HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 16


__ADS_3

(Keesokan harinya)


Ica tengah membantu orang tuanya, mengemasi barang-barang mereka, karna siang ini mereka akan kembali ke Indonesia.


Ica terlihat tidak bersemangat untuk pulang, entah kenapa hatinya terasa berat meninggalkan rumah sakit tersebut.


Umi Aminah yang sedari tadi memperhatikan putrinya itu, merasa aneh. Ada apa dengan Ica?


Umi Aminah menghampiri Ica yang tengah membereskan barangnya, sambil duduk di sofa, Ica seperti sedang melamun.


"Ca.." Panggil umi Aminah, duduk di sofa di samping putrinya itu.


Ica tersentak dari lamunannya, lalu menoleh kearah uminya.


"Eh umi, iya kenapa mi?"


"Kamu kenapa nak, ada masalah? Kamu cerita sama umi," tanya umi Aminah, seraya mengelus bahu putrinya dengan lembut.


Ica tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada umi, Caca tidak apa-apa kok!"


"Ya sudah, ayo cepat lanjutkan berkemasnya, kita harus segara ke bandara sekarang!"


"Baik umi"


***


(Kediaman Angga)


Waktu sudah menunjukan jam 10 pagi. Angga baru saja terbangun dari tidurnya. Semalam Angga bergadang karna tidak bisa tidur, pikiranya terus memikirkan Ica, semalam juga ia mencoba menghubungi Ica, namun tidak ada balasan dari Ica, sampai Angga nekat menelpon wanita itu, namun Ica tetap tak mengangkat telponnya.


Sebelum Angga ke kamar mandi, ia memeriksa ponselnya terlebih dahulu, berharap ada kabar dari Ica. Namun semua Zonk, pesan-pesan yang Angga kirimkan ke wanita itu tidak ada balasan, walau pun disana tertanda dua centang biru, yang berarti Ica sudah membuka pesan darinya.


Lalu Angga melihat story' Whatsapp-nya. Story Ica bertuliskan. "Good bye"


Angga membulatkan matanya, Angga terlihat panik. Angga beranjak dari kasur menuju kamar mandi, dengan terburu-buru ia melakukan ritual mandinya.


5 menit Angga keluar dari kamar mandi. Dengan tergesa-gesa Angga menuju lemari mengambil baju ganti lalu memakainya.


Usai itu Angga mengambil dompet, kunci mobil dan tak lupa ponselnya, Angga meninggalkan apartemen-nya menuju mobil, lalu melajukan mobil tersebut.


"Semoga aku tidak terlambat!" lirih Angga.


Angga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia menyalip mobil-mobil yang berada di depannya, makian serta sumpah serapah terlontar dari pengemudi lain yang tak terima jika mobilnya di salip oleh Angga.


Namun Angga mengancunhkan semua. Angga terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Tujuan Angga saat ini menuju bandara, untuk menemui Ica. Angga sadar bahwa ia sudah jatuh cinta pada wanita itu, walau pun Angga tau ini semua terlalu capat.


Namun Angga sudah bertekat dan yakin bahwa ia akan menyampaikan perasaanya itu kepada Ica, tak peduli Ica akan menganggap Angga seperti apa nantinya.


Angga tak perduli jika nanti Ica akan menolak cintanya. Yang terpenting saat ini adalah, Angga sudah menyampaikan isi hatinya kepada Ica, jika ia sudah jatuh cinta. Dan mencintai Ica.


Angga tidak ingin kejadian di masa lalu terjadi lagi di masa sekarang, dimana ia tidak ada keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya kepada wanita yang ia cintai.


Dan pada akhirnya, akibat tidak keberaniannya itu, Angga merasakan luka yang teramat dalam. Angga tidak mau mengalami itu kembali. Sudah cukup satu kali ia merasakan itu semua.


Angga bertekat akan mengejar Ica, apa pun yang terjadi. Angga akan memperjuangkan cintanya.


Karna sudah lama ia menanti rasa cinta timbul di hatinya.

__ADS_1


Karna hanya Ica yang bisa membuatnya melupakan masa lalunya, merasakan kembali indahnya jatuh cinta.


***


Ica dan orang tuanya sudah berada di bandara, pesawat mereka akan berangkat sekitar 20 menit lagi.


Mereka kini tengah duduk di ruang tunggu.


"Akhirnya Abi bisa pulang juga, Abi sudah rindu sekali dengan rumah!" Ujar Abi Adam, penuh semangat, dan raut wajah yang terlihat bahagia.


"Iya bi, umi juga sangat rindu rumah!" sahut ini Aminah.


Ica hanya tersenyum, menanggapi percakapan orang tuanya itu.


Lalu Ica menyapu pandanganya kesekitar, entah kanapa hatinya terasa berat untuk beranjak dari sana.


Ica menghentikan pandangannya, mata Ica melihat seseorang yang tengah berjalan seperti mencari sesuatu, dan Ica mengenal orang tersebut.


Orang tersebut terlihat melambaikan tangannya kearah Ica, dia tersenyum. Dan berjalan seperti akan menghampiri Ica.


"Kak Angga" ucap Ica pelan.


Namun suara Ica masih terdengar oleh orang tuanya yang duduk disampingnya.


"Kenapa ca?" Tanya Umi Aminah.


Ica terlihat gugup, "Enggak umi, umi Caca pamit ke toilet sebentar ya!" Ica beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, jangan lama-lama ca sebentar lagi pesawat kita berangkat," ucap umi Aminah.


Ica mengangguk, lalu beranjak dari sana. Sebenarnya Ica tidak ingin ketoilet, Ica hanya beralasan saja.


Ica mempercepat langkah kakinya, berjalan menuju Angga. Setelah sampai di dekat Angga, Ica menarik tangan Angga, menjauh dari tempat tersebut, karna tidak mau jika umi dan Abi-nya melihat mereka.


Sembil tersenyum, Angga pasrah tanganya di tarik oleh Ica, Angga mengikuti langkah Ica.


Ica menghentikan langkahnya, di saat ia rasa sudah aman. Ica tersadar bahwa ia menggenggam tangan Angga, dengan segera Ica melepaskan tangannya dari tangan Angga.


Ica menundukan wajahnya, Ica merasa malu dengan tingkahnya sendiri. Menggenggam tangan laki-laki yang haram baginya.


"Maaf..." ucap Ica.


Angga tersenyum, "Tidak apa."


"Bisa kita sebentar? Ada yang ingin kakak sampaikan kepada Ica!" ujar Angga.


Ica menganggukan kepalanya. "Ica juga, ada yang mau Ica sampaikan kepada kakak," ucap Ica.


"Sepertinya kita harus mencari tempat nyaman, tidak enak berbicara sambil berdiri seperti ini," ujar Angga, sambil terkekeh.


Ica tersenyum, lalu mengangguk.


"Kita duduk di situ saja!" Ajak Angga, menunjuk bangku yang ada di sana.


Lalu mereka berjalan menuju bangku tersebut, dan duduk disana.


"Ica tidak bisa lama-lama kak, karna pesawat kita akan berangkat sebentar lagi!" ujar Ica.


Angga mengangguk.


"Siapa dulu yang akan berbicara? Ica apa kakak?" Tanya Angga.

__ADS_1


"Kakak saja dulu"


Mereka terlihat gugup, Ica menggit bibir bawahnya, menaikan jari-jari tangannya. Sedangkan Angga, Angga mengelus-elus dengkulnya, bingung akan mulai berbicara apa, memulai pembicaraan tersebut dari mana.


"Ayo Angga, kamu harus yakin dan bisa mengungkapkan semuanya" gunam Angga.


Angga menarik napas dalam, lalu melihat kearah Ica yang duduk di sampingnya, dengan kepala tertunduk.


"Ca sebelumnya kakak minta maaf." kata Angga.


Ica mendongkrak pandangannya, melihat kearah Angga.


"Ica kakak mau bicara jujur sama Ica, maaf jika kakak lancang, terserah nanti Ica mau bilang kakak apa! Kakak tau ini terlalu cepat. Tapi kakak tidak bisa membohongi perasaan kakak sendiri."


Ica hanya terdiam, menyimak ucapan Angga.


"Kakak sayang sama Ica!" Lanjut Angga.


"Maksud kakak?" Tanya Ica, merasa bingung, namun hatinya merasa bahagia mendengar penuturan Angga tersebut.


"Caca, kakak jatuh cinta sama kamu, kakak cinta sama kamu ca!" jelas Angga.


Ica tersenyum, lalu menundukan kepalanya, jantungnya terasa mau melompat, mendengar ungkapan Angga. Wajah Ica memerah.


Detak jantung Ica berdegup kencang.


Melihat Ica yang terdiam sambil menundukkan kepalanya, membuat hati Angga gundah. Ica seperti tak menanggapi ucapnya.


"Ca, sekali lagi kakak minta maaf, jika kakak lancang, kakak tau seharusnya ..."


"Tidak kak, kakak tidak perlu minta maaf. Kita sebagai manusia tidak bisa memilih untuk jatuh cinta kepada siapa!" Ica tersenyum kearah Angga.


Melihat Ica tersenyum, seketika kegundahan Angga lenyap begitu saja.


"Maaf Kaka, Ica harus pergi umi dan abi sudah menunggu!" pamit Ica.


Lalu Ica berajak dari duduknya, berjalan meninggalkan Angga yang masih duduk di bangku sana.


"Ca tunggu!" panggil Angga.


Ica menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah Angga.


"Bagaimana perasaan kamu terhadap kakak?" Tanya Angga.


"Apa kakak butuh jawabannya?" Ica bertanya balik kepada Angga, sambil tersenyum dengan wajah yang merah merona.


Angga membalas senyuman Ica, lalu menggelangkan kepalanya. "Tidak..."


"Caca tunggu kakak datang kerumah menemui orang tua Caca!" ujar Ica, lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Angga melebarkan senyumanya.


"Tunggu kakak Ca, kakak pasti akan menyusul kamu pulang, dan menemui orang tua kamu!" Teriak Angga.


Caca menoleh sekilas, tersenyum! Lalu melambaikan tangannya.


Bersambung...


Jangan lupa like, comen dan Votenya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2