
LES MARAIS, SURESNES.
***
Wanita itu menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rambut hitam legam panjang. Gaun hitam yang membungkus tubuh kurus nan rapuh.
Ringkih, sendirian, kesepian.
Hidup itu keras, ya, Wulan ....
Kemarilah, biar kuwarnai air matamu.
Max memberi sentuhan terakhir pada lukisannya di atas kanvas. Ia menarik mundur kepalanya, lalu memiringkannya ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari angle untuk memeriksa hasil coretan tangannya itu.
Sebuah lukisan hitam putih yang sederhana. Lebih mirip sketsa lukisan yang belum sempurna. Ia memang sengaja menampilkan perpaduan dari proses melihat, merasakan, menghayati, berpikir, ekspresi dan empati. Menguji kedalaman jiwa dan kepekaan dari intuisinya terhadap suatu objek yang akan direkam. Mentah.
Sebuah objek yang akhir-akhir ini membuatnya merasa bahwa semua yang tidak masuk akal dalam hidupnya selama ini, perlahan dihapus oleh percikan-percikan cinta dan kebahagiaan.
"Gelap ...."
Suara Patrick dari balik punggungnya membuatnya terkesiap.
"Hmmm," sahutnya sembari menambahkan warna hitam di gaun wanita itu. Setelah dirasa ada yang kurang sewaktu memerika hasil akhirnya tadi.
"Aku senang kau mencoba hal baru dan tidak terjebak dalam satu aliran saja."
Max tersenyum. "Aku visualisasikan semua yang ada di sini," ujarnya sembari mengetuk kepalanya dengan ujung jari telunjuknya.
Patrick mendekatkan wajahnya pada kanvas untuk melihat lebih dekat. "Melebur dengan sisi gelap alam semesta," gumamnya. "Hidup tidak hanya tentang warna-warna cerah yang meyejukkan mata."
"Equilibrium (keseimbangan)," sahut Max.
Pria tua itu mengangguk. "Kau masih sangat muda, Max. Banyak hal yang akan datang dalam hidupmu, baik atau buruk, yang akan menjadi proses pembentukan jati dirimu sebagai seorang pria sejati nantinya." Patrick menepuk bahu Max pelan. Ia seakan tahu segala sesuatu yang terjadi dalam hidup pemuda itu. Meskipun selama ini Max tidak pernah menceritakan masalah pribadi padanya. "Satu yang harus selalu kau ingat," ujarnya. "Responsabilité (tanggung jawab), atas apa pun pilihan hidupmu."
Untuk Max, ini kali pertamanya Patrick berbicara hal yang lebih mendalam dengannya. Dan itu membuat hatinya terasa sejuk.
"Pat ...." Max mengelus tengkuknya sebelum melanjutkan perkataannya. "Menurutmu, bagaimana caranya mendapatkan hati seorang wanita?" tanyanya dengan wajah tersipu.
Patrick terbahak. "Wanita di generasi baby boomers lebih sederhana dibanding generasi millennial atau Z, yang mungkin lebih complicated, tapi, pada dasarnya wanita dari masa ke masa sama saja. Senang dikejar dan dihujani perhatian." Patrick bertepuk tangan sekali. "Cliché," kekehnya.
Max meringis sembari menggaruk rambutnya dengan kepala setengah tertunduk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Merci, Pat," ucapnya sembari membereskan peralatan melukisnya. Memasukannya ke dalam kotak kayu, lalu meletakkannya di sudut ruangan. Ia kemudian menyambar tas punggungnya yang ada di atas meja.
"A demain (sampai besok), Pat," ujarnya sembari melambai kecil pada Patrick.
Max melangkah keluar galeri dan berjalan menelusuri sidewalk Les Marais yang ramai.
Ia menghentikan langkahnya ketika melintasi sebuah toko bunga dan perhatiannya tertuju pada satu buket bunga campuran antara daisy, lily, dan mawar merah yang ada di balik kaca etalase.
Bibirnya mencebik.
Bukan ide yang buruk.
Ia melangkah masuk ke dalam toko dan menemui si penjual, seorang wanita muda berambut merah yang menyambutnya dengan ramah.
"Pilihan yang bagus," ujar wanita itu sembari menyerahkan buket bunga pada Max. "Pacarmu pasti akan menyukainya," lanjutnya.
__ADS_1
"Oui, j'espere (kuharap begitu)." Senyum Max mengembang sembari menerima buket bunga dan menyerahkan selembar lima puluh euro.
Setelah menerima kembalian dua puluh euro, ia pun berpamitan dan melanjutkan perjalanannya menuju ke setasiun métro terdekat.
***
Wulan memperhatikan pantulan wajahnya di dalam cermin di atas wastafel kamar mandinya. Ia meraba wajah ayunya dengan punggung tangannya. Belum ada kerutan apa pun di sana. Kemudian perlahan tangannya turun mengelus leher, lalu turun lagi meraba dua gumpalan lemak yang menonjol di dadanya. Kencang.
Ia memiringkan badannya ke kiri dan ke kanan. Memastikan bentuknya masih sempurna.
Sejurus kemudian ia menepuk dahinya seraya terbahak. Apa yang ia pikirkan? Kapan terakhir kali ia peduli dengan wajah dan bentuk tubuhnya? Ketika masih bersama Pierre?
Lalu kenapa sekarang ia peduli lagi?
Wulan menggeleng pelan, lalu menyalakan kran dan membasuh wajahnya. Ia menyambar handuk dan melangkah keluar kamar mandi sembari mengeringkan wajahnya.
Ia berniat untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang, meluruskan badan dan merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku sembari menunggu Adrienne mengabarinya untuk pergi minum-minum di bar, ketika suara pintu apartemennya diketuk seseorang.
"Siapa sih, ganggu aja," umpatnya dalam Bahasa Indonesia. Ia pun segera melangkah keluar dari kamarnya dan membuka pintu.
"Bonsoir (selamat sore), Miss."
Begitu membuka pintu, ia dapati seulas senyuman manis dari anak manis tapi bengal yang sebenarnya ingin sekali dihindarinya.
Wulan tak langsung menyammbut sapaan Max. Perhatiannya tertuju pada tangan pemuda itu yang ia sembunyikan di balik punggungnya.
"Bunga cantik untuk wanita yang paling cantik di Paris." Max menyodorkan satu buket bunga pada Wulan.
Wulan memutar bola matanya mendengar rayuan anak tengil itu. Namun dengan senang hati menerima bunga pemberiannya.
"Merci," ucapnya seraya mencari sesuatu yang mungkin terselip di dalam tangkai-tangkai bunga. "Tidak ada nama pengirimnya," gumamnya. "Max, ini pekerjaan barumu? Mengantar bunga?"
"Ah, bon (ohya)?" Wulan terkikik. Ia lalu membawa buket bunga ke dapur dan menaruhnya di botol kaca yang sebelumnya telah terisi air.
"Kau suka?" tanya Max mengagetkannya. Pemuda itu telah berdiri di belakangnya.
"Bien sûre (tentu)," sahutnya gugup. "Sangat romantis," gumamnya lirih. Namun masih terdengar oleh Max.
"Ben, je suis Francais, it's in my blood (ya, aku orang Perancis, romantisme sudah mendarah daging)," gelaknya.
Wulan menahan senyumnya mendengar celotehan Max. Pierre orang Perancis. Tapi dia tidak romantis.
Max menghempaskan badannya ke atas sofa setelah melempar tas punggungnya sembarang.
"Kau ke sini hanya untuk mengantar bunga?" tanya Wulan sembari mengambil tempat duduk di depan Max.
"Aku lupa bilang tadi di sekolah. Aku mau mengajakmu ikut melihat pameran di Sorbonne, satu minggu lagi."
"Eloise tidak keberatan kalau kau mengajakku?"
"Kenapa dia harus keberatan?"
Wulan mengedikkan bahunya. "Siapa tahu dia berharap kau datang sendiri."
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Entahlah."
Max menyunggingkan senyumnya. "Kau cemburu, ya?"
__ADS_1
"Non, non, pas du tout (tidak, tidak, tidak sama sekali)," sahut Wulan cepat. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela apartemennya.
"Miss ...." Max beranjak dari sofa dan kini duduk di samping Wulan. "Kau suka padaku, kan?" tanyanya sembari memiringkan kepalanya menatap Wulan yang masih menghadap ke arah jendela.
"Kau ini kenapa, Max?"
"Aku kenapa? Aku menyukaimu, Miss."
Wulan mendecak kesal. "Kau tahu sedang berbicara dengan siapa?"
"Yeah, dengan Wulan, wanita paling cantik di Pa ...."
Pukkk
"Auuch!" Max meringis mengelus ujung kepalanya yang terkena pukulan Wulan.
"Kau tahu berapa umurku?"
"Emm ... empat puluh?" godanya. Namun sejurus kemudian ia harus rela rambut panjangnya ditarik dengan keras oleh Wulan yang kesal bukan main.
"Aku tidak peduli berapa umurmu, Miss. Sungguh."
Wulan memijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. "Jangan lakukan ini padaku, Max, please," rintihnya.
"Miss ..." Max meraih bahu Wulan dan membawanya mendekat padanya. Ia menatap Ibu Gurunya itu lekat-lekat.
Wulan hanya menatapnya sekilas. Ia tak sanggup berhadapan dengan si mata biru yang bisa saja membuatnya terjerumus ke dalam hal yang harus ia hindari. Meskipun ia menginginkannya.
"Dis moi que tu m'aimes aussi (katakan kalau kau juga menyukaiku)," bisik Max sembari mendekatkan wajahnya pada Wulan yang hanya bisa memejamkan matanya. Entah pasrah, entah kalut, entah otaknya sedang berkecamuk memilih antara iya dan tidak.
Ketika pada akhirnya ia memilih untuk menerima penawaran yang begitu menggiurkan itu, rupanya alam semesta belum mengizinkan.
Ponsel di atas meja berbunyi.
Panggilan dari Adrienne.
Wulan menarik napas lega. Tidak dengan Max. Ia menghela napas kecewa.
"Aku akan keluar dengan Adrienne," ujar Wulan sembari menyambar ponselnya. Ia merapikan pakaian dan rambutnya, lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tas selempangnya.
"Kau akan menunggu di sini?" tanya Wulan berbasa-basi.
"Aku ikut denganmu."
Wulan tergelak. "Kau belum cukup umur."
"Kalau begitu aku akan menunggumu di sini."
"Jangan bercanda."
Max mengedikkan bahunya. "Aku serius!"
Wulan terdiam sejenak. "Aku akan mengunci pintunya, Max."
Max hanya mengangguk. "Amuse toi bien (selamat bersenang-senang)," ucapnya sembari memandang tak rela kepergian Wulan.
***
***
__ADS_1
***