High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 70. What A Nice Painting.


__ADS_3

LYCÉE JEAN-BAPTISTE SAY, SURESNES.


Belle bersungut-sungut mendekati Max yang tengah mengobrol bersama Etienne, Frederick dan Chen di luar gerbang sekolah, sembari menghisap rokok mereka. Wajah cemberutnya tampak kesal. Menatap Max dengan tatapan miring.


"Kenapa kau?" tanya Etienne pada Belle dengan wajah herannya.


Belle tak menjawab pertanyaan Etienne. Ia malah menarik tangan Max hingga rokok yang tengah dihisapnya terjatuh ke lantai trotoar.


"Hei, mau apa kau?" hardik Max kesal sembari menarik lengannya dari genggaman Belle. Ia mengambil rokoknya yang masih panjang dan menyala.


"Max, je veux parler (aku mau bicara)," ujar Belle.


"Bicara saja di sini!" seru Max.


Belle memandang sebal pada Etienne, Frededrick dan Chen yang tersenyum jahil mengejeknya.


"Kau ke mana saja akhir pekan kemarin?" tanya Belle ketus.


"Memangnya aku harus melapor padamu ke mana aku pergi?" sahut Max acuh tak acuh.


Belle mendelik pada Etienne yang terkekeh mendengar jawaban dari mulut Max. "Diam kau!' bentaknya pada pemuda berkulit hitam itu. Etienne pun seketika menghentikan kekehannya.


"Ayahmu bilang kau menginap di tempat Miss Wulan," ujar Belle membuat Max terkejut.


Serentak Etienne, Frederick dan Chen memandang ke arah Max dengan tatapan khawatir.


"Kenapa kau bisa menginap di sana?" tanya Belle dengan curiga, membuat Max tercekat. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Max dan aku menginap di Les Marais. Memang sebelumnya aku dan dia pergi ke tempat Miss Wulan. Tapi kita tidak menginap di sana. Sepertinya Monsieur Guillaume salah mendengar ketika Max berpamitan," terang Etienne mencoba menyelamatkan Max yang terlihat kebingungan menjawab pertanyaan Belle.


Gadis itu mencebik. Sebenarnya ia tidak terlalu percaya apa yang Etienne katakan. Namun ia pun memang tak melihat keberadaan Etienne akhir pekan kemarin di area Stalingrad.


"Apa saja yang Ayahku katakan padamu?" tanya Max tiba-tiba.


"Hanya itu," sahut Belle. Kemudian senyumnya pan tersungging. "Ayo kita pulang bersama, Max," ujarnya.


Max tak menjawab. Perhatiannya teralih pada sosok Wulan yang baru saja keluar dari pintu gerbang dengan Jolene. Tidak hanya itu, ia mendapati sebuah mobil Renault Koleos Luxury warna hitam baru saja menepi. Itu adalah mobil Christophe.


Max mengepalkan tangannya ketika melihat Christophe keluar dari mobilnya dan mendekati Wulan. Sepertinya pria itu sedang membujuknya untuk masuk ke dalam mobil. Sekilas Max melihat tatapan sinis Jolene untuk Christophe. Namun ia tak begitu mempedulikannya. Ia geram ketika melihat Wulan masuk ke dalam mobil pria itu.


Kalau saja Etienne tak menahannya dengan menahan lengannya, mungkin Max sekarang telah memaksa Christophe keluar dari mobil dan menghajarnya.


"Max!" seru Belle mengagetkannya.


"Quoi (apa)?" hardik Max kesal.


"Mau pulang bersama atau tidak?" rengek Belle.


"Tidak!" tegas Max. Pandangan matanya mengikuti mobil Christophe yang mulai bergerak menjauh. Dan sesaat kemudian ia beradu pandang dengan Jolene yang menatapnya dengan wajah keheranan.


Max buru-buru membuang mukanya dan mengajak Etienne, Fredrerick serta Chen pergi meninggalkan tempat itu.


"Hei, kalian mau ke mana?" tanya Belle ketika menyadari keempat pemuda itu tidak berjalan ke arah stasiun bawah tanah yang akan membawa mereka ke Stalingrad. Melainkan berbalik arah hendak menuju entah kemana.


Namun Max dan ketiga sahabatnya itu tak menghiraukan Belle yang kembali bersungut-sungut memandangi kepergian mereka.

__ADS_1


***


Kenapa kau pulang dengan Si Jelek itu, Wulan? Kau sudah ada di apartemenmu? Jangan bilang dia mengajakmu pergi kemana-mana.


Wulan tersenyum tipis membaca sederet pesan dari Max yang masuk ke layar ponselnya. Rupanya Max melihatnya tadi siang. Ia tak menyadari kehadiran pemuda itu di depan pintu gerbang sekolah karena sibuk memikirkan bagaimana agar Jolene tidak mencurigai hubungan mereka.


Ia pun segera mengetikkan balasan untuk Max.


Désolé, Bébé, aku terpaksa memanfaatkan kehadiran Christophe agar Jolene tidak mencurigai hubungan kita.


Wulan menekan tombol kirim. Dan beberapa saat kemudian, pesan balasan Max muncul di layarnya.


Okay. Bisa diterima. Tapi, sekarang kau ada di mana?


Dalam perjalanan pulang.


Quoi (apa)? Kau masih di jalan? Memangnya kau pergi ke mana dengan Si Jelek itu?


Hanya minum kopi, Max.


Tidak bisa diterima.


Wulan terkekeh membaca pesan Max. Membuat Christophe yang tengah menyetir di sampingnya mengerenyitkan dahinya.


"Ada yang lucu?" tanya pria itu.


"Oh, tidak, tidak ... tidak apa-apa."


"Okay."


"Merci, Christophe," ucap Wulan sembari bersiap-siap untuk membuka pintu mobil.


"Kau tidak mau mengajakku mampir ke apartemenmu?"


"Emm ... aku sedang banyak pekerjaan yang harus selesai malam ini." Wulan mengangkat buku-buku yang dibawanya dan menunjukkannya pada Christophe.


"D'accord (baiklah)," ucap pria itu kecewa.


Wulan segera keluar dari mobil dan berdiri di pinggir jalan menunggu hingga Christophe mengemudikan mobilnya menjauh.


Begitu mobil mewah itu membaur bersama kendaraan lain di jalanan, Wulan membalikkan badan untuk masuk ke dalam gedung apartemennya. Namun ia mengurungkan niatnya ketika mendapati seorang wanita berambut pirang berdiri di dekat pintu bercat hijau tua itu dan menyunggingkan senyum padanya.


"Jolene," ucapnya, terkejut.


"Hi, Wulan. Maaf mengagetkanmu. Aku sedang ada urusan di dekat sini, dan kebetulan melihatmu turun dari mobil emm ... siapa namanya tadi ... Christophe." Jolene menjentikkan jarinya.


"Owh, begitu."


"Kau tinggal di sini?" tanya Jolene berbasa-basi.


"Emm ... yeah."


"Boleh aku mampir ke apartemenmu?"


"Emm ... oui, bien sure (ya, tentu)." Wulan menjawab ragu-ragu.

__ADS_1


"Tres bien (bagus sekali)," ujar Jolene senang.


Dengan dada yang berdegup cukup kencang, Wulan mempersilahkan Jolene untuk mengikutinya masuk ke dalam gedung.


Keduanya menaiki tangga menuju lantai dua dan masuk ke dalam apartemen Wulan.


"Kau mau minum apa?" tanya Wulan sembari melangkah ke arah dapur.


"Apa saja." Jolene menyapu pandangannya ke seluruh ruangan yang tertata rapi. Lalu langkahnya mendekat pada dua lukisan yang terpasang di dinding ruang tamu. Satu lukisan wanita bergaun hitam abad pertengahan dengan satu tulisan kecil di sudutnya, Patrick Gautier, dan satu lagi yang membuatnya tertarik adalah lukisan Wulan dengan latar belakang menara Eiffel dan pagar jembatan Pont Marie.


Jolene meraba lukisan itu dengan lembut. Menyentuh wajah Wulan dengan ujung jemarinya lalu turun ke sudutnya, mendapati sebuah tulisan kecil, Maximilian. Keningnya mengerenyit.


"Hmmm ... what a nice painting (lukisan yang sungguh bagus)," ucap Jolene.


Wulan yang baru saja datang membawa dua cangkir teh hangat, tersenyum.


"Siapa yang melukisnya?" tanya Jolene sembari merima satu cangkir teh yang Wulan sodorkan padanya.


"Yang ini, namanya Lady Magnifica, pelukisnya bernama Patrick Gautier." Wulan menunjuk lukisan wanita bergaun hitam. "Yang ini ...." Wulan terkekeh. "Max yang melukisnya ... maksudku, Guillaume." Wulan meralat ucapannya.


"Guillaume yang melukisnya?" tanya Jolene penasaran. "Dia seorang pelukis?"


"Yeah, dia pelukis jalanan."


"Ah, d'accord (begitu)?"


Wulan mengangguk. "Dia sangat berbakat," puji Wulan.


"Aku tidak pernah menyangka." Jolene mencebikkan bibirnya. "Anak bengal tapi tampan, dan juga seorang seniman. Menarik, ya, Wulan?" Jolene menatap Wulan dengan senyum aneh tersungging dari bibirnya. Entah apa artinya.


"Emmm ... kurasa begitu," jawab Wulan hati-hati. Ia meneguk tehnya pelan.


"Dia bahkan bisa menarik perhatian wanita dewasa ...."


Wulan hampir saja tersedak tehnya. "Benarkah?"


"Aku hanya menebak, Wulan," ucap Jolene. Wanita itu terkekeh. "Ah, kau punya apartemen yang sangat nyaman. Walaupun tidak terlalu besar."


"Merci, Jolene."


Jolene menghabiskan sisa tehnya. Lalu meletakkan cangkir ke atas meja. Ia berjalan mendekat pada Wulan, dan tanpa meminta izin terlebih dahulu, ia meraih rambut Wulan dan membelainya. "Cantik."


Wulan menelan ludahnya. Ia memundurkan langkahnya pelan demi menjauhkan rambutnya dari tangan Jolene. "Merci," ucapnya kemudian dengan jengahnya.


Untuk beberapa saat lamanya, Jolene hanya terdiam menatap Wulan. Sembari senyum tipisnya terus tersungging. Wulan pun merasakan betapa anehnya situasi ini untuknya.


"Bon, ben (ya sudah) ...." Suara Jolene membuatnya terkesiap. "Aku tidak akan berlama-lama di sini. Aku akan membiarkanmu beristirahat."


Dalam hati Wulan merasa sangat lega mendengar ucapan Jolene. Ia merasa terjebak dalam situasi yang sungguh aneh dan membingungkan ini.


Wulan mengantarkan wanita itu sampai ke luar pintu apartemennya.


"Yang penting aku sudah tahu alamatmu, Wulan," ucap Jolene sebelum berpamitan dan melangkah dengan santainya menelusuri lorong apartemen dan menuruni tangga.


Wulan menghela napasnya dalam-dalam. Otaknya kembali bekerja mencerna situasi ini.

__ADS_1


Jolene sungguh membingungkan.


__ADS_2