High School Bad Boy

High School Bad Boy
Part 80. This Isn't Over


__ADS_3

"C'est pas fini (ini belum berakhir).


Jolene mendesis seraya menatap tajam pada bayangan wajahnya di dalam cermin kamar mandinya yang luas. Wajahnya basah oleh air yang ia basuhkan beberapa saat lalu.


Ia geram. Pikirnya, ia tidak ingin menyakiti Wulan, namun wanita itu terang-terangan menolaknya. Padahal perasaan yang ia berikan tulus.


Ia tidak suka penolakan. Apalagi dari seseorang yang begitu ia inginkan.


Jika Wulan memang tidak mau membuka hati untuknya, maka wanita itu harus merasakan rasanya tersandung batu.


Ia menarik sudut bibirnya, tersenyum miring.


"Attend et regarde (tunggu dan lihat saja), Wulan."


***


Langkah Wulan tergesa menelusuri sidewalk lengang di dekat gedung apertemennya sembari membawa dua tote bag yang berisi barang belanjaannya.


Ia merasa ada seseorang yang mengikutinya sejak ia keluar dari swalayan tempatnya berbelanja beberapa saat lalu. Sidewalk yang sepi dan hanya diterangi lampu-lampu jalan yang remang, membuatnya mempercepat langkah menuju gedung apartemennya.


"Kau butuh bantuan, Miss?"


Wulan menghentikan langkahnya ketika mendengar seseorang berbicara dari arah belakangnya.


Itu bukan suara Max.


Dadanya berdegup kencang. Ia membalikkan badan dan mendapati André tengah berdiri tak jauh darinya dengan seringai di wajahnya.


"Sedang apa di sini?" tanya Wulan keheranan. Ingatannya langsung melayang pada perlakuan André padanya kemarin di sekolah.


Pemuda bertubuh besar itu melangkah maju mendekati Wulan. Ia terkekeh sembari berpura-pura menggaruk kepala dengan rambut cepaknya yang tak gatal sama sekali.


"Kau butuh kehangatan malam ini, Miss?"


Mata Wulan seketika terbelalak mendengar perkataan André yang sangat menjijikkan dan tanpa basa-basi itu.


"Hei, jaga bicaramu, André!" hardiknya geram.


André mendecak. "Apa hanya Guillaume yang bisa menidurimu? Kau tidak mau mencobanya denganku?"


Plakkk.


Darah Wulan terasa mendidih mendengar kata-kata kotor dari mulut André. Satu tamparan keras pun mendarat di pipi pemuda itu.


André meringis kesakitan. Hal itu membuatnya naik pitam. Ia memeriksa keadaan di sekitarnya sejenak. Sepi. Hanya ada mereka berdua.


Ia tersenyum miring. Ini adalah kesempatan untuk mengerjai wanita berparas manis di hadapannya itu.


"Menjauh dariku!" seru Wulan sembari mendorong dada André kasar. Lalu ia hendak membalikkan badan dan berlari masuk ke dalam gedung apartemen, namun dengan cepat André menangkap lengannya.


"Mau kemana, Miss. Di sini saja," ujar André. Ia menarik lengan Wulan dengan keras hingga tubuh Wulan membentur dadanya.


André tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan apa pun yang diinginkannya pada Wulan. Dengan kasar ia menarik kerah baju Wulan dan berusaha membuka kancingnya dengan paksa.

__ADS_1


"Di sini saja, ya, Miss," gelaknya sembari mendesak Wulan ke dinding dan berusaha untuk mencium bibirnya.


Wulan dengan sekuat tenaga mendorong wajah André menjauhi wajahnya. Barang belanjaannya pun telah jatuh berserakan. Ia menginjak kaki André dengan sangat keras, namun pemuda itu tak bergeming. Ia justru semakin kuat mencengkeram bahu Wulan dan kembali melancarkan aksi keduanya. Andrè dengan tubuh besarnya bukanlah lawan sepadan untuk Wulan.


"Tolong, tolong aku!" teriak Wulan dengan keras berharap ada seseorang yang mendengarnya.


Namun tak ada seorang pun yang lewat di sana. Hanya ada beberapa mobil yang lalu lalang di jalan.


Di saat Wulan telah putus asa, tiba-tiba tubuh André tertarik ke belakang.


Bukkkkk.


Selanjutnya satu pukulan keras mendarat di perutnya, membuatnya terhuyung.


Bukkkk.


Punggungnya pun tak luput dari hantaman tangan kosong yang sangat keras hingga membuatnya terjatuh.


"Max!" seru Wulan. Ia merasakan kelegaan yang luar biasa.


Max dengan wajah merah padam di bawah sinar lampu jalan yang temaram, menarik hoodie André dan memaksanya berdiri.


"Conard (kepa rat)!" makinya dengan amarah yang membara.


Bukkk.


Ia tak memberi kesempatan pada André untuk melawan. Dipukulinya pemuda itu tanpa ampun. Bertubi-tubi hingga ia terkapar di lantai sidewalk.


"T'es mort (mati kau)!" teriak Max sembari mengangkat kakinya dan bersiap untuk menginjak kepala André.


"Aku akan membunuhnya, Miss!" sergah Max.


"No, no, Max!" Wulan masih memegangi lengan Max dan membawanya sedikit menjauh.


André, sembari merintih kesakitan, berusaha bangkit dengan susah payah. Seluruh tubuhnya seakan remuk akibat pukulan membabi buta dari Max.


"Je vais le tuer (akan kuhabisi dia), Wulan!" teriak Max seraya berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Wulan.


"Sudah, Max, sudah!" cegah Wulan. "André, dégage d'ici (pergi dari sini)!"


Dengan langkah terhuyung-huyung, André berusaha secepat mungkin pergi meninggalkan tempat itu. Menjauh dari murka Max yang bisa mengancam keselamatannya.


"Max, tenanglah," ujar Wulan sembari mengelus dada Max, berusaha menenangkan pemuda itu.


Max menarik napas dalam-dalam. Mengatur napasnya yang memburu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Max, setelah ia merasa sedikit tenang.


"Aku baik-baik saja."


Wulan berjongkok memunguti barang-barang belanjaannya yang berserakan di lantai sidewalk.


"Ya Tuhan," ucapnya lirih. Benar-benar hari-hari yang penuh dengan masalah.

__ADS_1


Max membantu Wulan memasuk-masukkan barang ke dalam tote bag. "Maaf kau harus mengalami semua ini," ucapnya.


Wulan menggeleng. "Terima kasih sudah melindungiku, Max."


Max mengelus kepala Wulan lembut. Hatinya terasa sakit melihat Wulan diperlakukan semena-mena. Membuatnya ingin selalu menjaganya.


Menjadi tameng yang melindunginya dari segala mara bahaya.


.


.


Max menyelimuti tubuh Wulan dengan selimut tebal. Lalu berjongkok di samping ranjang. Menyejajarkan wajahnya pada Wulan yang tengah berbaring.


"Maafkan aku ...." Max berucap lirih sembari mengelus pipi Wulan. Raut wajahnya terlihat sendu.


"Hei, sudahlah, Max ... aku tidak apa-apa," sahut Wulan. Hatinya pun terasa perih.


"Aku tidak rela kau diperlakukan semena-mena. Kau pantas untuk dihormati. Bukan dihina seperti itu. Baji ngan!" maki Max.


"Hei, aku sudah merasa tenang sekarang. Ada Ksatria yang melindungiku," kekeh Wulan.


Max tersenyum kecut. "Akan kuhabisi siapa pun yang mengganggumu!"


"Ssttt ...." Wulan menempelkan jari telunjuknya di bibir Max. "Cukup kau hajar saja mereka. Tidak perlu sampai dihabisi. Kau akan berakhir di penjara nanti," guraunya membuat Max terkekeh.


"Kemari, naik ke ranjang," perintah Wulan sembari tersenyum jahil.


Max berdiri dan melompat ke atas ranjang. Berbaring di belakang tubuh Wulan dan memeluk wanitanya itu dengan erat.


"Je t'aime (aku mencintaimu, Wulan)," bisiknya sembari menempelkan keningnya ke punggung Wulan.


Wulan terkikik. "Kau membuatku jadi melankolis, Max."


"Entahlah, aku juga sedang merasa melankolis," ucap Max.


Wulan menggenggam telapak tangan Max yang menelusup dari pinggangnya.


"Seperti yang pernah kau bilang, Max. Ini hanya proses. Fokus saja dengan hasil akhirnya," ujar Wulan. "Kita hadapi sama-sama," lanjutnya.


"Aku sangat siap untuk itu, Wulan ...." Max semakin mengeratkan pelukannya pada Wulan.


Malam ini, ia hanya ingin memeluk Wulan dan memberikan rasa nyaman padanya. Memberi tahu wanita kesayangannya itu lewat dekapannya, bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menyakitinya.


Kau aman bersamaku, Wulan. Aku berjanji.


***


***


***


Mohon maaf teman-teman, baru sempat up.

__ADS_1


🤗🤗🤗


__ADS_2