
Wulan merapikan buku - bukunya dan memasukkannya ke dalam kabinet di ruang tamunya. Ia tertegun sejenak ketika mendapati coretan tangan Max di atas kertas sketsa yang disimpannya di sana beberapa hari lalu.
Senyumnya tersungging. Anak bengal itu begitu detail menangkap ekspresi wajah cemberutnya dan menuangkannya di atas kertas.
Wulan hendak menyimpan kembali kertas - kertas itu ketika matanya menangkap selembar foto lama terselip di antara buku - bukunya yang membuat dadanya kembali terasa nyeri.
Pierre et Wulan, California, 2016.
Ia membaca tulisan di balik foto yang mulai usang itu. Diambil di tahun pertama pernikahan. Saat berlibur ke rumah orang tua Pierre yang tinggal di California. Masih begitu manis. Seakan - akan badai tak akan pernah datang menghantam.
Entah kenapa dahulu ia memutuskan untuk mencetak foto itu dan menyelipkannya di dalam buku bacaan.
Wulan menyentuh dadanya dan menarik napas dalam - dalam. Pria yang ada di dalam foto itu, Pierre, yang berdiri di sampingnya, telah melanjutkan hidupnya bersama kekasih barunya. Sedangkan Wulan, belum juga beranjak dari reruntuhan hatinya. Masih saja terkungkung dengan kenangan bersama pria yang seharusnya sangat dibencinya itu. Memang bodoh. Ia memaki diri sendiri.
Satu pertanyaan yang hingga sekarang masih membayanginya dan menelisik hatinya untuk mencari jawaban. Kenapa dulu Pierre memperlakukannya dengan sangat buruk? Apa salahnya?
Namun, ia sadar. Semua itu sudah tidak penting lagi. Tidak ada gunanya terus menyesali.
Kentang sudah menjadi bubur kentang.
Yang bisa ia lakukan hanya mengatasi rasa sepi berkepanjangan yang telah berkembang menjadi hampa.
Ia menyelipkan kembali foto di tangannya ke dalam buku. Lalu mengambil kertas pemberian dari Max dan membawanya menuju kamarnya.
Wulan berbaring di atas ranjangnya sembari tersenyum memperhatikan hasil karya iseng si anak tengil yang akhir - akhir ini, tanpa ia sadari, sedikit banyak membuatnya, bersemangat.
Benarkah itu kata - kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya pada Maximilian?
Diletakkannya dua lembar kertas itu di atas nakas. Ia mencoba memejamkan matanya ditemani oleh suara sirine mobil patroli polisi di luar sana.
***
AREA STALINGRAD, SURESNES.
Damien membuang puntung rokok keluar jendela mobilnya begitu melihat sosok bertutup kepala dan berjaket hitam berjalan mendekat. Ia membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan seseorang itu masuk.
"Damien!" Ia menghambur ke pelukan Damien dan mulai menangis.
"Nad, kita bicara, okay?" ujarnya seraya melepaskan pelukan Nadia.
"Aku harus bagaimana?"
Damien mengacak rambutnya kasar. Lalu menyandarkan punggungnya ke kursi, kemudian mencondongkan badannya ke arah kemudi dan menopangnya dengan kedua lengan di sana.
"Aborsi." Damien menoleh pada Nadia yang tercekat mendengar perkataannya.
"Non, non, non ... aku tidak bisa melakukannya. Kita menikah saja, Damien."
"Kau gila!" bentak Damien. Membuat Nadia semakin terisak. "Diamlah, Nadia ... aku sedang berpikir."
Nadia mengusap air mata dengan punggung tangannya. Wajahnya tertunduk.
__ADS_1
"Dengar, Nad ... reputasiku bisa hancur, pekerjaanku dipertaruhkan."
"Aku tidak percaya kau hanya memikirkan dirimu sendiri!" hardik Nadia geram.
Damien mengangkat tangannya. "Nad, kau bisa melanjutkan kehamilanmu. Aku akan membiayai semuanya. Kau dan bayimu." Ia menghela napasnya sejenak. "Tapi aku tidak bisa menikahimu. Dan hubungan kita cukup sampai di sini saja."
Nadia menggeleng tak percaya. "Jangan lakukan ini padaku, Damien. Ibuku akan menikahkanku dengan lelaki pilihannya. Aku tidak mau," isaknya. "Bawa aku pergi dari sini."
"Je peux pas (aku tidak bisa)!" seru Damien.
"Mais je t'aime (tapi aku mencintaimu), Damien!"
Damien menyentuh bahu Nadia lembut. "Aku minta maaf, Nadia ... hanya itu yang bisa aku tawarkan padamu."
Pandangan Nadia lurus ke depan. Kosong. Ia begitu terpukul dengan semua yang Damien ucapkan padanya.
"Tu m'aime pas (kau tidak mencintaiku)," gumamnya pelan. "Untuk apa aku hidup?"
"Jangan berkata seperti itu, Nad!"
Nadia membuka pintu mobil pelan. Tatapannya masih kosong. Ia tak memedulikan Damien yang memanggil - manggil namanya.
"Merde (sial)!" Terdengar suara makian Damien dari dalam mobilnya.
Sementara Nadia terus melangkah gontai menelusuri trotoar Stalingrad. Ia tak lagi memedulikan sekelilingnya. Ia tak peduli dengan orang - orang yang lalu lalang melewatinya. Dunianya seakan telah menjadi gelap seketika.
Karena bayi yang dikandungnya, karena Ibunya yang terpaksa harus menikahkannya dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai, dan yang membuatnya hilang harapan adalah, Damien benar - benar mencampakkannya.
Ia berharap bumi menelannya saat itu juga.
***
LYCÉE JEAN - BAPTISTE SAY, SURESNES.
Max buru - buru mengunci lokernya begitu melihat Wulan yang berjalan melintasinya di koridor tanpa menoleh ke arahnya. Ibu Gurunya itu sibuk memeriksa buku - buku yang di bawanya untuk kemudian ia masukkan ke dalam tasnya.
"Salut (halo), Miss ...."
Max menyejajarkan langkahnya dengan Wulan sembari memasang senyum jahilnya, seperti biasa.
"Hallo, Max, apa kabarmu hari ini?" tanya Wulan. Ia hanya menoleh sekilas pada Max tanpa menghentikan langkahnya menuju pelataran sekolah.
"C'est pas trés bien (tidak terlalu bagus)," jawabnya.
"Oh ouais? Pourquoi (ohya? kenapa)?"
"Merindukanmu," kekeh Max yang langsung disambut dengan pukulan pelan di bahunya.
"Bisakah sehari saja kau tidak bersikap menyebalkan padaku?" tanya Wulan seraya menghentikan langkahnya.
"Aku serius."
Wulan terbahak. Lalu memeriksa rambut semi panjang Max yang diikat sembarang. Ia baru menyadari kalau anak bengal ini terlihat sangat tampan. Matanya seperti terhipnotis untuk menatap sepasang mata dengan warna sebiru langit itu. Kemudian turun menelusuri hidung mancung sempurnanya, lalu rahangnya yang mulai kokoh, bibirnya yang tipis dan merah muda, lehernya ....
__ADS_1
"Miss, Hellooo ...."
Wulan terkesiap. "Ya, Max?" Ia berdehem untuk melicinkan tenggorokannya. Ia hampir saja mentertawakan dirinya sendiri. Apa sebegitu kesepiankah ia sampai - sampai hampir saja ia mendamba anak umur enam belas tahun?
"Aku bilang aku serius rindu padamu. Hari ini kau tidak mengajar di kelasku. Jadi baru sekarang aku melihatmu."
Wulan menggeleng sembari mengu lum senyum tipisnya.
"Owh, Max ... aku tidak melihat Nadia beberapa hari ini. Kau tahu kemana dia?" tanya Wulan, mengalihkan pembicaraan.
"Sakit, mungkin."
Wulan mengangguk - angguk. "Ya sudah, sampai besok, Max," pamitnya.
"Tunggu, Miss!"
Max mengikuti Wulan masuk ke gedung utama sekolah. "Kau langsung pulang?"
"Emmm ... sebenarnya aku mau pergi minum kopi dengan Miss Adrienne," jawab Wulan sembari menoleh ke sana kemari mencari sosok Adrienne. "Ah itu dia ...." Ia menunjuk Adrienne yang baru saja masuk.
"Okay, Max ... a demain (sampai besok)." Wulan menepuk lengan Max dan melangkah mendekati Adrienne yang telah menunggunya.
Max menghela napas kecewa. Namun ia hanya bisa memandangi Wulan yang kini berjalan bersama Adrienne keluar menuju halaman sekolah.
.
.
Max melangkah gontai menuju gedung apartemennya sembari sesekali menendang kerikil yang barserakan di trotoar.
Perhatiannya kini tertuju pada sebuah mobil ambulance yang meraung dan bergerak masuk ke pelataran gedung tempatnya tinggal.
Ia mengerenyitkan keningnya begitu melihat ada beberapa mobil polisi yang terparkir di sana. Max semakin terheran - heran ketika melihat banyak orang berkerumun di dekat pintu lobby. Ada dua orang polisi yang tampak tengah berbincang dengan mereka.
Max melangkah cepat menuju kerumunan orang - orang itu dan berbaur dengan mereka. Belum sempat ia menanyakan apa yang sedang terjadi, empat orang petugas medis keluar dari pintu dan menggotong tandu dengan kantong jenazah yang telah diikat di bagian atas dan bawahnya.
Dadanya berdebar kencang. Wajahnya terasa memanas. Telapak tangannya mengeluarkan keringat dingin.
"Apa yang terjadi?" Ia memberanikan diri bertanya pada seorang pria yang berdiri di sampingnya.
"Puteri Nyonya Kareem ... dia bunuh diri."
Max merasa bagai tersambar petir di siang bolong. Tubuhnya bergetar. Ia seperti dibawa naik oleh sebuah energi kuat ke atas langit, lalu dihempaskan ke tanah hingga badannya hancur berkeping - keping.
Suara sirine dari mobil ambulance di pelataran gedung membuatnya terkesiap. Sekilas dilihatnya salah sorang petugas medis menutup pintu belakang mobil dari dalam.
Nadia.
***
***
***
__ADS_1