High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 78. I Believe In You.


__ADS_3

"Hei ...."


Senyum Wulan tersungging begitu melihat sosok Max berdiri di hadapannya. "Masuk," ujarnya sembari membuka lebar pintu apartemennya.


"Maaf tidak mengabarimu, Wulan," sesal Max sembari merengkuh wanitanya itu. "Ponselku mati."


"C'est pas grave (tidak apa-apa), yang penting kau sudah ada di sini," sahut Wulan sembari menggandeng tangan Max menuju sofa.


Wulan merapikan rambut gondrong Max yang terlihat berantakan. Dipandanginya wajah tampan pemuda itu dengan tatapan penuh kasih.


"Aku pergi dengan Eloise."


"Aku tahu ...."


Max mengerenyitkan dahinya. "Kau tidak marah?" tanyanya.


Wulan terkekeh. "Kalau kau punya alasan yang tepat, aku tidak akan marah."


"Aku mendapat beasiswa dari Sorbonne. Eloise yang membantuku. Aku hanya ingin berterimakasih padanya. Dia mengajakku minum untuk merayakannya," terang Max. "Hanya bir ...."


"Bagus sekali, Max ... aku bangga sekali padamu." Wulan mengelus pipi Max lembut.


"Kau tidak marah?" tanya Max.


Wulan kembali terkekeh. "Hal sepele seperti itu tidak akan membuatku marah."


Max mendusalkan kepalanya ke leher Wulan. Layaknya anak kecil yang sedang bermanja-manja dengan Ibunya. Tangan Wulan pun bergerak membelai rambut Max lembut.


"Tu m'aimes (kau mencintaiku)?" tanya Wulan.


"Trés (sangat)," ucap Max. "Je ne peux pas vivre sans toi (aku tidak bisa hidup tanpamu)," lanjutnya.


"Apa aku bisa mempercayaimu sepenuh hatiku, Max?"


"Aku tidak punya banyak kata-kata untuk meyakinkanmu, Wulan ... lihat saja apa yang aku lakukan. Talk less do more," kekeh Max.


Wulan mengeratkan pelukannya pada Max. Rasanya sudah tidak perlu lagi ia meminta penjelasan atas perkataan Jolene.


Tutup mata tutup telinga. Seperti yang pernah Max katakan, ini hanya proses, fokus saja dengan hasil akhirnya.


"Aku sangat beruntung mendapatkan seseorang sepertimu, Max ...."


"Aku yang lebih beruntung," sahut Max sembari memejamkan matanya, menikmati wangi Wulan yang begitu menenangkannya.


"Apa kau mau menikah denganku suatu saat nanti?" tanya Wulan.


"Aku akan menikah denganmu ... aku sudah menyusun masa depan kita."


"Kau yakin, nanti di Sorbonne tidak akan tertarik dengan gadis mana pun?"


Max menghela napasnya pelan. "Bisa saja. Aku tidak bisa memastikan aku tidak akan tertarik dengan gadis mana pun ... tapi, aku orang yang menjunjung tinggi komitmen. Aku sudah memilihmu, dan aku akan bertanggung jawab atas pilihanku."

__ADS_1


"Kau yakin bisa bertanggung jawab dengan pilihanmu, Max?"


"Hmmm ... aku berusaha, Wulan."


Wulan terkekeh. Dikecupnya kening Max berkali-kali. "Aku takut suatu saat kau akan bosan denganku," ujarnya.


"Suatu saat kau pun akan bosan denganku," sahut Max. "Kita pikirkan solusinya. Bagaimana caranya membuang rasa bosan dan membangkitkan gairah kita kembali." Max memberi sentuhan pada leher Wulan dengan bibirnya sekilas. "Berpaling pada wanita atau pria lain bukan solusi untuk mengatasi kebosanan dengan pasangan. Justru akan menambah masalah," sambungnya.


"Ucapanmu selalu saja benar," kekeh Wulan.


"Tidak juga. Kau juga boleh mengutarakan pendapatmu, Wulan ...."


"Untuk sementara ini aku setuju denganmu," ujar Wulan membuat Max tertawa senang.


"Aku mengantuk," gumam Max. "Bisa kita tidur sekarang?" tanyanya sembari menarik kepalanya dari dekapan Wulan.


Wulan memicingkan matanya curiga. "Tidur?"


"Iya, tidur, Wulan ... dalam arti yang sebenarnya," kekeh Max.


Wulan mencebik. "Okay ...."


Ia beranjak dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Max membantu pemuda itu untuk berdiri. Lalu keduanya melangkah ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.


***


LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.


Ia segera melangkah mendekati Wulan. Meraih ponsel dari sakunya dan menyodorkan layarnya ke hadapan Wulan yang tengah tenggelam dalam buku yang sedang dibacanya. Senyum miring wanita itu tersungging.


"Aku sengaja mengambil foto-foto ini sebagai bukti bahwa Max memang meniduriku."


Wulan tertegun memandangi foto-foto vulgar dalam layar ponsel Jolene. Ia menutup bukunya dengan kasar dan menyingkirkannya ke tepian meja.


Tentu saja hatinya remuk melihat pria yang dicintainya tidur dengan wanita lain. Namun ia sudah memantapkan hati untuk percaya sepenuh hatinya pada Max. Hanya percintaan satu malam yang tidak disengaja. Tak berarti apa-apa.


Wulan berdiri dan menatap Jolene tajam. Lalu ia pun menarik sudut bibirnya. "Aku tidak peduli, Jolene."


Senyum miring Jolene sirna. Ia tak menyangka Wulan sama sekali tak terpengaruh dengan foto-foto itu.


"Jangan bilang kau tidak sakit hati melihat foto-foto ini, Wulan," ujar Jolene memancing-mancing amarah Wulan.


Wulan terbahak. "Foto-foto itu tidak berarti apa-apa untukku, Jolene!" tegasnya.


"Anak bengal itu tidak pantas untukmu!" seru Jolene seraya mencengkeram bahu Wulan dengan keras.


"Lepaskan!" pekik Wulan sembari menepis tangan Jolene. Beruntung perpustakaan dalam keadaan sepi, hingga keributan kecil mereka tidak menjadi perhatian siapa pun.


"Je t'aime (aku mencintaimu)!" Jolene berseru.


"Kau gila!" hardik Wulan. Perutnya mulai bergolak. Merasakan mual ketika mendengar ucapan wanita itu.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak gila. Perasaanku tulus untukmu," sergah Jolene.


Wulan mengangkat kedua tangannya. "Jangan ganggu aku!" Ia memperingatkan. "Aku wanita normal."


"Wulan, s'il te plaît (kumohon) ...."


Wulan menggeleng. Lalu melangkah pergi meninggalkan Jolene yang terdiam dengan kedua tangan ia kepalkan.


.


.


Wulan masuk ke ruang Guru dengan lesu. Membuat Adrienne merasa keheranan melihat sikapnya.


"Ada masalah, Wulan?" tanya Adrienne penasaran.


Wulan menghembuskan napasnya kasar. Ia menopang dagunya ke atas meja dengan kedua telapak tangan.


"Sungguh gila," keluhnya.


"Hei, ada apa, Wulan?"


"Guru Pembimbing itu ...."


"Ada apa dengannya?"


Wulan menggeleng pelan. "Dia menyukaiku," ujarnya sembari menepuk keningnya.


"Aku sudah menduganya," sahut Adrienne.


"Masalahnya wanita itu sedikit gila." Wulan memutar jari telunjuk di dekat keningnya. "Dia membuatku merasa sangat terganggu."


"Aku tidak punya masalah dengan kaum les bian, tapi memang terkadang ada di antara mereka yang sedikit ... ya, kau tau ... gila," ujar Adrienne.


Kembali Wulan menghembuskan napasnya kasar. "Aku benar-benar merasa risih," ucapnya.


Adrienne terkekeh. "Kenapa Guru Pembimbing di sekolah ini tidak ada yang beres," selorohnya.


Wulan mengedikkan bahunya. "Seharusnya mereka membimbing diri mereka sendiri sebelum memutuskan untuk menjadi ... Guru Pembimbing." Wulan menggerakkan dua jari telunjuknya membentuk tanda kutip.


"Oui, trés bizarre (ya, aneh sekali)," sahut Adrienne membenarkan. "Hei, ayo minum kopi nanti sore. Untuk menghilangkan stres."


"D'accord (oke)." Wulan tersenyum dan mengangguk setuju.


Ia butuh suasana segar untuk melupakan rasa risih dan muaknya pada Jolene, wanita dengan otak yang kacau itu.


***


***


***

__ADS_1


__ADS_2