
"Baiklah, kutinggalkan kalian berdua di sini."
Adrienne mencium pipi Christophe dan juga Wulan. Lalu melambai kecil pada keduanya sebelum akhirnya melangkah keluar restauran.
"Sudah lama tinggal di sini? Suresnes, c'est ca (benar kan)?" tanya Christophe membuka pembicaraan.
"Oui, cinq ans (ya, lima tahun)." Wulan mengaduk french onion soupnya yang mulai dingin.
"Rekan Guru Adrienne?"
"Ya, aku mengajar Bahasa Inggris."
Christophe mencebik dan mengangguk-angguk. "Trés cool (bagus sekali)."
Kemudian pria itu mulai menceritakan tentang dirinya yang bekerja sebagai broker di La Defense, distrik bisnis besar untuk kota Paris. Wulan hanya mendengarkan dan sesekali menimpali. Ia tak begitu paham dengan dunia bisnis. Dan Christophe adalah tipikal pria yang tidak terlalu suka humor. Obrolannya lurus dan serius.
Hampir tiga puluh menit Christophe hanya membicarakan dirinya sendiri tanpa menanyakan apapun tentang Wulan selain pertanyaan basa-basinya beberapa saat lalu. Membicarakan tentang gaya hidupnya, apartemen cozynya, pendapatannya, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. Sehingga Wulan menyimpulkan bahwa Christophe adalah tipe pria yang narsistik.
Wulan menanggapi sebisa mungkin semua yang pria itu perbincangkan dengannya sembari menghabiskan mangkuk soupnya. Namun otaknya lebih memilih untuk berkelana entah kemana. Ia berpikir, lebih menyenangkan berbicara panjang lebar tentang lukisan dengan Max, atau menghadapi kejahilan anak itu. Ia memang terlihat kesal setiap kali Max melakukan hal-ha tak senonoh padanya, namun, hal itu sukses membuat dadanya merasakan gelenyar aneh yang membuat pipinya terkadang bersemu merah.
"Wulan? Tu m'écoutes ou pas (kau mendengarkanku atau tidak)?"
Suara Christophe membuyarkan lamunannya. "Ah, oui, oui, bien sûre (ya, ya, tentu)." Wulan tergagap dan memaksakan senyumnya.
"Kuantar kau pulang?" Christophe menghabiskan Salmon en papillotenya dan mengambil beberapa lembar euro lalu meletakkannya di atas meja.
Wulan hanya mengangguk. Lalu beranjak dari kursinya dan mengikuti Christophe melangkah keluar restauran.
Pria itu mempersilahkan Wulan untuk masuk ke dalam mobil Alpine A110 SportX warna putihnya yang terparkir di depan restauran. Tak lama mobil mewah itu pun melaju di jalanan Rue De Calvaire yang malam itu terlihat ramai.
.
.
"Merci," ucap Wulan ketika mobil Christophe berhenti di depan gedung apartemennya.
"Shall we meet again (bisa kita bertemu lagi)?" tanya pria itu dengan aksen Perancisnya yang kental.
"Ya, tentu," jawab Wulan. Meskipun ia tidak terlalu yakin apakah ingin bertemu dengan Christophe lagi atau tidak.
"Cool (bagus)."
"Á bientôt (sampai jumpa)," ucap Wulan sembari membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Ia membungkuk untuk melambai pada Christophe melalui jendela mobil dan menunggunya hingga berlalu dari hadapannya.
__ADS_1
Wulan membalikkan badan dan berjalan menuju pintu utama. Ketika ia dikejutkan dengan sosok berambut gondrong yang tengah memasang wajah masamnya dan berjalan mendekat ke arahnya.
"Bagaimana kencanmu?"
Mata Wulan membulat. "Kenapa kau ada di sini, Max? Menguntit lagi?" tuduhnya.
Max melipat kedua lengannya di depan dada. Wajahnya terlihat angker. "Aku tanya bagaimana kencanmu?"
Wulan mendecak kesal. Namun entah kenapa dalam hatinya ia senang melihat sosok Max hadir di depan matanya.
"C'est pas mal (lumayan)."
"Aku tidak suka, Miss."
"Memangnya kenapa?"
Max mengacak rambutnya kasar. "Kau sengaja ya ingin membuatku cemburu?"
Wulan mengerenyitkan dahinya. "Memangnya aku salah pergi dengan pria mana pun yang aku mau?"
"Yaa ... tidak salah. Tapi ...." Max menghela napasnya. "Kenapa pria itu bukan aku?"
"Kau belum termasuk pria dewasa yang bisa kuajak berkencan, Max."
"Ohya? Bagaimana caranya?" tantang Wulan. "Dengan membuatku dipecat dari pekerjaanku?"
"Selalu itu yang jadi alasanmu!" seru Max kesal. "Kita bisa menyembunyikan hubungan sampai aku lulus."
Wulan terbahak mendengar perkataan Max. "Kau sungguh-sungguh berpikir aku menyukaimu?"
"Just stop your bullshit (hentikan saja omong kosongmu), Wulan ... kau menyukaiku. Titik!"
Wulan terdiam. Ia bahkan kehabisan kata untuk menyangkal ucapan Max.
"Christophe ... kulihat dia pria yang kaya. Mobilnya bagus." Max berucap sinis.
"Apa maksudmu berkata seperti itu, Max?"
Max tersenyum miring. "Iya. Aku tidak bodoh. Semua wanita menginginkan pria yang mapan, bukan?" Ia mendekat ke arah Wulan. "Aku sedang mengusahakannya, Miss. Kau tahu? Aku sudah terbiasa menghidupi Ayahku yang breng sek. Membayar sewa apartemen dan kebutuhan lainnya." Tangan Max terkepal. "Aku bisa memperlakukanmu seperti seorang Ratu."
"Jadi kau mengira aku melihat seorang pria dari uangnya?" Wulan meninggikan suaranya. Ia merasa tersinggung dengan perkataan Max.
"Aku sedang berbicara tentang wanita pada umumnya, Miss."
__ADS_1
"Anak bengal!" maki Wulan. "Selesaikan saja sekolahmu dengan benar. Setelah itu cari pekerjaan dan hiduplah dengan normal."
"Berhentilah menganggapku masih seperti anak-anak. Aku muak!" seru Max seraya menunjuk ke arah Wulan. "Hidup mengajariku dengan keras, Miss. Aku tahu bagaimana bertanggung jawab dengan semua pilihan yang telah aku ambil dalam hidupku. Aku jauh lebih dewasa dari umurku sendiri. Dari dulu aku dituntut untuk itu!"
Wulan terdiam. Namun terdengar napasnya naik turun tidak beraturan.
"Kau mau aku bagaimana? Akan kuturuti. Asal jangan kau sangkal lagi perasaanmu padaku, Miss."
Wulan menelan ludahnya. Ia tak menyangka kata-kata itu akan meluncur dari mulut Max. Anak itu terlihat frustrasi, namun memendam harapan yang begitu tinggi. Padanya.
"Aku ingin merasakan bahagia sedikit saja, Miss. Denganmu."
"Max ... aku ..." Wulan merasa lidahnya tiba-tiba kelu. Bagaimana bisa ia kalah berargumentasi dengan anak umur enam belas tahun.
Ponsel di saku jaket Max berbunyi. Membuat ketegangan di antara mereka sedikit reda. Diraihnya benda tipis persegi panjang itu dan memeriksanya.
Eloise.
Gadis itu menelponnya pada saat yang tidak tepat. Ia ragu-ragu untuk mengangkat teleponnya. Namun Wulan sempat melihat nama Eloise di layar ponsel Max.
"Kenapa tidak kau angkat?" tanya Wulan. Kini ia yang menyilangkan kedua lengan ke depan dadanya.
"Tidak penting," sahut Max cepat. Lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam kantongnya.
"Angkat saja, Max."
"Tidak mau!"
Wulan menghela napas dalam-dalam. "Max, kurasa Eloise lebih cocok untukmu. Umur kalian berdua tidak terpaut jauh. Kalian mempunyai hobby yang sama. Dan dia ... gadis yang cukup cantik."
"Hentikan, Miss. Aku tidak mau siapa pun kecuali kau."
Wulan mengangkat kepalanya. Memandang langit gelap sejenak. Lalu menggeleng pelan.
"It won't work between us (hubungan kita tidak akan berhasil), Max ...." Wulan berucap lirih sembari mendorong pintu besar bercat hijau di depannya dan melangkah masuk. Ia menarik dua handle pintu untuk menutupnya. Dipandangnya wajah Max sejenak dari sela-selanya sebelum akhirnya ia benar-benar menutupnya rapat-rapat.
Ia berjalan gontai menaiki anak tangga menuju ke apartemennya.
Diusapnya pelan cairan bening yang mengalir deras dari pelupuk matanya.
***
***
__ADS_1
***