HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 30


__ADS_3

Angga tengah berdiri di balkon depan kamarnya.


Saat ini perasaanya sangat kacau. Sudah beberapa hari ia tak mendapat kabar dari sang kekasih pujaannya Ica. Bahkan sudah beberapa kali, Bahkan ratusan kali Angga menghubungi Ica, mulai mengirimnya pesan dan melakukan panggilan kepada Ica, namun wanita itu enggan sama sekali, untuk menjawab pesan atau panggilan darinya.


"Ya Allah kenapa semuanya jadi begini sih?" Ujar Angga, wajahnya terlihat sangat frustasi.


Semanjak Angga diberi tau oleh ibunya, bahwa mereka sudah membatalkan perjodohannya dengan Anisa, yang tak lain adalah kakaknya Ica. Dan Ibu Aisyah bilang bahwa mereka tidak keberatan.


Angga merasa sangat senang, berarti dia bisa menikahi Ica, namun saat Angga akan memberitahu samua itu, disitu juga Ica susah sekali untuk dihubungi.


Angga membuang nafas berat, ia kembali memainkan ponsel miliknya yang berada di genggamannya. Angga akan mencoba lagi menghubungi Ica, jika tidak ada jawaban lagi, maka Angga bertekad akan langsung datang kekediaman Ica.


Angga mencoba menelpon Ica, namun masih tetap sama, Ica tak mengangkat telpon-nya. Angga mencoba lagi, namun masih sama juga. Dan Angga mencoba lagi untuk yang ketiga kalinya, masih nihil juga.


"Ica kenapa kamu gak angkat telpon dari kakak ca, gimana kabar kamu sekarang! Kakak rindu ca." Lirih Angga.


'Ca kenapa kamu gak mau angkat telpon dari kakak, dan pesan kakak pun tidak kamu balas. Ca apa segitu bencinya kah Caca sama kakak?!'


Angga mengirim kalimat pesan tersebut kepada Ica.


***


"Ca siapa yang menelpon? Kenapa tidak diangkat?" Tanya Umi, mereka kini sedang di perjalan menuju pulang ke rumah mereka.


"Bukan siapa-siapa umi!" Jawab Ica, wajahnya terlihat gugup.


'Maaf Kakak, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita.' Batin Ica.


"Angga ca?" Tanya Anisa.


Ica terdiam, ia terlihat bingung. Jika ia bilang memang Angga yang sedari tadi terus menelponnya, kepada kakaknya itu. Ica takut Anisa marah. Ica ingat pada malam itu perkataan Anisa, yang kekeh ingin menikah dengan Angga. Ica tidak mau jika ia harus berdebat kembali dengan kakaknya itu, apa lagi kini uminya, bersama mereka. Bagaimana nanti perasaan uminya, ketika melihat kedua putrinya bertengkar kerena laki-laki. Pasti tidak lucu bukan?


"Ca, mbak tidak apa-apa kok, jika kalian memang sama-sama menyukai, kakak ikhlas liat kalian berdua bersama." Ucap Anisa, menggenggam tangan Ica, sambil tersenyum menatap wajah adiknya itu.


Ica yang sedari tadi menundukan kepalanya, Ica mendongkrak kepalanya, melihat kearah Anisa, Ica begitu terkejut dengan ucapan kakaknya itu. Apa benar yang dikatakan kakaknya itu? Ica menatap lekat wajah sang kakak, mencari cela. Apakah kakaknya itu bersungguh-sungguh mengatakannya? Apa hanya berbohong, karna disana ada uminya. Namun wajah Anisa terlihat bersungguh-sungguh, tidak ada cela kebohongan di sana.


"Mbak gak apa-apa kok, dilangkahi sama kalian!" Lanjut Anisa kembali, sambil mencolek hidung adiknya itu, menggodanya.


Ica tersenyum, "Ih mbak Nisa, apaan sih mbak?"


"Beneran Ca! Suruh Angga dan orang tuanya kerumah buat lamar kamu!" Titah Anisa.


Umi Aminah pun tersenyum, sungguh hatinya merasa senang dan lega. Yang di pikirannya waktu itu ternyata salah. Umi Aminah merasa bangga kepada Anisa, Anisa bisa bijak, dan mengalah untuk adiknya, walau pun umi Aminah tau sebenarnya Anisa merasakan sakit.


"Nisa.."


"Iya mi, Anisa tidak apa-apa umi." Jawab Anisa, ia sudah paham apa yang di maksud oleh uminya itu.

__ADS_1


"Umi bangga sama kamu Nis."


"Terima kasih umi, ini jugakan berkat ajaran umi dan Abi, kalau kita sebagai manusia harus bisa mengikuti takdir yang sudah digariskan oleh Allah." Tutur Anisa.


Umi Aminah tersenyum kembali.


"Caca bilang sama nak Angga, jika ia benar-benar serius, suruh dia datang kerumah." Titah umi Aminah.


Ica tersenyum, wajahnya sudah merah merona. Lalu Ica mengangguk pelan. "Iya umi, nanti Ica bicarakan lagi sama kak Angga!" Ucap Ica dengan gugup.


"Jangan lama-lama Ca, niat baik itu harus segara dilaksanakan! Iyakan mi?" Pungkas Anisa.


Umi Aminah mengaggukan kepalanya, membenarkan ucapan perkataan Anisa tersebut.


"Sudah ah umi, mbak Nis, kalian membuatku malu." Ujar Ica, menyembunyikan wajahnya dibalik punggung uminya.


Umi Aminah dan Anisa tertawa kekeh, melihat tingkah Ica tersebut.


***


Angga yang masih termenung di atas balkon, sambil sesekali ia memeriksa ponselnya, menanti balasan dari Ica, yang sampai saat ini masih tidak ada.


"Caca please jangan seperti ini, kakak cinta sama kamu ca, cinta banget." Ujar Angga, Angga memasukan melatakan ponselnya di atas meja yang berada di balkon tersebut.


Lalu Angga duduk di kuris ayun, di samping meja itu. Sambil terus pikirannya memikirkan Ica. Beberapa menit kemudian terdengar bunyi dering dari ponselnya. Dengan cepat Angga mengambil ponselnya itu, ia yakin itu pasti Ica yang menelponya.


"Ngapain sih ini anak Dajjal nelpon?" Ucap Angga, sambil menggeser tombol berwarna hijau yang ada di layar ponselnya itu, dengan malas Angga mengangkat telpon dari sahabatnya itu.


"Hallo..Mau ngapain sih lo? Jones." Ucap Angga kepada Evan dalam sambungan telpon tersebut.


"Hallo bro, jones-jones! Ingat sama-sama jomblo jangan saling menghina."


"Ck! Gw udah gak jomblo ya! Ngapain sih lo telpon-telpon gw? Gak tau apa gw lagi pusing!" Pekik Angga.


"Hahaha.." Evan malah mentertawakan Angga.


"Sialan lo ngapain ketawa!"


"Enggak, oh iya lo udah pulang ke indo, kenapa lo gak bilang sama gw? Setega itukah dirimu?"


"Iya gw udah pulang, udah hampir seminggu di indo. Emang gw harus laporan gitu sama lo hah?"


"Ya iyalah. Udah ah geli gw telpon sama lo, gw tunggu lo di Caffe biasa ok!" Ucap Evan, dan mematikan sambungan telpon tersebut.


"Sialan main matiin aja, belum juga gw kelar ngomong. Geli-geli sialan tuh si jones, dia yang nelpon dia yang bilang geli." Gerutu Angga. Kesal.


"Tapi sebaiknya gw kesana ajalah, temuin dia. Butek juga otak gw di rumah mulu!" Ujar Angga, ia beranjak dari kursi tempat ia duduk, dan bersiap-siap menuju Caffe untuk bertemu dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


Beberapa menit Angga terlihat sudah rapi, dengan pakaian santainya, memakai celana jeans tiga perempat dengan kaos berwarna hitam. Tak lupa kacamata hitam kesayangannya ia pakai. Angga terlihat sangat tampan, walau pun dengan penampilan yang sederhana.


Angga keluar dari kamarnya, lalu ia berpamitan kepada ibunya.


"Bu Angga ke luar dulu ya!" Pamit Angga, menghampiri ibu Aisyah yang tengah duduk di sofa sambil membaca majalah.


"Mau kemana kamu?" Tanya Ibu Aisyah, mengalihkan pandangannya dari majalah yang ia baca tersebut, menatap kearah Angga yang berdiri di depannya.


"Mau ketemu Evan Bu."


"Evan ada di indo juga? Kenapa kamu gak suruh kesini?"


"Iya Bu Evan sudah lebih dulu pulang, ia mengantar Mawar."


"Mawar?"


"Iya Mawar, temen Angga Bu, yang waktu itu sempat video call sama ibu, pas Angga masih di Singapure."


"Oh iya-iya ibu ingat. Mawar anaknya pak Brama kan?"


"Iya Bu, oh iya Angga lupa bilang Papahnya Mawar sudah meninggal Bu!" Ujar Angga.


"Maksud kamu Pak Brama?"


"Iya Bu, papahnya Mawar siapa lagi, ya pak Brama. Jadi Evan itu mengantar Mawar pulang, saat dapat kabar dari keluarganya kalau pak Brama papahnya meninggal." Jelas Angga.


Bu Aisyah mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu, Angga pergi dulu ya Bu." Angga meraih tangan wanita parubaya itu.


"Ya sudah hati-hati. Oh iya dan tolong bilang, jika kamu bertemu Mawar, sampaikan turut berduka cita ibu."


"Siap Bu, asalamualaikum!"


"Walaikum'salam."


Angga pun keluar dari rumah, usai berpamitan dengan ibunya itu, dirumah memang hanya ada ibunya, papah Irawan tengah bertugas kerumah sakit. Angga melajukan mobilnya menuju Caffe tempat ia dan Evan akan bertemu.


Bersambung..


Jangan lupa like, comen dan likenya.


Double up ya. Yuk kirim bunga sama kopi.


Nanti lanjut satu bab lagi.🤭🤭


Jangan lupa like, komen dan Votenya juga.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2