
Wulan, Natal pulang nggak, Nak? Pierre nggak lagi sibuk, kan? Ibu kangen kalian.
Wulan menghela napas dalam-dalam membaca pesan dari Ibunya. Ia hanya bisa memandangi layar ponselnya dengan hati yang pedih. Apa yang harus ia katakan pada Ibunya. Ia pasti akan sangat kecewa jika tahu Pierre telah menceraikannya.
Ia berjalan mondar-mandir di sisi ranjangnya. Sesekali memeriksa layar ponselnya sembari menyusun kata-kata yang tepat untuk membalas pesan Sang Ibu.
Kayaknya enggak, Bu. Libur Natal nggak sampai dua minggu. Mungkin aku pulang pas libur musim dingin. Bulan februari.
Wulan menekan tombol kirim di layar ponselnya. Lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menggelung tubuhnya meraba tempat kosong di sebelahnya. Wangi tubuh Max masih membekas dan membuatnya sedikit merasa tenang.
Ah, di mana anak itu sekarang. Apa Max sedang bersama Eloise? Sore tadi setelah sekolah usai ia tak melihat Max di mana-mana.
Hatinya tiba-tiba mencelos.
Ia meraih ponselnya yang tadi ia letakkan di atas nakas. Lalu menggulir layar mencari nomor Max yang sudah sempat ia catat di daftar kontak.
Ragu-ragu ia menekan tombol call di bawah barisan nomor Max. Dengan hati berdebar ia menunggu anak itu mengangkat telponnya di seberang.
Panggilan pertama berlalu begitu saja. Max tidak mengangkatnya. Lalu kedua, dan ketiga, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Wulan mengela napas panjang. Pikirannya menjadi tak menentu sekarang. Antara pesan dari Sang Ibu yang membuatnya kacau, dan Max yang entah sedang berada di mana. Kepalanya mulai dihantui oleh prasangka-prasangka buruk.
Benarkah ia sedang bersama Eloise?
.
.
Pukul satu dini hari Wulan terbangun karena mendengar ponselnya berdering. Ia mengucek matanya memeriksa layar ponsel. Nama Max tertera di sana. Rupanya ada banyak misscall dari anak itu sewaktu ia tertidur.
"Oui (ya)?" ucapnya dengan suara serak.
"Wulan, buka pintunya." Suara Max di seberang sana.
Wulan segera menutup telponnya. Ia beranjak dari tempat tidur dan melangkah keluar dari kamar. Dengan dada berdebar ia membuka pintu apartemennya.
Anak yang membuat perasaannya gundah semenjak sore itu berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Selamat malam, Miss," sapa Max dengan wajah tengilnya seperti biasa. "Mana senyumnya?" godanya, ketika melihat wajah Wulan yang cemberut. "Boleh masuk?"
Wulan ingin sekali memarahinya, namun hanya dengan melihat senyuman manis pemuda itu saja membuatnya luluh seketika.
"Kau tidak mengangkat telponku?" tanya Wulan seraya menjatuhkan pantatnya ke atas sofa.
"Maaf, Miss ... waktu kau menelponku, aku sedang melukis seseorang ... maksudku, orang yang memintaku untuk melukisnya."
Ah, tentu saja. Max sudah memberitahukannya siang tadi. Ia sempat berpikir Max tengah sibuk melukis. Namun, prasangka buruknya tentang Max dan Eloise membuat akal sehatnya hilang entah kemana.
"Setelah mengantar Eloise aku langsung ke sini. Kau menelpon beberapa kali. Apa ada masalah?"
"Kau bersama Eloise?" tanya Wulan. Ah, benar saja. Memang gadis itu bersamanya.
"Ya, dia menemaniku datang ke tempat orang yang kulukis. Itu karena dia yang mengenal orang itu," terang Max. Dilihatnya wajah Wulan kini bertambah muram.
"Dan kau mengantarnya pulang?"
Max menghela napas dalam-dalam. "Hari sudah menjelang tengah malam, Miss. Aku tidak tega membiarkan seorang wanita berjalan kaki sendirian. Terlalu berbahaya."
"Okay," sahut Wulan lirih. Lihatlah dirinya, terlihat seperti seorang anak remaja yang sedang merajuk karena cemburu.
Wulan meletakkan kepalanya di bahu Max. Terasa nyaman. Segala rasa gundahnya perlahan menghilang.
Max melepaskan genggaman tangannya dan berpindah merangkul pundak Wulan. "Ada masalah apa, Miss?" tanya Max sembari menciumi puncak kepala Ibu Gurunya itu.
"Aku akan pulang ke Indonesia."
Max sedikit terkejut mendengar perkataan Wulan. "Pulang?"
"Ya, saat liburan musim dingin, mungkin."
"Maksudmu, pulang ... dan tidak kembali ke Perancis lagi?"
"Bukan begitu."
"Putain (sial), kau membuatku takut, Miss."
__ADS_1
Wulan terkekeh. Ia mendusalkan kepalanya di leher Max. Menghirup wanginya yang menenangkan dan juga menyenangkan. Ah, anak ini sepertinya sudah menjadi candu baginya.
"Lalu apa masalahnya?" tanya Max. Dibelainya rambut panjang Wulan dengan lembut.
"Aku harus menjelaskan sesuatu pada Ibuku. Dan itu membuatku kacau."
"Menjelaskan sesuatu?"
"Ibuku tidak tahu kalau aku sudah bercerai dengan Pierre."
Max terdiam sejenak. Lalu mengelus lengan Wulan pelan. "Berterus terang saja, Miss. Apa susahnya?"
"Kau tidak mengerti, Max. Aku susah menjelaskannya padamu.
"Ya sudah, Miss ... kau tidak perlu menjelaskannya."
Wulan menarik dirinya dari pelukan Max. Lalu menatap pemuda itu lekat-lekat. Beberapa saat kemudian senyumnya tersungging. Tangannya perlahan meraih anak rambut Max yang menggantung di keningnya, lalu merapikannya.
"Kau ini," cebiknya. "Bagaimana bisa aku jatuh cinta dengan anak bengal sepertimu."
Max terkekeh. "Karena aku menawarkan diri padamu dengan diriku yang apa adanya."
"Kau sangat menggemaskan." Wulan mencubit pelan pipi Max. Lalu mengelusnya. Kemudian menangkupnya. Dan membawa dagu pemuda itu mendekat padanya.
Wulan menempelkan bibirnya pada bibir tipis milik Max. Lalu menggigitnya pelan. Mengu lumya dengan lembut.
Beberapa saat bibir mereka berpagut, Wulan menghentikan ciumannya. Ia menempelkan dahinya pada dahi Max. "Je t'aime (aku mencintaimu)," ucap Wulan seraya memejamkan matanya. Merasakan hembusan napas Max yang menerpa wajahnya.
"Moi aussi (aku juga)."
Max membaringkan tubuhnya di atas sofa. Lalu membentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut Wulan dalam pelukannya.
Malam itu, di atas sofa sempit di ruang tamu, Wulan tertidur dalam pelukan Max. Energi hangat yang anak itu salurkan padanya membuatnya terbuai dalam alam mimpi.
Mimpi yang indah, tentunya.
***
__ADS_1
***
***