High School Bad Boy

High School Bad Boy
Part 85. To Love, Laughter, And Happily Ever After (The End).


__ADS_3


SORBONNE UNIVERSITY, PARIS.


15 Juillet 2027.


Wulan berlarian memasuki halaman luas gedung berkubah biru yang ramai. Ia mencari-cari sosok jangkung yang mungkin sekarang tengah dibalut oleh toga.


Hari ini hari kelulusan Max, dan Wulan terlambat menghadirinya karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan di Jean-Baptiste Say. Tertahan oleh Madame La Principale yang tidak mau tahu akan urusannya.


"Merde (sialan)!" makinya ketika sosok Max belum juga ia temukan. Ia menepuk dahinya berkali-kali. Bagaimana bisa ia melewatkan moment sepenting ini.


"Mencariku?"


"Oh, Mon Dieu (ya tuhan)!" ucapnya sembari membalikkan badannya.


Wulan menaikkan alisnya. Sosok pemuda tampan di hadapannya ini membuatnya terbengong. Rambutnya yang tak terlalu panjang disisir rapi ke belakang, tubuhnya dibalut setelan jas hitam yang elegan, lengkap dengan dasinya.


Tentu saja Wulan sudah sering melihat Max yang kini telah menjelma menjadi seorang pria berumur 22 tahun. Namun hari ini, kekasihnya ini terlihat begitu memesona.


"Max ... je suis désolé (maafkan aku)." Wulan hampir melupakan rasa bersalahnya pada pemuda itu. "Félicitation (selamat)," ucapnya seraya menghambur ke pelukan Max. Namun ia hanya memeluk pemuda itu sekilas. Dikarenakan tatapan-tatapan jahil dari orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya.


"Kau tidak mau menjelaskan kenapa kau terlambat? Bahkan sangat sangat terlambat!" ujar Max dengan muka masamnya.


"Iya, maafkan aku, Max, aku ...."


"Aku hanya bercanda," potong Max sembari tergelak.


Wulan memutar kedua bola matanya sebal. Namun ia tetap merasa bersalah.


"Allez (ayo)," ujar Max sembari menggandeng tangan Wulan. Membawanya keluar dari halaman gedung utama Sorbonne.


"Kemana?" tanya Wulan.


"Menikah," jawab Max dengan entengnya.


"Quoi (apa)?" Wulan membulatkan matanya. "Kau ini jangan sembarangan!" gerutunya.


"Aku serius," sahut Max. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berbeludru warna hitam. Ia membuka kotaknya yang berisi sebuah cincin solitaire emerald cut berbentuk mata berlian dengan potongan berlian berdesain vintage, dan berlutut di hadapan Wulan.


"Mau menikah denganku tidak, Bébé?" tanya Max dengan wajah jahilnya yang menggemaskan.

__ADS_1


"Yang benar saja, Max ... kau melamarku di pinggir jalan seperti ini?" Wulan memijit keningnya. Beberapa orang yang tengah melintas memberikan senyuman mereka.


"Apa bedanya di pinggir jalan, di restauran mewah, di atas ranjang, di dalam hutan? Yang penting adalah di sini," ucap Max sembari menyentuh dadanya. "Cepatlah jawab, Wulan, lututku sakit," keluhnya.


Wulan menghela napasnya pelan. "Sebentar aku pikir-pikir dulu." Ia memanyunkan bibirnya.


"Okay, merci ... kau tunanganku sekarang," Max bangkit dari posisi berlututnya dan menyematkan cincin ke jari manis Wulan dengan paksa.


"Hei, aku belum menjawabnya ... kau tidak tahu aku akan menja ... emmmh." Kata-kata Wulan urung keluar karena terhalang oleh bibir Max yang kini telah menempel erat di bibirnya.


"Aku sudah tahu jawabannya," kekeh Max sembari menggandeng Wulan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.


"Jadi, apa saja yang dibutuhkan untuk pernikahan?" tanya Max sembari mengemudikan mobilnya masuk ke jalan raya.


"Maksudmu berkasnya?"


Max mengangguk.


"Banyak," jawab Wulan. "Passport, Akta kelahiranku, Surat Ijin Menikah Orang Tua, Surat Keterangan Belum Menikah atau Surat Cerai. Semua itu harus dilegalisir di Kementrian Hukum dan Ham di Jakarta dan harus diterjemahkan dalam Bahasa Perancis," terang Wulan.


Max menghembuskan napasnya kasar. "Kalau untukku?"


"Passport, alamat terkini dan pekerjaan."


"Pergi ke kedutaan Indonesia di Paris untuk mengajukan Certificate de Coutume. Surat akan selesai dalam lima hari dan kita bawa ke Le Mairie (balai kota) bersama dokumen yang lain," lanjut Wulan. "Dan kita juga harus memesan tanggal pada Balai Kota enam bulan sebelumnya."


"Wow!" Hanya itu yang terucap dari mulut Max.


"Alors (lalu)?" tanya Wulan. "Jadi menikah atau tidak?"


"Perjuangan cinta kita cukup berat, Wulan ... aku tidak mungkin menyerah kalau hanya melawan berkas-berkas konyol," kekeh Max.


Wulan menyunggingkan senyum bahagianya. Digenggamnya erat satu tangan Max. Pemuda itu membalasnya dengan mencium punggung tangannya dengan mesra.


*


*


*


PARIS, FRANCE.

__ADS_1


14 fevrier 2028.


" ... pada cinta, tawa, dan bahagia selama-lamanya ...."


"Aku nyatakan kalian sebagai suami isteri ...."


"Bisa kucium dia sekarang?" tanya Max pada pria paruh baya berseragam toga di hadapannya.


Pria itu mengangguk.


Max memandang Wulan tanpa berkedip. Wanita di hadapannya ini adalah wanita yang ia perjuangkan selama enam tahun belakangan ini, wanita yang begitu tampak cantik dengan balutan gaun putih vintage sederhana dan riasan tipis yang natural, wanita yang beberapa detik lalu resmi menjadi pendamping hidupnya.


Ia menghadiahi Wulan sebuah ciuman lembut disaksikan oleh orang-orang terdekat mereka, Ludovic, Ibu Wulan yang datang dari Indonesia, Patrick, Adrienne, Nyonya Kareem, Etienne, Frederick dan Chen.


Max menggenggam erat tangan Wulan, keluar dari Balai Kota sebagai sepasang suami isteri yang siap menghadapi apa pun yang menghadang di depan mereka.


Bahwa ini bukanlah akhir dari sebuah cerita cinta yang penuh perjuangan.


Ini adalah babak baru. Menjaga dan mempertahankan. Bagaimana caranya jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama. Bagaimana caranya saling membenci namun disaat yang bersamaan, tak bisa hidup tanpa satu sama lain. Saling memaki, namun mengakhiri hari dengan pelukan hangat.


To love, laughter and happily ever after.


THE END.


*


*


*


Hallo teman-teman, terimakasih sudah mengikuti novel ini dari awal hingga akhir. Yang sudah vote, hadiah, komen, like, aku ucapkan beribu-ribu terimakasih.


Untuk geng gendeng Padepokan, terimakasih banyak, kalian terbaik. Aku cinta kalian, sungguh. Nggak bohong 😁😁😁


Sampai jumpa di novel berikutnya.


Kita jalan-jalan ke Norwegia ayukkkkk ....


Aku mewakili Max dan Wulan, mohon pamit.


Big Hug

__ADS_1


Lady Magnifica.


__ADS_2