keluarganya. Jika waktu hamba sudah dekat, hamba sudah siap."---Batin Abi Adam.


"Berarti sekarang Caca punya dua kakak dong." Ucap Ica. Mereka semua terkekeh, mendapati sikap Ica yang seperti anak kecil itu.


"Wah-wah, aku gak nyangka. Rasanya dunia ini terlalu sempit untuk kalian." Sahut Evan, namun detik kemudian sahabat Angga itu menekuk wajahnya, kesedihan terlihat dari wajah Evan. "Di dunia ini, mungkin cuma gue aja ya. Yang sendirian." Sambungnya.


"Sayang ih, kasian tau kak Evan." Bisik Ica.


"Kamu mau jadi bagian dari keluarga Tante Evan?" Tanya Maria, membuat orang-orang yang berada di ruang itu, menoleh kearahnya.


"Mak--sud Tante?" Evan terlihat gugup.


"Kamu gak mau pilih salah satu putri Tante ini, Meraka cantik-cantik loh." Goda Maria. Seketika membuat Evan salah tingkah.


"Ya jelas maulah Tan, apa lagi kalau sama Mawar, Evan gak nolak." Ucap Evan dalam hatinya.


"Gimana Evan?" Lanjut Maria.


"Emang boleh Tan?" Maria menganggukan kepalanya, kemudian Evan memancingkan matanya melihat kearah Mawar. Mawar terlihat tersipu malu.


"Ayo Van, jangan sia-siakan kesempatan ini, nanti Tante Maria berubah pikiran, baru tau rasa elo." Pungkas Angga.

__ADS_1


Dengan gugup Evan terlihat berjalan mendekat kearah Mawar. Lalu Evan meraih tangan wanita itu dengan lembut.


"War, elo mau gak jadi istri gue?" Tanya Evan, singkat, padat, jelas. To the poin, No Debat.


Semua orang membulatkan matanya, menatap Evan tak percaya. Sungguh luar biasa, nyali Evan memang bukan nyali kaleng-kaleng. Evan langsung melamar Mawar, di hadapan semua orang. Tanpa persiapan apa pun.


Mawar terdiam, membuat Evan merasa was-was.


"Astaga apa yang gue lakuin, gue bodoh apa gimana sih? Apa ini terlalu cepat ya? Astaga bagaimana kalau Mawar nolak gue, hancur sudah gelar bad boy gue, mana banyak orang lagi disini. Aduh kok jadi mendadak bodoh begini sih. Mawar pasti terkejut, sudah pasti ini mah lamaran gue di tolak. On the way jadi sad boy. Kalau begini ceritanya." --Guman Evan, dalam hatinya.


Perlahan Evan melepaskan genggaman tangannya kepada Mawar, melihat Mawar terdiam, membuat Evan sadar, mungkin itu jawaban yang di berikan Mawar untuknya. Evan mengulas senyuman tipis, mencoba untuk berlapang dada menerima kenyataan ini. Evan sadar harusnya ia tidak melakukan ini, bukannya Evan tau selama ini Mawar mencinta Angga? Walau pun kini Angga sudah menikah dengan Ica, Mawar pernah bilang padanya, bahwa ia akan selalu mencintai Angga, walau pun tidak bisa memilikinya.


Semua orang yang ada di ruangan itu tidak ada yang membuka suaranya, bahkan Angga, sahabat Evan. Melihat wajah Evan yang tersimpan kekecewaan, membuat Angga memilih bungkam.


"Maaf War, kalau gue lancang." Ujar Evan, sekuat tenaga Evan mencoba menahan rasa sesak di hatinya. Lalu Evan pun berajak dari hadapan Mawar.


"Evan tunggu." Mawar menarik tangan Evan, menahannya. Evan pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah Mawar.


Mawar tersenyum, lalu ia menganggukan kepalanya pelan. "Gue mau kok, jadi istri elo." Ucap Mawar.


"Benaran?" Evan menatap Mawar tak percaya, namun dalam hati bersorak bahagia. Mawar kembali menganggukan kepalanya.


"Terima kasih war. Gue cinta sama elo." Ucap Evan, sambil meraih tangan Mawar dan mengecupnya sekilas.


Mawar hanya tersenyum, mendengat Evan mengatakan cinta padanya, ingin rasanya Mawar membalas ungkapan cinta Evan tersebut. Namun lidahnya terasa Kelu. Jujur saja untuk saat ini Mawar belum mencintai Evan, hatinya masih untuk Angga.


"Maafin gue Evan, bukan maksud gue mainin perasan elo, jujur saja untuk saat ini gue gak sama sekali ada rasa sama elo. Hati gue masih buat Angga. Tapi gue janji mulai hari ini gue akan lupain Angga, dan coba buka hati gue buat elo. Maafin gue Evan."---Batin Mawar.


Ada rasa bersalah yang bersarang di hati Mawar. Apa keputusan yang ia buat ini sudah benar? Entahlah, tapi Mawar sudah berjanji pada dirinya sendiri, jika ia akan mencoba belajar mencintai Evan. Dan, seiring-nya waktu semua pasti akan terjadi.


Bersambung...


Jangan lupa, like, komen, dan Votenya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2