
"Lihat ke sini, Miss ...."
Wulan yang tengah menikmati suasana di sekeliling jembatan Pont Marie, dan juga menara Eiffel di seberang, menoleh ke arah Max di sampingnya yang tengah menumpu badannya di atas tembok pembatas sungai Seine, dan mengarahkan ponsel padanya. Mengambil foto Wulan tanpa sempat Ibu Gurunya itu berpose dengan benar.
"Aku belum siap untuk difoto, Max," gerutunya.
"Tidak apa-apa ... pose natural lebih bagus," ujar Max sembari memperlihatkan hasil bidikan kamera ponselnya pada Wulan.
Wulan hanya meringis melihat ekspresi wajahnya yang terlihat aneh di layar ponsel Max.
Max naik ke atas tembok pembatas yang hanya setinggi satu meter, lalu duduk di samping Wulan.
"Aku jarang sekali menikmati suasana malam di Paris," gumam Wulan sembari memandang ke arah menara Eiffel yang malam itu berwarna keemasan karena ribuan lampu yang menyala di dalam dan sekelilingnya.
"Menikmati malam di Paris denganku lebih berkesan, Miss." kekeh Max. Ia memperbaiki letak topi rajut musim dingin di kepala Wulan yang sedikit miring. "Apalagi menikmatinya dari atas ranjang," godanya.
Mata Wulan membulat. Satu pukulan mendarat di puncak kepala Max.
"Nakal!" hardik Wulan. "Otakmu ini ...." Ia mengetuk-ngetuk kepala Max dengan ujung jari telunjuknya.
Max meringis. Lalu menangkap telapak tangan Wulan dan dibawanya ke dadanya. Ia menggenggamnya dengan erat.
"Wulan ...."
"Hmmm ...."
"Kau cantik sekali."
Wulan mendecak. "Kau sudah mengatakannya beberapa kali hari ini, Max."
Max tergelak. "Aku ingin mengatakannya terus menerus."
"Tidak usah bicara omong kosong. Aku tidak secantik Miss Dupont."
"Kenapa membawa-bawa Miss Dupont?"
"Aku juga tidak semanis Eloise," ujar Wulan.
"Kenapa membawa-bawa Eloise?"
Wulan menghela napas pelan. Lalu menatap Max yang memasang wajah bingungnya. Apa yang telah dilakukan anak ini padanya sehingga ia bersikap kekanakan seperti ini. Kenapa di depan Max ia selalu kehilangan sisi kedewasaannya?
Cemburu, merajuk. Anak ini memang membuatnya hilang akal. Seperti kembali menjadi remaja yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta. Begitu takut kehilangan sosok menggemaskan di hadapannya itu.
Wulan tertawa dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Hei, ça va toi (kau baik-baik saja)?" Max menggerak-gerakkan telapak tangan di depan wajah Wulan.
Wulan hanya mengangguk di sela-sela tawanya.
"Apanya yang lucu?" tanya Max heran.
"Aku merasa lucu," sahut Wulan sembari menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Pada diriku sendiri," lanjutnya.
"Kenapa?"
Wulan mencebikkan bibirnya. Lalu menoleh pada Max. Menatapnya dengan lekat.
"Bagaimana kalau ternyata ... aku yang terobsesi padamu." Wulan mengelus pipi Max lembut.
"Bukankah itu yang aku harapkan?" Bibir Max menyunggingkan senyuman. Lalu meraih telapak tangan Wulan dan menciumnya penuh kasih sayang.
"Aku takut ...."
"Takut apa, Miss?"
"Kehilangan akal sehatku."
"Apakah itu sesuatu yang buruk untuk hubungan kita?"
"Entahlah ...." Wulan mengalihkan pandangannya ke depan. Memandang lampu kedip yang menyala di puncak menara Eiffel. Terdiam di sisi Max yang masih menggenggam tangannya dengan erat.
.
.
"Wulan ...."
"Sstttt ...." Wulan menempelkan jari telunjuknya di bibir Max. Membuat pemuda itu urung berucap. "Ne dis rien (jangan katakan apa pun)," bisik Wulan di telinga Max.
Wulan menyapukan bibirnya di leher pemuda itu sembari satu tangannya menepis pelan tangan Max yang hendak meraih tubuhnya yang hanya terbalut bra saja.
"Ne bouge pas, Bébé (jangan bergerak, sayang)." Wulan kembali berbisik. Lalu memagut bibir Max dengan lembut.
"Laisse moi te faire (biarkan aku yang melakukannya)," ucap Wulan di sela-sela ciuman penuh gairahnya.
Tangan Wulan menjelajahi dada dan perut Max perlahan. Kemudian ia merayap menuruni tubuh yang mulai berotot itu. Menyentuhkan bibirnya pada lingga yang terpahat indah dan tegak berdiri menantangnya. Mengu lumnya dengan penuh kelembutan untuk beberapa saat lamanya.
"Wulan ...." Lenguhan lirih Max terdengar dari atas sana.
Ia merangkak naik mendekat pada wajah Max yang telah bersemu merah. Wulan Mengulang kembali ciuman penuh gairah nan liarnya. Sementara di bawah sana keduanya telah bersatu dan saling melengkapi satu sama lain.
"No!" ujar Wulan sembari menahan dada Max, yang hendak merubah posisinya ke atas Wulan. "You stay down there (kau di bawah saja)," engahnya.
__ADS_1
Max hanya bisa menurut dan mengikuti gerakan Wulan yang semakin menggila. Ia pasrah, pundak, lengan, dan lehernya digigit oleh Ibu Gurunya itu.
"T'es chaud ... t'es sauvage (kau sexy ... kau liar)." Max terengah sembari memegangi pinggang Wulan dan membimbing gerakannya.
"Je te veux, Bébé, je te veux (aku menginginkanmu, sayang, aku menginginkanmu)!"
Gerakan Wulan terhenti begitu erangan terakhirnya usai. Ia terkulai di samping Max yang tengah mengatur napasnya.
"Aku sudah gila, Max," kekehnya sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Kita berdua gila, Miss." Ia menoleh ke arah Wulan, lalu ikut terkekeh.
.
.
Max menyandarkan punggungnya di dinding ranjang sembari menghisap rokoknya dalam-dalam. Sementara Wulan berbaring menelungkup di atas ranjang, dengan kepala yang berada di tepiannya.
"C'etait chaud (itu tadi sungguh panas)," ujar Max dengan senyum lebarnya.
"Emmm ... j'espere oui (kurasa iya)," sahut Wulan seraya menyembunyikan wajah di antara lengannya.
Wulan meminta rokok di jemari Max. Pemuda itu menghisap rokoknya sekali lagi dan memberikannya pada Wulan.
Wulan menghisap rokok yang hanya tinggal setengah batang saja itu dan menghembuskan asapnya ke atas, lalu mengembalikkannya pada Max.
"Max ...."
"Oui, Bébé (iya, sayang)."
"I love you ...."
Max menatap wajah lelah Wulan dan mendaratkan ciuman sekilasnya di bibir tipis itu. "So do I (aku juga mencintaimu)," bisiknya.
Wulan menggeser badannya ke belakang Max dan melingkarkan lengan ke lehernya seraya menciumi tengkuk pemuda itu lembut. Menghirup wanginya dalam-dalam.
Menyenangkan, menenangkan, menghangatkan, menggairahkan.
Hanya itu yang Wulan rasakan ketika bersama dengan seorang Maximilian.
***
***
***
Puas-puasin dulu ya sebelum kesandung batu eh kerikil 😁😁😁😁😁
__ADS_1