HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 61


__ADS_3

Umi Aminah, Angga dan Ica masih menunggu di depan ruangan UGD tersebut, mereka sudah hampir satu jam berada di sana. Namun belum ada tanda-tanda dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Mas, sebaiknya mas hubungi keluarga kak Mawar!" Pinta Ica.


"Hubungi siapa sayang? Mas gak punya nomer keluarga-nya."


"Nak Evan, bukannya dia sangat tekat dengan Mawar? Coba nak Angga telpon nak Evan, nanti biar dia yang memberi tau keluarga Mawar." Sahut Umi Aminah. Angga pun menganggukan kepalanya.


Lalu Angga mengambil ponsel yang ada di saku-nya, untuk menelpon Evan. Tak lama kemudian telpon pun terhubung.


"Hallo... Ada apa Ang?"


"Van elo di mana?"


"Di apartemen, emang mau ngapain sih?"


"Van Mawar kecelakaan, di ketabrak mobil. Elo ke sini sekarang, Mawar sekarang lagi di UGD RS bokap gue. Sekalian elo kasih tau Tante Maria."


"Oke gue ke sana sekarang!"


Tut...


Panggilan itu pun terputus.


"Bagaimana mas?" Tanya Ica.


"Sudah, mereka akan ke sini sekarang."


"Syukurlah." Sahut umi Aminah.


"Umi boleh Ica tanya?"


"Tanya apa Ca?"


"Kenapa mereka bisa tertabrak umi? Bukannya mereka tadi berada di ruangan Abi? Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Ica bertubi-tubi.


Umi Aminah terlihat menghelai nafas panjang, lalu wanita itu pun mulai menceritakan kejadiannya.


"Waktu terjadi kecelakaannya umi tidak tau Ca. Tapi sebelum itu, Abi kamu meminta untuk bertemu Mawar. Makanya Mawar ikut bersama kami tadi."


"Memangnya ada perlu apa Abi, umi?"


"Kamu masih ingat dengan orang tua kandung Nisa?" Ica menganggukan kepalanya. "Apa kamu ingat Ca, waktu kita memberi kejutan pada kalian? Mawar pernah menyebutkan nama Papahnya, nama papahnya Mawar sama dengan nama Ayah kandung Anisa. Abi kamu hanya ingin memastikan kebenarannya. Dengan bertanya kepada Mawar, dan memberikan Poto kedua orang tua Anisa kepada Mawar. Setalah itu, Mawar berlari dan Anisa mengerjainya, umi juga saat itu mau mengejar mereka, namun Abi melarangnya." Tutut Umi Aminah.


"Jadi mbak Nisa itu, adik kakak. Tapi mereka beda ibu?" Tanya Ica.


"Umi belum tau Ca, karna Mawar belum memberikan jawabannya saat itu."


"Tunggu umi, sepertinya Angga ada Poto om Brama, di ponsel Angga." Sahut Angga, mengeluarkan ponselnya.


"Ini om Brama." Angga memberikan ponselnya. Dan memperlihatkan Poto tersebut.


Umi Aminah, membulatkan matanya. Orang yang berada di dalam Poto itu memang sama, hanya saja di poto yang Angga perlihatkan Brama terlihat agak tua.

__ADS_1


"Benar ini orangnya." Ucap Umi Aminah. Angga dan Ica hanya terdiam, wajah mereka begitu terkejut.


"Jadi mbak Nisa dan Kak Mawar benar adik kakak?!" Umi Aminah menganggukan kepalanya.


"Tapi sayangnya mbak Nisa tidak bisa bertemu dengan Ayah kandungnya. Om Brama sudah tiada umi." Sahut Angga.


"Iya umi tau nak, tapi setidaknya Anisa sudah menemukan Ayah kandungnya, walau pun sudah tidak bisa memeluknya." Lirih umi Aminah.


"Jadi om Brama pernah mempunyai istri lagi? Dan punya anak Anisa, apa Tante Maria tau soal ini? Atau memang sengaja om Brama menyembunyikannya dari istri dan anaknya." ---Batin Angga.


Evan dan Maria kini sudah sampai di depan rumah sakit tersebut. Mereka segera berlari menelusuri kolidor rumah sakit, menuju UGD.


Maria terlihat menitihkan air matanya, rasa takut serta khawatir bersarang di hatinya. Begitu juga dengan Evan merasakan halnya seperti Maria, mendengar wanita yang ia cintai tengah melawan maut di UGD.


Ya walau pun cinta babang Evan, bertepuk sebelah tangan.


"Angga gimana keadaan Mawar?" Tanya Maria, mamahnya kepada Angga.


"Tidak tau Tante, semoga saja mereka baik-baik saja. Dokter sedang menangani mereka Tante." Jawab Angga.


"Kenapa bisa terjadi seperti ini Angga?" Lirih Maria.


"Iya kenapa bisa?" Sambung Evan.


"Ceritanya panjang, lebih baik kita berdoa saja semoga Mawar dan Anisa baik-baik saja." Tutur Angga.


"Anisa?" Teriak Maria dan Evan bersamaan.


Lalu Maria menoleh kearah belakang Angga, di sana terlihat umi Aminah dan Ica yang sedang duduk. Dengan wajah penuh amarah, lalu Maria pun mendekat kearah mereka.


"Ini pasti karna anak sialan itukan?" Teriak Maria.


"Maksud ibu apa Bu?" Tanya Umi Aminah.


Evan dan Ica dan Angga, terdiam. Mereka terlihat bingung. Kenapa tiba-tiba Maria memarahi umi Aminah.


Sedangkan Angga dan Ica, detik kemudian mereka paham. Yang di sebut anak sialan oleh Maria, pasti tertuju kepada Anisa, tapi tunggu! Jadi selama ini Maria tau kalau Anisa itu, kakaknya Mawar. Berarti selama ini Maria menyembunyikan semuanya.


"Harusnya anak itu mati, mati bersama wanita jal*Ng yang sudah merebut suamiku." Pelek Maria.


"Jadi ibu sudah tau kalau Anisa itu----"


"Iya saya tau! Jika anak itu anak hasil selingkuhan suami saya dengan wanita ******* itu." Pungkas Maria memotong ucapan umi Aminah.


Angga, Ica serta Evan, mereka semua terkejut. Ica dan Angga memang sudah mengira seperti itu. Sedangkan Evan, Evan benar-benar terkejut mendengar hal itu.


"Mak--sud Tante, Mawar dan Anisa adik kakak?" Tanya Evan. Maria menganggukan kepalanya.


"Iya mereka memang adik kakak, tapi sampai kapan pun saya tidak akan pernah mengakui kalau Anisa itu adalah kakaknya Mawar. Saya tidak Sudi, Anak Brama hanya satu Mawar." Tegas Maria, dengan penuh Amarah, dan matanya terlihat berkaca-kaca.


"Bu jangan berbicara seperti itu, tidak baik." Tutur umi Aminah.


"Tidak baik?" Maria menarik ujung bibirnya tersenyum sinis. "Apa ibu pikir, ibunya Anisa itu baik hah?" Air mata Maria terlihat lolos dari sudut matanya. "Ibu tidak pernah merasakan bagaimana rasanya jadi saya, melihat suami, berselingkuh dengan wanita lain, menikah dengan wanita lain, dan wanita itu mengandung benih cintanya mereka. Sakit Bu rasanya sakit." Tangis Maria pecah. Luka yang selama ini ia kubur dalam-dalam, tergali kembali.

__ADS_1


Umi Aminah, menarik wanita itu kedalam pelukannya. Umi Aminah merasa ibu, umi Aminah dapat melihat dan merasakan bagaimana sakitnya Maria.


"Sakit Bu, rasanya sakit sekali. Orang yang kita cinta dan percaya selama ini, dengan teganya menduakan kita, diam-diam di belakang kita." Ucap Maria, lirih. Membalas pelukan umi Aminah.


"Iya Bu saya paham, saya mengerti dengan perasaan ibu. Tapi Anisa tidak bersalah dalam hal ini Bu. Anisa tidak meminta di lahir--kan ke dunia itu dengan cara seperti itu." Tutur Umi Aminah, lalu melepaskan pelukannya, umi Aminah meraih tangan Maria.


"Ini semua sudah takdir tuhan Bu. Apa ibu tau begitu terpuruknya Anisa, saat kami memberi tau kalau dia bukan anak kami? Dia begitu terpukul Bu."


"Setidaknya jika ibu tidak bisa menerima Anisa, tolong jangan tutupi lagi kebenarannya. Beri tau mereka bahwa Anisa dan Mawar adalah saudara." Lanjut Umi Aminah.


Maria hanya terdiam, dengan isak tangisnya. Mencoba mencerna semua perkataan umi Aminah.


Tiba-tiba pintu ruangan UGD tersebut terbuka, dan dokter yang menangani Anisa dan Mawar keluar dari ruangan tersebut.


"Keluarga pasien."


Semua orang langsung menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan putri kami dok." Tanya Umi Aminah.


"Alhamdulillah, mereka bisa di selamatkan."


Semua orang terlihat lega.


"Tapi satu pasien masih kritis, pasien atas nama Anisa, dia kehilangan banyak darah, dan membutuhkan donor darah. Namun di rumah sakit golongan darah beliau habis. Kami sedang menghubungi PMI untuk mencari golongan yang cocok untuk beliau." Sambung dokter.


"Apa golongan darah Anisa dok?" Tanya umi Aminah.


"O Bu.."


Umi Aminah terdiam, ia tak bisa berbuat apa-apa karna golongan darahnya tidak cocok dengan Anisa.


"Ca golongan darah kamu apa?" Tanya umi Aminah.


"B umi."


"Angga AB."


"Evan A."


"Ambil saja darah saya dok, golongan darah saya O sama dengan pasien." Ucap Maria, semua orang terlihat menoleh kearahnya. Tidak percaya dengan penuturan wanita itu.


"Baik, mari ibu ikut saya." Ucap dokter tersebut, Maria pun mengikuti langkah sang dokter. Tanpa berucap apa pun kepada umi Aminah, Ica, Angga dan juga Evan.


"Tunggu!! Bukannya tadi Tante Maria bilang----"


"Sudah jangan banyak bicara." Pungkas Angga, memotong ucapan Evan.


Bersambung ...


**Jangan lupa like, komen dan Votenya.


Terima kasih**.

__ADS_1


__ADS_2