High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 44. Where We heading?


__ADS_3

Max masih dalam posisi memeluk Wulan ketika membuka matanya. Ibu Gurunya itu sepertinya masih terlelap, terdengar dari hembusan napasnya yang naik turun dengan teratur.


Jam dinding menunjukkan pukul dua belas lebih tiga puluh menit. Cukup lama ia tertidur. Sementara Wulan belum nampak tanda-tanda akan membuka mata dalam waktu dekat.


Ia melepas pelukannya pada Wulan dengan hati-hati. Lalu turun dari ranjang, berniat untuk menghangatkan secangkir teh yang belum sempat Wulan minum.


Max melangkah keluar dari kamar dan menuju ke dapur. Memasukkan kembali cangkir teh yang dibawanya ke dalam microwave. Satu menit lamanya, done.


Ia masuk kembali ke dalam kamar dan meletakkan cangkir di atas nakas. Kemudian ia duduk bersila di lantai, dengan kedua tangan ia silangkan di tepian ranjang untuk menumpu dagunya. Dipandanginya wajah Wulan yang begitu dekat di depannya dengan mata berbinar.


"Apa aku salah, Miss. Kalau jatuh cinta dengan wanita yang jauh lebih tua dariku?"


"Ini pertama kalinya aku jatuh cinta. Teman-teman seumuranku, mereka bahkan sudah tidak virgin lagi," kekehnya.


"Aku tahu, umurku baru tujuh belas tahun. Orang bilang seharusnya aku fokus dengan masa depan. Mungkin maksud mereka aku tidak seharusnya fokus ingin meniduri Guruku sendiri."


"Hell no, Miss. Aku suka padamu bukan karena aku ingin menidurimu. Ya, kalau memang itu terjadi, aku anggap sebagai bonus," gelaknya.


Max tertawa pelan. Menatap Wulan yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Kau tahu, Miss ... I'm an old soul trapped in a young body (aku adalah jiwa yang sudah tua, terperangkap dalam tubuh yang masih muda)."


Wulan membuka matanya perlahan. "Sudah selesai curahan hatinya?" tanyanya dengan suara parau.


Max meringis sembari menggaruk kepalanya. "Dari tadi kau sudah bangun, ya, Miss?"


"Tidak. Tapi aku sempat mendengar kata-kata virgin, meniduri, bonus," jawab Wulan sembari memutar kedua bola matanya. Ia lalu menyingkirkan selimut yang menutupi badannya. Lalu duduk di tepian ranjang.


"Demammu sudah pergi?" tanya Max. Ia pun ikut duduk di samping Wulan.


Wulan menyentuh kening dan leher dengan punggung tangannya. Ada sedikit keringat di sana. Badannya pun sudah terasa sedikit enak.


"Sepertinya sudah."


Max mengambil cangkir di atas nakas dan menyodorkannya pada Wulan. "Silahkan minum tehnya, Miss."


"Merci," ucap Wulan sembari meraih cangkir di tangan Max. Lalu menyeruputnya perlahan.

__ADS_1


Keduanya terdiam sejenak. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Miss, pernah dengar cerita Presiden Emmanuel Macron?" tanya Max tiba-tiba. Menyebutkan Nama Presiden Perancis yang menjabat di periode ini.


Wulan menaikkan alisnya. "Kenapa dia?"


Max terkekeh. "Kau tahu berapa beda umurnya dengan Brigitte Trogneux, Ibu Negara?"


Wulan menggeleng.


"Vingt cinq ans (dua puluh lima tahun)."


"Ah, bon (ohya)?"


"Dulu, Brigitte guru Bahasa Perancis dan Latin di Lycée (SMA) La Providence. Umurnya waktu itu empat puluh tahun. Emmanuel, anak SMA berumur lima belas tahun. Di sanalah mereka bertemu, pacaran, dan membuat shock semua orang. Big affair."


"Jadi kau terinspirasi dari kisah cinta Presidenmu itu?" Bibir Wulan mencebik.


Max tergelak. "Tidak, Miss. Hanya kebetulan saja," ujarnya. "Tapi jujur saja aku memang terinspirasi dengan kesetiaan Emmanuel pada Brigitte. Karena waktu skandal terkuak, mereka harus berpisah. Dan ada kalimat yang diucapkan Emmanuel pada Briggite yang membuatku kagum." Max mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu mengutak-atik layar sebentar dan memperlihatkannya pada Wulan.


"Aku tidak hafal kata-kata tepatnya. Jadi harus browsing terlebih dahulu," gelaknya.


Begitu yang terbaca oleh Wulan dari layar ponsel Max.


"Dan Emmanuel menepati janjinya hingga sekarang. Voila (begitulah)," lanjut Max.


Wulan meneguk tehnya guna membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


"Ngomong-ngomong, Miss ...." Max melepas karet yang mengikat rambut Wulan yang sudah berantakan dengan hati-hati. Lalu menyisirnya dengan jemari untuk merapikannya. "Kenapa kau mau berkencan dengan si Christophe jelek itu?"


Wulan yang tengah menikmati sentuhan jemari Max di rambutnya seketika mendelik kesal. "Siapa yang berkencan?" hardiknya. "Lagi pula dia tidak jelek."


Max mendecak. "Seleramu tentang pria buruk sekali, Miss. Kecuali aku pastinya," kekehnya.


Wulan mencibir. "Dasar sombong!" makinya sembari mendorong bahu Max. "Kau bukan tipeku."


Max terbahak. "Ohya? Kau yakin?" Ia memicingkan matanya menatap Wulan. "Lihat kemari, Miss."

__ADS_1


"Tidak mau," sahutnya cepat. Ia harus menghindari sepasang mata biru itu. Kalau tidak ia akan mendapat masalah.


"Regarde-moi, s'il te plait (tolong lihat aku) ...."


Dengan malas Wulan menuruti permintaan Max. Ia menatap sepasang mata biru itu dengan hati berdebar.


Max mengambil cangkir yang sepertinya telah kosong di tangan Wulan dan menaruhnya di atas nakas. Ia menggeser duduknya lebih dekat dengan Wulan.


"Kau mau satu pelukan lagi, Miss?" tawar Max sembari menahan senyumnya.


"Aku sudah sembuh," jawab Wulan dengan kikuknya.


"Kalau ciuman bagaimana?" tawar Max kembali.


Wulan mendecak dan hendak meraih rambut Max namun dengan sigap pemuda itu menangkap pergelangan tangannya. Lalu melingkarkan lengan Wulan ke pinggangnya. Tangan kirinya meraih tengkuk Wulan sementara jemari kanannya meraih dagu Ibu Gurunya itu dan mendekatkan pada wajahnya. Semakin lama semakin dekat. Wulan hanya bisa memejamkan matanya. Ia tak ingin menolak lagi. Biarlah, apa pun yang akan terjadi beberapa detik kemudian, terjadilah.


Ia merasakan ada sentuhan bibir di pipinya, lalu keningnya, turun ke mata, hidung lalu terakhir bibirnya. Begitu lembut. Bahkan mulutnya pun tidak dipaksa untuk membuka. Ia berinisiatif untuk sedikit membuka mulutnya, mempersilahkan bibir Max yang mungkin akan menelusurinya lebih dalam. Namun tidak terjadi apa-apa.


Wulan membuka kedua matanya. Senyum manis Max terpampang di hadapannya. Senyum manis nan tengil.


"Kau sedang menunggu apa, Miss?" tanya Max membuat wajah Wulan seketika memerah. Ia malu bukan main telah membayangkan akan dihadiahi ciuman panas oleh anak bengal itu.


Wulan menutup kedua mata Max dengan telapak tangannya. "Jangan melihatku seperti itu dan jangan pernah berpikir tadi aku ... aaargh," erangnya kesal bercampur malu sembari memukul-mukul ranjangnya.


Max melebarkan senyumnya sembari meraih telapak tangan Wulan, lalu menggenggamnya erat.


"Kau baru sembuh, Miss. Aku tidak mau membuatmu capai," ujar Max. "Aku takut kalau aku melakukan ... ciuman à la francais, aku tidak bisa menahan diriku untuk ...."


"Cukup, Max! Jangan kau teruskan!" pekik Wulan sembari menutup kedua telinganya. Hal itu membuat Max tak bisa menahan tawanya.


Namun sejurus kemudian diraihnya tubuh Wulan dan ia bawa ke dalam pelukannya. Ia menghujani pundak Ibu Gurunya itu dengan kecupan-kecupan lembut.


***


***


***

__ADS_1


Ketawa ah ... 🤣🤣🤣🤣😁😁😁


__ADS_2