
Pelan Jolene membuka matanya. Ia tak tahu sudah berapa lama ia tak sadarkan diri. Tulang hidungnya terasa luluh lantah. Sekujur tubuhnya terasa pegal. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk bangkit.
Dadanya berdegup kencang teringat akan ponselnya. Anak bengal itu merampasnya. Ia yakin Max akan menunjukkan foto-fotonya pada polisi.
Hancurlah dia.
"Merde (sial)," umpatnya. Tak ada pilihan lain. Ia harus cepat-cepat meninggalkan apartemennya.
Langkahnya terseok masuk ke dalam kamarnya. Membuka lemari pakaiannya dan menarik satu buah suitcase besar warna biru muda. Ia menyambar baju-baju miliknya dan memasukkan ke dalamnya.
Setelah dirasa semua yang diperlukannya telah masuk ke dalam suitcase, ia pun berjalan ke kamar mandi lalu membersihkan wajahnya yang penuh dengan darah yang telah mengering.
Selesai, ia menyambar jaket berpenutup kepala dan memakainya. Ia menyeret suitcase nya keluar dari kamarnya dan meraih kunci mobil yang tergeletak di atas bufet.
Dengan langkah cepat ia keluar dari apartemennya, berjalan menelusuri koridor dan masuk ke dalam lift. Ketika pintu lift terbuka dan ia melangkah keluar, ia dikejutkan dengan dua orang polisi yang tengah berbicara dengan securité gedung.
"Ah, itu dia Miss Dupont!" seru securité sembari menunjuk ke arah Jolene.
Jolene yang hendak menghindar tak bisa berkutik lagi ketika dua polisi itu berjalan mendekat ke arahnya.
"Miss Jolene Dupont?"
"Oui ...." Wanita itu menjawab pelan. Seluruh tubuhnya terasa panas dingin. Dadanya berdegup kencang.
"Police Nationale De Paris," ujar salah seorang polisi sembari menunjukkan ID cardnya. Bisa ikut kami ke kantor?" ujar salah seorang polisi dengan senyum ramahnya.
"Ada masalah apa?" tanya Jolene berpura-pura tidak mengerti.
"Seorang remaja bernama Maximilian Guillaume melaporkan tindakan pemerkosaan yang kau lakukan padanya."
"Fitnah macam apa ini!" seru Jolene dengan wajah tegang.
"Kau bisa menjelaskannya di kantor, Miss Dupont. Mari?"
Kedua polisi meraih lengan Jolene dan membimbingnya keluar dari gedung apartemen diikuti tatapan heran dari si penjaga gedung.
"Je veux mon avocat (aku mau pengacaraku)!"
***
***
***
"Masih sakit?" tanya Wulan sembari mengelus bagian belakang kepala Max yang telah tertutup perban.
Max menggeleng. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa di dalam apartemen Wulan.
__ADS_1
Dari peristiwa berdarah di tempat Jolene, hingga ke kantor polisi di Paris untuk melaporkan wanita itu dan menjemput Wulan, lalu ke rumah sakit untuk mengobati luka di kepalanya, membuat rasa lelah mulai menyerangnya. Namun ia merasa sangat lega.
Jolene telah menerima ganjarannya.
"Saatnya berlibur." Max menengadahkan wajah sembari memejamkan matanya. "Aku ingin pergi jauh sejenak." Ia menoleh ke arah Wulan dan tersenyum. "Kemari ...."
Wulan mendekat pada Max yang tengah membentangkan kedua tangannya bersiap menyambutnya ke dalam pelukannya.
"Aku harap semua masalah sudah selesai," gumam Wulan.
"Sudah selesai," tegas Max.
"Aku percaya padamu. Kau membahayakan dirimu untuk membereskan semuanya, Max."
"Harus."
Wulan mengeratkan pelukannya pada pemuda begal yang begitu dikasihinya itu.
"Terimakasih untuk segalanya, Max ...."
"Terimakasih untuk segalanya, Wulan ...."
Mereka berucap secara bersamaan. Hal itu membuat keduanya terkekeh.
"Aku ingin kau ikut denganku menemui Ayahku."
Wulan mengerenyitkan keningnya. "Menemui Ayahmu? Untuk apa?"
"Okay ...."
.
.
Max membuka pintu apartemennya pelan. Lalu menyuruh Wulan yang berdiri di belangnya untuk masuk.
"Ludo?" panggilnya sembari menyalakan lampu ruang tamu. Tak ada seorang pun di sana. Ruangan itu tertata rapi.
"Silahkan duduk, Wulan." Max mempersilahkan Wulan untuk duduk di atas sofa yang biasanya diduduki oleh Ayahnya.
Pintu kamar Ludovic terbuka. Pria paruh baya itu terkejut melihat kehadiran Wulan.
"Salut, Monsieur Guillaume," sapa Wulan yang spontan beranjak dari duduknya.
"Miss Laksana." Ludovic balik menyapa.
Max berdiri di antara Ludovic dan Wulan. Menatap Ayahnya itu dengan wajah masam.
__ADS_1
"Kau harus minta maaf pada Wulan!" ujarnya membuat Ludovic terlihat kaget.
"Aku ... bisa menjelaskannya," ujarnya terbata.
"Minta maaf padanya sekarang!" hardik Max sembari mencekal bahu Ludovic dengan keras.
"Max, hentikan!" Wulan menarik lengan Max untuk menjauhkannya dari pria paruh baya itu.
Max yang tidak terima Wulan mencegahnya berusaha meraih baju Ludovic.
"Sudah, Max ... jangan bersikap begitu pada Ayahmu!" bentak Wulan sembari mendorong dada Max ke belakang.
Max memandang sinis pada Ludovic yang kini menundukkan kepalanya. "Kau tahu kesalahanmu, bukan, Pak Tua?" tanya Max dengan geramnya.
"Diam, Max!" hardik Wulan sembari menunjuk ke arah wajah Max. "Kalau ada yang harus dibicarakan, bicaralah dengan baik-baik, okay?" Suaranya mulai melunak.
Max menghela napas dalam-dalam. Ia lalu menjatuhkan pan tatnya ke atas sofa. "Aku sangat berharap dia tidak percaya apa pun yang dikatakan Jolene. Nyatanya ... dia begitu bodoh mempercayai wanita itu," gerutunya.
"Aku ...." Ludovic menggantung kata-katanya. Wulan dan Max secara bersamaan menatap ke arahnya.
"Semula aku tidak percaya semua yang dikatakan Miss Dupont. Tapi ... karena dia seorang Guru Pembimbing, kupikir ...."
"Guru breng sek!" sela Max.
Ludovic menatap ke arah Wulan. "Miss Laksana ... emm ... Wulan, boleh kupangil kau begitu?"
Wulan mengangguk. Ia menunggu lanjutan kata-kata Ludovic dengan sabar.
"Aku minta maaf untuk semua yang telah aku lakukan padamu. Sebagai seorang Ayah yang sedang memperbaiki hubungan dengan anaknya, aku menjadi overprotective." Ia menghela napasnya sejenak. "Aku tidak bilang aku rela Max berhubungan denganmu. Tapi, jika itu membuat Max bahagia dan tidak ada yang dirugikan, aku bisa apa."
Ludovic mengangkat kedua tangannya. "Mungkin aku hanya butuh waktu. Tapi percayalah, semua akan baik-baik saja, Wulan."
Wulan tersenyum dan mengangguk. "Merci, Monsieur Guillaume."
"Ludovic ... panggil aku Ludovic saja."
Dada Wulan serasa disiram oleh air segar yang melimpah. Terasa begitu sejuk hingga ke relung hatinya. Ia menatap Max. Pemuda itu memutar kedua bola matanya. Namun terlihat semburat bahagia di wajahnya.
***
***
***
Hello, teman-temanku.
High School Bad Boy akan ada dua episode terakhir ya, terimakasih sudah menemani aku menulis sejauh ini.
__ADS_1
Jika mau baca novel selanjutnya sudah ada judulnya Love In Black. Silahkan menuju ke lapak.
Enjoy.