High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 59. I Am Really In A Bad Mood.


__ADS_3

STALINGRAD, SURESNES.


"Putain (sialan)!" maki Max seraya menendang kotak sampah besar di hadapannya dengan wajah kesal. Bunyi stainless steel beradu dengan ujung sepatunya itu cukup keras.


"Putain (f ucking) ...." Max menendangnya lagi. "De merde (s hit)!" Lalu menendangnya lagi.


Ia mengatur napasnya yang memburu. Begitu sedikit tenang, ia melanjutkan langkahnya keluar dari gang.


Max menghentikan langkahnya ketika samar-samar dilihatnya ada tiga orang yang tengah berdiri di sebuah sudut gedung apartemen. Salah satu dari mereka terdesak ke dinding dan dua orang lainnya bersiap untuk menghajarnya.


"Hei!" serunya sembari berjalan mendekat pada tiga orang itu.


"Max!"


Max mendecak. Rupanya Etienne yang sedang diintimidasi oleh André dan salah seorang temannya.


"Wah, kebetulan si Breng sek ini datang." André menyeringai senang. Lalu saling melempar senyum miring dengan temannya. Keduanya mengalihkan perhatian dari Etienne pada Max.


"Kuperingatkan, ya, suasana hatiku sedang buruk," ucap Max sembari melipat kedua lengan di depan dada. Membuat André dan temannya terbahak.


"Uuughh ... aku takut sekali," ejek André membuat gerakan menangkup kedua pipinya dan berpura-pura ketakutan.


Max memberi isyarat dengan dagunya pada Etienne, menyuruhnya untuk mendekat padanya. Pemuda berkulit hitam itu buru-buru melangkah ke arah Max dan berdiri di belakangnya.


Max mengangkat dagunya menatap André dengan tatapan menantang. Sementara pemuda bertubuh tinggi besar itu melangkah mendekat dan langsung melancarkan pukulannya mengincar wajah Max. Namun Max dengan gesit menangkap pergelangan tangan André dan memelintirnya dengan keras hingga pemuda itu meringingis kesakitan. Satu tangan André berhasil meraih kerah jaket Max dan menariknya hingga tubuhnya tersungkur ke depan.


André yang telah berhasil melepaskan cengkraman tangan Max dengan sekuat tenaga menghantamkan kepalan tangannya ke punggung pemuda berambut gondrong itu.


Max terjerembab ke lantai.


André tak berhenti sampai di situ. Diraihnya hoodie Max dan membawanya berdiri lagi. Lalu melancarkan pukulannya kembali. Kali ini mengincar dada Max.


Bughh.

__ADS_1


Max tersungkur. Merasakan rasa nyeri yang sangat di ulu hatinya. Tangannya mengepal. Wajahnya memerah menahan amarah. Ia mengangkat tangannya memberi isyarat pada Etienne yang hendak membantu untuk tetap berada di tempatnya.


"Connard (kepa rat)!" makinya. "T'es mort (mati kau)!" serunya seraya berlari ke arah André dan mendorongnya dengan sekuat tenaga. Tubuh André membentur kotak sampah yang terletak tak jauh darinya, menimbulkan suara gaduh dan juga umpatan kemarahannya.


Max tak memberi kesempatan pada André untuk melancarkan serangan balasan. Ia meraih kerah baju pemuda itu dan mendesaknya ke dinding. Lalu tanpa ampun memukulinya secara bertubi-tubi.


"T'es mort ... t'est mort (mati kau ... mati kau)!" teriaknya sembari terus memukuli André di perut, dada dan juga wajahnya. Tenaga Max begitu besarnya. Entah apa yang merasukinya, ia meluapkan emosinya yang membara.


Si Ceking berusaha memisahkan Max dari André, namun sial baginya, bogem mentah Max mendarat tepat di mukanya. Ia meraung sembari memegangi bibirnya yang pecah dan mengeluarkan darah.


Tak cukup sampai di situ saja, Max kembali menghajar André yang telah terkapar.


"Max ... cukup!" Etienne berseru seraya menahan tangan Max. "Tu peux le tuer (kau bisa membunuhnya)!"


Teriakan Etienne membuatnya tersadar dan mengurungkan niatnya untuk menghadiahkan satu pukulan pamungkas pada André.


Si Ceking membantu André yang sudah tidak berdaya untuk berdiri. Dengan cemas ia memapah temannya itu berjalan menjauhi Max dan Etienne.


Max menatap tajam punggung kedua pemuda itu yang semakin menjauh. Napasnya memburu. Ia menarik lengannya kasar dari genggaman Etienne.


Max menoleh pada Etienne. Lalu mendorong dada sahabatnya itu kasar. "Kenapa baji ngan itu mengganggumu lagi, hah?" bentaknya. "Kau masih berhubungan dengan pacarnya?"


Etienne hanya bisa menggaruk kepalanya. Dari wajahnya, jelas terlihat rasa bersalah di sana.


"Breng sek kau!" maki Max seraya mendorong kembali dada Etienne keras. Lalu melangkah meninggalkan sahabatnya itu dengan penuh kekesalan.


Etienne segera mengejar langkah Max yang sedang menuju ke gedung apartemennya.


"Max ...," panggilnya. "Kau sedang ada masalah?"


Max menghentikan langkahnya. Merogoh saku jaketnya dan mengambil sebungkus rokok di sana. Ia menyalakan sebatang dan menghisapnya dalam-dalam.


"Pergi sana!" hardik Max.

__ADS_1


Etienne menghela napas pelan. Tak ingin mengganggu Max yang sepertinya sedang dalam suasana hati yang buruk, ia pun segera berlalu dari hadapan sahabatnya itu.


Max kembali menghisap rokoknya beberapa kali. Lalu membantingnya ke lantai dan menginjak puntungnya dengan kasar.


***


"Max!"


Wulan mencoba meraih lengan Max yang berjalan cepat meninggalkannya, dengan wajah merah padam menahan amarah.


"Jangan ganggu aku!"


Max menepis tangan Wulan dengan kasar. "Kau seorang pengecut, kau bukan wanita kuat seperti yang aku kira. Kau tidak benar-benar mencintaiku. Aku salah telah jatuh cinta padamu."


"Tolong jangan berkata seperti itu, Max ... dengar dulu penjelasanku!"


"Terlambat ... aku tidak mau berhubungan denganmu lagi. Selamat tinggal, Miss Wulan."


Wulan terbelalak. Ia begitu terkejut melihat Eloise yang datang entah dari mana, meraih tangan Max dan membawa pemuda itu pergi.


"Max!" teriaknya. Namun Max tak mempedulikannya. Ia menggandeng tangan Eloise dan semakin menjauh.


"Non non, ne pars pas (jangan pergi)!" lolongnya.


Wulan duduk bersimpuh dan menangis sejadi-jadinya. Separuh jiwanya seakan pergi meninggalkannya.


Ia meratapi kepergian Max bersama wanita lain.


Sesakit ini rasanya kehilangan bocah bengal itu. Dadanya bagai tertindih oleh batu besar berton-ton beratnya.


"Je ne peux pas vivre sans toi (aku tidak bisa hidup tanpamu)," ucapnya lirih.


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2