HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 47


__ADS_3

Angga dan keluarga-nya kini dalam perjalanan, pulang menuju rumah mereka.


"Pah, beneran pernikahan aku sama Ica, akan di gelar satu Minggu lagi?" Tanya kepada, Dr. Irawan yang duduk disampingnya.


"Iya, bukannya kamu tadi dengar sendiri, kata orang tuanya Ica."


Angga mengangguk-anggukan kepalanya.


"Percepat jalan mobilnya, kasian ibu kamu tuh. Sampai ketiduran gitu." Pinta Dr. Irawan, sambil menoleh ke kursi belakang, dan terlihat istirnya tertidur.


"Iya pah."


_______________________________________


Sedangkan Abi Adam dan istrinya umi Aminah, mereka kini sudah bersiap-siap untuk tertidur.


"Abi sudah minum obat?" Tanya umi Aminah, sambil naik keatas kasur, berbaring di samping suaminya itu.


"Sudah umi," jawab-nya, sambil tersenyum. Dan umi Aminah menganggukan kepalanya.


"Umi..."


"Iya kenapa Abi?"


"Apa umi merasakan hal yang sama dengan Abi?"


"Maksud Abi?"


"Tentang orang tuanya nak Mawar, kenapa Abi sangat penasaran. Dan kenapa Abi merasakan kalau Brama papahnya Mawar itu, orang yang sama. Dengan Ayah-nya Anisa." Ungkap Abi Adam.


"Iya Abi, umi juga merasa begitu."


"Apa kita tanyakan lagi?"


"Iya Abi, tapi tidak sekarang-sekarang ini. Kita harus mempersiapkan pernikahan Ica dan nak Angga juga-kan?''


Abi Adam membuang nafas berat, "iya umi benar." Lalu Abi Adam tersenyum, menoleh kearah istrinya itu.


"Lagian Abi ngasih keputusannya kecepatan Abi. Satu Minggu itu sangat singkat Abi, untuk mempersiapkan acara pernikahan."


"Iya Abi tau umi. Abi hanya takut saja, jadi pikir Abi mempercepat pernikahan mereka itu jalan yang terbaik."


"Iya umi ngerti Abi. Ya sudah sebaiknya kita tidur." Ajak umi Aminah, diangguki oleh suaminya. Dan mereka pun mulai memejamkan matanya.


____________________________________


(Keesokan harinya)


Ica dan keluarga terlihat sedang melakukan sarapan bersama. Pagi ini mereka semua akan mulai di sibuk-kan segala aktifitas, untuk mempersiapkan acara pernikahan Ica.


Umi Aminah dan Anisa, hari ini mereka akan menemui seorang Wedding Organizer untuk membicarakan Dekorasi dengan konsef yang mereka inginkan. Ica mempercayakan urusan itu kepada umi dan kakaknya itu, mereka sebelumnya sudah membicarakan, dan bertanya kepada Ica serta Angga, konsef Dekorasi tersebut. Ica tidak bisa ikut karna hari ini ia akan pergi untuk feeting baju pengantin mereka bersama Angga. Mereka akan ke butik milik Afifah. Sedangkan untuk urusan Cetering dan tempat acara, itu sudah di hendel oleh suami Afifah, yang tak lain adalah Arka. Acara tersebut akan dilakukan, di hotel milik keluarga Angga.


Jadi semua orang sudah mempunyai tugas masing-masing, dan sepertinya dalam waktu kurang dari satu Minggu juga semua persiapan akan rampung.


"Kalau gitu, umi sama Nisa berangkat duluan ya!" Pamit Umi Aminah, usai menyelesaikan sarapannya, dan diangguki oleh Anisa.


"Iya hati-hati." Ucap Abi Adam. Umi Aminah pun menyalami-nya, mereka pun beranjak dari meja makan tersebut.


Ica menyalami umi Aminah dan Anisa, "maaf ya Ica jadi ngerepotin kalian."


"Jangan ngomong gitu Ca, mbak senang malah bisa bantu mempersiapkan acara pernikahan kamu." Ucap Anisa.


"Iya bener." Timpal umi Aminah. "Kalau gitu kita berangkat dulu ya, Asalamualaikum."


"Walaikum'salam."


Mereka pun berajak dari rumah tersebut.


"Ca, kamu gak jadi pergi?" Tanya Abi-nya.


"Jadi kok Bi, ini lagi nungguin kak Angga, katanya ia sudah dijalan tadi."


Abi Adam, mengangguk-anggukan kepalanya. Ica tersenyum kearah abi-nya itu.


"Abi terima kasih." Ungkap Ica.


"Untuk?" Abi Adam terlihat bingung.


"Karna sudah merestui Ica dan kak Angga."


Abi Adam tersenyum, "tidak usah berterima kasih, jika anak-anak Abi bahagia, Abi juga ikut bahagia."

__ADS_1


Ica merasa sangat tersentuh, dengan ucapan Abi-nya itu. Jika orang lain mungkin akan menentang Ica dan Angga, karna sebelumnya Angga di jodohkan dengan kakaknya Anisa, dan Anisa mencintai Angga. Namun Ica sangat beruntung, ia memiliki keluarga yang sangat pengertian. Walau pun Ica tau Anisa pasti terluka. Ica merasa sangat bangga mempunyai kakak seperti Anisa, dia rela mengorbankan perasaannya demi Ica. Apa lagi pada kenyataannya Anisa itu bukan kakak kandungnya. Mungkin jika semua ini terjadi di kelurga lain. Ica tidak bisa memikirkannya.


'Terima kasih ya allah.' Gunam Ica dalam hatinya, ia sangat-sangat begitu bersyukur.


"Asalamualaikum..."


Terdengar ucapan salam dari arah luar.


"Walaikum'salam." Jawab Ica dan Abi Adam bersamaan.


"Tuh Ca, sepertinya nak Angga sudah datang!" Seru Abi Adam.


Ica menganggukan kepala, dan tersenyum. "Iya Abi, Ica berangkat sekarang ya." Pamit Ica.


"Nak Angga gak di suruh masuk dulu."


"Enggak deh kayanya Bi, soalnya ini udah siang juga. Kasian nanti kak Afifah nungguin kita lama." Jelas Ica.


"Oh iya sudah, hati-hati ya."


"Iya Abi." Ica pun mencium tangan Abi-nya sebelum ia pergi.


"Asalamualaikum.."


"Walaikum'salam."


Ica pun berjalan menuju kedepan rumah, Ica tersenyum kearah Angga yang berdiri tepat di depan pintu rumahnya itu.


"Ayo kak kita berangkat sekarang!" Ajak Ica, di Angguki oleh Angga. Dan mereka pun berjalan menuju mobil Angga, seperti biasa Angga membukakan pintu mobil untuk bidadari polosnya itu. Ah sungguh semakin hari perlakuan Angga semakin manis, pikir Ica.


Angga pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah tersebut, menuju butik milik adiknya. Yang tak lain adalah Afifah.


"Semoga semuanya berjalan lancar sampai hari-H ya sayang!" Ungkap Angga, sekilas ia menoleh kearah Ica yang duduk di sampingnya, lalu kembali melihat kedepan.


"Amin...."


"Butiknya jauh gak kak?" Tanya Ica.


"Enggak sebentar lagi nyampe kok. Emang kamu belum pernah ke butik Afifah."


Ica menggelangkan kepalanya. "Belum pernah kak, Ica jarang berpergian. Kalau umi dan mbak Nisa sering ke sana, karna kita juga langganan butik milik kak Afifah." Jelas Ica.


Angga mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti dengan ucapan wanita itu.


"Iya dia itu memang wanita cerdas, perkerja keras juga. Jadi wajah ia mendapatkan semua itu." Ucap Angga.


"Kak emang deket banget sama kak Afifah." Tanya Ica, seperti Ica sangat tertarik dengan Afifah, wanita cantik, berprestasi Solehah lagi, bukankah itu sangat hebat.


"Emm, gimana ya?" Angga terlihat bingung. "Deket sih Deket tapi gak deket-deket amat." Lanjutnya.


"Kenapa? Kalain-kan adik kakak, aku aja sama mbak Nisa, sama Irma bahkan sama Arif. Kita deket banget. Dari kecil kita selalu bareng. Ya walau pun sebenernya kami semua bukan saudara kandung." Ucap Ica.


"Maksud Caca? Bukan saudara kandung gimana?"


"Jadi gini kak." Angga terlihat begitu antusias, mendengarkan penjelasan Ica itu, sambil matanya tetep fokus ke jalanan, karna Angga sedang mengemudikan mobilnya.


"Kami semua itu bukan saudara kandung, kalau Irma dan Arif mereka itu adik kakak, waktu itu Abi dan umi menemukan mereka di jalanan, dan Caca tau tentang itu. Nah kalau mbak Nisa, mbak Nisa juga bukan anak kandung umi dan Abi, dan Ica baru tau belum lama ini." Jelas Ica. Dan Angga terlihat terkejut saat mendengar ternyata Anisa bukan anak kandung umi dan Abi.


"Orang tua kandung mereka kemana?" Tanya Angga.


"Kalau Arif dan Irma, orang tua mereka sudah meninggal kak!"


"Kalau mbak Nisa?"


"Emm, kalau mbak Nisa, ibunya sudah meninggal. Waktu itu ibu-nya meninggal pas mbak Nisa masih bayi, dan belum lama lahir ke dunia, jadi ibunya mbak Nisa nitipin mbak Nisa sama Abi dan umi." Jelas Ica lagi.


"Kalau ayahnya?"


"Ayahnya kak Nisa, kami gak tau kak. Umi dan Abi juga dulu pernah mencari ayahnya kandungnya mbak Nisa lewat foto yang diberikan oleh almarhum ibunya mbak Nisa, tapi umi dan Abi tidak menemukannya. Kata mereka seperti orang tua mbak Nisa itu bukan orang sembarangan."


"Orang sembarang? Maksudnya?"


"Emm, gak tau Caca juga. Cuman umi dan Abi bilang gitu sama kita."


"Terus, mbak Nisa tau soal ini?"


Ica menganggukan kepalanya, "tau, dan saat ini mbak nisa lagi cari petunjuk lagi. Biar bisa menemukan ayahnya."


"Siap nama ayah Mbak Nisa?"


"Emm, kalau gak salah Brama deh kak. Seingat Ica." Ucap Ica.

__ADS_1


"Brama?" Ica mengaggukan kepalanya kepada Angga.


'Kenapa rasanya aku tidak asing dengan nama itu, Brama! Namanya sama dengan Papahnya Mawar, apa mungkin?' Gunam Angga. 'Ah tidak mungkin, masa ia om Bram punya wanita simpan, apa lagi sampai punya anak dari wanita lain. Itu sangat tidak mungkin. Aku kenal dengan om Bram, dan om Bram papahnya Mawar terlihat begitu sangat menyayangi Tante Maria dan Mawar. Mungkin Brama lain.' Gunam Angga, ia menangkis semua pikirannya.


"Kak kok malam melamun sih?" Ica kembali membuka suaranya, karna sedari tadi ia melihat Angga, yang seperti sedang melamun.


"Eh, enggak kok ca." Jawab Angga, sedikit tersentak. "Kalau Ica anak siapa?" Lanjut Angga menggodanya.


"Ya anak Abi dan umi asli-lah."


"Masa sih, kakak gak percaya." Angga semakin menggoda Ica.


"Apaan sih kakak, kok kakak jadi nyebelin ih. Ya udah kalau gak percaya tanya aja sama umi dan Abi sana!" Ketus Ica, sambil mengerutkan bibirnya.


"Kakak gak percaya kalau Ica itu anak Abi dan umi, kakak kira Ica itu anaknya nabi Adam, dan hawa. Soalnya kecantikan Caca luar biasa." Ucap Angga, sambil menahan tawanya.


"Kita semua emang keturunan nabi adam dan hawa. Dan orang tua Ica Abi Adam sama umi Aminah, bukan hawa."


"Ca..." Panggil Angga lembut.


"Hmm..." Ica terlihat masih kesal.


"Pernah liat bidadari gak?"


"Gak pernah." Ica masih menjawab dengan suara sedikit ketus.


"Mau lihat gak."


"Gak."


"Yakin?"


"Iya."


"Beneran?"


"Bener."


Angga terlihat menahan tawanya, entah kenapa rasanya Angga sangat suka menggoda Ica.


"Ca..." Panggil Angga lagi. Namun Ica tak menjawabnya.


"Sayang..."


"Apaan sih kak?"


"Jangan marah dong."


"Siapa yang marah." Ica berbicara, sambil mengalihkan pandangannya.


"Ca..."


"Hmm..."


"Itu di wajah Caca ada apaan tuh nempel, coba ngaca deh!"


Ica memancingkan matanya menatap kearah Angga.


"Beneran Ca, coba ngaca deh."


Ica pun mengambil kaca kecil yang ada di dalam tasnya, lalu Ica mengarahkan kaca itu ke wajahnya, Ica melihat pantulan wajahnya di cermin kecil itu. Ica menelusuri wajahnya, tidak ada apa-apa. Tidak ada yang menempel.


"Gimana?" Tanya Angga. "Ada gak?" Lanjutnya.


"Apanya?" Ucap Ica.


"Bidadari-nya." Ucap Angga, sambil tertawa.


"Ih kakak ngerjain Caca ya." Rengek Ica.


"Enggak, siapa yang ngerjain Caca, kakak cuman ngasih tau kamu bidadari kakak." Ucap Angga, sambil mencoba menghentikan tawanya, kemudian Angga menatap Ica. "Bidadari-nya itu kamu." Lanjutnya.


Ica langsung terlihat tersipu malu, wajahnya merah merona seketika mendengar ucapan Angga. Ica menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kakak jangan liat Caca, Caca malu." Ucapnya, Caca membalikan tubuhnya, membelakangi Angga.


Angga terkekeh melihat tingkah wanitanya itu. Dan tak terasa akhirnya mereka pun sampai di butik milik Afifah. Angga dan Ica pun keluar dari mobil tersebut.


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan Votenya.

__ADS_1


Gimana lanjut lagi gak nih up nya?🤭


__ADS_2