
Hari pun berganti, tak terasa besok pernikahan Angga dan Ica akan di selenggarakan. Namun setiap hari Angga uring-uringan, pasalnya sudah beberapa hari Angga tak bertemu dengan Ica, wanita tercintanya.
Karna orang tua mereka masing-masing tidak memperbolehkan Angga dan Ica bertemu, alias di pingit. Terakhir Angga bertemu dengan Ica saat mereka melakukan fetting baju pengantin waktu itu.
Angga terlihat sedang merebahkan dirinya di kasur, sungguh Angga merasa bosan, Angga tidak diperbolehkan berpergian keluar. Padahal hatinya sudah meronta ingin bertemu dengan Ica namun apa daya? Angga tidak bisa apa-apa.
Semua keluarga keluarga Angga terlihat sudah berkumpul di rumahnya, karna sore ini mereka akan menuju hotel milik Arka, tempat di mana nantinya Angga dan Ica akan menikah.
Bu Aisyah, Dr. Irawan, Afifah dan Arka, serta anak-anak mereka sudah ada sana. Bu Dewi mamahnya Arka pun ada. Serta Om Akbar dan istrinya. Ayo ada yang masih ingat gak siapa istrinya om Akbar? Yappp Istri om Akbar adalah mamahnya Indra, anak menantu mereka pun ikut, Indra dan Dini, serta 2 cucu mereka. Tak lupa pengantin baru juga ada Azis dah Tiara. Mereka masih anget-angetnya. Mereka terlihat sedang berkumpul, sambil mengobrol, suasana rumah itu terasa begitu ramai apa lagi di diringi dengan cucu-cucu mereka yang tengah bermain di sana. Tapi tunggu? Di mana Angga, calon pengantin itu tak terlihat batang idungnya?
"Kak Angga dimana Bu?" Tanya Afifah.
"Iya kemana tuh calon pengantin gak keluar-keluar?" Timpal Azis.
"Di kamar kayanya dia, dari kamarin uring-uringan Mulu pengen keluar, ketemu sama calon istrinya!" Jawab Bu Aisyah.
Semua orang terlihat terkekeh, mentertawakan Angga.
"Terus kamu izinin dek?" Tanya om Akbar.
"Ya enggak kak."
Mereka pun semakin tertawa.
"Sudah sebaiknya kalian hibur dia kasian!" Titah mamah Arka.
"Yuk ah kita goda calon pengantin." Ajak Azis, sambil beranjak dari sofa yang ia duduki. Dan terlihat Arka, dan Indra mengikutinya. Mereka bertiga berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Angga.
"Kalian jangan ngisengin Angga, kasian." Teriak mamah Arka.
"Siap.." Ucap mereka bertiga, bersamaan.
Arka pun membuka pintu kamar kakak iparnya itu, tanpa mengetuknya terlebih dahulu, memang sengaja.
Angga yang tengah bersandar di dikasur-nya itu pun, menoleh kearah pintu yang terbuka itu, dan terlihat Arka, Azis dan Indra masuk kedalam kamarnya.
"Ngapain kalian?" Tanya Angga, kebingungan.
"Hay calon pengantin!!" Sapa Azis, mereka berjalan mendekati Angga.
"Gimana enak gak di pinggit?" Timpal Arka.
Angga memutar bola matanya malas. "Udah ah, sebaiknya kalian keluar, jangan membuat mood ku makin hancur deh!" Pinta Angga, mengusir mereka.
Namun mereka tak menanggapinya. Dan mereka malah tertawa.
"Kakak yakin mau ngusir kita? Padahal kita mau kasih tips biar malam pertama lancar jaya!" Ucap Azis, diangguki oleh Angga dan Indra.
"Ck, apaan!!" Jawab Angga, ketus.
__ADS_1
"Malam pertama itu indah loh, apa lagi kalau kita bisa meledak bersama!!" Goda Arka. "Yakin kakak ipar gak mau tanya kita?" Lanjut Angga.
"Iya bener tuh kak, apa lagi mas Arka-kan. Dia hebat loh. Buktinya saja, dia bisa bikin sekaligus cebong tiga." Pungkas Azis.
"Sialan kamu, bilang anak-anakku cebong." Ucap Arka.
Mereka pun tertawa.
"Baiklah, ceritakan!" Pinta Angga. Membuat mereka semakin tertawa.
"Kok malah tertawa kalian!"
"Oke-oke. Ayo mas Arka ceritakan!" Pinta Azis.
"Lah kok aku? Indra tuh."
"Lah kok aku, kagak itu privasi, mending pengantin baru aja yang ceritakan! Iya gak!"
"Lah kok gue." Terjadi saling melempar-lemparan kata disana. Membuat Angga bingung dan kesal.
"DIAM..." Teriak Angga, dan mereka pun langsung terdiam. "Kalau kalian cuman mau berdebat di sini, sebaiknya keluar saja sana! Menggangu saja."
"Oke-oke. Aku ceritakan deh." Jawab Azis pasrah.
"Jadi begini...." Semua orang terlihat dengan serius menatap kearah Azis. Membuat Azis menghentikan ucapannya.
"Woy bisa gak jangan liat gue, kaya gitu. Biasa aja kali."
"Tuhkan jadi lupa mau ngomong apa!"
"Huuuhh..." Teriak mereka, menyoraki Azis.
"Gini malam pertama itu, kalau bagi kita seorang laki-laki biasa saja. Maksudnya enak. Tapi kalau buat wanita itu sakit. Jadi sebisa mungkin nanti kamu ngalakuin anu-nya dengan lembut, apa lagi kalau mau masukin tongkat angkat ajaibnya. Harus pelan-pelan tapi pasti." Ungkap Indra, dengan lantangnya. Membuat Angga, Arka dan Azis menganga. Mulut mereka terbuka.
"Tongkat Ajaib?!" Tanya Angga. "Apa tongkat Ajaib?"
"Ya ampun, kau ini cowok apa cewek kak? Punya tongkat ajaib gak? Aneh masak gak ngerti sih. Kakak itu dokter." Ucap Azis.
Angga terlihat menggaruk kepalanya, ia berpikir sejanak. Detik kemudian, oh Angga paham.
"Ya ampun, kanapa kalian berbicara vulgar begini?!" Pekik Angga.
"Lah emang kita lagi bahas malam pertamakan?!" Sahut Arka.
"Pak dokter kita sepertinya, berlaga polos guys!" Pungkas Indra.
Kemudian mereka tertawa.
"Terus kalau sudah begitu bagaimana?" Tanya Angga, diam-diam sepertinya ia juga penasaran.
__ADS_1
"Ya lanjutkan, nikmati. Sampai nanti kalian akan meresakan bagaikan terbang ke nirwana, melewati langit ketujuh." Ucap Azis, penuh dramatis.
"Sampai pada puncaknya, dan merasakan indahnya surga dunia." Sambung Arka, lebih puitis.
"Pokoknya rasanya itu...." Ucap Indra.
"MANTAP BANGET." Teriak mereka kompak.
Angga terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.
'Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka maksud, tapi aku penasaran. Oke nanti aku akan buktikan apa benar yang dikatakan mereka itu, awas saja kalau mereka berbohong. Sabar Angga besok kamu akan merasakannya.' Gunam Angga, dalam hatinya.
"Cie pasti lagi ngebayanginkan?'' Goda Azis, kepada Angga.
"Ngebayangin apa?"
"Ck, pura-pura. Udah Jang treveling dulu, tonggkat ajaib bangun berarabe tuh." Ucap Azis.
"Iya benar, sabar ya sampai besok malam." Timpal Indra.
"Nah bener tuh, main solo gak enak!" Sahut Arka.
"Sudah ah sudah, aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Cepat sana keluar."
"Ck, ngusir dia. Udah kita ceritain aja langsung ngusir." Ketus Azis. "Gak tau terima kasih!" Lanjutnya.
"Sudah, ayo kita keluar. Lagian kita juga harus siap-siap, sebentar lagi kita jalan ke hotel." Ucap Arka.
Mereka pun keluar dari kamar Angga.
"Apa mereka sudah gila? Ya Allah apa dosaku sehingga bisa-bisanya punya saudara macam mereka. Membuka aib sendiri." Lirih Angga.
Hubungan mereka memang sangat dekat, walau pun jarang bertemu. Jadi jika sudah bertemu mereka tak sungkan lagi. Memang awal-awal antara Angga dan Arka sedikit canggung. Apa lagi mengingat mereka mencintai orang yang sama. Namun lama kelamaan, hubungan mereka membaik, tidak ada kecanggungan lagi.
Usai mereka keluar, Angga pun bersiap-siap.
Bersambung...
Jangan lupa, like, komen dan Votenya.
BTW untuk cerita ini aku gak bakalan buat part panjang sampe ratusan, seperti kisah Arka dan Afifah.
Mungkin akhir bulan ini pasti udah END, alias tamat.
Oh iya aku ada titipan undangan buat kalain dari Angga dan Ica.
Datang ya besok.
__ADS_1
See u...