
Wulan menghisap rokoknya dalam-dalam. Menghembuskan asapnya, lalu menghisapnya lagi. Sebotol anggur di tangannya telah ia teguk setengahnya.
Ia berdiri, berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Sesekali ia mengusap wajahnya, lalu mengacak rambutnya. Kemudian duduk lagi di atas sofa, dan menghisap rokoknya kembali.
Dering ponsel di atas meja membuatnya terkesiap. Ia memeriksa layar ponselnya.
Panggilan tak terjawab dari Ibunya. Artinya, ia harus segera menelpon balik sang Ibu.
Ia mencecak rokoknya ke dalam asbak. Menarik napasnya dalam-dalam kemudian menekan tombol dial di layar.
"Iya, Bu?"
"Wul, anu ... bulan ini belum bisa transfer, ya?" Suara sang Ibu di seberang.
"Belum, Bu ... belum gajian. Paling akhir bulan." Wulan menelan ludahnya dengan susah payah.
"Pierre gimana? Maaf ya, Wul, soalnya ini, si Gita sama Ataya udah waktunya bayar kuliah." Sang Ibu menyebutkan nama kedua adik perempuannya, yang duduk di bangku kuliah, semester satu dan empat.
Wulan memejamkan matanya. Menghela napasnya pelan-pelan, agar sang Ibu tak mendengarnya.
Lihatlah, ia adalah tulang punggung keluarganya.
"Iya, Bu ... bisa tahan sampai aku gajian, nggak?"
"Iya, Ibu bisa nunggu, Wul."
Setelah mengucapkan salam, Wulan menutup telponnya. Lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Dipandanginya langit-langit ruang tamunya dengan tatapan menerawang.
Ia meneguk botolnya kembali. Lalu meneguknya lagi dan lagi. Hingga cairan merah pekat itu habis tak tersisa. Tubuhnya kini terasa ringan. Kegalauan yang sedang dirasanya berangsur-angsur menguap.
Untuk sementara.
Satu ketukan dari pintu apartemennya membuatnya urung membaringkan badan ke atas sofa. Ia bisa menebak siapa yang datang.
Entahlah apakah ini saat yang tepat atau tidak untuk menerima kunjungan dari pemuda yang membuatnya dimabuk asmara itu.
Ia hanya mampu menyunggingkan senyum tipisnya ketika melihat sosok Max di depan pintu, memandangnya dengan tatapan cemas.
"Miss ... ça va (kau baik-baik saja)?" tanya Max begitu melihat cara berdiri Wulan yang sedikit goyah.
"Tidak apa-apa, aku hanya minum-minum sedikit," kekeh Wulan.
Max menutup pintu dan menggandeng Wulan menuju sofa. Di sana, Ibu Gurunya itu menekuk kakinya dan menumpu dagu di atas lututnya.
"Wulan, kau kenapa?" tanya Max. Ia tahu, alkohol akan membuat seseorang bertambah kacau jika perasaannya memang sedang kacau.
__ADS_1
Wulan hanya menggeleng.
"Ada yang mengganggu pikiranmu? Katakan, Miss." Max meraih tubuh Wulan dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Tadi siang aku bertemu dengan Ayahmu di sekolah," kekeh Wulan. "Sepertinya hubunganmu dengannya sudah sangat membaik, ya, Max?"
"Lalu?"
"Menurutmu apa reaksi Ayahmu kalau dia tahu kau berhubungan dengan Gurumu sendiri, yang usiannya lima belas tahun lebih tua darimu?"
"Aku tidak tahu, Wulan. Apa pun reaksinya, tidak akan mempengaruhi apa-apa."
Wulan menghela napasnya. "Aku terlanjur mencintai negara ini. Aku tidak ingin pergi."
"Hei, memangnya siapa yang menyuruhmu pergi, Miss?"
Wulan terkekeh dalam pelukan Max. Ia menengadahkan wajahnya menatap sepasang mata biru itu dengan tatapan sayu. Lalu membelai lembut rambut gondrongnya yang digerai begitu saja.
"Aku bertemu Damien hari ini."
"Ohya?" ujarnya datar. "Dia sudah keluar dari penjara?"
Wulan menggeleng. "Lebih parah dari itu. Dia tidak bisa melanjutkan hidupnya kembali dengan normal, ia terkena sanksi sosial, tidak bisa bekerja di mana-mana di negara ini," ucapnya. "Dan ia harus membayar denda sebesar 150.000 euro pada Nyonya Kareem."
"Baguslah, dia pantas menerimanya."
"No!" sergah Max. "Jangan membandingkan dirimu dengan Si Breng sek itu!" Max melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Wulan. "Damien hanya memanfaatkan tubuh Nadia ... sedangkan kau dan aku saling mencintai."
"Bagaimana kalau ternyata aku juga hanya memanfaatkan tubuhmu?" Wulan mendorong dada Max pelan.
"Arrête de conneries (jangan mengatakan omong kosong)!" ujar Max.
Wulan menggeleng. "Aku tidak tahu, Max ... aku sedang tidak bisa berpikir dengan jernih."
"Miss ...." Max meraih tangan Wulan. Lalu menggenggamnya erat.
Wulan tertunduk lesu. Pikirannya begitu kalut memikirkan tentang bebannya menjadi tulang punggung keluarga, lalu kata-kata Pierre yang terngiang-ngiang dalam benaknya, dan posisinya sekarang yang mengencani Max, anak umur 17 tahun.
Ia merasa malu pada diri sendiri. Ia merasa menjadi sebreng sek Damien.
Tapi, anak ini, ia sudah terlanjur jatuh cinta pada sepasang mata biru itu, jatuh cinta pada ulah tengilnya, jatuh cinta pada senyumnya, pada kehangatannya, pada cara Max memperlakukannya di atas ranjang.
Pada segalanya tentang seorang Maximilian Guillaume.
Benarkah ia mencintai Max? Atau hanya nafsu sesaat?
__ADS_1
Wulan menarik tangannya dari genggaman Max. Membuat pemuda itu mengerenyitkan keningnya.
"Wulan ...." Max berusaha meraih tangan Wulan kembali. Namun Ibu Gurunya itu menepisnya pelan.
"Aku butuh waktu untuk berpikir," ucap Wulan tanpa berani memandang ke arah Max.
"Apa maksudnya berpikir?" tanya Max keheranan. "Berpikir tentang apa?"
Wulan menghela napasnya berat. "Tentang hubungan kita, Max."
"No, no ... aku tidak mau."
"Max ... s'il te plait (aku mohon)," pinta Wulan dengan wajah memelasnya.
"On le fait ensemble, toi et moi (kita hadapi semua sama-sama, kau dan aku), bersabarlah menunggu sampai tahun depan aku lulus." Max berlutut di hadapan Wulan yang memalingkan wajahnya ke arah jendela ruang tamu. "Setelah itu kita bisa bersama tanpa merugikan siapa pun."
Wulan beranjak dari duduknya. "Tidak segampang itu, Max. Aku tetap punya beban mental mengencani remaja yang 15 tahun lebih muda dariku!"
"Omong kosong!" sergah Max. Wajahnya mulai tegang. "Kau tidak ingat malam-malam yang telah kita lalui? Kau begitu lepas tanpa beban, kau selalu bilang kau mencintaiku, Miss!"
"Je sais pas, Max ... je sais pas (aku tidak tahu, Max ... aku tidak tahu)!" Wulan menangkup wajahnya erat.
"Kau mau aku bagaimana, Miss?"
Wulan menggeleng. "Aku benar-benar butuh waktu untuk berpikir."
Max berdiri. Mendongak dan menyibakkan rambutnya kasar, memutar tubuhnya dan menghentakkan kedua tangannya.
"Kau tidak berani, kan, Miss?" Max menatap Wulan lekat. "Kau tidak berani mengambil resiko."
Wulan menghela napas sembari memejamkan matanya. "Mungkin ...."
"Ternyata kau masih ragu-ragu dengan perasaanmu padaku, kan, Miss?" Max menantangnya dengan tatapan tajam.
"Aku ...."
"Ternyata kau tidak sekuat yang aku kira." Max menggeleng pelan. Ia tersenyum kecut. Lalu membalikkan badannya dan melangkah menuju pintu.
"Max ...."
Ia hanya menoleh sekilas pada Wulan, lalu menarik handle pintu, melangkah keluar dan membantingnya dengan keras.
Wulan menjatuhkan badannya ke atas sofa. Mendongakkan wajahnya mencoba menahan buliran-buliran bening di sudut matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya.
***
__ADS_1
***
***