
Menyambut kelahiran Anggota keluarga baru.
Hari dema hari berlalu, berganti menjadi bulan. Begitu juga dengan kehamilan Ica, seiring berjalannya waktu, bayi dalam kandungannya tumbuh, tak terasa bulan ini adalah bulan yang di nanti-nanti oleh Ica dan Angga.
Ya menurut dokter kandungan yang memeriksanya, kisaran Ica akan melahirkan sekitar tujuh hari lagi. Semuanya sudah di persiapkan oleh calon orang tua itu. Mulai dari perlengkapan bayi dan yang lainnya, bahkan mereka sudah membuat kamar dengan desain khusus untuk calon buah hati mereka.
"Sayang, aku sudah tidak sabar menanti kehadiran calon anak kita!" Ujar Angga, tanganya mengelus perut sang istri yang sudah membesar itu. Raut wajah kebahagian terpancar jelas dari wajah keduanya.
"Iya mas, Caca juga!"
"Oh iya mas, nanti kalau bayinya lahir mas akan kasih nama apa?" lanjut Ica bertanya.
Menurut keterangannya USG calon anak mereka adalah perempuan.
Angga terlihat berpikir sejenak, ia memikirkan apa nama yang cocok untuk calon anaknya nanti.
"Caca ingin memberinya nama Cahaya."
"Cahaya, bagus itu sayang."
"Caca harap anak kita kelak, akan menjadi cahaya, yang mampuh memberikan keterangan untuk setiap orang," jelas Ica.
"Iya, mas setuju!"
"Mas apa jika Caca tiada, apa mas akan menikah lagi?'' Tanya Ica, netra menatap senja yang dari balik dinding kaca.
"Hey apa yang kamu katakan sayang, jangan berbicara seperti itu!" Angga menarik Ica ke dalam pelukannya.
"Caca hanya bertanya mas, jodoh, maut. Semua itu rencana Allah. Allah bisa mengambil jiwa kita kapan saja bukan?''
"Iya mas tau. Tapi jangan bicara seperti itu tidak baik," Angga terlihat kesal.
"Udah jangan bicara macam-macam, mas gak akan pernah nikah lagi. Istri mas cuman satu kamu." Angga mengeratkan pelukannya.
Ica tersenyum bahagia, lalu menganggukan kepalanya.
..........
Pagi harinya.
Seperti biasa Ica masih melakukan aktifitasnya, menyiapkan sarapan untuk Angga, sebenarnya Angga sudah melarang istrinya itu. Namun Ica masih ngeyel, lagian Ica pikir hanya menyiapkan sarapan, tidak menguras tenaganya.
"Sarapan dulu mas!" Ica memberikan satu piring nasi goreng kepada suaminya, tak lupa segelas air putih juga ia siapkan untuk Angga.
__ADS_1
"Terima kasih sayang." Ica tersenyum menganggukan kepalanya, mereka--pun mulai melahap sarapan paginya itu.
"Oh iya mas, apa mas hari ini akan ke RS?" Tanya Ica, disela-sela makannya itu.
"Hari ini ada jadwal operasi pasien. Tapi nanti siang, mas berangkatnya."
Ica menganggukan kepalanya, namun bibir wanita itu mengerut.
"Kenapa sayang?"
"Enggak mas, Caca boleh ikut gak?"
"Enggak sayang! Kamu di rumah saja, nanti kamu capek kalau ikut, lagian operasinya lama nanti, emang mau nungguin hemm?" Jawab Angga lembut.
"Tapi Caca gak mau jauh-jauh sama mas," rengeknya.
Angga menghelai nafasnya, "ya sudah hari ini mas gak ke RS, biar nanti mas hubungi rekan mas buat gantiin mas!" Angga tak mau ambil resiko.
"Benarkah mas?" Wajah Ica kembali berbinar. Angga mengangguk.
"Tapi gak apa-apa nantinya?"
"Enggak sayang. Hari ini mas akan temani kamu, mas gak akan kemana-mana." Ica semakin melebarkan senyumannya.
"Syarat? Apa mas?" Ica menatap Angga heran.
"Ada pokoknya, nanti saja mas kasih tau. Sekarang habiskan dulu sarapannya!" Tutur Angga, Ica mengagukan kepalanya, mereka--pun segara menghabiskan sarapan tersebut.
"Jangan salahkan mas ya sayang, kalau nanti kamu mas siksa, mas gak tahan kalau dekat-dekat kamu terus!" Gunam Angga, senyuman kekeh terulas dari bibir Angga.
"Mas kenapa?"
"Emm, gak kok sayang! Ayo cepat habiskan makanannya."
Tak lama kemudian mereka--pun menghabiskan sarapannya itu. Angga mengajak Ica menuju kamar mereka. Ica merasa bingung, untuk apa suaminya membawanya ke kamar, apa iya mau tidur lagi?
"Sini sayang," Angga menepuk kasur yang di sampingnya, ia meminta Ica untuk berbaring di sampingnya itu. Ica--pun menurut.
Angga merentangkan sebelah tanganya, menjadikannya bantalan untuk Ica, lalu Angga menarik tangan Ica, dan melingkarkan di atas perutnya.
"Mas Caca tidak ngantuk!" Rengek Ica.
"Emang siapa yang meminta Caca bobo." Angga terkekeh, netranya menatap Ica dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Sayang...'' panggil Angga.
"Iya mas."
"Boleh tengok Dede bayi gak?" Wajah Ica langsung merah merona. Ini masih pagi, suaminya mengajak Ica untuk bercinta.
"Kan kata dokter juga gak apa-apa, asalkan mainnya lembut dan perlahan, bikin jalan buat Dede bayi sayang!"
Perlahan Ica--pun menganggukan kepalanya. Angga langsung bersemangat. Tak menunda waktu Angga langsung menengok calon bayi yang masih ada di perut istrinya.
Sensor ya masih pagi... Wkwkwk....
Entahlah akhir-akhir ini Angga selalu ingin anu-anuan dengan istrinya itu, melihat tubuh istrinya yang tengah hamil tua itu, Angga merasa tubuh istrinya semakin sexy. Padahal tubuh ramping Ica kini sudah tidak terlihat. Namun itu semua tak menyurutkan bihari seorang Angga. Ica candu untuknya...
Bersambung...
Like, komen dan Votenya ya sayangku.
Gift hadiah juga boleh. Hehe.
........................
Oh iya guys sambil nunggu up lagi boleh mampir ke karya author yang baru.
Judul: SUGAR ( Terpaksa Menikahi Sugar Baby Daddy Ku)
Ceritanya sedikit menguras esmosi. Hehe
Sinopsis.
Demi menutupi kebejatan sang Ayah, yang sudah menghamili wanita yang menjadi simpanannya ( Sugar Baby). Reyhan memutuskan untuk menikahi wanita itu.
Semua itu Reyhan lakukan demi sang Mommy. Mommy Reyhan sangat menyayangi Daddy--nya. Reyhan tak ingin melihat wanita itu yang sangat ia sayangi itu terluka, karna penghianatan Daddy--nya.
Bagaimana rencana Reyhan akan menikahi wanita itu? Sedangkan wanita yang menjadi Sugar baby sang Daddy, menolak permintaan Reyhan yang menurutnya sangat gila itu.
Akankah Reyhan berhasil menikahi sugar baby sang Daddy? Atau sebaliknya?
Ikuti cerita selanjutnya ya!!
Warning 21+ bijak membaca ya.
Kasih dukung juga untuk Reyhan dan Febby otor tinggu di sana ya!!
__ADS_1