
LES DEUX MAGOTS, LES MARAIS, PARIS.
Wulan memasang wajah masamnya sembari melipat kedua lengan di depan dada. Di hadapannya duduk Max dengan wajah memar di bagian sudut mulutnya.
Cafe di seberang Museum Picasso berdesain bohemian tempat keduanya berada sekarang tampak lengang.
"Suka sekali membuat keributan, ya?" sindir Wulan.
Max meringis sembari mengelus tengkuknya.
"Suka sekali ya membuat wajahmu memar begitu?" gerutu Wulan.
Max menutupi sudut mulutnya yang memar dengan anak rambutnya.
"Tapi aku masih terlihat tampan, kan, Miss?" tanya Max memasang wajah polosnya.
"Ya, ya," cebik Wulan. "Kau punya masalah apa dengan André Aubert?" tanyanya kemudian.
"Urusan lelaki."
Wulan mendecak. "Anak ini!" hardiknya gemas.
"Aku hanya ingin menghajarnya saja, Miss."
Wulan menggeleng pelan. Selalu saja begitu jawaban Max. Dahulu, ketika menghajar Damien pun ia tidak mau menjawab dengan jujur apa alasannya.
Ia meneguk segelas champagne flutenya. "Jangan-jangan kau hanya ingin mencari alasan untuk berurusan dengan Miss Jolene Dupont, ya?" Wulan memicingkan matanya, menatap curiga pada Max.
Pemuda itu terbahak. "Mais non, noon (ya tidaklah)," sanggah Max.
"Elle est belle (dia cantik), Max."
"Kau lebih cantik."
Wulan mencebik. "Bu llshit (omong kosong)!"
"C'est vrai (beneran), Miss," ujar Max sembari menyesap whiskey tumblernya. "Tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk mencari perhatian Miss Dupont."
__ADS_1
"Kalau dia menyukaimu bagaimana?" cecar Wulan.
Max tergelak. "Apa memang wanita seaneh ini? Selalu ketakutan dengan hal-hal yang belum atau bahkan tidak akan terjadi?"
"Hanya seandainya, Max. Seandainya," terang Wulan.
"Eemmmm ...." Max berpikir sejenak. Lalu menarik sudut bibirnya. Tiba-tiba terlintas dalam benaknya untuk menggoda Wulan. "Memang dia punya dada yang bagus. Mungkin akan aku pertimbangkan ...."
Wulan membulatkan matanya tak percaya. Ia segera beranjak dari duduknya, mengambil dua lembar uang pecahan dua puluh dan sepuluh euro dari dompetnya, lalu membantingnya ke atas meja.
"Miss ... aku hanya bercanda," ujar Max sembari mengambil uang milik Wulan dan menggantinya dengan uang miliknya lalu ia meletakkannya di atas meja.
"Miss, tunggu!" serunya sembari mengejar Wulan yang berjalan meninggalkan kedai dengan muka kesal. "Uangmu, Miss!" Max memasukkan uang ke dalam tas Wulan dan meraih lengan Ibu Gurunya itu. Memaksanya untuk menghentikan langkah.
"Jangan marah, Wulan, aku hanya bercanda." Kini Max menyesali kejahilannya demi melihat wajah Wulan yang cemberut.
"Kau memperhatikan dada Miss Jolene Dupont?" hardik Wulan kesal.
"Dadamu lebih bagus, Miss." Sial, sepertinya Max salah bicara. Wajah Wulan kini bertambah angker.
"Kenapa kau bisa membandingkannya?"
"Miss, percayalah, aku hanya ingin menggodamu. Maafkan aku," pinta Max sungguh-sungguh. "Aku tidak tahu dada Miss Jolene bagus atau tidak. Maksudku, aku tidak peduli," terangnya.
Wulan menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Ayo, Miss, kita pergi ke tempat Patrick, aku ingin menunjukkan satu lukisan padamu."
Tanpa menunggu persetujuan Wulan, Max menggandeng tangannya dan membawanya menuju galeri Patrick yang berada beberapa blok dari tempat itu.
Wulan hanya menurut saja. Sepanjang perjalanan menelusuri sidewalk yang ramai oleh para turis, ia hanya diam saja. Namun ia tak melepaskan gengaman tangan Max. Hingga keduanya sampai di galeri Patrick dan meminta izin pada pria tua itu untuk pergi ke ruang atas.
"Lihat, Miss. Aku membuat lukisan untukmu."
Max menunjukkan sebuah lukisan wanita bergaun hitam yang tengah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Ini aku?" tanya Wulan. Perlahan ia mulai melupakan kekesalannya pada pemuda itu.
Max tersenyum sembari mengangguk. "Mentah dan rapuh."
__ADS_1
Wulan mengerenyitkan dahinya. "Seburuk itukah aku? Aku terlihat sangat putus asa."
Max menghela napasnya panjang. Lalu menyiapkan kursi untuk Wulan dan mempersilahkannya untuk duduk. Kemudian ia mengambil kursi untuk dirinya sendiri dan duduk di samping Wulan. "Ketidakberdayaan itu bukan sesuatu yang buruk, Miss," ujarnya.
Wulan meraba permukaan kanvas itu perlahan. Menelusuri inci demi inci goresan cat hitam itu.
"Semua orang pernah atau akan berada di titik nadir," lanjut Max. "Tidak apa-apa kalau kau ingin menangis, mengutuk, marah, merasa dunia tidak adil ... apa pun. Itu alamaiah. Itu adalah reaksi normal terhadap hal tidak menyenangkan yang terjadi padamu. Tapi, jika kau sudah bisa beradaptasi dengan rasa sakit, semua menjadi ringan untuk dijalani."
Max mengikuti gerakan Wulan meraba kanvas dengan seksama. "Yang kutangkap di atas kanvas ini adalah sebuah reaksi, sebuah proses adaptasi pada rasa sakit."
Wulan menyunggingkan senyumnya. Matanya masih menelusuri lukisan dirinya itu dengan takjub.
"Semua yang terjadi di alam semesta ini berkesinambungan, Miss ... bersinggungan satu sama lain. Ada kesedihan, ada kebahagian, ada kebaikan ada keburukan, ada kelahiran, ada kematian. Balance (seimbang). Manusia dengan segala permasalahannya hanyalah bagian sangat kecil dari puzzle alam semesta. Penting, tapi bukan yang terpenting, karena semua yang ada di sini, baik yang berwujud maupun sesuatu yang hanya bisa kita rasakan, semuanya itu penting."
Wulan terkekeh seraya mengacak rambut Max gemas. "Aku tahu semua itu, Max ... aku adalah penggemar buku filsafat," cebiknya. "Dan itu sedikit banyak membantuku untuk melalui proses adaptasi rasa sakit seperti yang kau bilang tadi."
Max meringis. "Ya, aku hanya menjelaskan kenapa aku melukismu seperti itu."
Wulan mengelus pipi Max. Menatap mata biru itu lekat-lekat. Siapa yang menyangka, di balik wajah bengal itu, ada seorang seniman yang sangat berbakat. Seorang anak bandel yang tidak segan-segan menghajar orang, tetapi sewaktu-waktu bisa berubah menjadi cendekiawan.
Keduanya saling tatap, saling melempar senyum, saling diam.
Sejurus kemudian, entah siapa yang memulainya, bibir mereka pun telah menyatu dalam pagutan-pagutan lembut nan romantis selama beberapa menit. Slow and steady. Tanpa buru-buru. Saling membaca gerakan bibir dan saling memberi tekanan.
Tangan Max mulai nakal meraih pinggang Wulan dan mengelusnya lembut. Lalu naik ke dada dan meremasnya pelan. Membuat suara lenguhan lirih Wulan lolos dari mulutnya.
"Max ... Max ... on doit arrête (kita harus berhenti)," engah Wulan di sela-sela ciumannya.
"D'accord (okay)," bisik Max. Ia menyempatkan diri menggigit lembut bibir Wulan sebelum mengakhiri ciumannya.
"je t'aime (aku mencintaimu)," ucap Wulan sembari menggenggam tangan Max dengan erat.
"Moi aussi, Bébé (aku juga, sayang)." Max mencium tangan Wulan lembut berkali-kali. Lalu mencuri ciuman ke bibir Wulan sekilas sebelum akhirnya mengajak Wulan untuk turun dan keluar dari galeri Patrick.
***
***
***
__ADS_1