HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 33


__ADS_3

Ica terlihat gusar, beberapa kali ia memeriksa ponselnya. Sampai semalam ia tidak bisa tidur karna memikirkan hal tersebut. Sampai saat ini Angga belum membalas pesan yang ia kirimkan kemarin.


"Kenapa kak Angga tidak membalas pesanku? Padahal sudah centang dua biru. Berarti Kak Angga sudah membaca pesanku!" Lirih Ica.


Ica menarik membuang nafas berat. Lalu ia keluar dari kamarnya, menuju meja makan. Karna beberapa menit lalu kakaknya Anisa, sudah memanggilnya untuk sarapan pagi bersama hari ini.


'Apa Kakak Angga tidak benar-benar serius. Apa dia cuman main-main saja!' Gunam Ica, entah mengapa kini hatinya merasa ragu.


"Caca kok lama banget sih?"


"Maaf mbak..." Jawab Ica, sambil menarik kursi meja makan tersebut.


"Sudah ayo kita sarapan." Ucap umi Aminah.


Mereka pun mulai memakan-makanan mereka masing-masing, tidak ada pembicaraan saat sarapan tersebut. Namun Ica, sedari tadi ia hanya mengaduk-aduk nasi goreng yang ada di piringnya itu. Entah kenapa ia tidak nafsu makan. Padahal biasa-nya ia paling lahap jika sarapan nasi goreng buatan uminya itu.


"Caca kenapa nasi gorengnya gak di makan?" Tanya umi Aminah, yang sedari tadi memperhatikan Ica.


"Eh umi, ini juga di makan kok mi," jawab Ica, memasukan satu sendok nasi goreng itu ke mulutnya.


"Caca sedang ada masalah?"


"Emm, tidak umi." Ica menggelangkan kepalanya.


"Eh Ca, gimana kata mas Angga, eh maksud mbak Angga. Kapan dia akan ke rumah?" Tanya Anisa.


Ica menggelangkan kepalanya pelan, "tidak tau kak." Wajah Ica terlihat tidak bersemangat.


"Kok gak tau sih? Kamu udah kasih tau dia belum?" Tanya Anisa lagi, terheran.


"Udah, tapi tidak ada respon!" Jawab Ica, sambil menundukan kepalanya, menyembunyikan matanya yang sudah memerah menahan tangisnya.


Anisa mengusap lembut bahu sang adik, "sabar mungkin dia lagi sibuk."


Ica tersenyum, kearah kakaknya itu.


"Sudah cepat habiskan makanan kalian, pamali makan sambil mengobrol. Nanti saja lanjutin ngobrolnya!" Pungkas Abi Adam.


Mereka menganggukan kepalanya, dan kembali melanjutkan sarapan mereka.


***


(Kediaman Angga)


Mereka terlihat sedang menikmati sarapan mereka.


Pagi ini Angga terlihat begitu bersemangat dan wajahnya terlihat begitu penuh kebahagian.


"Angga apa kamu sudah memberitahu Ica kalau kita akan kerumahnya nanti malam?" Tanya Bu Aisyah, usai menyelesaikan suapan terakhir sarapannya.


Angga yang masih memakan sarapannya pun berhenti, dan menatap kearah sang ibu, iya Angga baru ingat ia belum membalas pesan dari Ica semalam.


"Astagfirullah, Angga lupa Bu." Angga terkekeh.


"Kamu ini gimana sih." Sahut dr. Irawan.


"Sudah kamu habiskan dulu sarapan kamu, nanti kamu kasih tau Ica."


"Ya Bu.."


Angga pun melanjutkan kembali sarapannya. Tak lama kemudian mereka pun selesai menghabiskan sarapan tersebut.


"Ibu mau cek dulu barang bawaan kita nanti, takutnya ada yang kurang!" Ujar Bu Aisyah sambil beranjak menuju ruang tengah. Di sana sudah terlihat beberapa barang bawaan yang parsel-kan.


Angga dan Dr. Irawan mengikuti wanita itu.


"Banyak banget Bu, repot nanti kita bawanya kalau hanya bertiga kesana." Ucap Dr. irawan.


"Iya juga sih Pah, apa kita ajak Afifah sama Arka aja ya?"


"Boleh tuh Bu, sekalian aku rindu mau ketemu sama bocil-bocilnya!" Sahut Angga.


"Bocil-bocil, mereka punya nama Angga!" Pungkas Dr. Irawan.

__ADS_1


"Zim, Zam sama Aira.." Lanjutnya.


"Iya-iya Pah, Angga tau. Itukan nama panggilan sayang aku sama keponakan aku,'' ucap Angga tak mau kalah.


"Nama panggilan sayang kok bocil." Ketus dr. Irawan.


Angga hanya memutar bola mata-nya memalas. "Sudah ah aku mau telpon dulu Caca, takut nanti Abi Adam kena serangan jantung lagi. Kalau kita gak kasih tau mereka," ujar Angga.


Pletak..


''Aww sakit Bu.." Rengek Angga, usai Bu Aisyah menyentil keningnya, Angga terlihat mengelus-elus keningnya itu.


"Lagian kalau ngomong itu jangan ngasal, ucapan adalah doa Angga!" Geram Bu Aisyah.


Dr. Irawan terlihat terkekeh.


"Apa lagi papah malah ngetawain aku." Ucap Angga, kesal.


"Yang di katakan ibu kamu bener Angga."


"Iya-iya, aku ke kamar dulu." Angga beranjak dari hadapan orang tuanya itu.


"Lihat tu Pah, kelakuan anak kamu."


"Iya Bu, sudah ah. Eh Bu apa kita langsung bawa penghulu aja nanti malam sekalian ke rumah ustad Adam."


"Penghulu? Buat apaan Pah? Kitakan mau melamar bukan mau nikahan."


"Ya sekalian aja Bu kita nikahkan mereka."


"Papah ini ada-ada saja, enggak ah. Biar nanti aja Pah."


"Kasian Bu anak kamu sudah tidak sabar pengen cepet nikah tuh."


"Enggak Pah, papah ini kenapa sih jadi gak sabaran banget yang mau melamar itu Angga! Angga juga sabar tuh."


"Emangnya papah dulu bilangnya mau ngelamar ibu, eh tau-taunya malah bawa penghulu." Lanjutnya.


"Iya gak apa-apa Bu, ibu juga suka-kan." Goda Dr. Irawan.


Dr. Irawan terkekeh kembali.


"Sudah ah jangan bernostalgia terus, bantuin ibu beresin ini cepat Pah!"


"Iya-iya Bu."


***


Angga sedang berada di dalam kamarnya, sedari tadi ia mondar-mandir tidak jelas. Sambil memegangi ponselnya.


"Gimana ngomongnya ya?"


"Kok aku mendadak jadi orang bodoh begini, padahal tinggal telpon atau chat aja, bereskan!" Ucap Angga, bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Aku chat saja lah."


"Asalamualaikum, Caca maaf kakak baru bales pesan Caca."


"Terima kasih Caca, sudah memaafkan kakak, insyaallah nanti malam kakak dan orang tua kakak, akan ke rumah Caca."


"Tolong kasih tau umi dan Abi Caca, dan ucapkan salam dari kakak untuk mereka."


"**Walaikum salam kak."


"Tidak apa-apa. Caca tunggu malam ini kak! Iya nanti Caca sampaikan salam kakak kepada umi dan Abi**."


"Eh Ca maaf. Bagaimana dengan Kakak Caca, emm maksud kakak Anisa. Apa dia?"


"Alhamdulillah kakak, ini semua sudah restu dengan mbak nisa. Bahkan mbak Nisa yang menyuruh kita mempercepat semuanya."


"Alhamdulillah, kakak senang Ca, dengarnya."


"Iya kak, Alhamdulillah."

__ADS_1


"Oh iya Caca, nanti kakak kerumah caca ajak adik Kaka sama suaminya, sama temen-temen kakak juga bolehkan?"


"Kak Afifah sama kak Arka ya? Tentu saja boleh kakak sekalian silaturahmi-kan!"


"Iya Caca kenal sama mereka?"


"Kenal kakak, Caca pernah ikut sama umi dan Abi menghadiri acara ulang tahun anak-anak mereka."


"Wah benarkah? Kalau sama temen-temen kakak kenal gak? Evan sama Mawar!"


"Evan? Dr Evan maksudnya kak? Temen kakak yang waktu di RS Singapure itu?"


"Ya benar. Kok Caca bisa kenal sih?"


"Bisa dong kak, nanti Caca ceritain deh. Emm kalau kak Mawar itu, wanita cantik yang waktu itu peluk kakak ya?"


"Gak ah mawar gak cantik, cantikan kamu Ca. Iya Mawar yang itu Caca, yang meluk kakak waktu itu, sampai kamu cemburu dan marah sama kakak."


"Ihh apaan sih kakak, siapa yang marah siapa yang cemburu."


"Benarkah?"


"iya."


"Iya-kan aja deh, biar calon istri seneng.😘😘"


"πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜› Iya dong!"


"Caca tolong dong jaga emot-nya. Jangan bikin kakak gregetan deh πŸ˜’"


"Loh emangnya kenapa kak?πŸ™„"


"Ah binggung jelasinnya, udah dulu ya Caca sayang. Kakak takut treveling kalau terus kaya gini😘😘"


"Iya kak, Caca juga mau kasih tau umi dan Abi dulu, dan mau siap-siap juga🀭"


"Ya sudah see u Caca sayang"


"See u kak!"


"Asalamualaikum"


"Walaikum'salam"


Percakapan lewat pesan chat WhatsApp tersebut pun selesai.


"Astagfirullah, kenapa badanku jadi panas dingin begini," ujar Angga sambil, menggubris-gubriskan bahunya.


"Ah Caca I love you..." Teriak Angga.


***


Usai ber-chatan dengan Angga, wajah Ica terlihat merah merona.


"Tapi ada satu yang buat aku penasaran, apa yang di maksud dengan kakak Angga tadi. Treveling apa maksudnya?"


"Bukannya treveling itu jalan-jalan. Apa kak Angga, chatan sama aku sambil jalan-jalan gitu ya!"


"Ah pusing aku. Lebih baik aku kasih tau umi dan Abi dulu aja deh, kalau kak Angga nanti malam mau ke sini." Ucap Ica.


Ia pun keluar dari kamarnya, untuk menemui Abi dan Abi-nya.


Bersambung...


Jangankan kamu Caca, author juga gak paham apa yang di maksud Angga tadi, masa chatan sama kamu bisa langsung treveling, cuman dikasih emot julurin lidah doang coba. πŸ™„πŸ™„πŸ€­πŸ€£πŸ€£πŸ€£


Next satu bab lagi malem ya..


Stay healthy sayang-sayangku.


Jangan lupa like, comen dan Votenya.


Terima kasih.

__ADS_1


Bye-bye.


__ADS_2