
Mau tidak mau, Ica pun mengikuti langkah Mawar dan Evan, karna tangan Ica di genggam erat oleh Mawar. Ica semakin merasa ketakutan, saat Evan membuka pintu rumah tua tersebut. Ica memperhatikan lagi ke sekitar, suasana sepi, gelap gulita. Nampak tidak ada orang sama sekali di sekitar sana.
"Cepat masuk...." Ucap Mawar, setengah menyeret Ica, karna Ica menghentikan langkahnya.
"Kak sebenarnya kita mau ngapain? Kenapa kita kesini? Ica takut kak. Kenapa kalian kaya gini sama Caca, apa salah Caca?" Tanya Ica berbondong, wanita itu mulai terisak tangis.
Mawar dan Evan terdiam, mereka malah saling melempar pandangan mereka.
"Cepat masuk saja, jangan banyak tanya!" Tegas Mawar.
"Gak mau Caca gak mau masuk, Caca takut. Caca mau pulang. Kalian kenapa kaya gini sama Ica? Apa salah Ica?" Ica meronta, mencoba melepaskan tangannya yang di cengkram oleh Mawar.
"Evan bantuin gue dong," pekik Mawar, karna tak kuat menahan Ica yang terus meronta. Evan pun membantu memegangi tangan Ica.
"Cepat bawa masuk." Ucap Mawar, diangguki oleh Evan, mereka pun membawa Ica kesebuah ruangan yang berada di rumah tua tersebut.
"Kak lepasin Caca, Caca mau pulang." Teriak Caca. Sambil menangis kencang.
"DIAM." Teriak Evan dan Mawar bersamaan. Membuat Ica langsung terdiam, karna mereka terlihat sangat menyeramkan.
"Masuk cepat." Titah mereka, sambil mendorong Ica hingga terjatuh kelantai. Lalu mereka menutup pintu ruangan itu dan menguncinya.
Ica bangkit, ia langsung mengedor-gedor pintu itu.
"Kak Evan, kak Mawar buka.." Teriak Ica.
"Kak buka, Ica mau pulang. Tolong buka pintunya." Teriak Ica lagi, di iringi tangisnya. Namun tidak ada sahutan sama sekali dari Mawar dan Evan. Mawar dan Evan langsung pergi meninggalkan Ica.
"Van elo yakin ini bakalan berhasil?" Tanya Mawar, kini mereka sudah berada di dalam mobil.
"Yakin, pasti berhasil."
"Tapi gue kasian sama itu anak."
"Ya mau gimana lagi? Ini jalan satu-satunya."
Mawar membuang nafas berat, lalu menganggukan kepalanya.
Entah sudah berapa kali Ica menggedor pintu ruangan itu, sambil memanggil Evan dan Mawar. Namun masih tetap saja tidak ada sahutan. Ica membalikan tubuhnya, ia melihat kesekitar ruangan itu. Gelap itu yang Ica lihat sekarang.
"Ya Allah, Ica takut. Ica harus gimana sekarang? Kanapa mereka kaya gini sama Caca, apa salah Caca." Lirih Caca, sambil duduk dan memeluk lututnya. Sungguh Ica merasa sangat takut.
"Oh iya, Caca lupa, Caca kan ada hp," Ica membuka tas-nya, mencari ponsel miliknya, Ica tersenyum melihat ponselnya yang ada di dalam tasnya itu. Ica mengambil ponselnya itu.
"Ya Allah, kenapa harus lowbat sekarang sih." Ucap Ica, saat mendapatkan notifikasi bahwa batre ponselnya lemah.
"Masih ada dua persen lagi. Semoga Caca bisa menghubungi kak Angga." Ucap Ica, dengan tangan yang masih gemetar Ica mencari kontak Angga, beberapa saat kemudian, Ica sudah menemukannya. Ia langsung menelpon Angga, tapi nomer Angga diluar jangkauan.
"Ya Allah bagaimana ini. Kenapa nomer kak Angga tidak Aktif. Apa Ica kirim pesan saja, siapa tau kalau nanti ponsel kak Angga aktif dia melihat pesan dari Caca." Gunamnya, dan Ica pun mulai mengetik pesan untuk Angga.
"Kak tolong Ica, Ica takut. Ica mau pulang."
Angga mengirim pesan tersebut pada Angga. "Tapi Ica ini dimana? Bagaimana nanti kak Angga bisa menemukan Caca kalau dia gak tau tempat ini." Ica terdiam sejenak, memikirkan bagaimana caranya.
"Oh iya, share lokasi saja." Ica pun langsung meng-Share lokasinya itu. Namun saat Ica sedang mengirim-nya kepada Angga, jaringannya loading.
"Cepat dong ke kirim..." Harap Ica, sambil terus menatap layar ponselnya itu, Namun detik kemudian, ponselnya langsung mati, karna batreinya habis.
Ica membuang nafas barat, apa yang harus ia lakukan sekarang? Ponselnya sudah mati, dan Ica tidak tau pesannya itu terkirim kepada Angga atau tidak. Ica kembali menitihkan air matanya. Kenapa Mawar dan Evan melakukan ini? Ica masih bertanya-tanya dalam hatinya. Apa ia melakukan kesalahan? Kalau iya, apa kesalahan yang Ica perbuat? Hingga mereka tega mengurung Ica di tempat ini.
Sekarang harus bagaimana? Angga tidak bisa dihubungi. "Abi, umi Caca takut, tolong Caca." Rintihnya. Caca kembali membenamkan kepalanya, sambil tangan memeluk lututnya.
Ica sengaja tadi ia tak menghubungi Orang tuanya, memilih untuk menghubungi Angga, karna Ica takut orang tuanya Khawatir, apa lagi Abi-nya. Ica takut kalau jantung Abi-nya kumat.
Namun dalam hati Ica juga bertanya-tanya, kenapa orang tuanya, tidak ada yang menghubungi Ica sejak tadi, saat ponselnya masih menyala. Biasanya Umi dan Abi-nya selalu bertanya jika ia pulang telat. Apa lagi sudah malam begini, Ica pasti sudah kena Omelan sang Abi dan umi. Apa mungkin karna mereka tau Ica kalau Ica bersama Mawar dan Evan? Sebenarnya apa yang di rencanakan mereka?
...____________________________________________...
Angga baru saja masuk ke kamarnya usai ia melakukan makan malam bersama kedua orangnya, dan Adik-nya Afifah serta suami dan anak-anak Afifah.
__ADS_1
Angga merasakan hatinya tidak anak, pikirannya pun gelisah. Kanapa tiba-tiba ia teringat dengan Ica? Dalam pikirannya terus saja di bayang-bayangi wanita itu. Ada merasakan ada kecemasan di hatinya.
Dan ini sudah malam, tapi Ica tidak sama sekali memberinya kabar, sudah pulang atau belum? Angga mengambil ponselnya, ia berniat akan menghubungi Ica. Namun saat Angga memeriksa ponselnya itu. Ponsel Angga mati.
"Pantas saja Caca gak ada kabar, ternyata ponselku yang mati." Ucap Angga, Angga memutuskan untuk meng-cas terlebih dahulu ponselnya itu. Lalu ia beranjak menuju kamar mandi, untuk membersikan tubuhnya. Karna tadi Angga belum sempat mandi, pas pulang kerumah, Angga malah diajak main oleh keponakan-keponakannya, yang tak lain anak Afifah, Zim, Zam dan Aira.
15 menit kemudian, Angga sudah menyelesaikan mandinya, dan sudah berganti pakaian. Angga menggambil ponsel-nya, batrei ponselnya kini sudah terisi. Angga pun menyalakannya.
Ada beberapa pesan masuk, dan panggilan tak terjawab melalui WhatsApp, Angga tersenyum nama Ica terlihat disana. Lalu Angga membuka pesan dari Ica. Angga membulatkan matanya, usai membaca pesan dari Ica tersebut.
Dengan cepat Angga beranjak dari kasurnya, ia mengambil jaket dan kunci mobilnya, Angga berjalan cepat keluar dari kamarnya itu.
"Angga mau kemana kamu malam-malam begini?" Tanya dr. Irawan, saat melihat Angga yang jalan terburu-buru melewati orang-orang rumah yang sedang bersantai di ruang tengah.
Namun Angga tak memperdulikan mereka, Angga semakin mempercepat langkah kakinya. Kini yang di pikiran Angga adalah Ica. Angga sangat menghawatirkan wanitanya itu. Angga langsung masuk kedalam mobil-nya, dan melajukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi.
Angga kembali membuka ponselnya, ia melihat Maps lokasi, yang sempat di kirimkan Ica. Angga mengikuti rute jalan yang berada di Maps tersebut.
"Ada apa dengan Ica? Kenapa Ica ada di rumah lama Mawar." Gunam Angga, sambil terus melajukan mobilnya.
"Evan," Angga mencari kontak Evan, Angga menelpon Evan untuk menanyakan apa yang terjadi dengan Ica, bukankah tadi sore mereka jalan bersama.
"Sial..." Umpat Angga, beberapa kali ia mencoba menelpon Evan, namun Evan di luar jangkauan. Lalu Angga mencari kontak Mawar, tak menunggu lama Angga pun mencoba menelpon wanita itu. Namun nihil nomer Mawar, sama seperti Evan tidak aktif.
Arrgggggg....
Angga mengusap wajahnya, dan mengacak-acak rambutnya yang masih basah itu. Angga merasa frustasi kedua sahabatnya itu tidak bisa di hubungi, dan Ica juga sama, wanita itu tidak bisa di hubungi juga. Apa Angga harus menghubungi orang tua Ica? Untuk menanyakan Ica. Angga terlihat berpikir sejenak.
Pesan yang di kirim Ica ke Angga itu, tiga jam yang lalu. Apa mungkin Ica sekarang sudah berada di rumahnya? Tapi bagaimana kalau ternyata belum.Abi Adam dan Umi Aminah pasti akan sangat khawatir.
Tidak Angga memutuskan tidak menghubungi keluarga Ica. Jika Ica sampai belum pulang. Mereka pasti sangat cemas, apa lagi Kondisi jantung calon mertuanya itu masih dalam tahap pemulihan.
Angga pun semakin mempercepat laju mobilnya, Angga tau tempat Ica itu, itu adalah rumah lama mawar. Ica pernah kesana, bersama Mawar dan Evan.
Rumah tua, dan sudah lama tidak di tinggali. Angga tak kuasa membayangkan betapa Ica sangat ketakutan disana.
Tak lama kemudian, Angga pun sampai di depan rumah tua tersebut. Keadaan sepi gelap gulita, tidak ada siapa-siapa. Apa mungkin Ica masih ada di dalam rumah itu? Angga pun berlari menuju rumah itu, membuka pintu rumah itu dengan kasar.
"Tau gini gue gak akan dobrak ini pintu." Umpat Angga, "sakit tangan gue." Lanjutnya, sambil mengusap-usap tangannya yang agak ngilu karna beradu dengan pintu.
Angga masuk kedalam rumah itu, keadaan sama masih gelap dan sepi. Angga berjalan pelan dan sangat hati-hati. Takutnya ada ninja-ninja kaya di TV-TV yang mendadak menyerangnya.
"Ca...." Teriak Angga, sambil memperhatikan sekitarnya.
"Ica..." Panggil Angga kembali. Namun Angga tak mendengar sama sekali ada suara yang menjawabnya.
Tiba-tiba Angga melihat, seperti ada benda yang bergerak-gerak. Angga menyalakan lampu light ponselnya, untuk melihat apa yang bergerak-gerak itu. Dengan hati-hati Angga berjalan menghampiri meja yang tertutup kain putih itu. Tangan Angga mendekat kerah kain penutup itu, perlahan dengan tangan yang sedikit gemetaran dan jantung yang sudah berdetak tak karuan, Angga menarik kain penutup tersebut. Dan..
Terlihat sesuatu melompat kearah pundaknya.
"AAHHHHHHHHHH....'' Teriak Angga ketakutan, saat merasakan sesuatu menyentuh pundaknya. Dengan penuh ketakutan Angga, Angga mencoba menepis yang di pundaknya itu, Angga tidak tau itu benda tau apa. Dan..
Plukk...
Seekor tikus terlihat berlari kepirit-kepirit, usai Angga menepis yanga ada di pundaknya itu.
"Dasar tikus sialan, ngagetin gue aja. Gak punya otak, gak punya Tatak Rama apa? Diam di pundak orang sembarangan." Kesal Angga memaki-maki tikus tersebut, yang sudah berlari entah kemana.
Angga menghelai nafas panjang dan membuangnya perlahan, mencoba menenangkan dirinya, akibat ulah sang tikus.
"Dasar tikus tidak sekolah." Ketus Angga. "Eh emang tikus tidak sekolah ya." Lanjut Angga, sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Konyol.
Angga pun meneruskan kembali pencariannya itu. Mencari Ica yang entah dimana.
Ica membuka matanya, keadaan masih sama gelap gulita. Ica pikir semua yang ia alami itu cuman mimpi ternyata tidak, semuanya nyata, Ica masih berada di tempat yang tadi. Air mata Ica terlihat menetes kembali, matanya sudah terlihat membengkak. Sedari tadi ia menangis, bahkan sampai tertidur dengan posisi yang masih sama.
Namun Ica saat Ica terisak tangisnya itu kembali, Ica mendengar seperti ada suara orang yang memanggil-manggil namanya. Dan suara itu, Ica sangat kenal. Itu suara Angga. Ica pun bangkit, sedikit senyuman terukir diwajah Ica, di iringi dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Kak Angga, Kak tolong Ica..." Teriak Ica, tangannya terus menggedor-gedor pintu ruangan tersebut. Namun Ica tak mendengar ada sautan dari luar sana.
__ADS_1
Ica pun kembali menggedor-gedor pintu itu, dan kembali berteriak.
"Kak Angga, Ica disini kak. Tolong bukain pintunya. Ica takut kak. Kak Angga..." Teriak Ica lagi, kini dengan suara yang semakin keras.
Angga yang tengah berjalan itu pun, samar-samar ia mendengar suara orang berteriak. Dengan cepat Angga mencoba mencari arah sumber suara tersebut. Angga terus berjalan kedepan, semakin Angga berjalan teriakkan itu semakin terdengar jelas.
"Ica..." Angga langsung, berlari menuju satu pintu, yang ada di depannya Angga yakin itu pasti Ica.
"Caca, Ca apa kamu di dalam." Angga berteriak, sambil mengetuk pintu ruangan itu dengan keras.
"Kak Angga, kak buka pintunya kak. Caca di dalam pintu di kunci kak." Teriak Ica, dari dalam ruangan tersebut.
"Iya Caca, kakak akan buka pintunya. Caca tenang ya sayang." Angga mencoba menenangkan wanita yang di cintainya itu, sambil mencoba membuka pintu kamar yang terkunci itu.
"Kak Ica takut." Teriak Ica dari dalam sana lagi, terdengar suara Ica sangat ketakutan.
"Sabar ya sayang, kakak ini lagi berusaha buka. Kuncinya tidak ada." Jawab Angga.
"Sial, dimana kuncinya." Umpat Angga.
"Ca, Caca denger kakak-kan."
"Iya kak."
"Caca jangan disitu, kakak akan coba dobrak pintunya. Caca menjauh ya sayang." Pinta Angga.
"Iya kak, cepat kak. Caca takut." Ica terlihat berpindah posisi, ia menjauh dari pintu tersebut, menurut kepada Angga.
Angga pun mulai mendobrak pintu tersebut. Dorongan pertama gagal. Angga tak putus asa, ia mencoba mendorong pintu itu kembali, dan dorongan ke dua juga gagal. Dan untuk dorongan ketiga, Angga mengarahkan semua tenaga-nya. Dan...
Brakkk....
Pintu itu terbuka, Angga langsung masuk kedalam ruangan tersebut, menghampiri Ica.
"Caca..." Teriak Angga, melihat Ica yang tengah mematung sambil menangkubkan tangannya menutupi wajahnya.
"Kakak..." Teriak Ica, ia langsung menghambur memeluk Angga.
"Caca takut kak." Lirih Ica dengan isak tangisnya.
"Caca jangan takut, sekarang ada kakak." Angga membalas pelukan Ica, memeluknya dengan erat. Angga pun mengelus-elus kepala Ica dengan lembut, mencoba menenangkan wanita itu.
Ica membenamkan wajahnya yang penuh air mata itu, di dada bidang kokoh milik Angga, menumpahkan ketakutannya. Angga membiarkan Ica memeluknya lama. Lagian kapan lagi juga kan? Mumpung gak ada yang liat juga.
Cih dasar Angga. Seneng hah? Seneng ada kesempatan peluk-peluk Ica. Kasih aku hadiah, sebagai ucapan terima kasih. Karna aku sudah memberikan kamu kesempatan peluk Ica. Wkakak Author somplak..
Oke lanjut...
Ica pun melepaskan pelukannya, ia melihat kearah Angga, dengan sedikit cahaya bulan yang menyinari mereka.
"Terima kasih kak." Ucap Ica tulus.
"Sama-sama, sayang." Angga tersenyum, sambil tangannya mengusap lembut pipi Ica yang basar tergenang air mata. "Nanti Caca ceritakan semuanya sama kak ya. Sekarang lebih baik kita keluar dari sini. Kakak antar Caca pulang."
Ica menganggukan kepalanya, Angga memapah Ica, merangkul bahunya, membantu Ica untuk berjalan. Karna Ica terlihat sangat lemas. Mereka pun keluar dari ruangan tersebut dan tiba-tiba...
Lanjut bab selanjutnya ya guys, ini udah 2000 rbu kata lebih, harusnya ini 2 bab, aku jadiin satu.
Sebenarnya tanggung, kebenarannya mau terungkap. Tapi gimana lagi kepanjangan.
Lanjut bab selanjutnya ya.
Aku lanjut nulis lagi, dan langsung aku up.
Like dan komenya, vote juga jangan lupa.
Yuk-Yuk, apa lagi dikasih Hadiah bunga tau kopi. Makin semangat deh aku.
Hehehe..
__ADS_1
see u..
Satu bab lagi nyusul. Pantengin terus ya.