HARTA TAHTA DOKTER ANGGA

HARTA TAHTA DOKTER ANGGA
Episode 23


__ADS_3

Angga sudah sampai di resto tempat ia dan Ica membuat janji. Angga melihat ke sekitar resto, mencari sosok sang pujaan hati. Namun sepetinya Ica belum sampai di sana.


Angga pun berjalan ke salah satu meja yang ada di ujung sana. Sengaja Angga memilih meja tersebut karna disana tidak terlalu ramai.


Angga pun duduk disana. ia memesan minun terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan Ica.


Mobil yang dilajukan Anisa sudah sampai di resto yang Ica beritahukan sebelumnya.


"Udah sampe, bener inikan restonya Ca?" Tanya Anisa, melirik kerah adiknya sekilas.


"Iya mbak."


"Ya sudah ayo kita turun!" Ajak Anisa, diangguki oleh Ica.


Lalu mereka pun turun dari mobil tersebut.


"Mbak apa pakaianku sudah bagus?" Tanya Ica. Sebelum ia masuk kedalam resto tersebut.


Entah kenapa ia merasa tidak pede dengan penampilannya itu.


"Sudah dek," jawab Anisa, meyakinkan.


''Ya sudah ayo kak, kita masuk!" Ajak Ica.


Anisa menganggukan kepalanya, lalu mereka pun masuk kedalam resto tersebut. Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, Ica menghentikan langkahnya. Dan membuat Anisa yang berjalan dibelakangnya, otomatis menubruk tubuh adiknya itu.


"Ada apa lagi Caca?" Tanya Anisa, dengan sedikit kesal.


Ica membalikan tubuhnya, menghadap kakaknya itu.


"Mbak aku gugup," ujar Ica, terlihat badan Ica seperti gemeteran.


"Astagfirullah Ca, kamu ini. Sudah kamu tidak usah khawatir mbak--kan disini nemenin kamu."


"Ayo cepat, dimana orang yang mau kamu temuin itu?" Lanjut Anisa.


Caca menyapu pandanganya ke setiap sudut resto tersebut, mencari sosok Angga. Pandangan Ica terhenti melihat ke sosok laki-laki yang tengah duduk di meja di sudut paling ujung.


"Itu kak.." ujar Caca, sambil menatap kearah Angga yang tengah menundukan kepalanya.


"Oh itu, ya sudah ayo kita kesana!" Ajak Anisa.


Lalu mereka pun berjalan mendekat kearah meja yang yang paling ujung, yang mana di sana Angga sudah duduk menunggunya.


'Bisamilah'hirohmanirohim...' gunam Ica, dalam hatinya, sambil terus mendekat kearah Angga.


"Asalamualaikum...'' Ucap Ica dan Anisa bersamaan saat mereka sudah sampai di depan Angga.


Angga yang tengah menunduk, segera mengangkat kepalanya, Angga tersenyum kepada Ica yang sudah berdiri dihadapannya.


"Walaikum' salam... Caca silahkan duduk!" Ujar Angga.


Ica mengangguk, sambil tersenyum. Lalu Ica menarik kursi yang ada dihadapannya, Ica duduk berhadapan dengan Angga.


Wajah Angga dan Ica telihat sama-sama gugup.


Sedangkan Anisa, Anisa masih mematung. Sambil menatap Angga.


"Mas Angga?" Ucap Anisa.


Angga yang mendengar ada yang memanggilnya, Angga langsung melihat kearah Anisa. Angga terlihat heran, dan bertanya-tanya. Siapa wanita itu? Kenapa dia tau namaku?


"Loh mbak kenal sama kak Angga?" Pungkas Ica.


"Oh iya kak, kenalin ini kakak Caca. Namanya mbak Anisa," lanjut Ica.

__ADS_1


"Oh ini kakak kamu?" Jawab Angga.


Ica menganggukan kepalanya, sedangkan Anisa ia masih berdiri mematung diantara mereka.


"Mbak ayo duduk!" Titah Anisa.


"Iya mbak silahkan duduk!" Pungkas Angga.


Anisa tersenyum tipis, dengan ragu Anisa pun menarik kursi yang ada di depannya, lalu Anisa duduk disana.


Suasana tiba-tiba menjadi canggung.


'Aduh gimana aku mau bilang ke Ica, kalau besok aku akan kerumahnya menemui Abi dan umi. Rasanya aku tidak nyaman membicarakan semauanya, kalau ada mbak-nya caca.' Batin Angga.


'Aduh kenapa aku jadi gugup begini ya? Sebenarnya kak Angga mau ngomongin apa sih? Semoga kak Angga tidak ngomong yang aneh-aneh yang yang membuatku malu. Aku tidak enak sakali sama mbak Nisa,' batin Ica.


'Apa maksud semua ini, jadi laki-laki yang di ceritakan oleh Ica itu mas Angga. Apa maksud mas Angga mendekati adikku, bukankah dia sudah tau bahwa dia akan dijodohkan denganku, bukanya dia juga sudah menyetujui semuanya. Lalu apa maksud semua ini? Dan kena pula mas Angga seperti tidak sama sekali terkejut dengan kedatanganku, dan kenapa mas Angga seperti tidak mengenalku? Bukankan Abi dan umi sudah memberikan fotoku kepada Ibu Aisyah dan Pak Dr. irwan?' Batin Anisa, ia bertanya-tanya dalam hatinya.


Mereka semua terlihat terdiam, larut dalam


pikirannya masing-masing.


'Aku harus memastikan ini semua! Iya aku harus tanyakan apa maksud mas Angga? Biar semuanya jelas!' Anisa membatin kembali.


"Bagaimana kabar kamu mas? Dan kapan kamu pulang?" Tanya Anisa, membuka percakapan antara mereka.


Hingga membuat Ica dan Angga tersentak dari lamunan mereka.


"Maaf mbak barusan bertanya apa?" Tanya Angga. Ia tak mendengar ucapan Anisa secara jelas.


"Bagaimana kabar kamu mas? Dan kapan kamu pulang?" Anisa mengulang pertanyaannya.


"Mas?" Ucap Angga dan Ica bersamaan. Mereka terkejut dengan panggilan Anisa, yang memanggil Angga dengan sebutan 'Mas'.


"Mbak kenal dengan Kakak Angga?" Tanya Ica, masih dengan wajah yang terlihat shock.


"Benarkah mbak Nisa mengenal saya?" Tanya Angga. "Tapi kenapa saja tidak ingat sama sekali ya? Saya baru pertama kali liat mbak Nisa!" Tutur Angga.


"Mas coba kamu ingat-ingat lagi deh! Apa kamu yakin tidak mengenal aku?" Ucap Anisa, tersenyum manis kearah Angga.


Hal tersebut membuat Ica, merasakan sedikit ada sesak dihatinya.


'Apa maksud semua ini? Ya Allah..' Gunam Ica.


Angga terdiam, ia kembali memutar pikiranya. Apakah Angga mengenal Anisa, tapi sepertinya tidak. Ini baru pertama kalinya Angga melihat wanita itu.


"Bener mbak, saya benar-benar tidak ingat. Dan saya yakin baru kali ini saya melihat mbak, mungkin mbak Nisa salah."


'Apa maksud mas Angga berbicara seperti itu? Ini benar-benar gak bisa di biarkan. Bagaimana dia bisa begitu? Dia akan menikahiku kenapa dia mendekati Ica adikku.' Batin Anisa, ia merasa sangat kesal kepada Angga.


"Mas apa maksud kamu? Pura-pura tidak mengenalku? Dan kenapa kamu mendekati adikku, sedangkan sebentar lagi kita akan menikah!" Pekik Anisa.


Angga terkejut. "Apa maksud mbak? Menikah siapa yang akan menikahi mbak Nisa, saya baru kenal mbak Nisa saja baru hari ini. Yang akan saya nikahi itu Ica Bukan mbak Nisa!" Jawab Angga.


Sedangkan Ica, yang mendengar perdepatan antara kakak dan Angga. Ica tidak tau ia harus berkata apa. Dan Ica benar-benar tidak mengerti apa maksud kakaknya Anisa, mengapa kakaknya itu berbicara kalau ia dan Angga akan segera menikah.


"Mas apa maksud kamu? Kamu akan menikahi adikku? Apa kamu gila mas! Kita sudah di jodohkan oleh orang tua kita. Dan bukannya kamu juga sudah menyetujui semuanya!" Pekik Anisa kembali.


Angga tersenyum smrick, sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. "Mbak saya mohon maaf kepada mbak dengan sangat. Saya disini menghormati mbak sebagai kakaknya Caca, wanita yang saya cintai dan sayangi. Mbak mohon jangan mengarah cerita, saya tidak pernah menyetujui apa pun yang berhubungan dengan mbak, saya baru kali ini bertemu dengan mbak. Mana mungkin saya akan menikah dengan orang yang baru saya kenal," jelas Angga.


"Dan satu lagi saya kesini itu, mengajak Ica untuk bertemu karna saya ingin memberitahu Ica, kalau besok saya dan orang tua saya akan datang kerumah Ica untuk melamar Ica menjadi istri saya!" Sambung Angga.


Deg...


Ica tertegun mendengar ucapan Angga barusan, Angga benar-benar membuktikan janjinya, bahwa Angga pulang akan melamarnya. Ica merasa sangat bahagia.

__ADS_1


"Melempar Ica?" Pungkas Anisa.


"Iya mbak, saya akan melamar Ica wanita yang saya cintai dan sayangi menjadi istri saya!" Tutur Angga, sambil menatap Ica yang ada dihadapannya, dengan wajah yang penuh cinta.


"Tidak bisa begitu mas, kanapa kamu mempermainkan perasaanku?" Pekik Anisa, terlihat wajah penuh emosi.


'Apa maksud mbak Anisa? Memparmainkan perasaannya? Apa ...' Lirih Ica dalam hatinya.


"Mbak stop sudahi pembicaraan konyol mbak itu, maaf saya sudah sabar dari tadi ya! Mbak menuduh saya yang tidak-tidak, dan bicara semau hati mbak. Sudah saya bilang disini saya menghargai mbak sebagai kakaknya Ica, saya tegaskan satu kali lagi kalau saya tidak mengenal mbak sebelumnya." Tegas Angga.


"Harusnya saya berbicara seperti itu mas, sudahi omong kosong kamu! Dan katakan yang sebenarnya!" Pekik Anisa.


Ica yang menyaksikan perdebatan mereka merasa sudah tidak tahan lagi. Ica binggung mana yang sebenarnya berbohong disini? Kakaknya atau laki-laki yang di cintainya.


Apa Angga yang berbohong? Tapi mana mungkin yang Angga katakan sepetinya benar, Angga selama ini menetap di Singapure, sedangkan kakaknya Anisa di Indonesia bersamanya, kapan mereka saling kenal. Apa lewat sosial media? Tapi tidak mungkin selama ini Anisa tidak pernah mempunyai sosial media setua Ica.


Tapi apa iya kakaknya itu bohong dan mengarang cerita, selama ini Ica tau betul sikap dan sifat kakaknya itu, tidak mungkin kakaknya itu berbohong.


"Stop...." Teriak Ica, Ica berdiri dari duduknya.


Anisa dan Angga pun terkejut, mendengar teriaknya Ica tersebut, mereka langsung terdiam.


"Aku tidak mengeri apa maksud kalian? Di antara kalian sebenarnya siapa yang berbohong?" Lanjut Ica. Melihat kearah Anisa dan Angga bergantian.


"Dia.." Teriak Angga dan Anisa bersamaan, Anisa menunjuk kerah Angga, dan sebaliknya Angga menunjuk kearah Anisa.


"Jika kalian masih tidak ada yang mengakuinya. Silahkan lanjutkan. Aku pamit!" Ujar Ica, sembari melangkah meninggalkan Angga dan Anisa di resto tersebut.


"Ca ..." Panggil Angga.


Ica yang mendengar Angga memanggilnya, Ica mempercepat langkah kakinya.


"Caca tunggu...'' Angga beranjak dari kursi, akan menyusul Ica. Namun Angga ditahan oleh Anisa.


"Tunggu mas.." Anisa menarik tangan Angga.


"Lepaskan, semua ini gara-gara kamu!" Pekik Angga penuh Amarah, melepaskan tangannya dari genggaman Anisa dengan kasar, lalu Angga berlari untuk mengejar Ica.


Sedangkan Anisa, ia masih terduduk sambil menatap kepergian Angga.


"Aku harus bisa mendapatkan mas Angga, aku sudah terlanjur mencintainya!" Lirih Anisa.


Angga sudah keluar dari resto tersebut, Angga menyapu pandangnya mencari sosok Ica di sekitar sana. Namun sia-sia sepertinya Ica sudah meninggalkan tempat tersebut.


"Arrggg...." Teriak Angga frustasi.


"Tidak aku tidak ingin kehilangan cintaku untuk yang kedua kalinya, apa pun yang terjadi aku akan memperjuangkan Ica, dan aku harus bisa menikah dengannya, aku yakin kalau Ica juga mencintaiku!" Ujar Angga, Angga pun menuju mobilnya.


Masuk kedalam mobil tersebut, lalu melajukan mobilnya meninggalkan resto tersebut.


Ica sebenarnya masih ada di sana, Ica bersembunyi di dekat mobil Angga. Setelah Ica melihat mobil Angga yang pergi dari sana, Ica pun keluar dari persembunyiannya.


Ica menatap nanar mobil Angga yang melaju jauh dari pandangannya, Ica juga tadi sempat mendengar perkataan Angga. Bahwa Angga sangat mencintainya.


"Aku juga mencintaimu Kak, semoga takdir tuhan mempersatukan kita dalam cintanya!" Lirih Ica.


Bersambung...


Maaf ya baru sempat up lagi.


Lagi gak enak badan, ini juga maksain buat Up, karna aku inget sama kalian yang nungguin kelanjutannya.


Jangan lupa like, comen dan Votenya ya.


Makasih.

__ADS_1


Jaga kesehatan ya buat kalian semua.


__ADS_2