High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 69. I Adore You, I Value You, I Treasure You.


__ADS_3

Frédéric François Chopin - Spring Waltz (Mariage D'amour).


Denting piano dari si bocah dengan jemari ajaib dari abad ke delapan belas masehi mengalun lembut memecah keheningan di antara Max dan Wulan.


Dari balik easel kayu, sesekali mata Max menelusuri jengkal demi jengkal tubuh tak berbusana Wulan untuk dituangkannya ke dalam kanvas. Ia menggoreskan kuasnya dengan sangat hati-hati. Tak ingin membuat kesalahan dalam memvisualisasikan lekuk tubuh wanita kesayangannya itu.


"Berapa menit lagi aku harus berdiam diri seperti ini, Max?" tanya Wulan dari atas kasurnya. Tangannya mulai terasa pegal. Beruntung penghangat ruangan berfungsi dengan baik, hingga ia tidak harus berjuang melawan hawa dingin dengan tubuh tak berbusananya itu.


"Lima belas menit lagi," kekeh Max. Ia merasa iba pada Wulan yang telah bertahan dengan posisi seperti itu selama kurang lebih satu setengah jam. Itu pun ia sudah berusaha mempercepat proses melukisnya. Metode direct painting atau melukis dengan menatap model secara langsung biasanya ia selesaikan dalam waktu dua hingga tiga jam lamanya.


Wulan menghela napasnya pelan. "Aku bisa membayangkan bagaimana rasanya setiap kali orang-orang jaman dulu yang ingin mengabadikan gambar mereka di dalam sebuah lukisan," ujarnya membuat Max terbahak.


"Max ...."


"Hmmm?"


"Kalau ada wanita yang memintamu melukisnya telanjang dengan bayaran yang tinggi, bagaimana?"


"Aku akan memintamu untuk menemaniku."


"Kalau dia memintamu datang sendiri, bagaimana?"


"Ya sudah, kutolak saja."


Wulan terkikik. "Apa memang kau sekuat itu, Max?"


"Ya, aku sekuat itu." Max menjawab dengan cepat.


"Max ...."


"Oui ...."


"Apa kau memang dari dulu menyukai wanita yang lebih tua darimu?"


"Tidak juga. Kebetulan saja aku bertemu dan jatuh cinta denganmu."


"Oh, begitu."


"Yeah, begitu," jawab Max sembari memicingkan matanya memandang pada permukaan kanvas. Kemudian melanjutkan goresan kuasnya kembali.


Sementara itu, lagu dari Chopin telah berganti dengan Well-tempered Clavier dan Airnya Johann Sebastian Bach. Kembali mengalun lembut memecah keheningan yang kembali datang.


"Voila ...." Max menyelesaikan sentuhan terakhirnya. "Tunggu sampai kering dulu."


"Kau sudah selesai?" tanya Wulan.

__ADS_1


"Yeah, kau bebas sekarang," sahut Max sembari beranjak dari duduknya dan mendekat pada Wulan. Ia meraih pakaian Wulan yang tercecer di lantai. Lalu membantu mengenakannya.


"Kau tidak meminta bayaranmu?" tanya Wulan dengan senyum menggodanya.


Max terbahak mendengar penuturan Wulan. Ia mengelus pipi Ibu Gurunya itu, lalu merapikan pakaian Wulan yang sedikit turun di bagian pundaknya.


"Aku hanya bercanda," ucapnya sembari mengecup kening Wulan. "Malam ini aku memuja keindahan tubuhmu. Tapi bukan berarti harus berakhir dengan meni durimu," lanjutnya. "I adore you, I value you, I treasure you (aku memujamu, aku menghormatimu, aku menganggapmu begitu berharga)," bisiknya.


Max berdiri dan membungkuk pada Wulan, mengulurkan satu tangannya, dan tangan yang lain ia sembunyikan di balik punggungnya.


"Mau berdansa denganku?" tawarnya, ketika lagu kini mengalunkan melodi manis dari Johann Strauss, The blue Danube.


Wulan tersenyum menyambut uluran tangan Max dan berdiri melingkarkan lengannya ke leher pemuda itu. Melodi yang manis itu seakan memberi otaknya rangsangan untuk menggerakkan tubuhnya ke sana kemari dengan anggunnya.


"Kenapa kau bisa seromantis ini?" tanya Wulan.


"Aku pria Perancis," sahut Max dengan bangganya.


Bibir Wulan mencebik. "Apa memang stereotipnya seperti itu? Pierre pria Perancis tapi dia tidak romantis."


"Mungkin dulu kau hanya sedang sial saja, Wulan. Bertemu dengan si Jelek itu. Yang kebetulan ... tidak romantis. Atau mungkin mentalnya memang terganggu."


"Mungkin juga, ya?" gumam Wulan. Kemudian memutar tubuhnya sekali dan kembali melingkarkan kedua lengannya di leher Max.


Wulan tertawa renyah. "All I want for Christmas is you," jawab Wulan mengutip syair lagu dari Mariah Carey.


Max mengecup bibir Wulan sekilas. "Aku punya dua pilihan untukmu untuk menghabiskan liburan natal selama seminggu."


"Apa itu?"


"Menghabiskan waktu berdua di sini, bercinta, bermalas-malasan, atau kita pergi ke Perros Guirec?" tawar Max.


"Hmmmm ...." Wulan berpikir sejenak. "Di sini saja. Simpan uang untuk bulan februari."


"D'accord (oke)."


Alunan sendu piano dari Ludwig Van Beethoven, Moonligt Sonata mulai terdengar menggantikan Johann Strauss. Wulan menghentikan gerakan tubuhnya.


"Apa Moonlight Sonata tidak terlalu depresif untuk malam yang romantis ini?" tanya Wulan.


"Romantis dan depresif. Bukankah itu perpaduan yang indah." Max meraih pinggang Wulan dan membawanya kembali bergerak mengikuti alunan lagu. "Kau bisa merasakannya, Sayang?" tanyanya.


"Merasakan apa?"


"Dengarkan baik-baik." Max membawa tubuh Wulan ke dalam dekapannya. Memejamkan matanya menikmati nada-nada minor dari composer tuna rungu itu.

__ADS_1


"Nada gelap dan suramnya." Max mengelus punggung Wulan lembut. "L'art de mourir (seni kematian)," ujarnya. "Menikmati rasa sakit ...."


"Mengenalinya," sahut Wulan.


Max mengangguk. Ia semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh Wulan.


"Max ... boleh kulihat lukisannya?" tanya Wulan sembari mendongakkan wajahnya dan menatap lembut pada Max.


"Okay."


Max melepaskan pelukannya lalu melangkah menuju easel kayunya dan merubah posisinya menghadap pada Wulan.


Mata Wulan terbelalak melihat goresan kuas yang begitu indah di atas kanvas. Ia buru-buru menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangannya.


"Kau ini ... aku tidak tahu harus berkata apa," ujar Wulan penuh haru.


"Merci," sahut Max sembari terkekeh. "Katakan saja kau mencintaiku."


"Je t'aime, j'e t'aime, j'e t'aime ... mille fois (aku cinta kamu ... seribu kali)!" seru Wulan. Ia lalu melangkah mendekati Max dan berjongkok di depan lukisan dirinya itu.


Ia mengamatinya dengan seksama. Tubuh polosnya itu tidak terkesan seronok sama sekali. Ia hanya bisa melihat bentuk kekaguman Max padanya yang pemuda itu tuangkan melalui tangan ajaibnya.


Benar-benar membuatnya terharu.


"Kau ini," ucap Wulan dengan mata berkaca-kaca. "Kebaikan apa yang aku lakukan di masa lalu hingga aku menerima karma bertemu dengan makhluk sepertimu."


"C'est un destin, Bébé (itu takdir, sayang)," sahut Max seraya mengelus pipi Wulan. Lalu meraih tangan Wulan dan mengajaknya berbaring di atas ranjang.


"Kemari ...." Max menepuk-nepuk dadanya, meminta Wulan untuk membenamkan kepalanya di sana.


"Tidurlah, Wulan," ucapnya sembari menarik selimut dan menutupi tubuh Wulan hingga ke lehernya. "Aku akan menjagamu," bisiknya sembari mencium lembut ujung kepala Wulan.


Max mengelus punggung Wulan hingga beberapa saat kemudian wanita pujaan hatinya itu terlelap dalam pelukannya.



***


***


***


Seharian dengerin classical music tiada henti buat bikin episode ini🤣🤣🤣.


Semoga berkenan😘😘

__ADS_1


__ADS_2