
Angga dan keluarga Ica pun, memulai ritual makan siang tersebut. Tidak ada pembicaraan saat makan siang itu, mereka fokus dengan makanan mereka masing-masing. Usai selesai menghabiskan makanan, mereka berkumpul di ruang tengah, mengobrol hangat di iringi dengan canda tawa, yang membuat mereka tertawa penuh kebahagian. Hingga tak terasa sore menjelang, Angga berpamitan pulang kepada mereka.
"Umi, Abi. Sepertinya Angga pamit pulang sekarang!" Ucap Angga.
"Loh kok buru-buru, masih sore ini." Sahut Umi Aminah.
Angga memberikan cengiran-nya, "memang boleh Angga lama-lama disini?" Ucap Angga, membuat orang tua Ica saling melemparkan pandangannya.
"Angga bercanda umi, abi. Angga harus pulang sekarang kayanya. Soalnya mau jemput papah dulu di rumah sakit." Lanjut Angga.
"Oh ya sudah. Hati-hati ya." Pesan umi Aminah, diangguki oleh Angga, Angga pun berpamitan menyalami kedua orang tua Ica.
"Kalau gitu, Angga pulang dulu ya semuanya." Pamit Angga lagi. Semua orang terlihat menganggukan kepala mereka.
"Asalamualaikum..." Ucap Angga, sambil berajak dari sofa yang ia duduki, dan berjalan keluar dari rumah tersebut.
"Eh nak Angga tunggu!" Panggil Abi Adam, Angga pun menghentikan langkahnya, menoleh kearah Abi Adam.
"Iya Abi, kenapa?"
"Caca bukannya kamu mau ke toko buku?" Tanya Abi Adam, menoleh kearah Ica. Dan Ica menganggukan kepalanya.
"Arah toko buku sama, rumah sakit-kan sama. Lebih baik mau bareng aja sama nak Angga."
"Tidak usah Abi, Caca kesana sendiri aja nanti, lagiankan kak Angga buru-buru juga--kan, mau jemput om Irawan." Tolak Ica, halus.
"Gak apa-apa kok Ca, kalau mau bareng. Nanti biar Kakak telpon papah aja, kalau kakak telat." Sahut Angga.
"Tuh--kan, nak Angga juga gak apa-apa." Pungkas Abi Adam, diangguki oleh Angga. "Lagian Abi lebih tenang kalau kamu barengan sama calon suami kamu." Lanjut Abi Adam.
"Baiklah, kalau gitu Caca ambil tas dulu dikamar." Pasrah Ica, menganggukan kepalanya, sambil berajak berjalan menuju kamarnya.
'Apa aku gak salah dengar? Caca lebih aman dengan calon suaminya, bukannya tadi Abi bilang kalau aku dekat-dekat terus dengan Caca, takut terjadi apa-apa.' Gunam Angga, terkekeh dalam hatinya. "Tapi gak apa-apa sih, aku suka deket-deket terus sama Dede Caca. Suka banget malah. Dan itu artinya Abi juga sudah percaya denganku." Lanjut gunam Angga, bersorak dalam hatinya.
Tak lama kemudian, Ica terlihat sudah kembali.
"Caca berangkat dulu." Pamit Ica, sambil menyalami semua orang yang berada disana.
"Iya hati-hati ca." Ucap umi Aminah, lalu umi Aminah melihat kearah Angga. "Nak Angga, kami titip Caca ya!"
"Iya umi."
"Asalamualaikum..." Ucap Angga dan Ica.
"Walaikum salam."
Angga dan Ica pun berjalan keluar dari rumah tersebut, berjalan menuju mobil Angga. Angga membukakan pintu untuk wanita kesayangannya itu.
"Silahkan tuan putri." Angga mempersilahkan Ica masuk, usai ia membuka pintu mobil tersebut.
"Terima kasih kak." Ica masuk kedalam mobil, dan Angga menutup kembali pintu mobil itu, lalu menyusul Ica masuk kedalam mobil. Angga pun mulai melajukan mobilnya, meninggalkan rumah tersebut.
__ADS_1
Dalam perjalan, mereka masih sama-sama diam, baik Ica, mau pun Angga, mereka larut dalam pikirannya masing-masing, Angga fokus melihat jalan yang ada di depannya, sambil sesekali mencuri-curi pandang kepada wanita yang duduk di sampingnya itu.
Sedangkan Ica, ia melihat kearah samping, sambil menikmati pemandangan, jalan raya yang agak padat.
"Ca..." Panggil Angga, membuka suaranya, memecah keheningan.
"Iya kak, kenapa?" Ica menoleh kearah Angga.
"Gak apa-apa, cuman manggil aja." Jawab Angga, menoleh kearah Ica sekilas, lalu kembali fokus mengemudikan mobilnya.
Ica menghembuskan nafas kasar, ia sedikit kesal dengan tingkah Angga itu.
'Aku kira mau apa? Cuman manggil doang, kesel.' Gunam Ica dalam hatinya.
Angga terkekeh pelan, mendapati Ica yang sepertinya kesal dengannya itu.
"Caca...."
"Apa..." Kini Ica, menjawab dengan sedikit ketus, dan tanpa menoleh kearah Angga.
"Caca, lihat kakak dong!" Pinta Angga.
"Gak mau."
"Cie ngambek." Angga malah menggodanya.
"Gak Caca gak ngambek, Caca cuman sedikit kesel." Cibir Ica.
"Gitu dong senyum, kan lebih cantik." Puji Angga, Angga mendekatkan tangannya kearah wajah Ica. "Jadi pengen nyubit deh, gemes."
"Kak..." Ica melihat kearah tangan Angga, yang akan mencubit pipinya itu.
"Eh-eh, maaf kelepasan." Angga pun menurunkan kembali tangannya, Angga menjadi salah tingkah sendiri.
'Ya ampun ini tangan gak bisa diajak kompromi. Main mau nyosor aja lu..' Gerutu Angga dalam hatinya.
Dan detik kemudian, suasana kembali hening. Angga dan Ica sama-sama tak membuka suaranya.
"Kak, apa alasan kakak mencintai Caca?" Tanya Ica, dengan wajah polosnya, menoleh kearah Angga, entah kenapa Ica bisa memberikan pertanyaan seperti itu. Kalimat itu lolos begitu saja dari bibir wanita itu.
Angga terdiam sejanak, berpikir. Bagaimana ia menjawabnya? Apa alasan-nya bisa mencintai Ica? Angga pun bertanya-tanya dalam hatinya. Angga telihat bingung.
'Eh kok Caca kasih pertanyaan kaya gitu ya sama kak Angga!! Aduh Caca konyol gak sih.' Ucap Ica dalam hatinya, masih menatap Angga, yang masih terdiam belum menjawab pertanyaannya.
"Kak..." Panggil Ica.
Angga pun menoleh kearah Ica. Angga tersenyum menetap Ica, pancaran mata Angga menandakan bahwa disana banyak cinta untuk Ica.
"Alasan kakak mencintai kamu? Kakak tidak tau, dan kakak tidak punya alasan kenapa kakak mencintai Caca, tapi ada satu hal yang kakak tau, kakak nyaman dan bahagia saat bersama kamu." Tutur Angga.
Deg...
__ADS_1
Jantung Ica, serasa mau melompat keluar, sungguh itu kata-kata termanis yang pernah Ica dengar dari mulut seorang laki-laki. Ica merasa sangat terharu bahagia. Bahkan matanya terlihat berkaca-kaca, namun sebisa mungkin Ica menahan agar tidak ada cairan yang jatuh dari pelupuk matanya. Ica tidak tau apa Angga benar-benar mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh. Tapi Ica berdoa dalam hatinya semoga semuanya itu memang sungguh, bukan hanya singgah. Ica tersenyum kearah Angga.
Angga membalas senyuman Ica dengan penuh makna. "Kamu Itu, HARTA dan TAHTA kakak." Lanjut Angga.
"HARTA dan TAHTA kakak?" Ica mengulang ucapan Angga. "Kenapa kakak bilang seperti itu? HARTA, bukannya uang dan TAHTA, itu kedudukan? Kenapa Kakak samakan Caca dengan itu?" Sambung Ica, Ica sama sekali tak mengerti dengan ucapan Angga itu. Apa maksud Angga. Menyamakannya dengan HARTA DAN TAHTA?
Angga melebarkan senyumanya, melihat kearah Ica, sambil sesekali melihat kearah depan.
"HARTA itu tidak semuanya uang sayang. HARTA paling berharga kakak itu kamu. Dan TAHTA, iya memang kedudukan, dan kedudukan kakak itu kamu Ica. Kamu yang ber- TAHTA dihati kakak. Sekarang dan selamanya."
Lagi-lagi Angga membuat hati Ica berbunga-bunga. Serasa terbang. Ica memegangi dadanya, sumpah demi apa pun, jantung Ica melompat-lompat.
"Kamu itu berharga buat kak Ca, kakak sayang banget sama Caca." Lanjut Angga, tulus dan bersungguh-sungguh mengutarakannya.
"Jadi Caca itu. HARTA, TAHTA, DOKTER ANGGA gitu ya kak."
"Iya sayang." Jawab Angga lembut. "HARTA, TAHTA DOKTER ANGGA ITU ICA." Lanjut Angga, dan mereka pun tertawa bersama.
Hingga tak terasa akhirnya mobil Angga pun sampai di tempat tujuan Ica, Angga menepikan mobilnya di depan toko buku tersebut.
"Terima kasih ya Kak." Ucap Ica, sambil bersiap-siap keluar dari mobil Angga tersebut.
Angga menganggukan kepalanya, "jangan lupa nanti kabarin kakak ya." Pinta Angga, dan Ica mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Kakak langsung langsung jemput papah, Caca hati-hati ya."
"Iya kak, kakak tenang aja. Caca bisa jaga diri kok."
"I love you calon istri, asalamualaikum." Ucap Angga.
"I love you too calon suami, Walaikum salam."
Angga pun mulai melajukan mobilnya, Ica melambaikan tangannya kearah mobil Angga, dan Angga pun membalas lambaian tangan Ica tersebut. Ica langsung masuk kedalam toko buku tersebut. Usai mobil Angga sudah melaju dari hadapannya.
Bersambung...
Hay guys, maaf baru sempat up.
Gimana? Aku kasih wajah baru Dokter Angga🤠Semoga kalian suka ya🤗
Dan jangan lupa dukungannya, like, komen dan Votenya.
Maaciwww...
See u
Bye-bye..
I love u...
MUACH.
__ADS_1