
STALINGRAD, SURESNES.
"Kenapa membawa tas sebesar itu, Max?" tanya Ludovic begitu melihat anak lelakinya itu keluar dari kamarnya dengan membawa satu tas ransel besar di punggungnya. "Kau mau ke mana?"
"Aku akan pergi selama seminggu," jawab Max sembari menoleh pada sang Ayah.
"Sekolah sudah mulai libur Natal?" tanya Ludovic kembali.
Max mengangguk.
"Mau menginap di tempat Gurumu itu?"
"Jangan mulai, Papa!" Max menyergah.
Ludovic mengangkat kedua tangannya. Ia sadar tak bisa mendebat Max. Walau pun hatinya sangat tidak rela anak lelakinya itu masih bersama Gurunya.
"Bon allez, je pars (ya sudah, aku pergi)," pamit Max sembari berlalu.
Ia memang sedang tidak ingin berdebat dengan sang Ayah. Sudah jelas hanya akan berakhir dengan pertengkaran. Teringat pesan Wulan untuk tetap menghormati Ayahnya meskipun pemikiran tidak sejalan.
Max menelusuri jalanan Stalingrad malam itu yang penuh dengan lampu-lampu Natal terpasang pada pepohonan oak dan pinus yang tumbuh di sepanjang jalan. Seperti di seluruh penjuru kota Paris di setiap tahunnya, pada saat Natal tiba. Ia ingin bertemu dengan Wulan segera. Ingin memberinya sebuah kejutan sebagai hadiah Natal.
Sepuluh menit perjalanan dengan kereta bawah tanah, kini ia pun berdiri di depan pintu apartemen Wulan. Mengetuk pintunya dan menunggu wanita pujaannya itu muncul dari baliknya.
Ia menyunggingkan senyum termanisnya ketika sosok Wulan kini telah ada di hadapannya.
"Bonsoir (selamat sore), Miss Wulan," sapanya.
"Salut, Petit Morveux (hallo, anak nakal)," sahut Wulan sembari membuka lebar pintu dan mempersilahkan Max untuk masuk.
"T'es tres belle (kau cantik sekali)," puji Max sembari memandangi Wulan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pakaian yang Wulan kenakan terlihat begitu manis membalut tubuh mungilnya itu. Mini dress tak berlengan setinggi lutut dengan motif bunga-bunga.
Max meletakkan tas ranselnya ke atas sofa, lalu meraih pinggang ramping Wulan dan membawanya ke pelukannya. "Ma petite fille de l'est (wanita timur mungilku)," bisiknya sembari mengecup bibir Wulan lembut.
"Bocah Perancisku yang menyebalkan," balas Wulan seraya mengacak rambut gondrong Max.
"Aku punya hadiah untukmu," ujar Max. Ia membawa Wulan duduk di atas sofa. Tangannya bergerak membuka tas ranselnya dan meraih sebuah kotak hitam panjang dari dalamnya.
"Apa ini?" tanya Wulan.
"Bon noël, Bébé (selamat natal, sayang)," ucap Max sembari meraih telapak tangan Wulan dan meletakkan kotak di atasnya.
"Boleh kubuka?" tanya Wulan dengan mata berbinar.
"Oui (ya)."
Perlahan Wulan membuka penutup kotak hitam polos itu. Keningnya mengerenyit begitu melihat isinya. Sebuah kertas yang dilipat dengan rapi. Ia pun segera mengambil kertas itu dan membukanya.
Sebuah print out e-ticket pulang pergi pesawat Qatar Airways kelas ekonomi dengan namanya dan nama Max yang tertera di sana.
Mata Wulan membulat sempurna. Lalu memandang Max dengan perasaan terharu.
"Bon Nöel (selamat natal), hanya itu yang bisa kuberikan," ucap Max tersipu.
"Max ... ini ... kau sungguh berlebihan." Wulan tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Sebuah hadiah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hadiah yang sangat bermanfaat untuknya.
Max terkekeh. "Kalau tanggalnya tidak cocok, aku akan mengajukan reschedule."
"Tidak. Tanggalnya sudah tepat," ujar Wulan membuat Max tersenyum lega. "Merci," ucapnya sembari memeluk bocah kesayangannya itu.
"Visa apa yang kuperlukan untuk masuk Indonesia?" tanya Max setelah Wulan melepaskan pelukannya.
"Visa on arrival (visa saat kedatangan), tiga puluh hari."
Max mencebik. "Tres bien( bagus sekali)."
__ADS_1
"Max ...."
"Ya?"
"Kau masih berjualan Cannabis?" tanya Wulan sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Tidak."
"Bagus."
"Semenjak bertemu denganmu, entah kenapa keuanganku menjadi lebih baik."
"Mungkin aku punya energi yang bagus."
Max terbahak. "Itu sudah pasti," ujarnya seraya memagut bibir Wulan sekilas. "Energimu memancing semua hal baik mendekatiku."
Wulan terkekeh mendengar ucapan Max yang terdengar seperti gurauan. Namun wajah pemuda itu terlihat serius. Ia menangkup wajah Max lalu mencubit wajahnya dengan gemas.
.
.
You leapt from crumbling bridges
Watching cityscapes turn to dust
Filming helicopters crashing in the ocean
From way above
Got the music in you baby, tell me why
Got the music in you baby, tell me why
You've been locked in there forever
Kisses on the foreheads of the lovers
Wrapped in your arms
You've been hiding them in
Hollowed out pianos left in the dark
Your lips, my lips, apocalypse
Your lips, my lips, apocalypse
Go and sneak us through the rivers
Flood is rising up on your knees, oh please
Come out and haunt me, I know you want me
Come out and haunt me
Sharing all your secrets with each other
Since you were kids
Sleeping soundly with the locket
That she gave you cutched in your fist
You've been locked in there forever
__ADS_1
And you just can't say goodbye
When you're all alone
I will reach for you
When you're feeling low
I will be there too
Apocalypse ~Cigarette After Sex ~
"Kenapa kau cantik sekali, Wulan ...."
Max memandangi wajah Wulan yang berada di bawahnya dengan tatapan penuh puja. Ia mengelus wajah manis nan pasrah itu pelan, lalu jemarinya menelusuri jengkal demi jengkal tubuh Wulan, diiringi dengan alunan lembut lagu dari Cigarette After Sex, Apocalypse yang menambah gairah malam itu.
Bibirku, bibirmu ... badai. Kulitku, kulitmu ... gempa. Milikku milikmu, kiamat.
***
SURESNES, PARIS.
Ludovic yang tengah membungkus beberapa daging mentah untuk dipajang di dalam lemari etalase, mengalihkan perhatiannya pada seorang pria yang baru saja masuk ke dalam toko.
Pria berjambang tipis itu tersenyum padanya sembari berjalan mendekat.
"Ah, selamat datang, Monsieur Arsenault," sapa Ludovic ramah. "Ada yang bisa aku bantu?"
"Salut, Monsieur Guillaume, aku butuh dua potong sedang sirloin segar," jawab pria yang tak lain adalah Damien Arsenault itu sembari memandang potongan-potongan daging di dalam lemari etalase di depannya itu. "Dan juga 500 gram andouille," lanjutnya sembari menunjuk pada deretan sosis yang tergantung di belakang Ludovic.
"D'accord (oke), tunggu sebentar." Ludovic segera menyiapkan pesanan Damien dengan cekatan. Beberapa saat kemudian, ia menyerahkan satu kantong kertas besar berisi campuran daging dan juga sosis pada Damien. "Semua menjadi 75 euro."
Damien merogoh sakunya dan mengambil dompet dari sana. Lalu ia mengambil selembar seratus euro dan menyerahkannya pada Ludovic.
"Bagaimana hubungan anakmu dengan Gurunya itu?" tanya Damien sembari menerima uang kembalian dua puluh lima euro dari Ludovic.
Pria paruh baya itu hanya menggeleng. "Aku tidak tahu harus bagaimana. Max sangat keras kepala. Aku tidak bisa membantahnya."
Damien menarik sudut bibirnya. "Aku tahu orang yang bisa membantumu."
"Ah, bon? Qui? (ohya? siapa?)," tanya Ludovic.
"Kau temui saja Guru Pembimbing Baru, Miss Jolene Dupont."
"Jolene Dupont," ucap Ludovic pelan. Ia teringat pernah satu kali bertemu dengan wanita itu di Jean-Baptiste Say ketika sekolah memanggilnya terkait kekacauan yang dibuat oleh Max. "Dia bisa membantuku?"
Damien mengangguk. "Ya, katakan saja padanya masalah yang sedang dialami Max sekarang."
Ludovic terdiam sejenak. "Baiklah, setelah libur Natal selesai, aku akan menemuinya."
"Bagus, Monsieur Guillaume," ucap Damien senang. "Ciao (dadah), Monsieur Guillaume," ujarnya berpamitan pada Ludovic.
"Merci." Ludovic mengangguk.
Damien melangkah meninggalkan toko daging itu dengan senyum miring tersungging dari bibirnya.
Aku tidak mau hancur sendirian. Tunggu saja giliran kalian.
***
***
***
Mohon maaf baru bisa update ya teman-teman.
__ADS_1
🤗🤗🤗