HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 27


__ADS_3

"Anisa....." Teriak Abi Adam dan Umi Aminah. 


Mereka begitu terkejut melihat Anisa yang sudah berdiri di hadapan mereka dengan deraian air mata.


"N-is--a..." Panggil umi Aminah terbata-bata.


"Um, Abi apa benar yang kalian katakan tadi, kalau Nisa bukan anak kalian?" Tanya Anisa lirih, dengan deraian air mata yang terus mengalir deras dari pelupuk mata indahnya.


Umi Aminah dan Abi Adam terdiam,menatap nanar Anisa yang berada di hadapannya itu.


"Umi, Abi kenapa kalian diam? Jawab Umi?" Teriak Anisa. 


Teriakan Anisa sangat keras, hingga Ica yang tengah berada di kamarnya mendengar suara keras Anisa tersebut, Ica pun beranjak dari kasurnya, mendengar ada seperti ada keributan dari arah luar, Ica melihat Anisa yang seperti sedang menangis di sana juga terlihat Abi dan Uminya, Ica pun menghampiri mereka. terlihat  juga Arif dan Irma berjalan kearah mereka.


"Umi, Abi ada apa ini?" Tanya Ica, melihat kerah orang tuanya itu penuh dengan tanda tanya.


Lalu Ica melihat kearah kakaknya yang tengah menangis sendu, "mbak NIsa, mbak kenapa?" 


Umi dan Abi masih terdiam, begitu juga dengan Anisa, Ica, Arif dan Irma menantap mereka bertiga dengan penuh tanya.


"Sebaiknya kita bicarakan di ruang tengah!" Ajak Abi Adam, sambil berjalan menuju ruangan tengah yang tak jauh dari kamarnya tersebut, semua orang mengikuti langkah Abi Adam.


Mereka semua pun duduk disofa yang beranda di ruangan tersebut.


"Ya mungkin ini memang saat yang tepat untuk kalian mengetahui keberannya!" Tutur Abi Adam.


"Umi..." Lanjut Abi Adam, Umi Aminah menganggukan kepalanya.


Lalu umi Aminah merik nafas dalam,sebelum ia mengeluarkan semua kata-katanya.


"Anisa sebelumnya umi dan abi minta maaf sama kamu, bukan maksud kami menyembunyikan semuaini dari kamu, dari kalian semua." Ucap umi Aminah.


"Iya Nisa, kamu bukan anak kandung kami..." Lanjut umi Aminah,di iringi dengsn air mata yang mulai menetes membasahi pipi wanita parubaya tersebut.


Air mata Anisa terlihat semakin mengalir deras, mengetahui kenyataan tersebut, sakit rasanya hati Anisa mendengar penuruturan umi dan abinya itu, ternyata orang yang selama ini merawat membesarkannya, dan menyanginya itu, ternyata mereka bukan orang tua kandungnya. Lalu dimna orang tua kandung Anisa? Mengapa orang tua kandungnya tidak merawatnya, dan malah orang lain yang merawatnya hingga ia dewasa seperti ini.


Sedangkan Ica yang mendengar pengakuan orang tuanya itu,terlihat sangat terkejut, Ica mengelengkan kepalanya, merasa tidak percaya, Anisa kakak  yang selama ini menyanginya dan menjaganya, salalu menlindungi semua adik-adiknya, ternyata bukan kakak kandungnya. Bagaimana bisa?


"Umi, abi kalian tidak sedang bercandakan?" Tanya Ica, menatap kedua orang tuanya itu dengan tatapan tak percaya. Namun abi dan umi terlihat menggelengkan kepalanya.


"Tapi walau pun kamu bukan anak kandung kami, percayalah Nisa kami menyayangimu sama seperti anak kandung kami. Begitu juga dengan Arif dan Irma, Abi dan Umi menyayangi kalian semua. Kalian adalah anak-anak kami, walau pun bukan terlahir dari rahim umi."


Ica terlihat menitihkan air matanya, begitu juga dengan Arif dan Irma mereka juga ikut menitihkan air matanya, merasa terharu dengan tuturan abi dan uminya itu.


Ica terlihat menghampur memeluk Anisa, yang duduk di sampingnya, mencoba menenangkan kakaknya itu.


"Caca sayang sama mbak!" Ujar Ica.


Anisa hanya terdiam sembari menangis sendu, Ica membiarkan kakaknya menangis, menumpahkan air matanya. Karna Ica mengerti pasti semua ini sangat berat untuk Anisa, untuk menerima kenyataan bahwa ia bukan anak kandung umi dan abinya, terlebih Anisa baru menetahuinya sekarang. Setelah ia sudah dewasa, harusnya umi dan abi tidak menyembunyikan kebenaran tersebut. Kenapa umi dan abi baru memberi tahunya sekarang kepada Anisa. Jika saja umi dan abinya berterus terang dari awal, sepertinya halnya kepada Arif dan Irma. Bahwa mereka bukan anak kandung umi dan abinya.

__ADS_1


Anisa beranjak dari pelukan sang adik, lalu menatap nanar kerah abi dan uminya.


"Kenapa umi dan abi baru memberi tahu Nisa sekarang? Kenapa?!"


"Maafkan kami Anisa, umi tidak bermaksud menutupinya, hanya saja..."


"Hanya saja apa umi?"Bentak Anisa, memotong perkataan umi Aminah.


"Anisa jaga bicaramu!" Pekik Abi Adam tak terima jika Anisa membentak sang istri.


"Kalian semua jahat." Ucap Anisa, sembil beranjakdari sofa, Anisa berlari menuju kamarnya.


"Mbak Nisa tunggu..." Teriak Ica, namun Anisa nampak menghiraukan-nya. Ica beranjak dari sofa berniat untuk menyusul kakaknya itu.


Namun abi Adam segera menahan Ica, menarik tangan Ica.


"Ca biarkan dulu mbakmu sendiri," ucap Abi Adam.


"Tapi bi.."


"Caca benar kata abi, biarkan mbakmu sendiri dulu. Anisa pasti butuh waktu untuk menerima semua ini," pungkas umi Aminah.


Akhirnya Ica pun menggap pasrah, dan ia duduk kembali di sofa tersebut.


Umi Aminah merasa kepalanya sangat berat, wanita paru baya tersebut terlihat memegangi kepalanya, kini pandangannya pun terlihat buram, dan beberapa detik kemudian semuanya terasa gelap.


"Umi bangun mi..." Abi Adam menempuk-nepuk pelan pipi istrinya itu. "Arif bantu abi membawa umi ke kamar." Lanjut Abi Adam.


Arif mengangguk, lalu ia membantu abi untuk membawa umi ke kamarnya, mereka semua terlihatsangatpanikdan khawatir dengan kondisi umi Aminah tersebut. Umi Aminah langsung di bawa oleh abi dan Arif menuju kamar, Ica dan Irma mengikuti mereka.


"Mbak Caca umi kenapa?" Tanya Irma dengan air mata yang sudah membanjiri wajah cantiknya.


"Sudah dek tenangkan diri kamu, kitadoakan saja semoga umi baik-baik saja." Ujar Ica, mencoba menenangkan Irma. Padahal Ica sendiri pun merasa sangat khawatir kepada uminya itu.


Irma menganggukan kepalanya, Ica merangkul adiknya tersebut. Lalu mempercapat langkahnya menuju kamar umi Aminah.


Abi Adam dan Arif membaringkan umi Aminah di atas kasur.


"Umi bangun mi...'' Ujar Arif dengan wajah yang penuh kekhawatiran.


"Ca ambilkan minyak angin di dekat lemari," titah abi Adam.


Ica dengan cepat mengambilkan minyak angin tersebut dan memberikannya kepada abi Adam. Abi Adam mengoleskan minyak angin tersebut ke dekat hidung istrinya yang masih pingsan.


Beberapadetik kemudian, umi Aminah terlihat membuka mata perlahan, umi Aminah sudah sadar, namun kepalanya masih sangat terasa berat.


"Alhamdulilah umi.." Ucap semua orang yang berada di sana. Ica, Irma dan Arif langsung memeluk uminya itu.


Mereka merasa sedikit lega.

__ADS_1


"Sudah umi baik-baik saja, kalian tidak usah khawatir." Tutur umi Aminah, sambil mengelus kepala anak-anknya itu secara bergantian.


"Umi, abi terpon dr. irawan ya biar kesini, memerksa kondisi umi."


"Tidak usah abi, umi sudah merasa lebih baik kok."


"Umi yang di katakan abi benar, biar dokter yang memeriksa umi, untuk memastikan kondisi umi," pungkas Ica, dan diangguki oleh ke dua adiknya, Arif dan Irma.


"Tidak usah umi hanya butuh istirahat saja, besok juga pasti pulih. Dan kalian juga istirahat saja, ini sudah malam kalian sebaiknya tidur."


"Apa lagi kalian, Arif, Irma kaliankan besok harus sekolah."Lanjut umi Aminah.


"Iya yang di katakan umi benar, sebaiknya kalian tudur. Biar abi yang menjaga umi." Sambung abi Adam.


Arif dan Irma pun menganggukan kepala, mereka menuruti apa yang di katakan abi dan uminya. Mereka pun beranjak dari kamar tersebut berjalan menuju kamarnya masing-masing.


Kini di kamar tersebut hanya ada Ica, abi Adam dan umi Aminah.


"Caca sebaiknya kamu juga tidur nak.." Titah abi Adam.


"Iya Ca, umi tidak apa-apa kok," pungkas umi Aminah.


Namun Ica terlihat menggeleng, "Caca mau di sini temenin umi." Jawab Ica.


Umi Aminah tersenyum, lalu melirik kearah suaminya.


"Ya sudah kamu temenin umi, biar abi tidur di sofa saja." Ujar Abi Adam mengalah.


"Terima kasih Abi.."


Abi Adam menganggukan kepanya, lalu ia keluar dari kamar tersebut sambil membawa batal dan selimut, dt lelah dan berjalan menuju sofa untuk tidur, karna tubuhnya sudah terasa sangat lelah dan kantuk punsudah mulai menyerang matanya.


 


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA.


TERIMA KASIH.


OH IYA TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG SUDAH MENULISKAN KOMEN-KOMEN KALIAN.


MAAF AUTHOR GAK BISA BALAS SATU PERSATU.


TAPI PERCAYALAH AUTHOR SENYUM-SENYUM SENDIRI BACA KOMEN KALIAN.


 


 

__ADS_1


__ADS_2