High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 82. You Get What You Deserve (1).


__ADS_3

POLICE DE PARIS, RÉSEAU EST, PARIS.


"Bonsoir, je m'appelle Sylvain Barbeau (selamat sore, namaku sylvain barbeau). Aku di sini untuk menanyakan beberapa hal padamu, Miss Laksana."


Pria berkemeja putih itu memandang Wulan yang duduk di seberang mejanya dengan tatapan penuh selidik. Membuat Wulan merasa benar-benar sedang menjadi seorang pesakitan. Duduk di sebuah ruang berukuran tiga kali empat dengan seorang aparat kepolisian yang akan mewawancarainya. Lebih tepatnya menginterogasinya.


"Sudah lama tinggal di Perancis?" tanya pria yang mengaku bernama Sylvain Barbeau itu.


"Hampir enam tahun," jawab Wulan. Ia berusaha untuk terlihat setenang mungkin.


"Apa pekerjaanmu, Miss Laksana?"


"Aku bekerja sebagai Guru SMA."


"Seberapa dekat kau dengan murid-muridmu?"


"Aku cukup dekat dengan mereka."


Sylvain mengambil ponselnya, mengutak-atiknya sejenak, lalu menunjukkan layarnya pada Wulan. "Seperti ini keakrabanmu dengan murid-muridmu?"


Wulan mengerenyitkan keningnya ketika Sylvain menggulir layar ke samping memperlihatkan foto-foto candid dirinya dengan beberapa murid pria. Fotonya bersama Janvier di dalam kelas sewaktu anak itu meminta maaf padanya, lalu foto bersama salah satu murid kelas 11 bernama Paul yang tengah meminta tolong padanya untuk menerangkan pelajaran yang belum ia mengerti. Dan beberapa foto interaksinya dengan beberapa murid pria lain. Semuanya candid dan diambil dari aktifitasnya di sekolah dalam beberapa hari ini.


Terakhir adalah, fotonya bersama Max di depan gedung apartemennya. Ia terlihat tengah memegang lengan Max.


"J'ai pas compris, Monsieur (aku tidak mengerti, pak), kenapa kau menunjukkan semua foto ini padaku?"


"Kau mengenal Maximilian Guillaume?"


"Dia ... muridku di Jean-Baptiste Say."


"Ada hubungan apa kau dengannya?"


"Guru dan murid, seperti dengan anak-anak yang lain."


"Kenapa dia ada di apartemenmu ketika petugas kami menjemputmu?"


Wulan menelan ludahnya. Dadanya berdegup kencang. Namun sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap tenang.


"Dia meminta pelajaran tambahan."


Sylvain tersenyum miring sembari melipat lengannya di depan dada.


"Kau jangan berbohong, Miss Laksana. Maximilian Guillaume telah mengaku bahwa kau dan dia punya hubungan khusus. Dia bilang kau memanipulasinya."


Wulan terperanjat. Kali ini ia gagal menyembunyikan ketegangan di wajahnya.


"Benarkah ... dia bilang begitu?"


"Ya ...."


Wulan terdiam. Benarkah Max melakukan semua itu? Tidak mungkin.


Bukankah seorang penyidik memang diperbolehkan berbohong pada orang yang diduga bersalah untuk mendapatkan pengakuan darinya.


"Tidak mungkin ...." Wulan berusaha menantang tatapan tajam Sylvain. "Tidak pernah ada hubungan khusus apa pun antara aku dan Maximilian Guillaume."

__ADS_1


"Jangan mengelak lagi, Miss Laksana."


"Kau menuduhku hanya dengan bukti foto-foto itu?"


"Kami punya saksi. Ayah Maximilian Guillaume dan Guru Pembimbingnya."


Wulan sudah menduganya. Wanita itu berulah lagi.


"Kami tidak punya masalah dengan hubungan khusus antara kau dan Maximilian, selama tidak ada yang dirugikan. Masalahnya, Miss Laksana, kau memanipulasi pemuda itu dan orang tuanya tidak terima. Kau melakukan sexual harassment pada anak di bawah umur."


Wulan hendak protes namun Sylvain mengangkat tangan memberi isyarat padanya untuk diam.


"Aku akan memberimu waktu untuk berpikir," ujar Sylvain sembari beranjak dari duduknya. "Saat aku kembali ke ruangan ini, aku ingin mendapatkan pengakuan darimu."


Wulan meraup wajahnya dengan kasar. Lalu tertunduk, terpekur menatap lantai marmer putih bersih yang diinjaknya.


***


CHAMPS ELYSEES, PARIS.


Max berusaha menyembunyikan wajah tegangnya pada pria berseragam securité di hadapannya itu.


"Kau mau menemui siapa?" tanya pria itu.


"Miss Jolene Dupont," jawabnya dengan tenang. Walaupun dadanya kini tengah bergemuruh menahan amarah yang teramat besar.


"Boleh aku tahu siapa kau dan apa keperluanmu?"


"Aubert, André ... aku ada janji untuk counseling dengannya."


Pria itu nampak berbicara dengan seseorang melalui intercom yang ada di mejanya. Beberapa saat kemudian pria itu mempersilahkan Max untuk naik ke lift menuju lantai tiga di mana apartemen Jolene berada.


Max berdiri di depan pintu bercat abu-abu itu sembari mengatur napasnya yang memburu. Ia mengetuknya dengan cukup keras.


Ia menunggu beberapa saat sebelum akhirnya seseorang membuka pintu dari dalam. Jolene tampak terkejut melihat kedatangan Max.


"Max?" ujarnya keheranan. Penjaga apartemen beberapa saat yang lalu mengatakan kalau André Aubertlah yang ingin menemuinya. Tapi kenapa sosok pemuda bengal ini yang berdiri di hadapannya?


"Salut, Miss Jolene ...." Max menyeringai dengan tatapan seram. Membuat dada Jolene berdegup kencang.


"Kau tidak boleh masuk!" serunya. Ia hendak menutup pintu kembali namun cepat Max menahan dengan kakinya. Ia lalu mendorong pintu dengan keras hingga Jolene ikut terdorong ke belakang beberapa langkah.


Max menutup pintu rapat-rapat. Lalu berjalan ke arah Jolene yang terus melangkah mundur menghindarinya.


"Kau menyuruh Belle untuk menyebarkan gosip antara aku dan Wulan di sekolah. Kau menyuruh André untuk melecehkan Wulan. Dan kau ... melaporkan Wulan ke polisi!" Rahang Max mengeras menahan amarahnya.


"Ayahmu yang melaporkan Wulan. Aku tidak tahu apa-apa. Sungguh," cicit Jolene ketika ia terdesak ke belakang sofa besarnya.


Max meraih kerah pakaian Jolene dan menarik wanita itu lalu menghantamkan punggungnya ke dinding.


"Di mana ponselmu?" Max menekan leher Jolene hingga membuat wanita itu kesulitan untuk bernapas.


Jolene menggeleng dengan keras. Ia melirik ke arah meja di mana benda persegi panjang itu tergeletak di atasnya. Hanya bola matanya saja yang bergerak, namun Max dapat menangkap gerak-geriknya.


Max melepaskan Jolene dan bergerak cepat hendak menuju ke arah meja berniat untuk mengambil ponsel.

__ADS_1


Buggghh.


Satu pukulan benda tumpul mendarat di punggung Max dengan keras. Membuatnya terjatuh ke lantai.


Jolene yang kini telah memegang tongkat baseball di tangannya, kembali menghantam Max dengan sekuat tenaga. Kini mengenahi bagian belakang kepala Max. Darah segar pun mengalir membasahi punggungnya. Max mengerang kesakitan.


Melihat Max terkapar, Jolene bergegas melangkah menuju meja di mana ponselnya berada. Namun tiba-tiba ia terjatuh ke lantai dengan keras. Dua lengan yang spontan ia gunakan untuk menumpu badannya, terasa begitu nyeri luar biasa.


Dengan sisa tenaganya, Max menarik kaki Jolene ke arahnya. Mencengkeram kedua paha wanita itu dan merangkak naik ke atasnya. Ia menjambak rambut Jolene dan membanting wajah wanita itu ke lantai. Teriakan kesakitan Jolene terdengar memekakkan telinga. Darah pun mengalir dari hidungnya yang patah.


"Wanita breng sek!" makinya. Ia lalu membalikkan tubuh Jolene.


"Ini untuk gosip yang kau sebarkan di sekolah!"


Plakkk.


Satu tamparan mendarat di pipi kanan Jolene.


"Ini untuk Wulan yang hampir dilecehkan."


Plakkk.


Kini pipi kirinya yang menjadi sasaran tamparan Max.


"Ini untuk Wulan yang sedang ditahan di kantor polisi."


Plakkk.


Pipi kanan Jolene kembali mendapatkan satu tamparan keras.


"Dan ini, untuk membuat otakmu bisa berpikir dengan jernih."


Bukkkk.


Max menghadiahkan satu pukulan tepat di wajah Jolene yang telah berlumuran darah. Wanita itu tergolek lemah. Hanya terdengar suara rintihan dari mulutnya.


Ia tidak pernah memukul wanita. Tapi Jolene adalah pengecualian. Wanita itu pantas menerimanya.


Terhuyung Max bangkit dari atas tubuh Jolene dan berjalan terseok ke arah meja yang berada di balik sofa dan mengambil ponsel milik Jolene.


Max memperhatikan sejenak Jolene yang masih terbaring dan merintih kesakitan. Ia menggoyang-goyangkan ponsel di depan wajah wanita itu.


"Kau akan menerima akibatnya!" seru Max sembari menyunggingkan senyum miringnya.


Max lalu menutup kepalanya yang terluka dengan hoodienya yang berwarna hitam. Hingga darah yang masih menetes dari luka di belakang kepalanya aman tersembunyi. Ia membersihkan tangannya yang sedikit terkena ceceran darah dengan mengelapkannya pada jaketnya.


Max meninggalkan Jolene begitu saja. Ia yakin wanita itu akan baik-baik saja. Hidung yang patah tidak akan membunuhnya.


Biar saja polisi yang akan mengurusnya sebentar lagi. Wanita itu tidak akan bisa lari kemana-mana.


***


***


***

__ADS_1


__ADS_2