HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 22


__ADS_3

Malam pun datang, waktu sudah menunjukan jam setangah delapan malam.


Angga sudah terlihat rapi memakai celana jeans, kemeja putih yang dipadukan dengan jaket tebal, udara malam ini memang cukup dingin, penampilan Angga sudah sepeti opa Korea.


Angga menatap pantulan dirinya di depan cermin, memperhatikan kembali penampilannya dari atas sampai bawah. Angga memastikan kalau malam ini ia harus terlihat perfect .


"Apa aku sudah terlihat tampan?" Tanya Angga pada dirinya sendiri. Sambil terus memandangi pantulan dirinya di dalam cermin tersebut.


Angga mengulas senyumannya, "Ah kurasa aku sudah sempurna!" Pujinya sendiri.


Lalu Angga pun keluar dari kamarnya, ia berpamitan terlebih dahulu kepada ibu dan papahnya.


Usai berpamitan Angga segera melajukan mobilnya menuju salah satu resto, yang alamatnya sudah di shere oleh Ica kepadanya.


Dengan semangat yang membara Angga melajukan mobilnya itu.


***


Caca masih berada di dalam kamarnya. Ia sedang mencari-cari baju yang akan ia kenakan saat ini.


Entah kenapa semua baju yang ada di lemari Ica mendadak Ica tidak merasa cocok menggunakan baju-baju tersebut.


Anisa yang sudah bersiap, ia sedari tadi menunggu adiknya itu keluar dari kamarnya, namun sudah hampir 1 jam Anisa menunggu, Ica belum terlihat sama sekali batang hidungnya.


Anisa pun memutuskan untuk kekamar Ica. Anisa membuka kamar adiknya yang kebetulan tidak terkunci.


Anisa menggelengkan kepalanya, saat melihat baju-baju Ica terlihat berserakan bertumpuk di atas kasur.


"Caca kamu lagi ngapain?" Tanya Anisa, menghampiri adiknya yang terlihat sedang kebingungan, masih mencari-cari baju di dalam lemarinya.

__ADS_1


"Eh mbak!" Ica terkejut, mendapati kakaknya yang sudah berdiri dibelakangnya.


"Kamu ngapain loh Ca? Kenapa baju-bajumu, kamu keluarkan begini, berantakan lagi." Tanya Anisa lagi, Anisa terlihat melihat-lihat baju yang berserakan di atas kasur tersebut. Mencoba mencari tau apa penyebab adiknya itu memporak-porandakan lemarinya, apa bajunya sudah tidak layak pakai? Namun Anisa melihat-lihat baju-baju itu masih sangat bagus.


"Caca bingung kak, mau pakai baju yang mana!"


"Ya ampun ca, sampai segitunya!" Anisa mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Pakai baju yang biasa aja Ca, yang menurutmu nyaman dipakai," lanjut Anisa.


"Ya biasa, yang nyaman dipakai?" Caca mengulang perkataan kakaknya itu. "Yang mana ya kak?" Lanjut Ica.


"Kamu ini malah tanya mbak, kan kamu yang suka memakainya!" Anisa menepuk jidatnya.


"Nih pakai baju yang ini aja!" Titah Anisa, ia menyodorkan satu set gamis syar'i berwarna putih kombinasi cream lengkap dengan kerudungnya.


Caca mengamati baju tersebut, "Memangnya yang ini bagus mbak?" Tanya Ica, mengambil baju tersebut.


Akhirnya Ica pun mengangguk pasrah.


"Ya sudah mbak tunggu di luar. Cepat ya Ca!" Anisa keluar dari kamar adiknya itu.


Ica pun mulai mengganti pakaiannya, ia mengenakan gamis yang di sarankan oleh kakaknya tadi.


Usai memakai gamis beserta kerudungnya, Ica melihat dirinya dipantulan cermin sambil tersenyum manis.


"Bagus juga pilihan mbak Nisa!" Ujar Ica.


Lalu Ica pun keluar dari kamarnya, Anisa yang sedari tadi sudah menunggu adiknya itu, ia berjalan terlebih dahulu keluar rumah.

__ADS_1


Mereka tidak pamit kepada orang tuanya, karna kebetulan Abi dan umi sedang tidak ada di rumah, mereka tengah menghadiri pengajian.


"Siapa yang mau bawa mobil?" Tanya Anisa kepada adiknya, sebelum mereka masuk kedalam mobil.


"Terserah mbak saja. Mau mbak ya boleh, atau Caca boleh," jawab Caca.


"Biar mbak aja yang bawa! Kalau kamu yang bawa lambat bawanya!" Ledek Anisa, sambil masuk kedalam mobil, dan Ica menyusulnya.


"Huh mbak aneh, ngapain tadi nanya, 'Siapa yang mau bawa mobil?' giliran aku mau, mbak malah meledekku!" Ujar Ica, menekuk wajahnya.


Anisa terkekeh. "Udah jangan di tekuk wajahnya, nanti cantiknya ilang loh!" Goda Anisa.


"Bodo.." Jawab Caca ketus.


"Oh iya Ca, memangnya kamu mau nemuin siapa sih?" Tanya Anisa sekilas mengalihkan pandangannya kepada Caca yang duduk di sampingnya.


"Itu kakak, laki-laki yang aku pernah ceritain ke mbak Nisa." Jawab Ica, dengan wajah malu-malu.


"Wah, benarkah. Kenapa kamu tidak bilang dari awal sih Caca?"


"Hehe, Caca malu mbak," Ica terkekeh, dengan wajah yang sudah merah merona.


"Mbak jadi penasaran sama itu laki-laki," ujar Anisa, tersenyum menggoda adiknya.


"Sudahlah mbak, mbak membuatku gugup tau!"


Bersambung...


Maaf ya guys up nya sedikit, besok aku usahain double up ya.

__ADS_1


Jangan lupa like, comen dan Votenya.


Terima kasih.


__ADS_2