High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 21. Why Do I Wish It Was You (Kenapa Aku Berharap Itu Kau).


__ADS_3


Wulan menatap bayangan dirinya di dalam cermin. Rambut panjang diikat ekor kuda, gaun mini warna hitam selutut dibalut dengan mantel tebal dengan ukuran yang sama, lalu stoking yang membungkus kakinya dan boot setinggi pergelangan kaki. Ia terlihat rapi, dan cantik.


Ia menyudahi aktifitas bercerminnya dan menyambar tas selempangnya yang tergeletak di atas ranjang, ketika terdengar suara pintu di ketuk. Ia pun segera melangkah keluar dari kamarnya dan segera membuka pintu.


Didapatinya Damien tengah berdiri sembari menyunggingkan senyumnya.


"T'es prêt (kau sudah siap)?" tanyanya sembari mengagumi dalam hati wajah cantik di hadapannya itu.


"Oui (ya)." jawab Wulan sembari menutup pintu dan menguncinya.


Wulan dan Damien berjalan berdampingan menuruni tangga dan keluar dari gedung.


"Silahkan, Nona," kata Damien sembari membuka pintu mobilnya untuk Wulan, begitu mereka sampai di luar.


Wulan masuk ke dalam mobil citroen keluaran terbaru berwarna putih itu disusul oleh Damien yang memposisikan dirinya di belakang kemudi.


"Kau cantik sekali malam ini, Wulan." Damien akhirnya mengeluarkan kata - kata pujiannya. Membuat senyum tipis Wulan tersungging.


"Merci," jawab Wulan lirih. Ia menoleh pada Damien yang juga tengah menoleh sekilas padanya. Senyum pria itu manis. Kata - kata pujiannya terdengar romantis. Namun tak mampu menggetarkan hatinya, seperti ketika kata - kata kau cantik sekali, Miss, yang meluncur dari mulut seorang Maximilian malam itu. Walaupun pada waktu itu ia sama sekali tak menanggapi, namun dalam hatinya, ada desir aneh yang mendera.


Kenapa memikirkan Max lagi?


Wulan menelan ludahnya. Ia menggeleng pelan berusaha mengusir bayangan wajah Max yang tiba - tiba saja melintas di benaknya.


"Ada apa, Wulan?"


"Tidak apa - apa." Wulan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


Paris di saat malam selalu indah. Jalanan dihiasi oleh lampu - lampu berdesain klasik nan cantik dari abad ke tujuh belas masehi, era Raja Louis XIV. Bangunan - bangunan yang terlihat kuno tanpa pencakar langit dengan dominan warna krem membuat kesan hangat akan kota itu terasa kuat meskipun di saat malam musim dingin.


"Kita sudah sampai." Suara Damien membuyarkan lamunan Wulan.


Damien telah memarkir mobilnya di halaman luas sebuah gedung megah dengan pilar - pilar besar di bagian depan.


Wulan yang baru pernah menginjakkan kakinya di gedung opera paling tersohor di Perancis itu terkagum - kagum begitu memasuki ruangan super megah dengan desain neo - baroque berornamen rumit nan epik yang digagas oleh Kaisar Napoleon Bonaparte III itu.


Ia tak henti - hentinya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan berkapasitas dua ribu dua ratus orang itu. Atap melengkung yang dilukis dengan lukisan psikedelik dengan lampu gantung besar di tengah yang menyerupai chandelier (tempat lilin), balkon - balkon memutar yang dibagi menjadi tiga lantai mengelilingi ruangan yang dilengkapi tirai berwarna merah dan dikhususkan untuk penonton VVIP, panggung besar di lantai pertama, dan deretan kursi - kursi yang mulai penuh dengan penonton, semua itu membuat Wulan merasa seperti baru saja berteleportasi ke jaman Eropa klasik.


"Kursi kita di sebelah sana." Damien menggandeng tangan Wulan menuju ke kursi kosong melewati beberapa orang yang telah duduk di antara kursi mereka.


Sebuah lagu dari Léo Delibes, komposer ternama Perancis pada tahun 1800an berjudul Lakmé yang dibawakan oleh para pemain musik berjumlah sekitar tiga puluh orang dengan dua penyanyi soprano dan mezosoprano, mengalun dengan merdunya dari atas panggung.

__ADS_1


Wulan merasa jiwanya terbang mengikuti alunan nada yang begitu pilu namun romantis dalam waktu yang bersamaan. Ia memejamkan matanya. Menikmati buaian suara memukau dari dua penyanyi wanita bersuara merdu itu.


Sampai pada suatu momen di tengah - tengah lagu, bayangan Max yang tengah melukisnya di jembatan Pont Marrie muncul dalam benaknya. Senyum tipis dan mata birunya terlintas begitu saja.


Wulan terkesiap. Ia membuka matanya dan menoleh ke sampingnya, di mana Damien duduk di sana.


Bukan pria berjambang tipis itu yang ia harapkan ada di sampingnya.


Melainkan si pemilik rambut hitam setengah gondrong dan si mata biru yang membuatnya merasakan desiran - desiran aneh yang tak bisa ia artikan dengan kata - kata.


I wish it was you (kuharap itu kau).


Why (mengapa)?


Damn!


.


.


"Merci, Damien, c'etait sympa (pertunjukannya tadi bagus)."


"Da rien (sama - sama), Wulan. Terimakasih kau mau pergi menonton denganku."


"Miss!"


Wulan tersentak mendengar suara yang begitu familiar dari arah belakangnya. Jantungnya seakan - akan hendak melompat dari ceruk dadanya. Ia segera membalikkan badan dan mendapati Max tengah berdiri menyandarkan punggungnya di samping pintu utama gedung apartemen yang minim penerangan. Hanya bias dari lampu jalan yang membuat wajah Max terlihat, sangat tampan.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Wulan dingin. Meskipun hatinya bersorak gembira melihat anak bengal yang, entahlah. Ia bahkan tak bisa memilih kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.


"Aku ingin minta maaf, Miss," ucap Max. Ia menarik punggungnya yang tersandar di dinding, lalu mendekat pada Wulan.


"Tidak perlu," sahut Wulan. Ia hendak melangkah masuk, namun Max menahannya dengan meraih tangannya.


"Miss .. tolong jangan marah padaku. Aku tidak bisa ...." Kata - kata Max menggantung begitu saja.


"Tidak bisa apa?" serang Wulan sembari menarik lengannya dari genggaman tangan Max.


Max menarik nafas dalam - dalam. Ia tak menjawab pertanyaan Wulan. "Miss, aku berjanji tidak akan kurang ajar padamu lagi. Tapi .. tolong jangan marah padaku," pintanya dengan wajah memelas. "Please ...."


"Please ...."


Wulan memejamkan matanya sejenak. Lalu mengalihkan pandangannya ke jalanan yang lengang. Ia tak sanggup menatap mata bocah itu, yang sudah pasti akan membuatnya luluh.

__ADS_1


"Berjanjilah kau tidak akan pernah mengulanginya lagi, Max." Wulan menegaskan. "Ingat, aku Gurumu, tolong hormati itu."


"Aku berjanji, Miss."


Wulan mengangguk. "Ya sudah, aku mau masuk."


"Emm .. Miss!" panggil Max menghentikan langkah Wulan yang hendak mendorong pintu.


"Ada apa lagi, Max?"


"Aku mau membatalkan acara makan malam akhir pekan ini. Tapi, sebagai gantinya ...." Max menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Maukah kau menemaniku ke acara pameran lukisan jalanan di Les Marais akhir pekan ini?"


Wulan terdiam. Tentu saja ia mau. Namun ia tak ingin membuat anak bengal ini senang begitu saja. Akan diulurnya waktu sejenak untuk menjawab tawaran Max.


"Aku hanya mampu mengajakmu ke acara murahan seperti itu," kekehnya malu. "Tidak seperti Damien yang mengajakmu menonton pertunjukan opera mahal."


"Kau ini bicara apa?" hardik Wulan kesal.


Max terkekeh. "Jadi bagaimana, Miss?"


Wulan mendorong pintu kayu besar di hadapannya itu pelan. "Kita bertemu di depan Picasso seperti waktu itu," ujarnya sembari melangkah masuk.


"Aku akan menjemputmu, Miss!" Max buru - buru berseru sebelum Wulan menutup pintunya. "Kita naik métro (kereta bawah tanah) bersama - sama dari sini," lanjutnya.


Wulan menaikkan alisnya. "Bonne nuit (selamat malam), Max," ujar Wulan seraya menutup pintu.


"Attend (tunggu), Miss!" Max menahan pintunya hingga Wulan mengurungkan niatnya untuk menutupnya.


"Apa lagi?" ujar Wulan kesal.


"Kau tidak berpacaran dengan si Damien menyebalkan itu, kan, Miss?"


Wulan terbahak mendengar pertanyaan Max. "Bonne nuit (selamat malam), Max!" ulangnya seraya benar - benar menutup pintu rapat - rapat.


"Hei, kau tidak menjawab pertanyaanku, Miss!"


"Merde (sialan)!" makinya.


Dari dalam Wulan masih bisa mendengar makian Max di luar sana. Ia berjalan manaiki tangga menuju apartemennya dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.


***


***

__ADS_1


***


__ADS_2