HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 60


__ADS_3

Mawar terlihat terus berlari menelusuri kolidor rumah sakit tersebut, di ikuti oleh Anisa yang menyusulnya.


Sampai di parkiran rumah sakit. Dan...


"Awass...." Teriak semua orang yang ada di sana.


Brugg......


Orang-orang yang berada di sekitar rumah sakit itu pun, langsung berhamburan menghampiri Anisa dan Mawar yang tertabrak oleh mobil tersebut. Mereka tertabrak oleh mobil yang melaju berlawanan. Keduanya tak sadarkan diri, darah terlihat keluar dari kepala keduanya. Melihat ada keributan pun, petugas rumah sakit langsung mendekat kearah mereka. Lalu ia segara membawa Anisa dan Mawar, ke ruangan UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Umi Aminah yang baru saja keluar dari ruang rawat suaminya itu, berniat akan membeli makanan untuknya. Namun saat ia akan berjalan, ia melihat petugas rumah sakit membawa Anisa dan Mawar di brankar menuju ruangan UGD.


"Anisa, Mawar." Teriak Umi Aminah. Petugas itu pun berhenti sejanak.


"Apa ibu mengenal mereka?" Tanya salah satu petugas rumah sakit, umi Aminah pun menganggukan kepalanya.


"Ini anak saya, kenapa bisa begini?" Mata umi Aminah sudah berkaca-kaca.


"Mereka tertabrak mobil Bu, di depan tadi."


"Astagfirullah." Lirih umi Aminah, air matanya kini sudah terjun bebas membasahi wajah wanita parubaya itu.


"Cepat tangani anak saya pak!" Ucap umi Aminah, petugas rumah sakit itu pun menganggukan kepalanya, lalu mereka melanjutkan berjalan membawa Anisa dan Mawar menuju ruang UGD, umi Aminah mengikuti mereka.


'Ya Allah selamatkan--lah mereka. Beri mereka kekuatan.' Batin Umi Aminah.


"Maaf Bu, ibu tidak boleh masuk. Kami akan menangani pasien sebaik mungkin." Ucap Dokter, sambil menutup pintu ruangan UGD tersebut.


Umi Aminah mengangguk pasrah, sambil terus berdoa dalam hatinya, semoga Anisa dan Mawar baik-baik saja. Lalu umi Aminah duduk di bangku yang sudah di sediakan, wanita itu terlihat memainkan ponselnya, untuk menelpon Ica.


***


Ica dan Angga kini tengah di perjalan menuju rumah kediaman orang Angga. Ya mereka belum menempati rumah baru mereka. Karna memang rumah itu sedang di renovasi, sesuai dengan keinginan sang istri.


Wajah Ica terlihat pucat, kepalanya juga terasa pusing.


Padahal Ica tidak telat makan atau apa. Malah Ica merasakan keluhan itu sudah beberapa hari.


"Sayang kamu baik-baik aja-kan?" Tanya Angga, beberapa hari ini Angga memperhatikan istrinya itu seperti orang lesu tidak bersemangat. Apa mungkin karna terlalu memikirkan Abi-nya yang tengah sakit.

__ADS_1


"Caca gak apa-apa kok. Hanya saja Caca merasa beberapa hari ini kepala Caca pusing terus!" Keluh Ica.


"Kan aku bilang jangan terlalu banyak pikiran sayang."


"Nanti di rumah aku periksa ya. Dari kemarin mau di periksa nolak terus." Sambung Angga.


"Iya sayang. Tapi periksa-nya yang bener-bener. Jangan kaya hari itu. Bilangnya mau periksa, tapi apa? Malah periksa yang lainnya." Ketus Ica.


Mengingat beberapa hari yang lalu Ica mengeluh dengan sakit yang sama, dan meminta suaminya itu untuk memeriksa kondisinya. Namun apa bukannya memeriksa kondisinya, Angga malah memeriksa seluruh tubuh istinya itu. Bukannya menyuntikan obat, Angga malah menyuntikan obat pembuat anak ke tubuh Ica.


Bentar-bentar, suntikan pembuat anak apaan ya?!😂😂


Eh🤭🤭


"Iya sayang, nanti di rumah pasti periksa-nya beneran. Gak kaya kemarin. Tapi kamarim juga langsung sembuhkan dengan pemeriksaan yang itu." Ucap Angga, sambil terkekeh menggoda istrinya.


"Ih apaan sih." Ica malu-malu kucing.


Tapi emang bener sih kemarin itu langsung sembuh, sakit kepalanya langsung hilang, Pikir Ica.


Tapi gantian seluruh tubuhnya berasa remuk karna suntikan Angga itu.


Ponsel Ica tersengat berbunyi, Ica mengambil ponsel miliknya itu yang berada di dalam tasnya.


"Siapa sayang?" Tanya Angga.


"Umi."


"Angkat cepat, siapa tau penting." Titah Angga, dan Ica menganggukkan kepalanya, tapi kenapa rasanya hati sekarang tidak karuan. Ica pun langsung mengangkat telpon tersebut.


"Asalamualaikum umi."


"Apa..." Ica terlihat membulatkan matanya, usai mendengar ucapan uminya dalam sambungan telpon tersebut. Ica langsung menjatuhkan ponselnya.


Angga pun langsung menghentikan laju mobilnya, menepikan mobilnya, agar tidak menghalangi pengemudi lain yang lewat.


"Ada apa sayang?" Tanya Angga.


"Mbak Nisa.. sama kak Mawar." Lirih Ica. Kini air mata Ica meluncur bebas dari pelupuk mata indahnya itu.

__ADS_1


Angga langsung menarik Ica ke dalam pelukannya. Tubuh Ica terasa bergetar. Angga mengelus punggung istrinya itu dengan lembut.


"Sayang, coba jelaskan apa yang terjadi?"


"Mbak Nisa dan Kak Mawar tertabrak mobil, mereka sekarang lagi di UGD." Lirih Ica, sambil terisak tangis dalam pelukan suaminya itu.


"Astagfirullah." Angga terkejut saat mendengar penuturan istrinya itu.


"Sayang, ayo cepat kita balik lagi ke rumah sakit." Pinta Ica, beranjak dari pelukan suaminya itu.


Angga pun dengan cepat, memutar balik mobilnya, menuju rumah sakit. Dalam perjalan Ica terus menangis.


"Sayang sudah jangan menangis, mereka pasti baik-baik saja." Angga mencoba menenangkan istrinya itu.


Tak lama kemudian, akhirnya mereka pun sampai. Angga dan Anisa langsung menuju ruang UGD.


Di sana terlihat umi Aminah yang sedang duduk termenung, dengan Isak tangisnya.


"Umi..." Teriak Ica. Langsung menghambur memeluk umi Aminah. Cukup lama mereka berpelukan.


"Umi bagaimana kondisi Mbak Nisa dan Kak Mawar?" Tanya Ica, usai melapaskan pelukannya.


"Mereka sedang di tangani oleh dokter di dalam ca."


"Semoga mereka baik-baik saja ya umi." Sahut Angga.


"Amin." Ucap Ica dan umi Aminah bersamaan. Lalu mereka pun duduk di bangku tunggu. Sambil menunggu dokter keluar dari ruangan UGD tersebut.


Mereka menunggu, sambil terus berdoa dalam hatinya.


"Umi Abi sudah tau?" Tanya Ica. Dan umi Aminah menggelangkan kepalanya, sebagai jawaban bahwa suaminya itu belum mengetahui.


"Sebaiknya menurut Angga jangan dulu di kasih tau umi, karna kondisi jantung abi masih lemah. Takutnya Abi terkejut dan bisa mempengaruhi kondisi jantungnya."


Umi Aminah dan Ica pun mengagukan pasrah. Menyetujui ucapan Angga tersebut, karna memang ini semua untuk kebaikan Abi Adam juga. Mungkin nanti jika waktunya tepat, merak akan memberi tahu Abi Adam. Saat kondisi Abi Adam membaik.


Bersambung..


Like dan komennya jangan lupa.

__ADS_1


See u...


__ADS_2