High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 49. I Wanna Celebrate Something (Aku Ingin Merayakan Sesuatu), Miss.


__ADS_3

STALINGRAD, SURESNES.


"Ludovic?"


"Papa?"


Max mencari sosok pria paruh baya itu di kamarnya. Namun kamar itu kosong dan tertata rapi. Ruang tamu apartemen pun terlihat bersih. Botol-botol kosong minuman beralkohol yang biasanya berserakan di meja atau kursi, sudah tak terlihat lagi.


Pemandangan itu membuat Max terheran-heran. Terlebih ketika dilihatnya sosok sang Ayah yang baru saja masuk ke dalam apartemen dengan pakaian yang cukup rapi. Jambangnya yang biasanya tak terurus kini dipotong rapi. Ia tampak lebih muda beberapa tahun.


"Ah, kau sudah pulang?" tanya Ludovic sembari menaruh satu kotak makanan yang sedang dibawanya ke atas meja. "Aku belikan kau pissaladiére," ucapnya.


Max memicingkan matanya menatap sang Ayah.


"Pourquoi tu me regardes comme ça (kenapa kau melihatku seperti itu)?"


"Kau benar Ludovic Guillaume?" tanya Max.


"Ben, oui (iyalah) ...."


"Kenapa kau aneh sekali?"


Ludovic terkekeh. Lalu mengedikkan bahunya.


Max menarik kursi dan mendudukinya. Lalu membuka kotak pissaladiére yang ada di atas meja. Makanan sejenis pizza khas Perancis itu terlihat lezat.


"Tidak mungkin kau berubah secepat ini," ujarnya sembari mencomot satu potong dan memasukkannya ke mulutnya.


"Aku sudah lelah, Max." Ludovic duduk di hadapan anak lelakinya itu. "Hari ini aku pergi mencari pekerjaan."


"Alors (lalu)?" tanya Max dengan mulut penuh makanan. "Mmm ... tres bon (enak sekali)," ujarnya sembari menjilati jemarinya.


"Ya, minggu depan aku mulai bekerja. Di sebuah Boucherie (toko daging) di Suresnes sebagai Boucher (pemotong daging)."


"Aaa, c'est bien (bagus) ...." Rupanya Ayahnya itu kembali pada profesi lamanya. Max menyunggingkan senyumnya samar. Tak dapat dipungkiri ia merasa bahagia.


"Maximilian," panggil Ludovic.


"Hmmm ...." Max masih fokus dengan makanan yang tengah disantapnya.


"Sebenarnya selama ini aku tidak benar-benar membencimu. Aku hanya marah pada diriku sendiri. Marah pada keadaan. Marah karena ... Ibumu pergi." Ludovic menghela napasnya dalam-dalam. "Aku sering merenung memikirkan semuanya. Hanya saja, terkadang amarahku begitu kuat. Dan aku melampiaskannya padamu."


Max hanya terdiam. Ia ingin memberi kesempatan pada Ayahnya untuk mencurahkan isi hatinya.


"Kau benar, Max ... aku melewatkan masa pertumbuhanmu. Hingga kau sudah sedewasa ini ... oh Mon Dieu (ya tuhan) .... Clara pasti sangat membenciku!" Ludovic menunduk dan menangkup kepala dengan tangannya. Ia mulai terisak.


Max menutup kotak makanan yang belum sempat dihabiskannya. Lalu melipat lengannya di atas meja. "Sudahlah Papa ...."


Ludovic menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Je suis désolé (aku minta maaf)," ucapnya seraya menatap mata anak semata wayangnya itu.

__ADS_1


Max mengangguk. Lalu berdiri dan menghampiri Ayahnya. "Petit câlin (pelukan kecil)?" tawarnya seraya membentangkan kedua tangannya.


Tanpa ragu, Ludovic memeluk anak lelakinya itu dengan erat. Max menepuk-nepuk punggung Ayahnya pelan.


Rasa bahagia memenuhi rongga dadanya. Sepertinya alam semesta sedang berpihak padanya kali ini. Setelah berhasil mendapatkan hati Wulan dengan susah payah, kini ia bisa merasakan kasih sayang Ayahnya.


Max tersenyum miring. Ini harus dirayakan. Bersama Wulan. Ia punya alasan untuk mengunjunginya malam ini. Ibu Gurunya itu pasti tidak akan menolak kedatangannya jika tahu Max sedang berbahagia karena hubungannya dengan sang Ayah telah membaik.


Max mengangguk-angguk pelan. Menyetujui ide briliannya sendiri.


***


Wulan telah mengenakan pakaian tidurnya, daster tipis sepanjang lutut dan kaos kaki tebal, lalu bersiap untuk masuk ke dalam selimutnya ketika terdengar suara ketukan pintu.


"Ya ampun! Siapa sih malam-malam begini," gerutunya. Ia urung menutupi badannya dengan selimut dan beranjak dari ranjangnya lalu melangkah keluar kamar.


Wulan menyambar sweater yang tergeletak di atas sofa lalu mengenakannya.


Begitu membuka pintu, seraut wajah tengil dengan senyuman jahilnya menyembul. Membuat Wulan menghela napasnya berat.


"Kenapa kemari, Max? Aku kan sudah bilang aku lelah," sungutnya. Namun di dalam lubuk hatinya ia merasa senang anak itu datang. Dan melihat tampang tengilnya saja membuat gejolak dalam hatinya membuncah dengan tiba-tiba.


Max mengangkat satu tote bag berisi dua botol anggur dan menunjukkannya pada Wulan.


"Aku ingin merayakan sesuatu," ujar Max riang.


"Bagaimana kau bisa membelinya?" tanya Wulan sembari memeriksa botol anggur yang dibawa Max.


"Aku menyuruh anak buahku di Stalingrad untuk membelinya," kekehnya.


"Anak buah?" tanya Wulan sembari mengerenyitkan dahinya.


Max tergelak. "Aku bercanda. Aku mengambilnya dari kamar Ayahku."


Wulan mencebik. Lalu duduk di samping Max.


"Kita minum langsung dari botolnya saja, ya," ujar Max sembari merogoh sakunya untuk mencari sebatang korek.


Ia meraih satu botol anggur di atas meja dan mulai memanasi mulut botol dengan api untuk meloloskan penutup kayu gabusnya. Setelah selesai dengan satu botol, ia melanjutkan dengan botol yang lain.


Melakukan semua hal itu membuat Max terlihat begitu sexy, begitu maskulin. Gairah mulai melumpuhkan akal sehatnya.


Wulan menelan ludah dengan susah payah.


"Voila ...." Max menyodorkan salah satu botol pada Wulan.


"Kau bilang ingin merayakan sesuatu? Apa itu?" tanya Wulan mencoba mengalihkan perhatian dari bibir Max yang rasanya ingin segera dipagutnya itu.


Max meneguk botolnya. Merasakan hangatnya cairan merah melewati tenggorokkannya.

__ADS_1


"Ada dua hal yang ingin kurayakan. Pertama ...." Max mencuri kecupan di bibir Wulan sekilas. "Berhasil mendapatkan hatimu," ucapnya membuat Wulan tersipu. "Kedua, hubunganku dengan Ayahku sudah membaik."


"Benarkah?" Wajah Wulan berbinar. "Oh, Max ... aku ikut senang mendengarnya."


"Merci, Miss," ucap Max sembari mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari telunjuk, meminta Wulan untuk memberi kecupan di sana.


Wulan mengecup pipi seputih porcelain itu lembut. Membuat bibir pemuda itu tersenyum lebar.


"Musique?" tawar Max sembari mengambil speaker bluetooth mini yang ada di atas meja dan menghidupkannya.


Wulan mengangguk setuju. Lalu Max merogoh ponsel di kantong celananya dan menyambungkannya pada benda berwarna hitam yang menyerupai kaleng minuman itu.


Denting piano dari Frédéric François Chopin, Sping Waltz mengalun lirih memanjakan telinga. Menjadi musik latar di sela-sela perbincangan mereka.


Max melepaskan jaketnya dan kini tubuhnya hanya berbalut kaos putih lengan pendek dan jeans warna biru. Menampilkan otot lengannya yang mulai terbentuk.


"Kau kedinginan, Miss?" tanya Max yang melihat Wulan masih mengenakan sweater dan merapatkannya ke dada.


"Non," jawab Wulan. Ia meneguk botol anggurnya. Lalu perlahan melepas sweaternya. Mata Max membulat mendapati daster tipis yang membalut tubuh ramping Wulan dan sedikit memperlihatkan lekukan tubuh dan dadanya.


Wulan mendesis sembari melemparkan sweater di tangannya ke wajah Max.


"Mau memancingku, ya?" godanya.


"Pas du tout (tidak sama sekali)."


"Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa menahan diri?"


Wulan tersenyum miring. "Kenapa harus menahan diri?"


Entah setan apa yang merasukinya, ia merayap mendekati Max dan naik ke pangkuan pemuda itu. Melingkarkan kedua lengan di leher, lalu menyesap bibir tipis itu dengan rakus dan menggigitnya.


"Woo, woo ... qu'est qui ce passe ici (apa yang terjadi di sini)?" Max memasang wajah terkejutnya yang dibuat-buat. Namun tak lama kemudian tangannya meraih pinggang Wulan dan mengelusnya. Naik ke punggungnya, lalu perlahan turun lagi ke pinggulnya. Begitu seterusnya.


"Je te veux (aku menginginkanmu)," ucap Wulan terengah ketika Max membalas ciumannya dengan bertubi-tubi.


Malam itu, entah siapa yang menjadi candu siapa.


***


***


***


Segini dulu ya, simpan adegannya untuk adegan akhir pekan😂😂😂


Ohya, yang udah like, vote, comment, makasih banget yaa ... absen dulu gih di kolom komentar, biar kuciumi satu-satu.


😘

__ADS_1


__ADS_2