
"Kudengar kau pindah mengajar ke kelas 11?"
Wulan yang tengah berjalan keluar gedung utama sekolah menoleh pada Damien yang telah berada di sampingnya.
"Ya," jawab Wulan tanpa menghentikan langkahnya.
"Pourquoi (kenapa)?"
"Aku tidak bisa mengatasi kelas 12."
Damien tersenyum miring. "Atau kau hanya ingin terlihat seperti kau tidak ada hubungan apa-apa dengan Maximilian?"
"Kau ini bicara apa?"
"Allez (ayolah), Wulan. Mengaku saja, kau berhubungan secara diam-diam dengan anak itu, bukan?"
Wulan menghentikan langkahnya. Lalu menghadap pada Damien. "Jangan menuduh sembarangan, Damien."
Damien terbahak. "C'est la réalité (kenyataan)."
"Kau tidak berkaca pada dirimu sendiri rupanya." Wulan yang mulai kesal dengan perkataan Damien meninggikan suaranya. "Kau dan Nadia ...."
"Hooo ... kau masih termakan kata-kata anak bengal itu?"
Wulan mengedikkan bahunya. "Tidak penting aku percaya atau tidak. Karena hanya kau yang tahu, Damien. Lagi pula semua yang kita perbuat pasti ada konsekwensinya, bukan? Entah sekarang atau nanti?" ucapnya seraya melanjutkan langkah.
Ia meninggalkan Damien dan berjalan keluar pintu gerbang sekolah.
Angin sepoi-sepoi yang berhembus siang itu menerbangkan anak-anak rambutnya. Hawa dingin pun menampar pipinya seketika. Membuatnya menaikkan letak syalnya hingga menutupi dagu.
Wulan merasa ada seseorang yang mengikuti langkahnya menuju setasiun bawah tanah. Ia pun menoleh dan mendapati Max menggerak-gerakkan tangannya membuat lambaian kecil untuknya. Dengan cengiran tengilnya, tentu saja.
"Sedang menguntit?" tanya Wulan.
"Tidak," sahut Max cepat. "Bukankah kita satu arah?"
Wulan memutar bola matanya. Ia sama sekali tak percaya dengan perkataan anak itu.
"Si Breng sek itu mengganggumu, Miss?" tanya Max yang kini telah berjalan di samping Wulan.
"Non!"
"Kalau dia mengganggumu, bilang padaku, ya? Kuhajar dia nanti."
__ADS_1
Wulan mendecak seraya mendorong pelan bahu Max. Membuat pemuda itu terkekeh.
"Kau tahu, Miss?" tanya Max. Wulan menaikkan alisnya. "Ingin sekali aku memeluk tubuhmu itu," ujarnya sembari menelusuri tubuh Wulan dengan matanya.
Wulan mendesis. Lalu menarik segenggam rambut Max hingga pemuda itu mengaduh. "Dasar mesum!" hardiknya.
"Petit câlin (pelukan kecil), Miss," protes Max sembari mengelus kepalanya.
Wulan mencebikkan bibirnya. Ia menuruni tangga stasiun Métro Michel-Ange Ateuil.
"Atau kau ingin melanjutkan adegan kita malam itu, Miss?" ujar Max membuat kedua mata Wulan mendelik. "Tapi jangan ucapkan nama mantan suamimu yang jelek itu di depanku, ya?" gurau Max sembari memasukan T Tiketnya ke lubang tiket. Lalu buru-buru mengejar Wulan menuju peron.
"Terima tawaranku?" tanya Max sembari memiringkan badannya dan memandang pada Wulan.
"Tawaran apa?"
"Melanjutkan adegan ... aauuch!" pekik Max ketika tas selempang Wulan mendarat di ujung kepalanya. Namun sejurus kemudian ia kembali terkekeh.
"Mulutmu itu kurang ajar sekali, ya?" hardik Wulan dengan wajah tegang dan bersemu merahnya.
"Memang mulutku kurang ajar, Miss," ujarnya sembari menyentuh bibirnya. "Bagaimana kalau kau beri pelajaran saja pada mulutku ini?" ujarnya sembari memonyongkan mulutnya meminta cium pada Wulan.
"Arrete (hentikan), Max!" bentak Wulan sembari mendorong wajah Max menjauh.
"Duduk di sini, Miss," kata Max sembari menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya.
"No!" sergah Wulan dengan wajah masamnya.
Max mendecak. Lalu ia beranjak dari duduknya dan berpindah ke samping Wulan. Lengannya ia luruskan di belakang punggung Wulan. Membuat Ibu Gurunya itu jengah.
"Santai saja, Wulan," ujar Max ketika melihat Wulan terlihat canggung. Beberapa kali ia memperbaiki posisi duduknya. Dan bergeser sedikit menjauh dari Max. "Kita kan sudah hampir melakukannya ...."
"Max!" potong Wulan dengan cepat. Ia menoleh ke sana kemari memastikan tidak ada orang yang mendengarkan pembicaraan mereka. Hanya ada beberapa penumpang yang masing-masing sibuk dengan ponsel mereka.
Max tertawa kecil. "Lihat pipimu merah, Miss."
Wulan buru-buru memegang pipinya, lalu menutupnya dengan syal. Membuat Max terkikik melihat tingkah canggung Ibu Gurunya itu.
Ponsel di saku Wulan bergetar. Ia segera mengambilnya dan memeriksa layar. Telepon dari Adrienne.
"Oui (ya), Adrienne?" sapa Wulan begitu ia tersambung ke seberang.
"Hei, Wulan, temanku, Christophe, mengajak bertemu nanti malam. Aku akan menemanimu menemuinya."
__ADS_1
"Secepat itu?" tanya Wulan sembari melirik ke arah Max.
"Ya, aku mengabarinya barusan dan dia setuju untuk berkenalan denganmu."
"D'accord (oke), kabari aku nanti," ujar Wulan. Lalu menutup teleponnya. Ia menyimpan kembali ponsel ke dalam saku mantelnya.
"C'est qui Christophe (siapa itu Christophe)?" tanya Max. Rupanya suara Adrienne terdengar jelas olehnya. Membuat wajahnya kini menjadi muram.
"Teman Miss Adrienne," jawab Wulan singkat.
"Mau apa dia?"
"Bukan urusanmu, Max." Wulan beranjak dari duduknya ketika mendengar pengumuman pemberhentian di stasiun dekat apartemennya.
"Miss?" Max menuntut jawaban Wulan segera. Namun Wulan hanya menggeleng dan melenggang keluar dari pintu otomatis begitu kereta berhenti.
Di peron, Wulan menoleh ke belakang dan memandang Max dari luar kaca jendela métro. Anak itu pun tengah menatapnya dengan wajah merengut.
***
AU PÉRE LAPIN RESTAURANT, SURESNES.
"Kemana dia?" Adrienne bergumam sembari melirik arloji di pergelangan tangannya. Ia dan Wulan sudah dua puluh menit menunggu kedatangan Christophe. Pria yang akan dikenalkan Adrienne pada Wulan.
Wulan tersenyum kecut. Ia memandangi jalanan Rue Du Calvaire yang ramai oleh mobil yang lalu lalang. Ia menopang dagunya dengan telapak tangan sembari menikmati pemandangan pepohonan besar tanpa daun yang tumbuh di sepanjang jalan.
"Ah, itu dia," ujar Adrienne dengan mata berbinar ketika seorang pria melangkah masuk ke dalam restauran.
"Désole (maaf), aku telah membuat kalian menunggu lama." Si pria yang sudah pasti adalah Christophe itu berucap sembari mencium pipi Adrienne sekilas.
Christophe, dia tidak terlalu tampan, namun terlihat menarik dengan rambut kecokelatan yang dipotong rapi, mata abu-abu, memakai jas warna biru tua yang membalut t-shirt putihnya. Dandanan khas pria Paris yang smart-casual.
"Christophe ... c'est Wulan. Wulan ... c'est Christophe." Adrienne bergantian memandang pada Wulan dan Christophe.
Christophe tersenyum pada Wulan dan menyalaminya.
"Elle est belle (dia cantik)," ucapnya pada Adrienne, namun tak melepas pandangannya dari Wulan.
***
***
***
__ADS_1