
AEROPORT INTERNATIONAL CHARLES DE GAULLE, PARIS.
5 février 2021.
Kau sudah berangkat, Wulan? Aku sudah ada di Purwokerto tapi aku belum menemui Ibumu. Kabari aku kalau kau sudah sampai. Kita temui beliau bersama-sama.
Wulan tersenyum kecut membaca sederet kalimat dari Pierre di layar ponselnya. Wajahnya tampak sedikit tegang. Ia tengah menyusun kata-kata yang akan disampaikan pada Ibunya nanti mengenai perceraiannya dengan Pierre.
"Hei, kenapa wajahmu tegang sekali. Siapa yang mengirim pesan?" tanya Max yang sedang duduk di sampingnya. Ia melongok ke layar ponsel Wulan. Melihat nama Pierre di sana, Max memutar kedua bola matanya.
"Biar tuntas semuanya, Max," hibur Wulan ketika melihat raut wajah Max berubah menjadi masam.
"Terserah kau saja," ujar Max sembari menatap lurus ke depan.
Wulan mencebik sembari memperhatikan beberapa calon penumpang yang mulai berdatangan di pintu masuk ruang tunggu.
Lima belas menit kemudian terdengar suara announcement untuk para penumpang agar segera masuk ke dalam pesawat.
"Allez, Max!" seru Wulan pada Max yang masih duduk terpekur di kursinya.
Dengan malas Max beranjak dari kursinya dan mengikuti Wulan masuk melalui garbarata (jembatan penghubung) menuju ke pintu pesawat.
"Bienvenue (selamat datang) ...." Seorang pramugari cantik berwajah timur tengah dengan seragam dan topi merahnya tersenyum ramah pada Wulan dan Max. "Merci," ucapnya ketika selesai memeriksa paspor dan boarding pass keduanya.
"Sebelah sini ...." Wulan menarik lengan Max untuk masuk ke deretan kursi 40 A dan B.
Max menurut dan diam saja duduk di dekat jendela. Pandangannya tertuju ke luar. Wajahnya masih terlihat masam.
"Merci," ucap Wulan pada seorang pramugari yang membantunya menutup loker di atas kursinya.
"Max ...." Wulan mencondongkan badannya memeriksa wajah Max yang tengah menghadap ke jendela.
"Hmmmm ...."
"Kau marah?"
"Iya."
"Karena Pierre?"
Max mengangguk. Wulan terbahak seketika. Anak ini menggemaskan sekali. Mengakui kalau ia sedang marah dengan polosnya. Jika orang lain pasti akan menutupinya karena gengsi, tapi tidak dengan Max.
"Jangan tertawa!" sergah Max.
"Sudahlah, Max ... Pierre is nobody to me now (bukan siapa-siapa lagi bagiku sekarang)."
Wulan menggenggam erat tangan Max. Lalu memaksa pemuda itu untuk memberikannya satu senyuman saja.
Pesawat mulai bergerak melintasi landasan terbang. Beberapa saat kemudian, deru mesin terdengar semakin keras. Menandakan jika pesawat siap untuk lepas landas.
*
*
*
PURWOKERTO, JAWA TENGAH.
Kota ini tidak banyak berubah seperti terakhir kali Wulan meninggalkannya. Udaranya yang tidak terlalu panas, lalu lintasnya yang tak semacet kota-kota besar yang ada di Indonesia, kuliner khasnya seperti mendoan, soto sokaraja, kluban, lumpia boom dan masih banyak lainnya adalah sesuatu yang selalu Wulan rindukan ketika berada jauh dari kampung halamannya.
Namun, sebelum menikmati liburannya di kota kelahirannya itu, ada sesuatu yang harus Wulan selesaikan terlebih dahulu.
Berhadapan dengan sang Ibu. Menjelaskan perceraiannya dengan Pierre. Dan, jika memungkinkan, mengenalkan Max pada keluarganya.
Ia meninggalkan Max yang sedang tertidur di hotel beberapa saat lalu, untuk pulang ke rumah Ibunya, bersama Pierre.
"Ibu, aku dan Wulan sudah tidak bersama lagi." Begitu yang diucapkan Pierre dengan bahasa Indonesianya yang kaku, ketika hanya mereka bertiga duduk di ruang keluarga, setelah kedua adik Wulan tidak lagi ikut mengobrol bersama mereka.
"Kenapa?" Hanya itu yang terucap dari bibir Ibunya. Namun wanita paruh baya itu tidak protes atau menuntut keterangan lebih lanjut ketika jawaban dari Pierre maupun dirinya, tidak memuaskannya sama sekali.
Ibunya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya, lalu memberi restu pada Pierre yang akan segera menikah lagi dengan Emelie.
__ADS_1
"Kamu nggak papa Pierre mau nikah lagi?" tanya sang Ibu pada Wulan ketika Pierre sudah berpamitan beberapa saat lalu.
"Nggak papa, Bu."
"Kok nggak sedih sama sekali sih, Wulan? Apa karena kejadiannya sudah hampir setahun yang lalu?"
Wulan meringis. "Nanti kukenalkan Ibu sama seseorang, ya," ujar Wulan tersipu.
Sang Ibu terlihat keheranan. "Memangnya kamu datang sama siapa, Wulan?"
Wulan terbahak. Ia tak berniat menjawab pertanyaan Ibunya. Wanita paruh baya itu hanya bisa pasrah ketika Wulan berpamitan untuk keluar rumah.
.
.
"Wake up, Sleepy Head (bangun, tukang tidur)!"
Wulan mengecup bibir Max lembut. Membuat pemuda itu pelan membuka matanya.
"Jam berapa ini?" tanyanya dengan suara serak. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat.
"Jam tiga sore," jawab Wulan dengan tawa renyahnya. "Maaf, ya, aku meninggalkanmu sendirian di sini."
"Hmmmm ... sial, aku kena jetlag," gumamnya. Lalu memposisikan badannya untuk melanjutkan tidurnya kembali.
"Jangan tidur lagi, Max!" seru Wulan sembari menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Max. "O My God (ya tuhan)!" pekik Wulan sembari menutup kedua telapak tangannya. Ia melihat tubuh polos Max tanpa sehelai benang pun.
"Kenapa kau kaget begitu? Bukankah kau sudah sering melihatku tanpa pakaian?" goda Max.
"Kau sengaja, ya, mau menggodaku?"
Max terbahak. "Kalau iya bagaimana?" Ia meraih sebuah botol kecil spray penyegar mulut di atas nakas dan menyemprotkannya ke dalam mulutnya.
Wulan mengerenyitkan keningnya. Sepertinya Max telah menyiapkan benda itu sebelumnya. Ia menarik sudut bibirnya.
"Aku tahu yang kau rencanakan, Anak Nakal!"
"Apa bedanya dengan bercinta di Suresnes, Bodoh!"
"Tidak tahu ... mungkin akan berbeda, mungkin juga tidak, ayo kita cari tahu," ucap Max sembari melucuti pakaian yang membungkus tubuh Wulan. "Setelah ini kau ajak aku jalan-jalan, okay?" ujarnya sembari menghadiahi kecupan lembut di leher Wulan.
Wulan mengangguk sembari melenguh pelan ketika lidah Max menyapu puncak dadanya. Ia menatap pemuda itu yang juga menatapnya dengan tatapan menggoda.
"Max ...."
"Hmmm ...."
"Venez ici (kemari) ...."
Max merangkak naik kembali, dan menyatukan tubuhnya dengan tubuh kekasihnya itu dalam harmoni. Gerakan yang teratur, sentuhan lembut, kecupan kecil yang beberapa saat kemudian berubah menjadi panas dan melembut kembali, semuanya.
Begitu seterusnya.
Tropical love.
.
.
.
"Wow ... aku belum pernah melihat penampilanmu yang santai seperti ini," ucap Wulan memperhatikan Max yang baru saja selesai mengenakan kaos warna putihnya.
Kaos putih lengan pendek, celana pendek, sepatu dan kaos kaki setinggi mata kaki, lalu rambutnya yang ia ikat sembarang, Max terlihat menawan. Wulan tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.
"T'es parfait (kau sempurna)," puji Wulan.
Max tersenyum geli mendengar pujian Wulan. "On y va (ayo)?"
Keluar dari hotel tempat Max menginap, Wulan memesan taksi online dan mengajak Max makan di sebuah rumah makan soto yang terkenal di kota kelahirannya itu.
__ADS_1
Ia tahu reaksi Max yang keheranan melihat restauran yang ia bicarakan hanya sebuah rumah makan sederhana.
Max juga keheranan mendapati dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang. Dari yang menatapnya lama tanpa berkedip, ada yang berbisik, dan ada pula yang memanggilnya, mister, mister, how are you.
Namun Wulan lega Max tidak merasa terlalu terganggu dengan semua itu. Ia cukup ramah dengan orang-orang yang berusaha berinteraksi dengannya.
"Bungkus apa makan sini, Mbak?" tanya si penjaga warung soto pada Wulan.
"Makan sini, Pak."
"Iki bojone, Mbak (ini suaminya)?" Ia bertanya kembali pada Wulan, sembari menyiapkan dua mangkuk soto yang dipesan Wulan.
"Iya, Pak ...."
"Ngganteng temen, Mbak (ganteng sekali)."
Wulan hanya meringis, melirik Max yang terbengong mendengarkan pembicaraan mereka. Ia mengajak pemuda itu untuk duduk di kursi yang masih kosong di sudut ruangan.
"Pinter temen Mbak'e gale nggolet bojo, ya (pinter banget mbaknya nyari suami, ya)."
Wulan meringis mendengar selorohan seorang wanita paruh baya berkerudung yang duduk di sebelah mejanya. Ia bersama rombongannya yang semua wanita itu gaduh menggoda Max yang kini menatap Wulan dengan heran. Ia sesekali tersenyum pada wanita-wanita itu.
"Aku arep foto karo bule lah, ulih mbok, Mbak (aku mau foto sama bule lah, boleh kan, Mbak)?"
"Wes aja diganggu bae, melas kae arep madang (udah jangan diganggu terus, kasihan itu mau makan)."
Wulan hanya menggeleng mendengar celetukan-celetukan mereka. Dua mangkuk soto dan dua gelas es teh kini telah tersaji di hadapan mereka.
"Pourquoi tout le monde me regarde comme ça (kenapa semua orang melihatku seperti itu)?" tanya Max.
"Parce que t'ess beau (karena kau tampan)."
"C'est tout (cuma itu)?"
"Oui, Max ...."
Bibir Max mencebik. Di Perancis, jika seseorang tak dikenal menatapnya tanpa henti atau bahkan melakukan hal-hal yang tidak nyaman, walaupun hanya berupa hal-hal kecil seperti celetukan, catcalling, maka bisa dituntut atas pelecehan verbal.
Rupanya di Indonesia hal itu wajar dan menunjukkan keramahan dari penduduknya.
Orang Indonesia memang ramah.
"Ini apa namanya?" tanya Max sembari mengaduk mangkuk sotonya.
"Soto ...."
"Kalian makan semua ini?" Max menyendok beberapa potongan jeroan sapi dengan kening mengerenyit. Di Perancis, orang jarang sekali mengonsumsi bagian-bagian sapi seperti babat, hati dan semacamnya.
"Iya, itu enak, Max ...."
"Okay, akan aku coba ...."
Max mengunyah sepotong babat yang kenyal dan terasa aneh dilidahnya. Namun karena tidak ingin membuat Wulan kecewa, ia pun melanjutkan suapannya.
Keseluruhan rasa soto enak, walaupun sedikit shocking untuk lidahnya dan potongan-potongan jeroan sapi yang terasa aneh untuknya.
.
.
.
Satu minggu di negara yang begitu berbeda mood dengan negara asalnya, Max nikmati dengan gembira. Pun ketika Wulan mengenalkannya pada Ibu dan kedua adiknya, semua berjalan dengan lancar. Kendala bahasa untuk berkomunikasi dengan keluarga Wulan itu tak membuatnya gentar. Keluarga Wulan menerima dengan baik, walaupun usianya dengan Wulan terpaut jauh.
Rasanya tidak ada lagi penghalang di antara mereka. Hanya tinggal menunggu waktu hingga Max siap untuk mempersunting Wulan.
Lima tahun kedepan.
***
***
__ADS_1
***