High School Bad Boy

High School Bad Boy
Part 74. Aku Sakit, Max.


__ADS_3

LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.


"Wulan ... tadi Jolene Dupont mencarimu," ujar Adrienne begitu melihat Wulan masuk ke dalam ruang Guru.


"Ohya? Apa dia meninggalkan pesan?" tanya Wulan sembari menata buku-bukunya di atas meja.


Adrienne mencebikkan bibir sembari menggeleng. Sementara Wulan duduk termangu di tempatnya. Kata-kata Jolene beberapa waktu lalu kembali terngiang. Wanita itu menyukai Max.


Dan Max, akhir pekan kemarin tidak tampak batang hidungnya. Terakhir Wulan menerima pesan dari pemuda itu ketika ia akan melukis seseorang. Namun hingga saat ini Max belum menghubunginya sama sekali. Wulan pun tak melihat kehadiran anak itu di sekolah.


Jangan-jangan seseorang yang dilukis Max adalah Jolene.


Otak Wulan mulai penuh dengan prasangka buruk. Mungkin kalau hanya sekedar dilukis tidak apa-apa. Bukankah itu memang pekerjaan Max.


"Kau tidak ada kelas lagi, Wulan?" tanya Adrienne membuyarkan lamunannya.


"Emm ... nanti setelah istirahat siang."


Adrienne melirik jam di pergelangan tangannya. "Mau makan siang denganku?" tanyanya kemudian.


"Kau duluan saja. Aku akan menyusul."


"D'accord (oke)," ucap Adrienne sembari beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar.


Wulan meraih ponsel di saku mantelnya, kemudian mencari nomer Max di daftar kontaknya. Ia mencoba menghubungi anak itu namun tak ada jawaban.


"Kemana sih dia?" gumamnya. Ia menghembuskan napasnya kasar. Ia mulai merasa sedikit kesal pada Max.


Wulan beranjak dari duduknya dan melangkah keluar menyusul Adrienne ke cafetaria.


.


.


"Apa lagi maumu?" sembur Max ketika melihat Jolene mendekat ke arahnya. Ia membanting rokoknya dan menginjaknya dengan kasar.


Jolene berdiri di samping Max yang tengah menyandarkan punggungnya di dinding gang antara kelas 11 dan perpustakaan.


"Jauhi Wulan!" tegas Jolene.


"Quoi (apa)?"


"Kau mendengarku, Max ...."


"Apa maksudmu?"


Jolene mengambil ponsel dari saku bajunya. Ia mengutak-atiknya sejenak lalu menunjukkan layarnya pada Max.

__ADS_1


"Fils de pute (baji ngan)!!" makinya. Ia hendak meraih ponsel Jolene, namun dengan cepat wanita itu menarik tangannya kembali. "Donne-moi (berikan padaku)!" teriaknya.


Jolene terbahak seraya menyembunyikan ponsel ke balik punggungnya. "Jauhi Wulan, Max ... atau akan kutunjukkan foto-foto ini padanya."


"Quelle connasse (dasar ja lang)!" maki Max geram.


"Kau punya dua pilihan, Max. Pertama, meninggalkan Wulan dengan baik-baik, artinya, namamu akan tetap baik di matanya, atau, meninggalkan Wulan dengan cara yang lebih ekstrim ...." Jolene menggoyang-goyangkan ponselnya menunjukkan foto-fotonya dan Max di atas ranjang yang begitu panas.


"La pute (pela cur)!" maki Max kembali. "Kau mengincar Wulan?"


"Dia itu wanita yang unik, Max ... aku tidak tahu kenapa aku sangat menginginkannya. Jujur saja, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini sebelumnya. Maafkan aku, Max ... aku terpaksa merebut kekasihmu itu dengan cara seperti ini."


"T'es malade (kau gila)!"


Jolene mengangkat kedua tangannya. "Désolé (maaf)," ucapnya dengan wajah prihatin yang dibuat-buat. Kemudian berlalu meninggalkan Max yang kini terduduk di lantai beton sembari menangkup kepala dengan kedua telapak tangannya.


"Merde (sial)!" umpatnya.


Ia menarik napas dalam-dalam. Mencoba untuk mengendalikan dirinya dari amarah yang meluap-luap.


"No, noooo!" teriaknya.


"Aku tidak akan menyerah."


"Tidak akan pernah!"


Max menatap tajam ke depan. Napasnya memburu.


***


"Max?" ucapnya. "Kemana saja kau? Aku menelponmu dari tadi siang tapi kau tidak mengangkatnya. Ada apa denganmu?" Wulan memberondong omelan pada Max yang berdiri mematung di hadapannya dengan penampilan yang berantakan.


"Wulan ...."


"Kau mabuk?" tanya Wulan. Ia mencium bau alkohol yang cukup menyengat dari badan Max.


"Masuk!" ujarnya sembari menarik lengan pemuda itu dan membawanya ke ruang tamu.


"Duduk!" serunya sembari memaksa Max untuk duduk di atas sofa.


"Wulan ...." Max menatap Wulan dengan mata yang memerah. Wajah tampannya itu benar-benar telihat kacau.


"Kau kenapa, Max?" tanya Wulan seraya menjatuhkan pan tatnya di samping Max dan mengelus lengan pemuda itu.


"Aku harus bicara denganmu." Max mengelus rambut, lalu mengacaknya dengan frustrasi.


Wulan mengerenyitkan keningnya melihat sikap Max yang terlihat aneh.

__ADS_1


"Wulan ...." Max memandangi Wulan dengan seksama. Ia bahkan menatap langsung pada mata bermanik hitam itu. Pria sejati harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Harus berani mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya. "Aku sudah melakukan kesalahan besar."


Dada Wulan berdegup kencang seketika. Sepertinya apa yang akan didengarnya sebentar lagi adalah hal yang buruk. Ia tak berani menerka-nerka. Ia hanya bisa menunggu kata-kata yang akan meluncur dari mulut Max.


"Aku bercinta dengan Jolene ...." Max mengangkat tangannya ketika melihat Wulan hendak membuka mulutnya menimpali. "Tolong dengarkan penjelasanku dulu, Wulan." Ia tak bisa menggambarkan ekspresi wajah Wulan saat ini. Wajah cantik Ibu Gurunya itu pucat pasi.


Max menceritakan kronologisnya dengan sangat detail pada Wulan tanpa ada yang ia tutup-tutupi. Sementara Wulan mendengarkan dengan tatapannya yang kosong ke depan.


"Tapi sungguh, Wulan ... yang ada di otakku waktu itu, aku tidak ingin kau mendapat masalah. Aku kira dengan menuruti kemauannya, semua akan baik-baik saja. Ternyata dia menjebakku. Sepertinya dia memasukkan sesuatu pada minumanku."


Wulan menghela napasnya dalam-dalam. Ia bisa saja menerima semua penjelasan Max. Tapi membayangkan pria yang begitu dicintainya ini bercinta dengan wanita lain, membuat dadanya terasa sesak, nyeri dan kepalanya berdenyut.


"Wulan ... aku tahu aku ceroboh, maafkan aku."


Max bersimpuh di hadapan Wulan sembari menggenggam tangannya.


"Aku tidak tahu, Max ...." Wulan menarik tangannya dari genggaman Max. "Aku butuh waktu untuk mencerna semua ini."


"Kau percaya padaku, kan?"


"Aku percaya padamu," ucap Wulan sembari menatap Max dengan tajam. "Tapi, aku tidak bisa menerima kenyataan kalau kau telah bercinta dengan wanita lain!" seru Wulan, meledak pada akhirnya. Ia menarik kerah jaket Max dan memaksanya untuk berdiri. Tanpa aba-aba, Wulan memukuli dada Max dan menampar wajah pemuda itu dengan keras. Lalu memukuli dadanya lagi bagai orang yang sedang kesetanan. Air matanya tumpah membanjiri wajah cantiknya.


Max merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Pasrah dipukuli habis-habisan oleh Wulan. Ia pantas menerimanya. Ia membiarkan saja Wulan melampiaskan amarahnya yang menggelegar.


"Breng sek ... kau ... Max!!" teriak Wulan sembari mencengkeram jaket Max dan mengguncang tubuh pemuda itu sekuat tenaga. "Aku sakit membayangkan kau bercinta dengan wanita lain, breng sek ... aku sakit!" teriak Wulan dalam tangisnya.


Max menangkap pergelangan tangan Wulan dan menariknya ke dalam pelukannya. Ia tak peduli Wulan meronta dengan sekuat tenaga hendak melepaskan diri. Ia terus memeluk wanitanya itu dengan erat.


"Maafkan aku, Wulan ... maafkan aku."


Wulan yang sudah kelelahan hanya bisa pasrah sesenggukan di dada Max yang masih terus memeluk dan menciumi ujung kepalanya.


"Aku sakit sekali," rintih Wulan.


"Oui, oui, je sais, Bébé, je sais (iya, iya, aku tahu, sayang, aku tahu)."


Wulan terus saja menangis tiada henti dalam pelukan Max.


"Je suis desole, Bébé (maafkan aku, sayang) ...."


"Ampuni aku ...."


"Hukum aku ...."


"Tapi, tolong, jangan pergi dariku ...."


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2