High School Bad Boy

High School Bad Boy
Bab 50. Morning Glor-ny.


__ADS_3


Wulan dikagetkan pagi itu oleh suara dering ponselnya yang meraung-raung di atas nakas di samping tempat tidurnya. Ia meraih benda itu dengan malas, lalu memicingkan matanya yang silau memandangi layar yang terlalu terang untuk matanya yang masih sensitif.


"Kenapa si jelek Christophe menelponmu pagi-pagi?" gumam Max dari balik punggungnya. "Abaikan saja, Miss," ujarnya sembari menarik Wulan ke dalam pelukannya. Lengannya mengunci tubuh Wulan di sana. Sementara bibirnya mulai menyapu tengkuk Wulan.


"Max," lenguh Wulan seraya menggeliat pelan menahan rasa merinding yang membuatnya meremang. "Biar kuangkat telponnya ... sebentar," ucapnya.


"Tidak boleh!" Max merebut paksa ponsel Wulan lalu melemparnya sembarang di atas ranjang.


Ia mulai mengelus punggung polos Wulan dengan lembut. Lalu perlahan membalikkan tubuh Ibu Gurunya itu dan ia menumpu badan dengan dua tangan berada di antara kepala Wulan.


"Morning glory ... morning horny," bisiknya sembari menggigit pelan leher Wulan.


"Emmh ... Max, lihat sudah jam berapa ini?" desah Wulan sembari mendorong dada Max menjauh. "Max ... s'il te plait (please)," ucapnya kembali ketika Max tak mengindahkan kata-katanya. Ia semakin gencar menghujani leher Wulan dengan kecupan-kecupan. Bahkan bibir Wulan pun tak luput dipagutnya dengan penuh gairah.


"Masih ada waktu, sekolah baru mulai jam 8.30," ucap Max sembari menunjuk ke arah jam dinding.


"Arrette (hentikan), Max!" Wulan berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Max yang semakin kencang saja.


Setelah berhasil meloloskan diri, Wulan menarik selimut tebalnya dan menutupi seluruh tubuh Max hingga kepalanya. Terdengar suara kekehan Max dari dalam selimut.


"Miss, tu vas ou ... reste la (mau kemana, di sini saja)" rengek Max penuh drama sembari meghentak-hentakkan kaki dan tangannya ke ranjang.


"Douche (mandi)," jawab Wulan asal sembari melangkah masuk ke kamar mandi.


"Boleh ikut tidak, Miss?"


"Tidak!"


Max menghembuskan napasnya kasar. Ia membuka selimut yang menutupi badannya dan memeriksa area pribadinya di bawah sana.


"Ahh, merde, merde, merde (sial, sial, sial)," umpatnya pada bagian tubuhnya yang tidak bisa diajak kompromi itu.


.


.


LYCÉE JEAN BAPTISTE-SAY, SURESNES.


Max berjalan di samping Wulan memasuki gerbang sekolah. Layaknya Guru dan siswanya, mereka berinteraksi dengan normal tanpa membuat orang yang melihat curiga.


Wajah Max yang tampak cemberut semenjak keluar dari apartemennya membuat Wulan keheranan. Ia menahan diri untuk tidak menanyakan apa pun pada Max. Tapi anak itu terus saja memasang muka masamnya dan mendiamkannya.


"Max, ada apa? Kau marah?" tanya Wulan pada akhirnya.


"Non," jawab Max singkat.

__ADS_1


"Kenapa wajahmu begitu?"


"Memang wajahku begini.


Wulan mendecak sebal. Ia urung menghardik Max ketika didengarnya ponsel di saku jaket anak itu berdering.


"Oui, Eloise? ... uh-huh? Ah bon (ohya)?"


"Aujourd'hui? Ben, j'espere que ... oais, oais, bien sûre (hari ini? kurasa ... ya, ya, tentu)."


Wulan yang mendengar pembicaraan lewat telpon Max dengan Eloise segera mempercepat langkahnya mendahului Max tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Merci, Eloise ... à bientôt (sampai jumpa nanti)." Max buru-buru menutup telponnya dan mengejar Wulan. "Miss!" panggilnya.


Namun Wulan hanya menoleh sekilas tanpa menyahut. Lalu kembali mempercepat langkahnya dan menghilang di antara para siswa yang mulai berdatangan.


"Kenapa jadi dia yang marah?" gumamnya sembari menggaruk kepalanya. Gara-gara Wulan pagi ini ia merasakan kepalanya pusing karena menahan hasrat yang tak tersalurkan dan membuat moodnya menjadi tidak baik.


"Putain (sialan)!"


Ia mendengar satu kata makian dari arah belakangnya. Disusul oleh sebuah dorongan keras pada punggungnya.


"Kau menginap di mana?" Etienne memasang wajah angkernya di depan Max. Ia kesal karena harus menunggu lama Max pagi ini untuk berangkat ke sekolah bersama, seperti rutinitas mereka setiap harinya, namun sahabatnya itu tak juga menampakkan batang hidungnya.


Max hanya meringis. Lalu merangkul pundak Etienne dan mengajaknya masuk ke gedung sekolah.


"Kau menginap di tempat Miss Wulan?" tanya Etienne dengan tatapan curiga.


Etienne memutar bola matanya sebal. "Aku tetap tidak setuju kau berhubungan dengan Miss Wulan."


"Aku tidak butuh persetujuanmu, Bodoh!" hardik Max.


Etienne mencebik. Namun sejurus kemudian senyum jahilnya terbit. "Artinya kau sudah bukan virgin lagi sekarang?" gelaknya sembari menunjuk-nunjuk wajah Max.


"Sialan kau!" maki Max dengan wajah merah padam. "Artinya aku sabar menunggu wanita yang tepat datang padaku."


Etienne semakin tergelak. "Bayangkan saja kalau orang-orang tahu, Maximilian si anak bengal dari JB Say ternyata masih virgin. Mereka pasti akan mentertawakanmu," ujarnya sembari mengangkat jempolnya, lalu pelan membalikkannya ke bawah.


"Kau bosan hidup?" hardik Max kesal seraya memukul ujung kepala Etienne keras.


Etienne meringis sambil mengelus kepalanya. Namun beberapa saat kemudian matanya melotot memandang sesosok wanita berambut pirang dengan dandanan yang cukup sexy melintas di hadapannya.


"C'est qui ça (siapa dia)?" tanyanya dengan mulut melongo.


"Jolene Dupont, Guru Pembimbing baru," jawab Max. Ia menantang tatapan wanita itu yang tajam mengarah padanya. Sebelum akhirnya melenggang menelusuri koridor dan menghilang di balik pintu ruangannya.


"Woooww ... wuuuuuhh." Etienne menggeleng-gelengkan kepalanya. "Guru Pembimbing secantik dan sesexy itu?" Ia menatap Max tak percaya.

__ADS_1


Max hanya mengedikkan bahunya. Baginya, tidak ada wanita yang secantik Wulan.


.


.


Max menunggu di depan pintu hingga para siswa kelas 11 itu seluruhnya telah keluar dari dalam kelas. Dilihatnya Wulan yang tengah merapikan buku-bukunya dan bersiap hendak meninggalkan mejanya.


"Salut (hallo)," sapanya pada Ibu Gurunya itu sembari menyunggingkan senyum termanisnya.


Begitu melihat Max, Wulan langsung memasang muka masamnya. Enggan menanggapi anak itu.


"Kau marah karena Eloise menelpon?" tanya Max.


"Tidak. Kenapa aku harus marah?" jawab Wulan ketus.


"Kata Eloise, ada seorang pria yang ingin aku melukis isterinya." Max menjelaskan tanpa diminta oleh Wulan.


"Oh, bagus, Max," sahut Wulan sembari melangkah keluar kelas.


"Benar kau tidak marah, Miss?" Max mengikuti langkah Wulan, sedikit memberi jarak di samping Ibu Gurunya itu.


"Eloise gadis yang cantik. Dia juga baik ...." Wulan selalu saja merasa tidak percaya diri jika harus membandingkan dirinya dengan Eloise. Mungkin karena umurnya kini yang sudah 32 tahun, sedang Eloise mungkin hanya selisih satu atau dua tahun dengan Max. Jiwa kekanakannya mengatakan ia benar-benar tidak pantas bersanding dengan Max.


Tapi Eloise, ia gadis yang sempurna untuk menjadi kekasih Max.


"Tidak ada yang secantik kau, Miss," ucap Max.


"Omong kosong!"


"Percayalah ...."


Wulan tak menyahut. Ia tetap melangkah keluar gedung kelas 11 dan melintasi pelataran sekolah lalu masuk ke dalam gedung kelas 12 yang bercampur dengan ruang-ruang Guru.


"Miss, kau tahu tidak?"


Wulan menoleh ke arah Max yang masih mengikutinya dari belakang.


"Tadi pagi kau membuatku sakit kepala," kekeh Max membuat Wulan mengerenyitkan dahinya.


"Pourquoi (kenapa)?"


Max meringis. Ia mengelus rambutnya pelan. "Hasrat yang tidak tersalurkan," ucapnya dengan tatapan jahilnya.


Sebelum buku-buku di tangan Wulan atau tas yang dibawa Ibu Gurunya itu menimpa kepalanya, Max membalikkan badannya dengan cepat dan berlalu meninggalkan Wulan yang langsung memijit keningnya yang tiba-tiba saja berdenyut.


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2