High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 31. I'm Keeping An Eye On You (Aku Mengawasimu).


__ADS_3


***


LYCÉE JEAN - BAPTISTE SAY, SURESNES.


Hati Wulan bergemuruh ketika melihat Damien yang baru saja keluar dari ruangannya. Teringat apa yang diceritakan oleh Max dua hari yang lalu tentang kematian Nadia.


Ia melangkah mendekati Damien yang langsung melemparkan senyum padanya. Wulan hanya membalas dengan senyum yang ia paksakan.


"Bonjour (selamat pagi), Wulan," sapa Damien dengan ramah.


Wulan hanya mengangguk. "Punya waktu sebentar? Aku mau bicara."


"Owhh, bien sûre, Ma belle (tentu, cantik)," katanya sembari menggandeng Wulan masuk kembali ke ruangannya. Namun Wulan seketika menepis tangan Damien. Membuat pria itu mengerenyitkan dahinya keheranan.


"Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting," kekeh Damien sembari menarik kursi dan mempersilahkan Wulan untuk duduk.


"Aku mau menanyakan tentang kasus bunuh diri Nadia. Apa ada hubungannya denganmu?" tanya Wulan tanpa basa-basi. Sekilas ia melihat ekspresi tegang di wajah Damien. Namun pria itu segera menutupinya dengan senyuman.


"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Damien balik bertanya. "Okay, kau pasti sudah pernah mendengar kalau aku pernah menjalin hubungan dengan Nadia. Tapi itu sudah lama berakhir."


Wulan menggeleng. "Kau memutuskan hubungan dengan Nadia setelah tahu kalau dia sedang hamil."


"Si Anak bengal itu, Maximilian, yang mengatakannya padamu? Kau percaya padanya?" tanya Damien sembari memegang kedua bahu Wulan.


Wulan menepis kedua tangan Damien. "Tidak penting aku tahu dari mana. Kalau memang itu benar, kau harus bertanggung jawab, Damien. Kau harus menemui Ibunya. Kau harus meminta maaf padanya."


"Dengar, Wulan. Perkataan anak itu tidak bisa dipegang." Damien mencoba meyakinkan Wulan. Namun Wulan kembali menggeleng.


"Aku tidak tahu, Damien. Hanya itu yang bisa kusarankan padamu."


Damien meremas rambutnya. Lalu menghela napas pelan. "Anak itu pasti sangat membenciku karena aku mendekatimu."


"Apa maksudmu?" tanya Wulan sembari memicingkan matanya.


"Dia menyukaimu, Wulan."

__ADS_1


Wulan mendesis. "Nonsense (omong kosong)!"


Damien tertawa ironis. "Kau pikir aku tidak tahu kalau Max beberapa kali menginap di apartemenmu?"


Wulan terperanjat. Dadanya berdegup kencang. Dari mana Damien tahu tentang hal itu. Apa pria itu menguntitnya?


"Mau menyangkal?" Damien menatapnya miring.


Wulan menelan ludahnya dengan susah payah. "Tidak seperti yang kau pikirkan. Tidak ada apa-apa antara aku dan Max. Dia hanya butuh teman bicara. Dan aku sebagai Gurunya dengan senang hati mendengarkan."


Damien mendecih. "Kau pikir aku percaya?"


"Terserah saja."


"Hati-hati, Wulan. Kau bisa terkena masalah. Kuharap kau belum terlalu jauh dengan anak itu. Kau tidak sayang dengan pekerjaanmu?" Damien tersenyum miring. Ia senang bisa mengubah posisinya dari tersangka menjadi interogator. Kini Wulanlah yang duduk di kursi pesakitan. Dan ia merasa telah memegang kartu As Wulan.


"Dengar, Wulan. Aku menyukaimu. Aku ingin kita bisa lebih dekat." Damien meraih tangan Wulan, namun Wulan menolaknya dengan halus.


Damien menggeleng. Lalu ia melangkah ke arah pintu dan membukanya.


"Kau ada jadwal mengajar, bukan?" tanyanya sembari mempersilahkan Wulan untuk keluar dari ruangannya.


"Wulan ... aku mengawasimu," bisiknya saat Wulan melenggang tepat di depan wajahnya.


Wulan menghentikan langkahnya. Ia menarik napas sejenak mencoba mengontrol perasaannya yang tidak menentu. Kemudian tanpa menoleh ke arah Damien, ia pun berlalu.


***


Wulan yang termangu dengan tatapan kosong di mejanya dan pikiran yang berkecamuk akibat perkataan Damien pagi tadi, tak menyadari kelas telah kosong dan hanya tinggal Max yang berdiri di hadapannya sembari menggerak - gerakkan telapak tangan di depan wajahnya.


"Miss ... hellooo?"


Suara Max membuatnya terkesiap. Dengan gugup ia berdiri dan merapikan buku-bukunya yang ada di atas meja tanpa menoleh pada Max.


Max memperhatikan Ibu Gurunya dengan seksama sembari menyunggingkan senyum tipisnya. Ia suka melihat Wulan yang terlihat menawan ketika sedang gugup begitu. Wajah Asianya yang manis sungguh membuatnya gemas dan rasanya ia tidak mampu menahan diri untuk melahap bibir tipisnya yang dipoles lipstik berwarna salem itu.


Max memastikan hanya ada mereka berdua di dalam kelas, dan tidak ada siswa yang masih lalu lalang di depan pintu. Kemudian tanpa aba-aba ia meraih dagu Wulan dan membawanya mendekat pada wajahnya untuk kemudian disesapnya bibir itu dengan penuh gairah.

__ADS_1


Wulan membelalakkan matanya dan seketika meronta berusaha melepaskan diri dengan mendorong dada Max dengan keras.


Plakkk


Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Max, walaupun hanya setengah tenaga saja.


"Kau gila, Max!" hardiknya. "Bagaimana kalau sampai ada yang melihat?"


Max hanya meringis sembari mengelus pipinya yang memerah. Ia sama sekali tak marah mendapat tamparan dari Wulan. Justru kini senyumnya melebar dan menatap Wulan dengan tatapan mata jahilnya.


"Aku tidak bisa mentolerir ini," ujar Wulan sembari berjalan bersungut-sungut meninggalkan Max yang tentu saja langsung mengejarnya hingga mereka berada di koridor yang ramai.


"Menjauhlah dariku, Max," ujar Wulan setengah berbisik. Lalu mendorong bahu Max untuk memberi jarak dengannya.


Saat itulah Damien melintas berlawanan arah dengan mereka dan menatap keduanya dengan senyuman miring.


Wulan yang melihat Max terpancing emosinya dengan Damien, meremas lengan pemuda itu memberinya peringatan untuk tetap tenang dan tidak membuat keributan.


"Tanganku gatal ingin menghajarnya," kata Max begitu jarak mereka telah menjauh dari Damien.


"Jangan membuat keributan di lingkungan sekolah. Apalagi dengan Damien, kau bisa terkena masalah."


"Memangnya aku peduli?"


"Aku peduli," sahut Wulan cepat. Namun segera disesalinya kata-kata itu ketika melihat wajah Max kini tampak berbinar.


"O Mon Dieu (oh, ya Tuhan), Miss ... aku senang sekali mendengarnya," ujarnya sembari mengelus rambut panjangnya.


"Max!" bentak Wulan kesal. Ia gemas sekali ingin menjambak rambut panjang pemuda itu sekeras-kerasnya.


Max mengangkat kedua tangannya sembari terbahak. Sekilas dilihatnya semu merah di pipi Wulan sebelum akhirnya Ibu Gurunya itu menarik handle pintu ruang Guru dan melangkah masuk tanpa menoleh lagi padanya.


Aku tahu kau juga menyukaiku, Miss.


Max menarik sudut bibirnya dan menatap sekilas pintu ruang Guru. Membayangkan raut wajah manis Wulan yang sedang gugup di dalam sana.


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2